Saturday, January 20, 2018

Sedikit Cerita #HadiahPerasaan

Jadi begini, saya teringat ketika nasib naskah Hadiah Perasaan masih berupa pengharapan belaka. Kala itu, sesudah saya menawarkan naskah HP via email ke sebanyak 6 penerbit, saya memutuskan untuk mencetak sendiri naskah itu. Dengan tujuan sederhana, yaitu, memuaskan diri sendiri. Haha! Waktu itu, saya begitu senang karena telah berhasil menyelesaikan satu naskah impian saya. Naskah yang saya tulis seorang diri. 

Jadilah saya print semua halaman itu dengan modal seadanya. Dengan printer milik teman satu rumah saya. Saya mencetaknya dengan ukuran setengah dari A4, dengan cara, mencetak dua halaman naskah di satu lembar kertas A4. Hahaha. Cupukah? 

Setelah saya print, saya potong satu per satu halamannya menggunakan cutter dan beralaskan talenan untul memasak. Hehehe, ini lebih cupu lagi ya. Ya, mau bagaimana, di tempat saya tinggal, mahal sekali untuk mencetak buku sampai jadi seperti buku. Maklum, student kere :p

Sementara cover-nya, saya buat sendiri dengan desain sederhana. Hanya berupa tulisan dengan font gratisan dari internet. Kemudian saya cetak cover itu di kertas yang lebih tebal dan memiliki corak marmer berwarna cokelat muda. Setelah itu, saya satukan semuanya dan jadilah naskah HP itu handmade book setengah mateng. Kenapa setengah mateng? Karena bukunya belum dijilid/dilem/disatukan hahaha.



Karena itu tidak bisa saya lakukan manual, akhirnya saya mencari-cari di toko percetakan di kota saya. Tapi sayaaaaaaang sekali, usaha saya mengunjungi beberapa toko percetakan berujung naas. Tidak satu pun yang menerima menjilid seperti buku jadi. Tidak punya alatnya, katanya. Atau tidak menerima kertas berukuran setengah A4 (A berapa itu namanya?)

Hingga suatu hari saya berkunjung ke luar kota. Ke kota yang lebih besar dari kota tempat saya tinggal, yaitu ke kota Leipzig. Di sana, saya diundang PPI Leipzig untuk mengisi acara dengan membacakan puisi. Jadilah ketika itu saya membawa naskah HP yang masih setengah mateng itu dengan tujuan mencari tempat percetakan yang lebih genah di kota Leipzig. Siapa tahu ada yang bisa menjilid, ya kan? #pantangmenyerahdemihadiahperasaan

Dan, benar saja dong! Dengan mudahnya saya menemukan toko percetakan yang menerima penjilidan. Terima kasih kepada teman-teman saya di Leipzig yang waktu itu khusus menemani saya ke tempat percetakan dulu sebelum pulang ke rumah. Yang ternyata salah satu dari kalian masih ingat kejadian itu:



Akhirnyaaa, naskah HP sudah jadi meski dengan jilidan spiral. Hahaha! Setidaknya lebih mantap jika ada yang mau membacanya, pikir saya waktu itu. 


Lalu, esok harinya, saya menghadiri acara PPI Leipzig dan bertemu lebih banyak teman di sana. Dan di sanalah, naskah HP menemukan pembaca pertamanya. Seorang teman yang saya kira hanya iseng ketika menyahut "Sha, gue baca dong bukunya! Ini buku lu kan?" namun ternyata dia betulan membaca naskah itu dengan khusyuk di antara keramaian acara. Dia duduk berdiam diri dan hanyut di Hadiah Perasaan. Tidak lama kemudian, dia bilang, "Sha, gue suka banget deh yang ini..." sambil jarinya menunjuk ke judul puisi "Aku Mencintaimu Juga!" 

Asli. Degdegan rasanya buku itu dibaca oleh orang lain pertama kali. Apalagi disukai. Yang dipikiran saya waktu itu: jadi begini toh rasanya punya buku sendiri... :)