Showing posts with label sweet. Show all posts
Showing posts with label sweet. Show all posts

Saturday, October 1, 2016

Tantangan Bercerita yang Menjadi Nostalgia

Beberapa hari yang lalu, seorang temanku yang baik hatinya tiba-tiba mengirimkanku email berjudul "Tantangan Bercerita". Di dalam email tersebut ia menantangku menuliskan tentang tiga benda yang ingin aku lupakan atau ingin kuingat lebih dalam. Ia juga memintaku untuk melampirkan foto di dalam tulisan. Di email itu ia pun melampirkan tulisannya tentang tiga benda yang ingin ia lupakan tetapi tidak ingin ia lepaskan. 

Aku menerima tantangannya.
Dan tanpa sadar aku menulis sambil mengenang dalam-dalam. 


Bantal boneka



Bulan Februari tahun 2013, satu hari sebelum tanggal aku berangkat ke Jerman untuk kuliah, seseorang yang pernah jadi pacarku ketika aku SMA kelas satu mengajakku bertemu. Sebenarnya itu bukan hal yang biasa. Kami sudah jarang sekali bertemu, setelah aku memutuskan hubungan kami yang cuma sebulan usianya dulu. Aku heran tetapi mengiyakan ajakannya bertemu. Bagiku dia orangnya sok misterius. Nyebelin, tapi bikin penasaran juga. Sifatnya yang sok misterius itu juga terasa ketika dia memintaku datang tepat jam 9 pagi di depan Warung Pasta di Margonda Depok.
Beberapa menit sebelum jam 9 pagi aku sudah sampai di depan Warpas—sebutan gaul restoran itu. Kemudian dari arah entah, tiba-tiba dia masuk begitu saja ke dalam mobilku. Aku memang sengaja tidak mengunci pintunya agar nanti gampang baginya untuk masuk. Dan ya, betul saja.
Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah ejekan “ih, ngapain deh lo pake eyeliner segala? itu apa itu lipstik??” Sebel. Hari itu aku memang sedikit berdandan. Sedikit. Asli, sedikit sekali. Tetapi lalu aku tidak memedulikannya. Aku kemudian bertanya kepadanya akan ke mana kita hari ini. Lalu dia jawab,
“Hari ini pokoknya kita harus ke tiga tempat. Pertama ke deket 103, trus ke rumah temen gue sebentar deket situ juga, sama terakhir ke Margo.”
103 itu nama SMP kita, Margo adalah Mall di jalan raya margonda Depok, sementara ke tempat temannya itu yang aku tidak tahu lagi kenapa. Hari ini bukankah dia janjinya kami jalan berdua?
Aku tentu menanyakannya kenapa. Dia bilang udah, jalan aja! Trus aku galakin dia dengan bilang gak jelas lu! tapi lalu sambil menancap gas.
Aku mengantarkannya ke sebuah toko yang masih tutup di dekat sekolah kami dulu. Lalu dia memintaku menunggu sebentar dan lalu dia keluar sambil membawa tas ranselnya. Dia berjalan mengarah ke belakang toko yang tutup itu. Waktu itu, hati aku sudah kesal bukan main dan rasanya ingin saja membatalkan rencana denganna hari ini. Tapi ternyata aku justru menemukanku menunggunya yang 10 menit kemudian kembali masuk ke dalam mobilku. Lalu kami melanjutkan perjalanan.
Aku memarkir mobilku di dekat sebuah gang di daerah Depok dekat kampus Gundar. Kemudian dia kembali memintaku menunggu. Lagi-lagi dia keluar untuk beberapa menit, lalu kembali duduk manis di sampingku.
Aku sudah malas bertanya.
            Sesampainya di Margo, kami jalan-jalan sesuai kemauanku. Aku mengajaknya menonton film dan makan. Sementara dia hanya meminta satu hal: foto-box bersama. Sebenarnya aku tahu dia bukan tipe cowok yang narsis. Tapi ya sudah, pikirku, mungkin dia butuh kenang-kenangan tentangku ketika aku di Jerman nanti. Geer sih!
            Hari sudah malam dan waktunya aku pulang. Sebelum aku pulang ke rumahku sendiri, aku mengantarkannya kembali ke depan Warpas. Sepanjang perjalanan waktu itu, hujan deras jatuh dan lampu-lampu pinggir jalan terlihat lebih romantis. Kulihat dia yang duduk di kursi penumpang sedang tertidur. Aku ingat tadi pagi dia bilang kalau dia belum tidur sama sekali dari kemarin. Maka sesampainya aku di depan Warpas, aku memarkir mobil dan menunggunya terbangun. Aku tidak mau membangunkannya. Waktu itu aku rela dicari-cari mamaku karena pulang malam, demi tidak membangunkannya. Kemudian pelan-pelan aku menikmati hujan di luar jendela.
            Dia kemudian terbangun setelah 20 menit tertidur. Dia terbangun kaget dan bertanya kenapa aku tidak membangunkannya. Lalu aku cuma tersenyum saja.
            Hujan deras sudah berubah menjadi gerimis kecil. Dia mengambil tas ranselnya dari kursi belakang, lalu  membuka isi di dalamnya. Dari dalam ranselnya, dia memberiku bantal boneka ini. Boneka Doraemon. Aku suka Doraemon, dan dia juga suka Doraemon. Selain itu dia memberiku penjepit foto, bunga mawar dari kain, pajangan keramik, dan sebuah amplop kecil berwarna hijau. Lalu kurang lebih dia menjelaskan seperti ini:
           “Di tempat yang pertama itu, gue udah janji untuk ngambil boneka, sama keramik ini pagi-pagi. Nah, terus di tempat temen gue, mawarnya ketinggalan abis semalem gue main di sana. Lalu yang di Margo itu ya gue pengen ngajak lu foto, biar bisa lu pajang di penjepit foto ini. Dan amplop itu, lu baca aja kalo udah di rumah. Ohya, ini sengaja mawarnya dari kain biar ga layu soalnya.”
Aku menatapnya penuh perasaan. Air mataku jatuh begitu saja. Aku terharu. Benar-benar terharu. Aku sangat tahu dia. Dia bukan tipe cowok romantis yang menunjukkan kasih sayangnya ke pasangan. Dia bukan tipe cowok peduli. Dia orang yang bahkan anti mengucapkan kalimat sayang. Baginya, rasa sayang cukup dinyatakan sekali, tidak berkali-kali.  Aku tahu dia melebihi siapapun! Tetapi kali itu, dia seperti orang yang berbeda. Seharian kami jalan tadi, dia bahkan masih orang yang jutek seperti biasanya. Tetapi ketika dia memberikanku barang-barang ini, dia tidak bisa berhenti tersenyum. Dia ramah. Dan itu hal yang langka.
Aku berterima kasih padanya sambil masih bercucuran air mata. Kemudian dia keluar dari mobilku setelah mendaratkan kecup di pipiku.
Sesampainya di rumah, aku membaca isi dari amplop hijau yang dia berikan. Di dalamnya ada tulisan tangan dia yang menuliskan:

“Dear Ivanasha, someday I want you to talk with this doll. Someday, I want you to smell this flower, and someday I want you to keep this ceramic. Until ‘one day’ I want to exchange all these with two rings to tie yourself.”

Boom.
Aku lemas bacanya.



Buku Puisi




Aku sejujurnya tidak suka dengan tulisan-tulisanku di buku ini. Bagiku, tulisanku di sini jelek. Aku bahkan seperti tidak ingin mengaku kalau buku itu ditulis olehku. Kasihan si Ikmal, puisi bagusnya harus satu buku dengan puisi jelekku.
Tetapi ini buku pertamaku. Aku tetap bersyukur karena setidaknya namaku tertera di sebuah buku. Dan itu membuatku bahagia :D


Buku Cinta



Buku ini kudapatkan dari seseorang. Dia yang memberiku buku ini adalah dia yang kalau kata awkarin “patah hati terbaikku”. Aku waktu itu masih berusia 19 tahun dan dia 24 tahun. Kami berkenalan di sebuah website. Dia orang Makassar yang tinggal di Jogja. Dia bekerja sebagai desainer grafis di sebuah penerbitan dan juga desainer grafis untuk salah satu klub sepak bola Inggris. Kuakui pekerjan yang dia miliki keren. Karena dia salah satu anak Indonesia yang karyanya diakui sampai di Eropa.
Singkat cerita, setelah berkenalan, kami sering video call di Skype. Tidak berapa lama setelah mengenal, dia menyatakan perasaannya kepadaku. Dia bilang dia sangat menyukaiku; aku cantik, aku pintar, aku beda dari yang lainnya, dan hah! kata-kata manis lainnya.
Aku tidak memberikan jawaban dari pernyataannya yang tidak bertanya. Aku hanya membalas dengan ucapan terima kasih. Karena waktu itu aku lagi di masa-masanya malas dengan cowok, apalagi cinta! hahaha. Gaya.
Lalu hari demi hari berganti dan Skype dengannya setiap malam seperti menjadi rutinitas. Di hari ulang tahunku, dia tidak tidur sampai jam 6 pagi demi menunggu jam 12 malam di langitku. Lewat Skype, dia memberiku kue bergambar Doraemon dengan lilin-lilinnya yang menyala. Dia dan teman-teman di kosnya menyanyikanku lagu selamat ulang tahun di depan kamera. Lalu mereka meniup lilin bersamaan aku yang pura-pura meniup lilin dari jauh. Kue kemudian mereka potong, lalu dia menanyakan kepadaku akan diberi ke siapa potongan kue pertama. Aku tentu memberikan kepadanya.
Sejak apa yang dia lakukan di hari ulang tahun itu, aku baper. Meski aneh karena kita belum pernah bertemu, aku membuka hatiku pelan-pelan untuknya. Aku bilang kepadanya kalau kita tidak akan jadian sampai hari kita bertemu. Kemudian dia menyetujuinya.
Tiga bulan berlalu sampai akhirnya aku berlibur ke Indonesia. Dan itu merupakan sebuah kesempatan besar untuk bertemu dengannya. Terkasih bukan kekasih yang belum pernah kutemui ataupun kusentuh. 
Tanggal 3 Januari 2014 dia berangkat dari Jogja dengan tiket yang dia beli satu hari sebelum hari keberangkatan. Dia membeli tiket pesawat paling pagi. Lalu kita berjanji untuk bertemu di sebuah mall dekat rumahku jam 10 pagi.
Jujur, kali itu adalah pertemuan yang benar-benar berharga bagiku.

Dan keesokan harinya akhirnya kami resmi berpacaran.
            Selama dia di Jakarta, aku mengajaknya jalan-jalan keliling Jakarta. Kami juga sempat menonton bioskop. Waktu itu film yang kami tonton adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Aku sangat senang ketika dia menirukan dialog Zainuddin dengan logat Makassarnya.
            Setelah pertemuan kami di Indonesia, kami menjalani hubungan jarak jauh yang waktu itu sepenuh rela kujalani. Dia lelaki penuh kata-kata manis yang membuatku tanpa sadar terlena. Aku sangat mencintainya. Dia banyak memberiku janji, dan tidak kusadari aku waktu itu hanyalah orang bodoh yang mau menelan janji-janji manisnya.
Dia memberiku buku Aforisma Cinta ini sebelum kami berpisah di pertemuan terakhir di Indonesia. Katanya aku harus membacanya. Sampul buku ini adalah desainnya. Dan di dalam buku ini terjabar makna-makna dari hal-hal yang berhubungan dengan cinta.

Kami hanya berpacaran dua bulan. Dia memutuskanku lewat Path message tiba-tiba ketika aku sedang berada di kelas. Pada saat itu juga aku langsung izin ke toilet dan menangis tersedu-sedu di sana. Dia memang sudah jarang mengabariku. Setelah setidaknya sebulan pacaran, dia berubah. Kami hanya bertukar chat kira-kira setiap dua minggu sekali. Aku tidak pernah mengeluh. Aku tahu dia sibuk dengan pekerjaannya. Aku benar-benar dengan tulus memakluminya. Karena aku waktu itu sangat mencintainya, dan aku percaya kepadanya.
Tetapi ternyata kami tiba di hari itu. Hari ketika ia memutuskan hubungan kami. Alasannya adalah karena dia dapat pekerjaan yang akan membuatnya sangat sibuk dan akan pula jarang mengabariku. Aku bilang tidak apa-apa. Berbulan-bulan tanpa kabar pun akan aku tunggu, asal ia memang akan kembali. Tetapi dia tidak mau. Alasannya tidak tega.
Sesampainya di rumah, kami bertemu lewat Skype. Aku menangis, dia juga meneteskan air mata. Tetapi akhirnya kami sampai di kesimpulan untuk mengakhiri hubungan itu. Di akhir Skype, dia mengatakan dia mencintaiku. Tetapi kutahu dia sedang melupakan semua janji-janjinya.
Setelah putus darinya, aku merasakan patah hati yang paling sakit yang pernah aku rasakan. Tidak apa dibilang berlebihan. Aku tidak peduli. Karena memang pada saat itu hatiku sakit sejadi-jadinya. Mungkin karena selama itu aku termakan janjinya dan segala omongan manisnya. Aku kecewa. Dan kekecewaanku pada saat itu membuatku rajin menulis puisi. Puisi-puisi itu kemudian masuk di dalam buku puisiku.
Itulah mengapa kusebut ia patah hati terbaik. Karenanya, aku jadi produktif!

Ya, dan karena buku ini menurutku bagus sekali isinya, aku tidak membuangnya. Lagipula, aku tidak pernah tega menelantarkan buku di tempat sampah. Biarlah kisah kami saja yang berserak di tempat sampah, tapi buku ini, jangan.

--


Wednesday, September 21, 2016

Romantika Masa SMA dalam Tulisan Lama

4:45 am

Waktu sudah bergerak semakin pagi dan aku belum tidur juga. Tiba-tiba saja datang keinginan untuk membuka laptop dan menulis sesuatu. Tetapi, setelah membuka laptop, aku malah tertarik untuk melihat-lihat data word yang tersimpan di laptopku. Belum lama aku mengganti laptop lamaku. Tidak banyak data yang kupindahkan ke laptop baru. Tujuannya agar memori di laptop lama biar tersimpan saja di dalam flashdisk dan laptop baruku tak perlu terlalu banyak data yang memberatkan. Ya, sebab menanggung kenangan terkadang memang memberatkan. Ea. 

Sebenarnya, aku pesimis kalau akan kutemukan tulisan-tulisan lama di dalam laptopku ini. Tapi tak kusangka kutemukan juga sebuah tulisan yang membuatku mengingat ketika aku jatuh cinta di masa sekolah. Tulisan itu ialah sebuah file word dengan judul berbahasa Jerman "Der Mann ist Daga" yang artinya: lelaki itu adalah Daga. Jujur, sebelum aku membuka dan mulai membaca, aku benar-benar lupa apa isi dari file tersebut. Aku sempat menebak kalau itu adalah curhatanku tentang Daga (yang aku ingat bahwa Daga adalah nama samaran dari seseorang yang dulu ketika di bangku SMA kukagumi diam-diam). Biasalah, pada masanya aku pernah merasakan labilnya jatuh cinta, selabil-labilnya tingkat labilnya Aw*****. Maksudku, kegalauan seperti perempuan berambut pirang yang kemudian sempat heboh sejagad Indonesia itu nyata. Meski aku tidak pernah mempublikasikannya di Youtube sih... 

Tapi ternyata aku salah. Ternyata di dalam file itu kutuliskan sebuah cerita. Cerita tentang perasaanku dulu ke Daga. Well, memang 11-12 sih dengan yang disebut curhat. Tapi.. Aku ingin membela. Ini bukan curhatan. Aku tahu, karena aku yang menulisnya. Tulisan ini dulu kutulis dengan tujuan untuk mengabadikan pandanganku tentang Daga dan lika-liku perasaan yang aku rasakan karenanya (meski kini kukatakan itu einfach kelabilan yang menjangkitku). Hahaha.. pardon.

Aku merasa sangat senang ketika membaca tulisan itu. Sesekali aku tertawa seperti sedang menertawakan diriku sendiri yang dulu. Bodoh sungguh bodoh. Mencintai anak kelas sebelah begitu lugunya, sehingga bahkan pernah menangis ketika yang kucintai dipatahkan hatinya oleh perempuan lain. Hahahaha!

Tetapi lalu kurasakan hangat di dalam perasaanku. Aku seperti membaca diriku yang belum mengetahui cinta sedalam sekarang. Belum pernah dipatahkan hatinya begitu sakit, seperti yang sudah kualami, jauh setelah kutuliskan cerita tentang Daga. Dan patah hati itu bukan patah hati yang Daga perbuat. *Mendadak melankolis* 

Sudah, kulampirkan saja ceritanya di sini. Silakan membacanya.
Tulisan penuh kejujuran yang kutulis 5 tahun yang lalu. Ketika cinta sedang lugu-lugunya mengajariku patah hati. 

(P.s: Cerita ini tidak selesai, maklumilah. Dari dulu aku memang seseorang yang sulit sekali menyelesaikan cerita yang kutulis.)

***



Der Mann ist Daga.

         Gue jatuh cinta sama seorang yang gue beri nama samaran Daga. Udah sekitar 10 bulan ini gue merhatiin dia. Dan sebutlah ini sebagai cerita cinta sebelah tangan anak SMA, haha! Judul yang kacangan banget ya? Tapi gue rasa apa yang gue rasain ini bukan sekedar perasaan kacangan anak SMA yang pantas di tertawakan. Tapi boleh deh lo ngetawain gue, karena sudah mencintai orang yang bahkan gak pernah melihat gue disini yang punya perasaan lebih ke dia.

         This is it, I’m gonna tell you my secret love, start with the very start.

Daga itu salah satu anak kelas IPA di sekolah gue. Gue gak tau awalnya gimana gue bisa suka sama dia. Awalnya sih gue cuma merhatiin dia dari jauh, lalu lama kelamaan merhatiin kok gue malah bener bener merhatiin dia lebih dalam. Dan sadarlah gue kalo gue mulai tertarik sama dia di bulan Februari 2011. Di situ gue mulai cerita cerita tentang Daga ke temen sekelas gue, Al. Gue cerita ke Al kalo gue mulai merhatiin seorang anak IPA bernama Daga. Si Al awalnya sempet kaget. Ya, karena memang gak ada relasi apa apa sebelumnya antara gue dan Daga. Bahkan saling mengenal aja engga. Gue bener bener suka dia dari nol. Ngeliatin dari jauh setiap dia lewat di lorong sekolah. Lalu tiba tiba tertarik begitu saja tanpa alasan. Mendengar cerita abstrak gue, Al tidak banyak menanggapi. Dan gue juga merasa mungkin itu cuma sekedar mengagumi dari jauh. Gue pun tidak menganggap perasaan itu serius.

         Setelah dari Februari gue memperhatikan dia. Maka di bulan Juni lah gue mengenal dia. Awalnya gue iseng greet dia di BBM karena dia pasang PM BBM “greet”. Perbincangan kecil terjadi. Kita membahas tentang kegiatan selama liburan kenaikan kelas. Di situ gue merasa sangat, sangat, sangat nyaman. Ternyata dia anaknya ramah, baik, easy going, dan memikat (atau memang dari awal gue sudah terpikat dengan dia jauh sebelum gue mengenal dia?). Di situ gue menjadi semakin menyukai sosok Daga. Jadilah setelah malam itu gue jadi sering greet dia, ya iseng sih cari temen juga buat ngobrol. Tapi ada niat kecil untuk ngedeketin dia, dan satu hal baru yang gue sadari... dia perhatian. Oke, mungkin dia memang tipe cowo yang perhatian ke teman cewe nya. Tapi bagi gue, itu nilai plus nya dia di mata gue. Hari semakin hari berlalu, gue bener-bener semakin menyukai dia. Sampai akhirnya di bulan Juli gue berani mengatakan perasaan ini bukan hanya sekedar suka lagi. Ya, gue sayang dia.

         Di bulan Juli, gue sudah menginjak kelas 12, dan temen sebangku gue adalah El yang akhirnya menjadi tempat sandaran keluh kesah gue terhadap perasaan gue ke Daga, berhubung gue udah gak sekelas lagi sama Al. Setiap pagi gue cerita ke El kalau Daga begitu gue kagumi. Setiap Daga lewat kelas gue, gue tarik lengan El, lalu berbisik ke dia beberapa kalimat yang gak bosen gue ulang “El! Tuh dia lewat! Ah.. keren!”. Bisikan seperti itu selalu gue ulang setiap Daga lewat kelas gue. El menanggapi dengan sekedar senyum atau tawa. Ya, gue merasa sedang jatuh cinta, dan gue menikmatinya.

         Bisa di bilang gue dan Daga memang dekat. Kita jadi sering curhat di BBM. Beberapa basa-basi pun terbahas juga di BBM. Sesuatu yang mungkin gak penting bagi dia, tapi memiliki makna yang penting bagi gue. BBM yang sebenarnya biasa-biasa saja itulah yang sering juga gue bahas ke El. Karena dengan hanya BBM-an sama dia aja udah bisa bikin gue seharian senyum-senyum gak jelas. Ibarat “lagi ngapain lo?” nya dia itu bisa bikin gue kesenengan seharian.

Gue selalu bercerita ke El, bagaimana bentuk perasaan gue ke Daga. Gue sangat menyukai Daga pada saat itu. kalimat kalimat penuh pujian untuk dia selalu gue katakan kepada El, dan untungnya El setia mendengar gue, si remaja yang jatuh cinta diam-diam. Something like “yaampun El!! Kenapa ya dia baik banget! Keren banget!”. Biasalah, kicauan aneh seorang pemuja.

Sampai akhirnya, di bulan Agustus gue berkenalan dengan adik kelas gue, cowok. Sebut saja namanya Rafi. Gue kenalan dengan Rafi dari BBM. Singkat cerita, di bulan Agustus gue memiliki perasaan lain ke Rafi. Orang yang baru gue kenal beberapa minggu, dan respon Rafi baik, setidaknya jauh lebih jelas dari respon Daga ke gue.

Di situlah gue mulai banyak berfikir dan banyak cerita ke El. Gue bingung harus mengikuti kata hati gue yang mana. Di satu sisi, gue juga mulai menyukai Rafi. Di sisi lain, gue bener-bener jatuh cinta sama Daga, yang pada saat itu, bisa dibilang, tidak memperlihatkan kalau dia memiliki perasaan yang sama. Di situ El memberi gue nasihat, gue harus memilih yang mana yang baik dan yang mau gue jalanin. Gue berusaha sebisa mungkin untuk gak tergoda dengan perasaan sesaat terhadap Rafi. Gue berusaha mencari-cari tanda dari Daga yang siapa tau dia juga punya perasaan yang sama seperti perasaan gue. Ya! Ternyata gue salah. Sepertinya usaha seperti itu hanya menghasilkan nihil.

Waktu itu 10 Agustus 2011, di twitter Daga, ia banyak menuliskan hal-hal yang menjurus kegalauan. Gue jujur gak tau siapa yang sedang ia galaukan. Yang jelas itu bukan gue. Ada satu tweet Daga yang bener-bener bikin gue pesimis total untuk bertahan mengharapkan hubungan yang lebih ke dia. Tweet itu berisikan tentang arti dari menunggu. Dari tweet itu terlihat seperti Daga sedang menunggu seseorang yang tidak sadar kalo sedang ia tunggu.
        
Yak. Disitu gue hopeless. Mungkin memang selama ini dia cuma baik dan perhatian ke gue gak lebih dari sekedar teman. Malamnya, gue curhat ke El, kalau gue akan move on dari Daga dan mencoba menjalani hubungan dengan Rafi.
        
         Di bulan ke-dua gue menjalani hubungan dengan Rafi, tiba-tiba gue dapet kabar kalau Daga jadian dengan adik kelas juga. Namanya Serla.
        
Jujur saja. Mendapat kabar itu, hati gue sakit. Entah mengapa. Padahal di situ keadaannya gue sedang berpacaran dengan Rafi. Tapi hati gue sakit. Sakit. Banget. Gue sempet nangis. Apa yang gue tangisin? Yang gue tangisin adalah betapa beruntungnya Serla. Dia gak perlu beberapa bulan menatapi Daga dari jauh untuk memiliki hatinya. Dia gak perlu berusaha keras untuk menyentuh hati Daga. Ya, seperti yang telah gue lakukan.
        
Tapi gue berusaha menyikapi berita itu dengan positif. Keadaannya di situ gue sedang berpacaran dengan Rafi, tidak seharusnya memikirkan pihak lain. Apalagi orang yang pernah gue gebet. Pada saat itu gue mengambil sikap, bahwa gue bahagia akan kebahagiaan Daga. Tidak sulit bagi diri gue untuk membuat mindset kalau selama dia bahagia, gue juga bahagia. Karena nyatanya gue memang senang melihat dia tersenyum, walau  itu bukan karena gue. Walau senyum itu untuk dia.

Singkat cerita, gue tetap dekat dengan Daga dalam konteks teman. Kita sering saling curhat tentang pacar kita. Ngobrol bareng sama El dan Teo di kantin, dan having fun together lah. Sampai akhirnya  di bulan ke empat gue berpacaran dengan Rafi, gue sadar kalau gue semakin tidak bisa melupakan Daga. Namun gue juga sadar, gue terlalu terlambat untuk menyesali apa yang telah terjadi.

Gue berusaha bahagia karena Daga sudah bahagia juga dengan Serla. Melihat mereka bermesraan di twitter membuat gue bahagia sekaligus merasa sangat sedih. Gue tau, kesedihan gue itu sebenarnya merupakan bentuk kecemburuan gue yang gak pernah gue akui. Akhirnya, gue merasa gue gak bisa terus berlarut dalam dua hati seperti ini. Gue memutuskan hubungan gue dengan Rafi dengan satu alasan. Tanpa orang lain ketahui, bahwa gue memang mencari-cari alasan untuk menyudahi hubungan itu. Like what Kahlil Gibran said “ketika cinta hilang, ia mencari-cari alasan”. Gue merasa tidak bebas mencintai Daga apabila gue masih berpacaran dengan Rafi.  Ternyata, gue tidak pernah berhenti mengagumi sosok Daga. Ya, gue kembali mencintai Daga.

Putus dari Rafi, gue sama sekali tidak menangis. Tapi sempat beberapa kali Daga memergoki gue sedang menangis sendirian di mobil gue. Dia kira itu gue sedang menangisi keputusan gue tentang Rafi. Padahal, yang sedang gue tangisi adalah dia. Gue sedih, karena gue gak pernah bisa menjadi cukup baik untuk menyentuh hati dia. Gue menyesal karena gue kurang berusaha. Karena ternyata perasaan gue ini bukan perasaan cemen yang sesaat. Karena ternyata perasaan gue ke dia jauh lebih kuat daripada waktu yang gue gunakan untuk move on dari dia. Tapi lalu apalagi yang bisa gue lakukan? Toh, keadaannya sekarang begitu rumit. Perasaan gue ini ya hanya gue sendiri yang menikmati. Sementara Daga sendiri? Dia lagi masa-masa bahagianya sama Serla. Ini semua juga kesalahan bodoh gue, berhenti mengejar cinta yang pada awalnya begitu gue jaga, untuk seorang adik kelas yang tidak lebih baik dari sosok Daga sendiri. Oke, harusnya gue tidak membandingkan mereka. Hanya saja gue merasa, selama gue berpacaran dengan Rafi, gue tidak pernah berhenti memikirkan Daga. Gue tetap curhat tentang Daga ke El. Itulah yang membuat gue berfikiran kalau Rafi sendiri pun selama jadi pacar gue tidak mampu membuat gue berhenti memikirkan Daga.

Sah menyandang status single dengan keadaan masih tidak bisa berhenti mencintai Daga, gue pun memutuskan untuk menjadi teman Daga. Gue berusaha untuk selalu bisa berada di sisi Daga, mendengar keluh kesah dia tentang hubungannya dengan Serla. Berada di dekat dia dan mendengar cerita-ceritanya adalah hal menyenangkan! Menjadi temannya sambil mengaguminya dari dalam hati. Berharap yang membuat dia tersenyum itu bukan Serla, melainkan gue. Tapi harapan, ya hanya harapan. Nyatanya, gue tidak menginginkan lebih dari ini. Menjadi seorang teman baginya merupakan hal yang membahagiakan, tidak lebih.

Hingga suatu hari Daga bertanya, siapa orang yang sedang gue kagumi. Gue tidak berani menjawab bohong, dan gue terlalu susah untuk menghindar dari pertanyaannya. Apa gue harus menjawab langsung kalau yang gue kagumi ialah diri dia sendiri? Atau gue harus menghindar? Tapi, menghindar dari pertanyaannya ternyata memancing dia untuk semakin ingin tau. Bolak-balik Daga menanyakannya. Gue gak bisa bohong. Gue jawab pertanyaan bodohnya itu lewat SMS. Gue jawab, orang yang gue suka selama ini adalah dia. Gue sempat takut kalau sikapnya akan berubah ke gue. Ternyata tidak. Sepulang sekolah di hari setelah SMS pengakuan itu, dia menghampiri gue, mengangkat tangannya meminta high five ke gue, lalu gue sambut tos nya itu. kemudian dengan senyum sederhana yang selalu gue cintai, dia berkata “thanks ya udah jujur...”.

Dan disitulah gue benar-benar menjalani posisi baru. Menjadi teman yang selalu mendengar curhatan dia. Dengan keadaan dia mengetahui perasaan gue. Sempat tidak mudah bagi gue membiasakan diri atas pengetahuannya itu. Gue canggung dan banyak salah tingkah. Untungnya, dia mengerti dan mengambil sikap. Dia benar-benar membuat gue merasa kalau gue temannya, teman curhatnya, dan tidak akan merubah semua itu karena perasaan gue. Gue merasa kembali nyaman.

Tetap, dia tidak mengetahui bahwa dalam hati gue, gue masih mengagumi dia begitu dalam. Semakin dalam setiap harinya. All I can do is only watching his happiness from the distance. Ketika ia sedang ada masalah dengan Serla, dia boleh datang ke gue. Bercerita dan berkeluh kesah. Gue tau, keberadaaan gue terlihat sangat remeh. Dengan posisi dia mengetahui perasaan gue, namun gue masih menjadi teman curhatnya yang notabene membahas tentang pacarnya. Kurang sabar apa kan gue? Gue sabar kok. Like what i told you before, gue tidak mengharapkan lebih dari ini.

Suatu hari, Daga mengalami kecelakaan, persis beberapa hari sebelum minggu ujian tiba. Disitu gue panik! Tangan kanannya cedera. Gue bener-bener gatau harus ngapain selain memberinya perhatian lebih, as friend tentunya. Malam setelah satu hari kecelakaan itu berlalu, gue SMS dia. SMS sederhana sih.. mengingatkannya agar tidak lupa meminum obat dan banyak istirahat. Lalu, yang buat gue kaget adalah balasan SMS nya. Di SMS itu dia bilang yang intinya terimakasih, dan juga mengatakan kalau gue lebih perhatian dari ceweknya sendiri. Gue gak nyangka! Gak mungkin SMS sederhana gue itu bisa dibilang lebih perhatian dari perhatian ceweknya. Apakah?

Sejak hari itu Daga jadi semakin sering curhat ke gue. Dari ceritanya gue tau, kalau akhir-akhir ini si Serla berubah. Daga tidak memperjelas rinci nya, dia bilang, dia hanya merasakannya. Posisi gue hanya sebagai teman yang mendengarkan dan menyabarkan. Walaupun di dalam hati kadang gue sesali.. Andai saja Daga itu pacar gue. Gue pasti akan berusaha untuk menjadi baik dan bersikap dewasa. Gue pasti akan lebih menghargainya dibanding Serla yang seperti ceritanya, berubah dan cuek. Serla.. betapa lo tidak menyadari kalau ada yang berusaha keras untuk mendapati hati Daga.

Mari kembali gue singkat cerita ini. Persis di hari perayaan dua bulan Daga dan Serla jadian, mereka putus. Putus di bulan Desember. Daga was totally fucked up. Honestly, gue bener-bener ikutan sedih banget pas tau kabar itu. gue sedih liat Daga sedih. Bahkan gue menangis. Gue nangis kejer. Gue gak bisa liat orang yang gue sayang itu sedih sampe sesedih itu. Call me so over act, but it's so true. Sepertinya, di hari itu juga lah gue menyadari kalau gue memang sudah jatuh terlalu dalam dari perasaan gue sendiri.

 ***



Tuesday, July 7, 2015

Du, Traummann.

And if i'm gonna be dreaming,
I'll be dreaming of you.

Entah telah dimulai darimana kepalaku yang memimpikanmu itu. Cerita-cerita terangkai begitu jelas, sementara aku hanya bisa mengaminkan semuanya dalam diam. Di langit berlatar malam itu, aku berlari dan berlari, kemudian menemukanmu sedang berada di sebuah perpustakaan. Aku merasakan seperti benar-benar sedang pertama kali bertatap mata denganmu. Lalu aku tanpa sadar menarik tanganmu, meneriakkan namamu dengan begitu senang. Aku mengajakmu keluar perpustakaan itu sejenak. Kemudian di depan pintunya, kita berciuman. Ciuman pelan dan panjang. 

Aku terbangun. Meski di dalam mimpi itu sendiri aku telah lebih dulu terbangun dan menyadari betapa tidak nyata ciuman itu. Betapa tidak mungkin aku menciummu. Aku terlalu sadar akan panjang jarak yang terpaut antara kau dan aku. Tapi sedetik setelah aku membuka mata—meski kusadari tadi hanya sebuah mimpi—aku tetap mengaminkan segala yang bisa menjadi kemungkinan antara kita. 

Mungkin saja mimpi itu sebuah pertanda. Pertanda bahwa kita adalah sebuah  kemungkinan yang akan menjadi nyata. Pertanda bahwa aku telah menjadikanmu bagian dari dalam mimpi yang paling indah. 

Dan tak aku sadari pula, entah sejak kapan aku mula menyukai namamu dalam kepala untuk menjadi alasanku menulis. Menulis apapun itu.

Termasuk menulis mimpiku.

Monday, February 23, 2015

bagaimanakah cara seseorang yang tidak punya apa-apa selain hatinya, menjagamu hanya dengan sejumlah cinta?


Jika aku bisa menulis puisi-puisi yang begitu indah untuk menjaga hatimu, maka percayalah, setidaknya satu hari akan kutuliskan untukmu satu puisi--setiap hari, tanpa berhenti. Tapi sayang sekali, tidak ada satupun puisi yang bisa aku tulis yang pantas kuberikan kepadamu. Tidak satupun puisi mampu menjadi pantas dalam menyatakan betapa aku mencintaimu; betapa aku ingin menjagamu hanya untukku. 

Ingin sekali rasanya aku bisa memberikanmu sesuatu selain hatiku. Mungkin hal-hal yang bisa membuatmu berbahagia di sisa usia. Sayang sekali, aku hanya bisa memberimu hatiku yang banyak luka ini dan kerinduan-kerinduan yang begitu cengeng mencintai namamu. 

Tetapi kau tahu, Sayang, 
aku mulai memikirkan jalan terbaik untuk mencintaimu sangat panjang ialah dengan menyerahkan segala perasaanku kepada doa-doa dan waktu. Dengan itu, aku ingin pembuktian yang melebihi segala harta. Seiring jalan waktu, ingin kutunjukkan kepadamu betapa tua aku menjaga cinta ini. Dan semakin lama usia yang kuhabisi, semakin baik pula doa-doaku mencintaimu; meminta agar kita terjaga selama-lama waktu. 

Maka aku tak perlu puisi, atau sejuta kata-kata manis yang berusaha menandingi senyumanmu. Aku tak perlu itu. Mencintaimu, aku hanya perlu banyak-banyak berdoa, dan memeluk detik-detik yang berjalan.

Sebab semakin lama waktu,
Semakin baik aku mengenalmu,
Semakin dalam pula aku mencintaimu. 

Dan tak kujanjikan kau apa-apa
Selain hatiku.

Thursday, January 15, 2015

Liburan Akhir Tahun (Düsseldorf)

saya tahu banget kok, kalau post ini bisa dibilang adalah post yang telat untuk membahas tahun baru--sebab 2015 sudah terlanjur dua minggu usianya. tapi, saya merasa ada yang mengganjal dalam kepala saya. saya sempat tidak tahu ini apa, sampai akhirnya detik ini saya tau: saya harus menulis tentang liburan akhir tahun saya. sudah dua minggu berlalu, tapi kepala saya tidak berhenti mengulang-ulang kenangan tentang liburan saya akhir Desember sampai awal Januari kemarin. mungkin karena saya sudah terlalu lama tidak mendapati hiburan sesungguhnya, selain menghibur diri sendiri dengan internet dan hal-hal maya lainnya. liburan kali ini saya benar-benar senang, sebab akhirnya saya bisa melepas diri dari layar telepon genggam dan bersosialisasi dengan benar. ah, sudahlah basa-basinya, saya mulai saja curhatan saya ya!

di tanggal 24 Desember saya memulai perjalanan saya dari kota Greifswald, menuju kota Düsseldorf. di sana, sudah ada beberapa teman-teman saya yang lebih dulu berkumpul sejak tanggal 20 Desember. sebenarnya rencana awal saya juga sama seperti yang lain, yakni berangkat dari tanggal 20 Desember, berhubung dari tanggal itu liburan akhir tahun sudah dimulai. tapi, karena saya masih memiliki jiwa irit student, saya cari tiket yang murah, haha! dan hanya di tanggal 24 Desember itulah tersedia tiket murah (lumayan, 30€ lebih murah dari seharusnya!).

setelah 9 jam perjalanan, akhirnya saya sampai juga di Düsseldorf. dan saya sampai dengan keadaan sangat lapar. untungnya, teman-teman saya sudah menanti saya di sebuah restoran döner--entah ini sebuah kebetulan atau memang mereka peduli dengan perut saya yang lapar. setibanya saya di restoran itu, saya menunda lapar saya sepersekian detik untuk kemudian mendapati kalau saya begitu rindu dengan teman-teman saya--mereka bernama Caesa, Naufal, Dhika, Akbar, Ilham, dan El. saya memeluk mereka satu persatu sambil menanyakan kabar dan basa-basi yang terlalu basi. hingga tanpa panjang waktu lagi, lapar saya kembali ke tempat semula, dan menyuruh saya memesan makanan.

sebenarnya, di hari itu saya sangat kurang tidur. satu hari sebelumnya saya hanya mendapati tidur selama 3 jam, sebelum akhirnya berangkat ke stasiun kereta. maka setelah makan di restoran döner itu, seketika tubuh saya begitu letih dan rindu sekali dengan kasur empuk. tapi ternyata, kesenangan belum berakhir begitu saja di hari itu. teman-teman saya seperti belum ingin pulang, dan mereka memutuskan untuk melanjutkan dengan Shisha di sebuah Cafe. saya bisa apa, selain mengikuti mereka dengan senang hati--dan mata yang terkantuk-kantuk.


di Cafe ini, kami memesan dua bong Shisha dan menghabiskan waktu dengan bermain kartu. saya akui, saya memang sungguh ngantuk, tapi waktu seperti ini terlalu berharga untuk dilewatkan. saya sungguh senang!

setelah dari Cafe tersebut, kami memutuskan untuk pulang dan menyempatkan diri untuk selfie!


malam sudah menunjukkan pukul 12, dan saya sama sekali belum menyentuh bantal! maka sesampainya saya di rumah teman saya, Caesa, buru-buru saya mengganti baju dan bersiap-siap untuk segera berpelukan dengan kasur. sementara yang lain masih ingin menghabiskan waktu dengan ngobrol dan ada juga yang main game di laptop, saya sudah mulai hilang kesadaran, sedetik setelah kepala saya rebah di bantal. tidur saya sempat tidak nyenyak, sebab mereka begitu berisik, dan kalau saya tidak salah dengar, mereka juga berbisik-bisik. sesekali saya membuka mata, dan menemukan salah seorang teman saya tengah duduk di sebelah saya sambil menyuruh saya untuk tenang saja, dan silakan kembali tidur. saya tidak bisa, hingga akhirnya saya melihat kejanggalan di antara mereka, sebab mereka berkumpul membentuk lingkaran seperti sedang menyembunyikan sesuatu. dan...

saya melihat mereka memegang satu kotak berisi donat dan Caesa yang sedang berusaha menyalakan sebatang rokok lintingan. kemudian mereka menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun. sambil mulut menganga saya sangat terkejut, dan otak saya butuh sekian detik untuk menyadari kalau mereka sedang memberi saya kejutan ulang tahun untuk saya, yang sebenarnya jatuh pada tanggal 21 November. ya, satu bulan sebelum hari itu! 

jadi, mereka bilang, karena tidak ada lilin, maka mereka melinting rokok dan menjadikan rokok lintingan tersebut sebagai lilin untuk saya. saya tidak tahu untuk hal ini saya harus bahagia atau menampar mereka satu-satu..... tapi saya benar-benar merasa terkejut dan bahagia! haha. 






dan ini adalah penampakan kegiatan kami sehari-hari. sebab kamar yang tidak terlalu besar, maka kami tidur dan makan berdempetan. tapi itu bukan masalah! 
bagi saya,  kamar Caesa sudah lebih dari cukup untuk menampung kami. 
danke Caesa! <3


di hari berikutnya, sayang sekali Akbar dan Dhika harus pulang ke kota mereka masing-masing. saya tidak heran sebenarnya, sebab mereka sudah dari tanggal 20 menginap di sini. mungkin mereka sudah mulai bosan. hahahaha. 

tapi kesenangan tidak lantas berakhir begitu saja. hari berikutnya, tanggal 26 Desember, saya dan beberapa teman yang masih menetap di Düsseldorf, memutuskan untuk pergi ke arena ice skating. awalnya kami sempat ragu apakah arena tersebut buka di hari tepat setelah hari natal, tapi ternyata dugaan kami salah setelah mendapat pencerahan dari mbah Google, bahwa hari libur arena tersebut hanya jatuh di hari natal, dan tidak di hari setelahnya.

sebut saja ini wajah bahagia saya. hahaha!



sebenarnya, kami berlima. tapi karena Ilham terlalu asik dengan es, dan sudah menghilang sedetik setelah meluncurkan sepatu skatenya, maka kami memutuskan untuk selfie berempat saja. hahaha! maafkan kami Ham! salah sendiri kau terlalu bersemangat! 

di antara kami berlima, yang sudah bisa meluncur saat itu hanya Ilham. saya dan yang lainnya masih harus berpegangan di pinggir tembok pembatas, dan berusaha menyeimbangkan tubuh untuk bisa berdiri tanpa terjatuh. tapi tak lama setelah berusaha mencari keseimbangan, akhirnya saya dan Naufal bisa sedikit meluncur meski masih tersendat. sementara Caesa masih ketakutan di pinggir tembok pembatas, dan El yang mau tak mau menemani Caesa. peran Naufal dan El sebenarnya sangat penting bagi Caesa. sebab mereka bergantian menemani Caesa yang hanya bisa berpegangan di pinggiran, sambil memasang raut muka takut dan panik. hahaha! sementara saya sudah bisa menyusul Ilham yang tengah asik memutari arena. 

tapi, ketakutan ternyata bisa juga Caesa hadapi. sampai akhirnya pelan-pelan Caesa melepaskan pegangan dari tembok pembatas, dan mulai ikut meluncur dengan El dan Naufal yang memeganginya. sementara saya juga meluncur mengikuti mereka. 

ya, akhirnya saya berhasil memotret Caesa di tengah-tengah arena, dengan El yang masih menjadi topangan Caesa. hahaha! 

kejadian lucu sempat terjadi beberapa kali. seperti El yang sempat hopeless karena tidak bisa menjaga keseimbangan di arena, dan memutuskan untuk meminjam patung luncur berbentuk penguin seperti ini: 

(source: google)

tapi ternyata setelah El menanyakan ke petugas penyewaannya, patung itu hanya untuk anak-anak, dan El yang notabene sudah tidak cukup anak-anak, dilarang untuk menyewa patung tersebut. hahaha. saya tertawa dalam hati sambil menyayangi kesempatan melihat El berseluncur dengan penguin tersebut. 

dan kejadian lucu selanjutnya ialah Ilham yang sempat dengan santainya bilang ke saya, "Sha, kalau skate, badannya sambil digoyangin aja..". kemudian ia mempraktekkan berseluncur sambil menggoyangkan badannya dengan semangat. saya melihatnya seperti sedang menari ala ala boy band Korea. tapi, belum lama Ilham 'menggoyangkan' badannya dengan seru, ia terjatuh lumayan keras di atas es. saya tidak bisa menahan tawa lagi. HAHAHAHA. saya tertawa begitu kencang hingga beberapa orang di sekitar jadi memperhatikan kami, dan memperhatikan Ilham yang tengah berusaha bangkit. saya tertawa begitu puas melihat muka Ilham yang ikutan tertawa dengan muka yang terlihat sekali sedang menahan malu. HAHAHA. (bahkan di detik saya mengetik cerita ini, saya kembali tertawa.) 


sepulangnya kami dari arena, kami menyempatkan mampir ke restoran Döner, dan mengisi perut dengan Pomm Döner. Pomm Döner ialah 'nama gaul' dari Pommes dan Döner. makanan ini adalah perpaduan kentang goreng (dalam bahasa Jerman = Pommes) dan daging Döner yang disajikan dengan beberapa saus khasnya. 


keesokan harinya, Naufal memutuskan untuk kembali ke negaranya. ya, saya sebut negara sebab ia tidak tinggal di Jerman. ia melanjutkan studinya di Belanda. juga El yang ikut pulang pada hari yang sama. tetapi, kepulangan mereka diganti dengan kedatangan Astrid. salah satu teman dekat saya juga. sebenarnya sayang sekali Astrid telat datang satu hari, sehingga melewatkan kesempatan untuk ikut kami bermain di arena ice skating. tapi tak mengapa, kita tetap bisa melanjutkan kesenangan meski hanya tinggal berempat. haha!

fufu~ tidak lupa a selfie with Astrid.

tinggal berempat, kami menghibur diri dengan bermalam minggu pergi makan es krim. 


dan demikianlah waktu saya di Düsseldorf. sebenarnya, saya kira saya akan menghabiskan waktu di kota tersebut hingga tahun berganti. tapi, sebuah rencana dadakan terancang begitu saja, dan hal-hal tak terduga lainnya kembali terjadi. hanya saja saya tidak mungkin menambah panjang postingan blog ini dan membuat kamu bosan membacanya. haha, atau mungkin sejauh ini kamu juga sudah sangat bosan membaca celotehan saya yang sungguh panjang ini. percayalah! ini adalah tulisan terpanjang saya selama saya memiliki blog. ampuni saya kali ini! hahaha. 

saya akan melanjutkan cerita liburan akhir tahun saya di postingan selanjutnya. semoga kamu masih mau membaca! 

(bersambung)

Tuesday, November 26, 2013

Farbe

Ada spektrum warna aneh yang aku lihat dari kamu. Sesuatu asing mengelilingi kepalamu. Apakah itu? Selalu mengganggu mataku, membuat penasaran. Merah, bukan. Biru, bukan, Hijau, bukan. Warna lainnya pun bukan. Mungkin aku belum mengetahui nama dari warna tersebut. Mungkin juga tidak ada seseorang yang mengenal namanya. Tapi aku amat yakin itu salah satu dari warna yang ada. Di atas kepalamu, di air wajahmu. Di sekitarmu. Ada warna itu.. 

Ah, ternyata itu hanya warna dari mata seorang yang jatuh cinta. 

:]

Friday, November 9, 2012

An Dich Denken.

dan di sinilah aku duduk ditemani secangkir Latte dan seorang sahabat. mungkin mataku menatap lurus ke layar laptop, tapi pikiranku tak berhenti memelukmu dan menciumi kamu jutaan kali. aku rindu kamu. sangat dan sangat rindu. aku tau, kita masih bisa bertemu sekitar sebulan sekali atau paling cepat dua minggu sekali. tapi akhir-akhir ini pikiranku melayang lebih jauh dari seharusnya. bagaimana jika nanti aku hanya bisa bertemu kamu setahun sekali? dua tahun sekali? atau bahkan sebelum waktu yang ditentukan, kita justru telah menyerah? bagaimana? aku tau aku egois dan aku sadar kamu sudah sangat sabar menghadapi aku. aku tau kamu menyayangi aku berlebihan, seperti aku yang tidak pernah menyerah mencintaimu meski dengan keegoisanku. mungkin di matamu, aku seperti akan meyerah. tapi ini aku, seringkali tenggelam sendiri dengan pemikiran yang kadang tidak bisa aku kontrol, lalu kamu yang harus sabar menanggung ego ku. tapi ini aku, Baby.. aku hanya mencintaimu terlalu dalam dan aku hanya merindukanmu melebihi batas wajar. aku merindumu dengan egois..

Saturday, October 27, 2012

Genug.

Rasanya tidak akan cukup dengan hanya mencintaimu sehari, aku mencintaimu berhari-hari. Rasanya tidak akan cukup dengan mencintaimu sekali, aku mencintaimu berkali-kali. Rasanya tidak akan pernah cukup aku mengutarakan perasaanku dengan kata-kata, aku bisa mengatakannya lebih lewat mata.
Kamu buat aku kehabisan kata-kata untuk mengurai bagaimana itu cinta, kamu buat aku terkesima sedemikian rupa dengan bahagia. Kamu buat aku tidak tau bagaimana melukiskan perasaanku saat bersamamu..
Aku bahagia, tapi bukan hanya bahagia. Lalu apa kata yang tepat ? Apa kamu tau ? Aku jujur tidak tau.. Mungkin jika ada kata yang bermakna di atas rasa bahagia, mungkin itu kata yang tepat. Ehm... Komplit?
Apa ya? Kamu buat aku bingung!!! Aber es ist genug.. Ini tuh cukup.. Cukup bahagia untuk disebut bahagia. Cukup bahagia untuk dikatakan bahagia. Cukup bahagia untuk dirasakan bahagia. Cukup bahagia untuk diungkap sebagai bahagia.


Cukup.

Friday, October 26, 2012

Wieder... Danke?

Aku tidak tau lagi mesti merasa apa. Kamu buat nafasku tercekat, kamu buat degup ini berhenti sejenak, kamu buat hati ini terlampau terpikat.. Entah aku harus terharu menangis bersyukur, atau harus tersenyum lega telah menemukanmu..
Kamu, apa adanya, mencintaiku, yang juga apa adanya..
Seperti hari ini, dengan sikap-sikap romantis yang sederhana, yang lalu membuat aku tak bisa berhenti memikirkannya.. Sesederhana itu kamu membuat aku bahagia..
Aku... Mencintaimu.

Versprechen.

coba lihat ke dalam aku, mungkin ada serpihan yang belum kamu ketahui. mungkin ada juga serpihan yang serba mengeluh tidak puas. bukan maksud aku menyatakan bosan, bukan maksud cinta memudar, tapi aku hanya terkadang lelah. kamu tidak melihatku lebih dalam, dan kamu juga tidak membiarkan aku melihatmu lebih dalam dari apa yang kau tampakkan di hadapanku. aku hanya ingin mengetahuimu lebih, dan kamu mengetahuiku juga lebih. bukan sekedar menjanjikan, yang lalu kamu lupakan. aku tidak menyalahkan, aku hanya menyatakan. apa salah kalau kita lebih saling mengenal? apa salah kalau kita saling menjadikan satu sama lain sebagai tempat berbagi cerita? apa salahnya jika kita mencoba seperti itu? cinta, mungkin bagimu hanya sekedar apa yang kamu rasakan dalam hatimu, dan kamu nyatakan melalui bibirmu. mungkin kamu tidak tau, cinta bagiku ialah saling mengenal. cinta tidak sesederhana dongeng di buku cerita anak-anak yang selalu berakhir berdua bahagia, cinta tidak sesederhana sinetron yang serba cemburu, cinta itu jujur saja bagiku rumit. kamu harus belajar mendengar kata-kata yang tidak aku katakan, dan aku juga harus menjaga perasaanmu yang jarang kau sampaikan. bagiku, itu cinta. lalu bagaimana kita bisa belajar lebih dalam? jika yang kita jalani hanya menebak-nebak, tanpa saling memberi tanda? seharusnya kamu bisa mendengar kalimatku di antara diamku, seharusnya aku bisa mengerti cemburumu di antara rindumu tanpa perlu lagi menanyakan terlebih dahulu. bagaimana? dengan sebelumnya kita mengenal diri kita satu sama lain. apa salahnya kita berbagi cerita? berbagi canda atau haru yang kita lalui di antara jarak yang menganga? sulitkah, sayang?

Monday, October 22, 2012

Fantasy.

Aku rasa, kamu benar telah menjadi bagian yang paling melekat di diriku. Seperti pagi yang aku hirup lewat jendela kamarku. Sehangat itu, sesederhana itu. Kadang kamu muncul berupa fantasi yang menggairahkan. Ingin rasanya ku peluk, atau ku kecup-kecup wajahmu. Kamu bayangan yang paling nyata dalam pikiranku, seakan sudah satu paket mengalir dari hatiku. Imajinasi yang tanpa sadar menjadi teman dalam tidurku, mimpi. Seperti itulah aku mewujudkan rindu. Tanpa pernah sedetikpun aku absen memikirkanmu. Rupanya rindu lebih banyak terlukis melalui fantasi-fantasi mesra, di banding kalimat cinta yang aku ketik ke kamu. Begitulah rindu menuntunku menikmati cinta. Ia menjadikanmu aktor utama dalam pikiran-pikiranku. Dan aku bersyukur. Meski merindumu membuat sepiku bertambah kelu, tapi fantasi tentangmu selalu berhasil mengundang senyum di bibirku. Seakan keberadaanmu tepat di sampingku, sedang memeluk dan merengkuhku dengan penuh rindu..

Saturday, October 20, 2012

Danke.

Mungkin kamu tidak sadar, bagaimana pengaruh besar yang kamu bawa terhadap pipiku. Kamu membuatnya menjadi sering menyunggingkan tawa dan senyuman.. Dan kamulah yang selalu menjadi penyebabnya. Aku hanya terlalu bahagia sama kamu. Kamu mencintaiku sebagaimana aku tercipta. Kamu melihatku seakan aku sempurna. Kamu mempercayaiku seakan aku manusia tanpa dusta. Kamu mengerti aku seakan aku bayi baru lahir yang selalu pantas dimaklumi. Kamu selalu gentle menghadapi aku, dan itu hal baik. Aku bersyukur ditemui oleh Tuhan seorang pria yang mencintaiku seperti itu. Aku tidak bermaksud gombal. Hanya saja memang kamu mengundang banyak pujian keluar dari hatiku, mengalir ke jari ini, dan menuliskan kalimat-kalimat baik. Rasanya satu atau dua, atau bahkan beribu terimakasih tidak akan cukup menyanding cintamu. Sebab cintamu itu bukan untuk aku balas dengan terimakasih, melainkan dengan perasaan yang sama, yang juga tulus terlahir dari hatiku. Ya, aku mencintaimu, sebagaimana kamu mencintaiku :)