Tuesday, November 26, 2013

Farbe

Ada spektrum warna aneh yang aku lihat dari kamu. Sesuatu asing mengelilingi kepalamu. Apakah itu? Selalu mengganggu mataku, membuat penasaran. Merah, bukan. Biru, bukan, Hijau, bukan. Warna lainnya pun bukan. Mungkin aku belum mengetahui nama dari warna tersebut. Mungkin juga tidak ada seseorang yang mengenal namanya. Tapi aku amat yakin itu salah satu dari warna yang ada. Di atas kepalamu, di air wajahmu. Di sekitarmu. Ada warna itu.. 

Ah, ternyata itu hanya warna dari mata seorang yang jatuh cinta. 

:]

Sunday, November 24, 2013

Verlangen

Kalau saja waktu tidak sejauh ini bedanya. Kalau saja tanah yang kita pijak tidak terasa sebegini bedanya. Kalau saja menemuimu semudah menunggu hari Sabtu dan Minggu. Kalau saja menghubungimu semudah meminta nomor hp-mu. Kalau saja aku bisa menyentuhmu.
Mungkin aku tidak akan semerindu ini...

Bagian paling menyesak dari mencintaimu adalah merindumu. Jika aku bisa menepikan sebentar saja perasaan rindu ini, maka aku tidak akan selalu mengeluh dalam tulisan-tulisanku. Maaf jika kamu bosan membacanya, maaf jika isinya tak mampu menyentuhmu saat tulisan ini berusaha memberitahumu semua tentang malam-malam yang aku habiskan merindumu. Maaf jika kata-kataku tak semanis yang kamu harapkan. Maaf jika rindu ini salah, jika rindu ini tidak tau diri. Maaf, aku merindu berlebihan.

Semalam sempat aku bermimpi, mempertanyakan diri kenapa tidak pulang saja akhir Minggu ini.. Sempat lupa bahwa keberadaanku tidak sedekat itu. Sempat terlalu terburu-buru berharap dapat menemuimu. Sempat terlalu bersemangat. Sebab menemuimu telah menjadi keinginan yang semakin menjadi-jadi setiap hari. Membayangkannya saja mulai tidak cukup. Sumpah, di pagi buta seperti ini yang paling pertama menari dalam pikiran hanyalah namamu, dan wujudmu yang berupa memori sederhana. Kesederhanaan yang bisa menuntunku gila. Senyummu, tawamu, caramu berbicara, caramu membayangkan sedang menatapku langsung, caramu menyatakan cinta, caramu menyatakan rindu, caramu memanggil namaku, tulisanmu, semua tentangmu yang bisa membuatku gila. Tergila-gila. Aku terlalu suka denganmu, dan apapun yang ada padamu..

Bagaimana rindu ini harus aku bahasakan, Sayang? Lama kelamaan wujudnya mulai menggores dada. Menyisakan luka. Terlalu merindumu membuatku tak sabar melawan waktu. Aku ingin bertemu. Aku ingin kamu.

Ya Tuhan, lagi-lagi aku memintaMu..
Aku amat tau, bukan dalam waktu dekat aku dapat menemuinya, tapi tolong.. Selama aku belum bisa menemuinya, jaga rindunya untukku juga. Sebagaimana aku selalu merindu dalam tidurnya. Sebagaimana aku menjaga rindu ini tetap terjaga memeluk tubuhnya dalam imajinasi. Sebagaimana aku merindunya tanpa henti...

Dengar aku, Tuhan.
Jaga rindunya seperti aku menjaga rinduku...

Friday, November 22, 2013

21 November

Hari bahagia itu telah usai, dan ternyata aku lalui dengan senyum. Jujur, karenamu. Kue super lucu dan lilin dengan angka sembilan belas itu mengawali tengah malam perpindahan hari. Subhanallah.. Satu-satunya hal yang paling aku nanti, ternyata Tuhan kirim melaluimu. Tangisan-tangisan yang hanya aku adukan kepadamu, telah kamu hapus dengan kejutan sederhana. Padahal kamu jauh, ribuan kilometer jauhnya. Tapi kamu yang melukis hari ini dengan penuh warna.. 

Kalau ada permintaan yang instant, yang bisa terkabul detik ini juga, aku hanya ingin kamu.. Aku ingin bertemu dengan kamu. Berterimakasih secara langsung, memeluk, dan menciummu sedikit. Karena kebahagian yang telah kamu kasih sangat menyentuh hati! Entah bagaimana harus aku ungkapkan, betapa hati ini sangat menginginkan sosokmu. Betapa hati ini tlah kamu buat jatuh cinta. Betapa hati ini amat sangat berterimakasih.. 

Juga kepada-Nya, aku ingin bersyukur, alhamdulillah.. telah Ia kirimkan satu jiwa yang mencintaiku dengan sempurna. Mengirimkan aku bahagia dari ujung benua sana. alhamdulillah ya Rabb.. 

Kalimat terima kasih yang berada dalam hatiku, sungguh telah lumpuh jika aku ungkapkan dengan kata.. Aku tak tau bagaimana harus menuliskannya. Tapi aku berharap, kamu mengerti maksud dari tulisan sederhana ini, dan aku berharap cinta yang aku miliki, sampai dan hidup dalam dadamu. Aku ingin kamu paham, how much I love you, how much I'm feeling so grateful to know you in my life. One day after I knew you, I said that you were no longer stranger. And indeed, aku tidak mengambil langkah yang salah untuk mengenalmu dan mencintaimu sedalam ini.

Aku mencintaimu, sebab Tuhan. 
Kamu adalah hadiah terindah dari-Nya di hari ini.
Dan insha Allah, di hari nanti..

:]

Wednesday, November 20, 2013

20 November

Aku di sini hanya duduk, melayangkan pikiran sempit ini ke ruangan-ruangan yang sempat setahun aku lupakan. Dari kepala, jatuh ke dada. Pikiran indah itu, harusnya kukenang dengan bahagia. Tetapi sekarang yang ada justru sakit yang menyesak. Aku biasa menghitung hari satu satu. Sedikit demi sedikit. Menghampiri hari yang biasanya aku nanti. Aku biasa menyiapkan diri untuk senang atau bahagia. Namun biasanya aku bisa sadar diri, aku masih di samping mereka.. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari itu. Akan sesedih apapun, aku tetap bersama mereka..

Namun kali ini, tahun ini, bulan ini, mendekati sang hari, aku berusaha untuk menyiapkan diri. Sesenang atau sesedih apapun nanti. Tetapi ternyata belum bisa. Atau bahkan tidak bisa sama sekali. Padahal aku tau aku tidak sendiri. Walaupun, mereka tidak di sini, harusnya aku bisa merasa bersyukur dengan sesiapapun yang sekarang sedang menemani. Tapi ya Allah, maaf aku belum bisa.. Dari beberapa hari sebelumnya aku telah berusaha, tapi belum bisa.. Aku juga ingin menyambut hari itu dengan senyum, bukan tangis. 

Aku cuma kangen sama mereka, boleh ya?


Antwort


Aku berusaha membantumu menafsirkan mimpi
Hingga tak lagi gelap yang menemani dudukmu sendiri
Menggapai terang untuk satu jawaban
Satu-satunya alasan sebuah kepastian

Apa arti dari beribu tanya yang kau haturkan
Tentang jarak atau masa yang berlainan
Merindu wujud untuk menjadi lebih dari nyata
Agar bisa menjadi bukti kekal sebuah cinta
Sungguh itu bukan hal yang utama, Sayang...
Sebab apalah mimpi sebelum cinta menyerang..

Asa-asa yang menggema dalam bunga tidur
Sesungguhnya kekal dalam jalur
Sebab sedikit kau genggam sang sinar
Abadilah dirimu dalam cinta yang berpendar

Bisikan-bisikan itu akan sampai; tentu.
Pada telinga mahligai waktu
Janjimu terpahat tajam dalam asa
Suatu penantian demi kekasih di abadinya suatu masa..

Ivanasha Adani Prasetianti

Tuesday, November 19, 2013

Di Tempat Lain

Mungkin tubuhku sedang tak berdiri sejajar
Tak meluruskan tegak berdirinya dengan garis dalam hadap
Hingga hampir jatuh tak kuat menopang gemetar
Sedikit demi sedikit tersesat dalam peluk gelap

Lama setelahnya benar-benar tak kuat lagi bernafas
Hingga kaki pun semakin melemah tak ada daya
Tak peduli lagi bagaimana sang paras
Mencerminkan kuatku yang tak lagi jaya

Aku begini, karena siapa?
Aku begini, karena apa?

Keheningan menjadi satu-satunya lawan bicara
Tak ada jawaban pun, biasa
Sudah tak mampu lagi aku mengolah kata
Selain terjatuh, terluka, menangis, berusaha mencinta

Semakin dalam diam angkat bicara
Berusaha mencari jawab dari tanya
Melihat ke dalam luka di dada
Apa sebabnya?

Aku begini, karena kamu.
Aku begini, karena rindu.

Setelahnya, aku tak ingat lagi apa-apa
Hilang ingatan mungkin salah satu jalan keluar
Dengan membalas senyum cinta tanpa air mata
Kemudian rindu hilang, berhenti menjalar

Sudah terlampau lama rindu bertahan menopang jiwa
Hingga ia tak ada lagi nyawa
Hingga bahkan tak mampu lagi menjadi alasan cinta
Rindu pun menyerah, pergi, mencari bahagia

Di tempat lain...

Ivanasha,18112013.

Monday, November 18, 2013

Akzeptieren.

Sungguh tidak akan aku janjikan kisah yang indah di antara kita berdua. Bukan kisah yang selalu bahagia yang ingin aku miliki berdua denganmu, sayang. Melainkan kisah yang apa adanya, yang memiliki senang dan sedih. Dalam senangnya kita bisa tertawa bersama sambil memeluk tubuh satu sama lain, berlindung dari dingin dunia. Dalam sedihnya, kita menangis bersama, atau memaki satu sama lain. Sebab apa sayang? Sebab kita bukanlah manusia sempurna.. Kita melakukan kesalahan yang sadar atau tanpa kita sadari. Dan akan kita hadapi itu, sayang. Dalam hubungan kita kelak, akan kita miliki kisah yang tanpa jeda. Dengan benar dan salah masing-masing diri kita, kita akan tetap menerima satu sama lain. Dalam kelebihan atau kekurangan yang sudah menahun kita miliki sejak kita terlahir..

Menerima keberadaan asing ke dalam hidup, bukan sesuatu yang mudah. Mencintai seseorang pun bukan hal yang aku sebut mudah. Menanggung konsekuensi dari arti berbagi. Berbagi hati, berbagi cerita, berbagi waktu, berbagi hidup. Dan semua itu aku ingin lakukan berdua bersama denganmu, sayang. Mempersilahkan kamu masuk ke dalam ruang hidupku yang sempit. Yang tak luput dari kekurangan, dan tak luput dari kesalahan. Aku masih manusia biasa yang tak sempurna. Begitupun dirimu, sayang. Sosok yang tadinya asing, ingin sekali aku terima masuk ke dalam hati ini. Ke dalam hati yang aku miliki seorang. Satu-satunya hati yang aku punya dalam dada, ku serahkan semua seutuhnya untukmu, kekasih. Dengan harapan aku dapat menikmati hidupku selanjutnya berpegangan tangan denganmu. Tersenyum dalam pelukanmu, dan menyusuri jalanan setapak berangkulan dengan tubuhmu. 

Semua mimpi yang sekarang aku miliki, menyebut namamu di dalamnya. Dengan nafas cinta yang kuhela setiap pagi, merindu keberadaanmu yang belum ada di sebelah jiwa. Menerimamu dalam wujud fana, sudah. Dengan membayangkan bagaimana kelak kita akan menjalani persamaan dan perbedaan dalam waktu kita berdua. Menelusuri kehidupan di bawah tangan Tuhan. Kau telah berhasil menjadi mimpi indah paling biadab yang menggores cinta. Kau telah menjadi bagian dari cinta yang aku simpan  dalam jelaga. Sosokmu kemudian sudah tak lagi asing dalam mata dan telinga ini. Tubuhmu telah sangat hidup dalam lenganku. Meski belum nyata rupanya.. Namun aku tau, cinta yang aku miliki untukmu, dan harapan yang aku jalin tentangmu, adalah benar. Dengan yakin dan amat yakin telah aku rajut sejuta kalimat doa untuk kita berdua..

Aku mencintaimu dengan menengadahkan tangan kepadaNya. 
Sehingga kita berdua bisa saling memiliki seutuhnya.
Saling mencintai dan menerima, tanpa tanda tanya.


Tuesday, November 12, 2013

Der Gründ Meiner Schreibe

Kau selalu bisa menjadi alasan untukku menulis sesuatu. Menulis hasrat yang tak pernah sempat kau baca, atau yang bahkan tak sampai kepada mata dan telinga milikmu. Seperti rindu yang hampir saja hilang dengan disaingi keberadaan waktu. Dengan terbiasa aku telah menyukaimu lebih dari seharusnya. Perasaan sukalah yang melahirkan rindu itu. Rindu-rindu yang tak sampai dan tak terbaca. Mereka lahir dari matamu, dari bibirmu, dan dari kalimatmu. Dari hal-hal tentangmu yang aku cintai. Mereka tak jera menghampiriku untuk meminta pergi. Untuk sampai ke hatimu. Untuk dapat kau ketahui, dan bukan hanya berdiam sebagai perasaan yang tak tersentuh lalu kemudian mati. Seringkali aku terbangkan mereka di malammu, saat kau tertidur. Berharap rindu-rindu itu tak akan tersesat di perjalanan jauh. Namun kemudian, setelah pagi datang, yang aku ketahui hanyalah bahwa rindu selalu mati di perjalanan. Sehingga yang kembali hanyalah satu atau dua bagian tubuhnya. Yang mengadu kepadaku; Perjalanan terlalu jauh, dan tak sanggup ditempuh. 

Bukan sekali dua kali pula keinginanku mati di perjalanan. Entah berupa bisikan rindu dari bibirku yang kemudian hanya menjadi abu. Ataupun cinta yang hanya bisa terbang tanpa arah, kembali, dan tak mau lagi berkelana selain di dalam hati sendiri. Hingga sempat bosan aku mengalami kekalahan. Namun tak ada lagi keinginan bagiku untuk mengeluh hanya karena mencintaimu. Aku memilih untuk mencintaimu; ketika sebenarnya aku bisa memilih untuk tidak. Aku bisa memilih untuk mengambil langkah lain, membunuh perasaan dan keinginan yang berlebihan. Tapi ini yang telah aku pilih, aku ingin mencintaimu dengan setulusnya. Dan tidak akan mengeluh.

Aku ingin terus bermimpi tentangmu. Aku akan menikmatinya.
Meski rindu tak pernah sanggup sampai ke telingamu. 
Namun akan terus aku coba; dan tidak akan bosan mencoba.
Aku rindu kamu.

Was Gut Ist, Ist Auch Was Schlecht Ist.

I don't wanna cry loving you

But what should I do? there is always a sad moment for me, when I think about you. I'm so curious. When will we be together, like, really together? When will you be here.. Questions like that bother me. Cause the way you made my heart beat too fast, hurts me. It hurts so bad, dear. Its like, Why am I loving you too hard? Why am I wanting you so much? Do you feel the same way like I did? Questions like this, again, bother me. 

But I want to believe on this. I want to wait. Because I know I'm in love. I want to keep waiting and believing, as long as you still show me your heart. As long as I still can touch you in my dream. Cause you are the sweetest dream I wait for in every night I had. I want to go with you, to wherever path we talked about. You are also the strongest hope I ever had, and the most colorful fantasy I ever imagined. But one thing, even though you're good thing for me, you're also bad. Because you make me insane. Sometimes I'm feeling so down, just by thinking that you're too far from me. And knowing that this distance is something we can't deny yet. We are way too far separated. You can say it's 17 hours flight. And it's undeniable. I'm crying on my silence, don't you hear that, dear?


Sunday, November 10, 2013

Angst.

Oh My God, I miss him so.

I think it kills me. For the first time I feel that a time difference is sucks. For the first time for sure. Since I lived in Germany, and experiencing a time difference with my homeland, which is long enough to make me suffer this longing so bad. I swear. I never thought about it this much before. I was like; Oh yaudah, I'll find the right time to contact them, or so. But this, I really can't wait! I want time goes faster till he wakes up. I don't wanna get sleepy, please. I want to talk with him more and more. Yes, I'm feeling like this because of him. Damn you, bloody boy. Why can't you stop running around on my mind? I can't even hold my finger to stop writing. I want to write 'I miss you' thousand times for you. Because all I can do is just write to you.. I can't say it. I'm too afraid. Too shy to say. And how could I express my heart to you, but write you a simple poem. Remember, right? Life is a poem. Did you know why I always post something on my Tumblr? Because it's for you to read what I can't say, Schatz..

Oh God, here I am again. Trying to pray to You. I like him. I like him a lot, God. After so many heartbreaks I got, I finally fell in love again. Please don't let me choose the wrong path. Or at least, keep his love for me God. The way You keep Your love for me. Let it be right. Let me like him. This far, I felt he's right. Let me be sure.. 
I'm afraid, God..

Friday, November 8, 2013

Wieder Lieben.

"Pagi itu kita bangun masih sebagai orang asing, tidak mengenal nama atau rupa. Saling menyapapun tidak. Kita tadinya hanyalah 2 jiwa dengan pagi di waktu yang berbeda.."

Di waktu yang tidak pernah sebelumnya aku duga, kamu datang melangkah dengan ringan. Mengetuk pintu hati yang tadinya tertutup rapat. Amat rapat. Sebab sempat tidak ada niat sama sekali bagiku untuk membuka celah pintu itu. Namun entah mengapa tergerak rasanya untuk membukakan pintuku yang kamu ketuk itu. Mungkin ketukanmu amat pelan, namun terdengar menggema hingga seluruh dinding ruangan di dalam pintu aku. Berisik. Menggoda.
Sedetik aku mengintip, membuka pintunya sedikit, melihat kamu. Tersenyum di depannya. Dan tanpa paragraf pembuka kamu mencuri hati ini. Dari celah yang hanya sedikit untuk mengintip, malah aku buka lebar agar kamu bisa masuk. Awalnya sempat melahirkan tanya; siapa dia. 

Siapapun dia, siapapun kamu, aku ingin mengenalnya. Sebab hati tak pernah bisa mengelabui diri sendiri. Aku merasa tercuri. Hanya dengan beberapa hari setelah kau ketuk perlahan hati ini.  Aku akan mengenalmu dengan baik, semoga aku tidak salah memilihmu untuk menjadi tamu  dalam ruang tamu di hatiku. Kemudian aku pun sadar, semakin lama aku mengenalmu, semakin habis saja aku. Aku tidak bisa lari lagi. Aku telah benar-benar jatuh hati. Keberadaanmu menyenangkan hati ini. Hati yang sempat tak peduli dengan sesiapapun yang berusaha memasukinya. Hati yang sempat menolak untuk bahagia. Tapi kamu.. Kamu benar-benar membawa hati ini terjun kembali ke perasaan melayang yang sudah lama tak pernah aku tulis di dalamnya. Perasaan bahagia. Perasaan jatuh cinta.. 

Oh ya Tuhan..
Aku justru berharap berlebihan. Aku pun bermimpi terlampau jauh. Aku juga merajut khayalan dengannya terlalu dalam. Aku ingin lebih.. Aku ingin bertemu dengan pemilik wajah itu. Aku ingin menikmati senyumnya hanya untukku. Aku ingin memeluknya, dan menciumnya sedikit saja... Aku ingin mengajaknya jalan bersamaku, menikmati udara musim dingin di langitku yang berbeda dengan langitnya. Aku ingin bangun di pagi yang sama dengannya.. Aku ingin tidur di malam yang sama pula dengan malamnya.. Aku ingin menjadi Selamat Pagi pada paginya, dan Selamat Malam pada malamnya. Aku ingin menggenggam tangannya, merangkulnya, menyentuhnya, mencintainya seutuhnya.. Aku ingin ia menjadi milikku; sekarang juga.

Ivanasha Adani Prasetianti