Showing posts with label ivns's. Show all posts
Showing posts with label ivns's. Show all posts

Sunday, July 29, 2018

Lebam Rindu




















Saya tahu, rasanya rindu ini tidak pantas.
Tidak untukku, tidak pula untukmu.

Tetapi sore tadi senja seperti tak lepas
melekat berwarna ungu
dengan semburat jingga
di awan yang mengantara.

Perihal langit, di hadapannya,
saya tak ingin berbasa-basi.
Saya hanya mengingatmu.
Tapi sudahlah, kau tak perlu tahu.

Sebentar lagi ingin kulepas hatiku
dan menaruhnya di luar jendela
biar malam ini ia menggigil saja.
Beku, tambah sakit, dan menjadi debu.

Hari ini senja sangat indah di kotaku.
Tetapi ia payah.

Membuat saya sadar betul
kalau kita bukan siapa-siapa.

Friday, March 9, 2018

Catatan Tubuh

Langit di luar jendela telah gelap. Udara malam hari menusuk ke dalam tulang seakan-akan tidak ada selimut yang membalut tubuh kami. Barangkali selimutnya terlalu tipis.

Ia merapatkan tubuhnya ke tubuhku. 
Tangannya bergerak perlahan.

Memelukku.

Aku menahan napas karena takut ia mendengarnya. 
Aku ingin membalas peluk tetapi degupku seperti terlalu keras.
Aku malu. 

Kupalingkan kepalaku untuk menatapnya. Ia tersenyum. Senyum yang amat manis. Seperti mengartikan sesuatu yang kuyakin sama seperti apa yang kupikirkan. Aku bisa mendengar gemuruh di dada kirinya. Mungkin ia juga mendengar gemuruh di dada kiriku. 

Masih dengan gerakan perlahan, ia pun menghampiri bibirku.

Ia melumatnya. 

Dan tanganku tak bisa berdiam saja. 

Sudah dari lama, aku ingin meniti tubuhnya dengan jari jemariku. Maka tanpa banyak kata, kudaratkan sentuhan-sentuhan lembut di balik bajunya, meraba punggung hingga pinggul, tersasar sesekali mengelus pipinya; menambah lekat kecup kami yang hangat. 

Kemudian ia membalas sentuhan itu dengan gerakan yang sama. Aku merasa ia mencari-cari sesuatu di tubuhku, tapi tak pernah berhasil menemukannya. Aku mulai percaya bahwa ia hanya berkeliling dengan sengaja. Merasai kulitku yang dingin dengan jari jemarinya yang hangat. Sesekali sentuhan itu berhenti di pinggangku cukup lama, ketika sepasang bibir kami bertambah mesra. 

"Jangan di sini." bisikku kemudian. Menyadarkan napasnya yang semakin tak teratur.

Ia menatapku, seakan bertanya, "Kenapa?"

Suaraku kembali lirih,

"Kau temanku, dan ini hanyalah mimpi belaka."

Tuesday, June 28, 2016

Tulisan Malam

di dalam tulisan ini, aku mencuri malam yang masih di langitmu, agar gelapnya merangkul kau dan aku semakin dalam, hingga bahkan tak bisa lagi kucuri tatapanmu yang tajam.

aku ingin lumat, sampai habis di ujung dahagamu. menjadi ciuman atau pelukan memabukkan. kemudian tanpa sadar menanggalkan akal di ujung kamar, menikmati tanganmu yang mulai bergerak nakal. aku tidak ingin menjauh. kusadari betapa lama kunantikan ini. 

kata-kata di ujung bibirku memilih untuk bersuara di lidahmu saja. dengan napas yang berderu, aku menyebutkan namamu bersamaan dengan kau mengelukan namaku. kita mendamba untuk tiba di bintang jatuh yang sama. 

kita terbakar sampai tak ada lagi cahaya sama sekali. bahkan jendela yang terbuka tak berhasil mencuri sinar bulan di atas sana. dengan gelap ini, kau meyakinkanku bahwa cinta datang tanpa perlu terlihat oleh mata. 

"kau bisa merasakannya.."

Sunday, May 10, 2015

What Is Your Fear?

malam jatuh kian gelap
ketika tak satupun dari kita mencari bintang
atau menerka-nerka
kerinduan mana dalam dada yang paling bahaya

langit seperti kehilangan napas
aku tidak berhenti menyalahkan diri sendiri
menghitung waktu semoga berjalan tanpa kehilangan
ketika ketakutanku kian menjadi
dan mungkin ini yang mereka sebut mencintai

bergelas-gelas kopi
memperpanjang malam dan penyesalan
aku berusaha kembali bangun
dengan tanpa menyakiti diri sendiri
tetapi kegagalan selalu mengetuk pintu--perlahan

tell me, what is your fear?
were you ever afraid of losing me..


Thursday, February 19, 2015

Bagaimana Aku Menulis

aku belajar menulis puisi dari kehilangan
dan kehilangan juga mengajariku
untuk mengenalmu lebih jauh

malam itu.
ketika umurku masih terlalu muda untuk mengenal kehilangan
aku duduk di pangkuanmu
"hendak ke mana?" tanyaku kala kulihat kau merapikan bajumu
mengurasnya dari lemayi kayu
"hanya sebentar, aku ada urusan di luar kota." jawabmu
dengan sebuah senyuman dan sepasang mata yang tak mampu kubaca

dan paginya,
kusadari kau tidak akan benar-benar kembali

kemudian aku menulis puisi
demi menghidupi sosokmu di sisiku
tak peduli seberapa sakit mata ini
ikut menulis dengan tinta kesedihan
dan isak penasaran

apa salahku?
bukankah aku gadis kecil yang tak bisa kau tinggalkan?
bukankah kau berjanji untuk kembali?

dan aku menulis puisi
lagi dan lagi
untuk menjawab pertanyaanku sendiri:
bahwa punggungmulah malam itu
satu-satunya memori yang menjawab sepi-sepi

kemudian tiba saatnya
kita bertemu dan menyatakan rindu
ketika aku sudah cukup dewasa
untuk memahamimu

bahwa kepergianmu yang menahun itu
untuk menghadiahkan aku
seorang Ayah,
yang lebih siap kucintai.

dan kumohon kau, untuk jangan pergi lagi. 

Tuesday, February 25, 2014

Rauchen

Ada sebatang rindu
Yang ikut menjadi abu
Dari tubuh kecil bara ini
Dari sepi-sepi yang tak mati

Tentangmu
Kembali lagi aku tangiskan rindu
Bahkan sempat sedetik kehilangan nafas
Meredam kelam dengan tegas

Aku mungkin sendiri di sini
Menarik sisa-sisa memori
Yang menyamar jelaga api
Membuatku mendekati mati

Kematian
Tidak akan semudah kesedihan
Tetapi kau akan menangisi aku nanti 
Menyesal menggores kesedihan dalam hati ini

Karena tentangmu
Semua rindu tertuju
Dan kau tak lihat darah
Dari cinta yang terlanjur marah

IAP

Friday, February 21, 2014

Puisi

Tentangmu
Segala puisi selalu luruh
Tak pernah berani membunuh
Aku atau kau yang setubuh

Kadang justru puisi kehilangan kata
Ketika sedang berkisah tentang kita
Sebab kita lebih dari kata-kata
Dan kata-kata tak mampu menjadi kita

Puisi ini
Ku anggap sebagai pelipur sedih-sedih
Yang ku tegur agar lebih baik lagi
Untuk menghibur kenangan yang kian menjadi-jadi

Dan,
Dengan bibir basah yang tak tahan
Merajut keinginan dalam pagutan
Kita akan berakhir di satu ciuman

Padamu,
Seluruh asa tertuju.


IAP

Thursday, February 20, 2014

Dian

kepadamu,
segala cinta berlabuh
rumah bagi segala rindu
yang terselip tanpa keluh

bagiku,
kau lebih dari sekedar cinta
dan lebih dari mimpi belaka
kau ialah kehidupan yang sempurna
yang kucintai sepenuh raga

dian,
tak terhitung puisi menulis namamu
melukiskan cinta penuh gembira
menerjemahkan rindu yang tak kau tahu
mengagumimu melebihi gila

begitulah aku,
mencintaimu

hingga tak perlu lagi
kau jelajahi isi hati
untuk mengutuk keraguan yang tak perlu
melukai rindumu yang sempat terlalu

bagiku,
kau rumah setiap suka
kau tempatku bersembunyi dari duka

bagiku,
kau melebihi sempurna


IAP


Tuesday, February 18, 2014

Selamat Ulang Tahun!

barangkali, 
tak ada yang lebih tabah dari sebatang lilin.
diberikannya cahaya,
dengan mengorbankan tubuhnya.

     malam ini,
     lilin menyala dengan tabah
     serupa umurmu yang bertambah
     cahayanya,
     mendoakan setubuh kebahagiaan untukmu di sana
.

masuklah ke dalam tubuhku, malam ini
jangan biarkan aku meninabobokan kesedihanku seorang diri
ia butuh nyanyian, bukan tangisan.

     kepadamu, hari ini
     nyanyian selamat terpanjat sebagai doa
     agar kesedihanmu tertidur saja
     dan kau dapat bahagia setelahnya


sejelek apapun kebahagiaan kau lukiskan,
ia akan tetap terlihat indah.

     jangan begitu!

     ini demi kebahagiaanmu
     atau perlukah ku hadiahkan kau
     setangkai mawar
     dari sebentuk hati yang bergetar?


yang tak menarik dari hadiah pemberianmu
hanya setangkai mawar.
yang durinya,
masih membuat tanganku berdarah.

     baiklah, aku menyerah
     puisiku lagi-lagi gagal menyuguhkanmu kebahagiaan
     bahkan di hari kau berdoa bertepuk tangan
     meletakkan umurmu sebagai perayaan

barangkali,
seperti macetnya jalanan.
kebahagiaan takkan bisa ditemukan,
jika kita tak beranjak dari kesedihan.

     barangkali,
     kau perlu beranjak pergi mulai hari ini
     meninggalkan kesedihan yang kau tulis serupa puisi
     sebab hari ini,
     biar kebahagiaan saja
     yang memilikimu,
     seutuhnya.


Selamat ulang tahun, Mal!



Puisi oleh @titikjauh & Ivanasha.

Thursday, February 6, 2014

Rindu dalam Puisi

Hai, Ma!

Nasha kangen sama Mama. Dari sini, Nasha ingin membahasakan rindu Nasha dengan cara lain. Boleh Nasha balas puisi Mama yang sempat tersimpan di note Nasha? Hitung-hitung sebagai catatan puisi bersama kita, Ma! Hehe.. Baca ya Ma! :]

//

Ketika hujan angin
Aku berpaling sejauh mungkin
Berteriak di gendang-gendang hati tentang ingin..

Cukup lama aku berteduh
Di bawah payung yang kau sebut cinta

Bersabar untuk tidak terjatuh
Terpaan air, angin dan terik yang tiba-tiba

Sampai batas kupilih menjauh
Dan tak kembali lagi.

"Maaf."

Ivo (2004)

//

Sedetik setelah kepergiannya
Ada celah dalam hati yang menganga
Ingin kembali mencegah angin sebelum jera

Belum lama ia berjejak menjauh
Menanggalkan payung tempat teduh

Rasanya ingin ku bunuh saja semua asa
Yang sempat bernama cinta

Sampai akhirnya,
Cinta memang benar percuma.

"Maaf"

Ivanasha (2014)

//

Semoga Mama suka puisi yang Nasha balas 10 tahun setelahnya. Satu-satunya cara bagi Nasha untuk membicarakan cinta bersama Mama ialah melalui puisi. Nasha mengenal puisi dari Mama, dan puisi sekarang menjadi tempat paling nyaman bagi Nasha untuk menyuarakan semua.


Nasha kangen Mama.
Berpuisi lagi yuk, Ma? :]

Monday, January 27, 2014

Gedicht Für Dich

Pelan-pelan aku semakin tenggelam
Dalam genang kerinduan yang kejam
Menguliti sajak-sajakku tanpa dendam
Tetapi meninggalkanku dalam diam

Aku tau
Lelaki itupun juga membalas rinduku
Dan menyuruhku menunggu di baris gersang sang waktu
Yakni beribu sabar yang kian menantang laju

Dan hati ini yang tanpa jendela
Dindingnya semakin kusam tak berwarna
Menyudutkan aku dalam sepi-sepi cinta
Membahasakan rindu tanpa gelak tawa

Setiap malam aku kembali dalam tangis
Menyebut namanya di sela rindu yang tragis
Memilah-milah kenangan tak tertulis
Untuk menemani sendiri yang tak tertepis

Harus bagaimana lagi aku bahasakan rindu?

Selain menangisi waktu..
Selain menimang sendu..
Selain menyerapah jarak..
Dan selain mengadu dalam sajak..

IAP

Monday, December 16, 2013

Ich Weiß Noch Nicht

Aku ingin berada di sana, di tempatmu berada, di sampingmu, bersisian
Dan akan aku tagih pelukan-pelukan yang kau janjikan
Kemudian sama-sama tenggelam dalam cerita yang bukan lagi sekedar bermimpi
Sentuhan yang selama ini saling kita idamkan

Aku ingin tetap membayangkanmu memelukku
Bukan sekarang, tak apa
Mungkin nanti, suatu hari
Di saat aku sudah berhadapan denganmu, dan siap kau rengkuh

Aku tidak pernah tau bahwa cinta bisa sebesar ini lahir dari dadaku
Belum pernah mengira bahwa mimpi bisa seliar ini
Berkelana hingga ke lain benua
Memeluk sosok yang belum pernah mata sapa

Beginilah; mencintaimu.

Saturday, December 14, 2013

Puisi Sebelum Kamu

Ketukan dalam hati menggema
Satu suara yang semakin terbaca
Keras-keras meski sedikit samar
Ialah nama dalam layar

Kian hari semakin sakit
Pedih pedih menghimpit
Sebab dada mememar
Anak dari rindu yang tampak tegar

Kita, bahkan belum tau
Bagaimana mata menjadi satu
Tetapi perpisahan sudah mengasap api
Serupa degup hati yang menagih lagi, dan lagi

Hati menegaskan maunya
Dia, dan peluknya
Namun juga amat tau suatu saat waktu menjawab
Pertemuan; juga adalah perpisahan
Dan akan kembali datang rindu yang biadab

Bisa apa aku, pemilik hati
Selain bahagia karena aku kau temui
Namun juga menangis sendiri
Setelah pertemuan, kau lepas lagi pelukku ini...

IAP.

Tuesday, November 19, 2013

Di Tempat Lain

Mungkin tubuhku sedang tak berdiri sejajar
Tak meluruskan tegak berdirinya dengan garis dalam hadap
Hingga hampir jatuh tak kuat menopang gemetar
Sedikit demi sedikit tersesat dalam peluk gelap

Lama setelahnya benar-benar tak kuat lagi bernafas
Hingga kaki pun semakin melemah tak ada daya
Tak peduli lagi bagaimana sang paras
Mencerminkan kuatku yang tak lagi jaya

Aku begini, karena siapa?
Aku begini, karena apa?

Keheningan menjadi satu-satunya lawan bicara
Tak ada jawaban pun, biasa
Sudah tak mampu lagi aku mengolah kata
Selain terjatuh, terluka, menangis, berusaha mencinta

Semakin dalam diam angkat bicara
Berusaha mencari jawab dari tanya
Melihat ke dalam luka di dada
Apa sebabnya?

Aku begini, karena kamu.
Aku begini, karena rindu.

Setelahnya, aku tak ingat lagi apa-apa
Hilang ingatan mungkin salah satu jalan keluar
Dengan membalas senyum cinta tanpa air mata
Kemudian rindu hilang, berhenti menjalar

Sudah terlampau lama rindu bertahan menopang jiwa
Hingga ia tak ada lagi nyawa
Hingga bahkan tak mampu lagi menjadi alasan cinta
Rindu pun menyerah, pergi, mencari bahagia

Di tempat lain...

Ivanasha,18112013.

Saturday, August 10, 2013

Die Dunkelheit Der Liebe.

sebentar lagi rasanya menghampiri mati
perasaan remuk bertahta dalam hati
sesaat lagi hanya tinggal serpihan-serpihan sendiri
jantung, berdarah memerih...

mengagumimu membuat hati berhenti menafas
menikmati sesaknya dengan ikhlas
tersayat hingga menetes luka deras
dan aku kehilangan jejak dalam kelamnya suatu majas

sebentar lagi rasanya tersesat
kepada satu cahaya yang membutakan segala isyarat
kemudian aku hilang dalam pekat
aku terjebak di dalam senyummu yang terlampau memikat

mengenangmu ialah abu-abu
dimana aku tak tahu malu
memelukmu dalam bayang-bayang paling semu
itulah dirimu yang selalu berada dalam harapan-harapan biru

aku, pengagummu..
aku bersembunyi dalam biru
aku tersiksa oleh abu
kemudian aku mati dalam senyummu..

kamu...
fantasi terakhirku.


Ivanasha100813


I read it : https://soundcloud.com/ivanasha/die-dunkelheit-der-liebe-puisi

Saturday, June 15, 2013

Isyarat

i write my longing on the fragile leaf
as its fragility binds hint
of the little meaning in the messages that I sent
then that leaf dried out
before it gets  to you...

then i took another path
i told the afternoon breeze about my longing
which is so light like my coward heart
but the wind flies to another aim,
different directions...

my intention dies again
till i no longer know where to step my feet
then,
night greets me..

under the stars we see the same sky
even though its darkness is different
but only to them I could cry my longing out loud
i miss, i miss,
i miss you...

suddenly my eyes are getting tired
and the stars remain silent while listening
i decide to sleep now,
may my words arrive tomorrow
from the stars towards your sunrise

and that night,
i was dreaming of you...





aku tuliskan rindu di atas daun rapuh
sebagaimana kerapuhannya membalut isyarat
sebesar setitik makna dari pesan yang ku kirim
dan daun itu kemudian mengering
sebelum sampai...

kemudian aku mengambil jalan lain
aku adukan rindu kepada angin sore
seringan hati yang tidak pernah berani
lalu angin itu berbelok
ke arah yang berbeda...

niatku kembali mati
hingga tak tau lagi harus kemana melangkah kaki
hingga lalu,
malam menyapaku...

di bawah bintang kita melihat langit yang sama
meski pekatnya berbeda
maka hanya padanya lah aku menangiskan rindu
aku rindu, aku rindu,
aku rindu kamu....

mataku seketika letih
bintang masih tetap diam menyimak
aku tidur dahulu,
mungkin rindu bisa sampai esok
dari bintang kepada mataharimu yang terbit

dan malam itu,
aku memimpikanmu...


Ivanasha Adani Prasetianti 14062013

Sunday, May 12, 2013

Membalas Resah Sang Payung Teduh


Aku ingin berjalan bersamamu
dalam hujan dan malam gelap
tapi aku tak bisa melihat matamu

Aku ingin berdua denganmu
di antara daun gugur
aku ingin berdua denganmu
tapi aku hanya melihat
keresahanmu

Aku menunggu dengan sabar
di atas sini melayang-layang
tergoyang angin menantikan
tubuh itu

Aku ingin berdua denganmu
di antara daun gugur
Aku ingin berdua denganmu
tapi aku hanya melihat 
keresahanmu

Payung Teduh - Resah




Aku pun juga ingin berdua denganmu
Di antara hujan selain pada malam
Hingga bisa kau lihat mataku 
Sebebas maumu

Aku pun juga ingin berdua denganmu
Di bawah pohon rindang dengan dedaunnya yang hijau
Aku pun ingin berdua denganmu
Tanpa menunjukkan resahku yang kau salah artikan

Aku pun tak sabar
Memeluk dirimu yang sedang melayang
Tergoyang angin menanti tubuh ini
Untuk kembali ke lenganmu

Aku pun  juga ingin berdua denganmu
Untuk membiarkanmu tahu
Bahwa tiada resah pada diriku
Untuk berdua denganmu

Ivanasha - Membalas Resah

Sunday, January 6, 2013

Kurzes Gedicht.

Mungkin aku terlihat marah
Tapi bukan lantas aku jengah
Atau menyerah
Membiarkan semua lalu berubah

Tidak.

Monday, May 9, 2011

Hilang.

Aku seperti kehilangan arah
Jalanku lunglai dan tak bernada
Gelap sudah karena amarah
Cukup lama aku bertanya

Kenapa aku masih disini?
Tetap percaya pada hati
Walau tidak pernah ada jawaban
Selain kiasan.

Kenapa aku masih disini?
Tetap meminta tanpa memaki
Terlalu lama aku berdiam
Ditelan sedih yang karam

Semakin jauh melangkah
Pula semakin jauh aku tersesat
Aku kira arah tidak bersalah
Ternyata makin ku tertelan pekat

Saat setitik hampir sampai menyerah..
Kau baru tuntun aku setelah jauh aku hilang!
Tanpa meluruskan segala kaprah
Kemana kau selama aku diterjang?!


Ivanasha Adani Pasetianti

Friday, April 1, 2011

Puisi Nasha 9

Aku bukan wanita yang pernah kau perjuangkan
Tidak cukup hebat untuk bertahta di hatimu.
Tidak cukup kuat untuk berada di hidupmu.
Tidak cukup bijaksana untuk mengerti jalan pikiranmu.

Aku bukan wanita yang kau perjuangkan
Tiada cinta yang tercipta pada tawa kita
Hilang sudah rindu yang ternyata itu palsu
Pun telah pudar kuatku untuk bertahan.

Aku bukan wanita yang akan kau perjuangkan
Aku tidak berada di masa depanmu
Atau masa lalumu.
Ternyata aku tidak berada di hatimu
Seperti yang kau tunjukkan.

Dengan isak harapan yang menggema
Dengan luka basah yang muak
Dengan doa tentangmu yang berakhir
Dengan kuat yang telah hilang
Aku tidak akan menjadi wanita itu.
Karena aku menyerah pada luka.

1 Maret 2011.
Ivanasha Adani Prasetianti.