Friday, March 9, 2018

Catatan Tubuh

Langit di luar jendela telah gelap. Udara malam hari menusuk ke dalam tulang seakan-akan tidak ada selimut yang membalut tubuh kami. Barangkali selimutnya terlalu tipis.

Ia merapatkan tubuhnya ke tubuhku. 
Tangannya bergerak perlahan.

Memelukku.

Aku menahan napas karena takut ia mendengarnya. 
Aku ingin membalas peluk tetapi degupku seperti terlalu keras.
Aku malu. 

Kupalingkan kepalaku untuk menatapnya. Ia tersenyum. Senyum yang amat manis. Seperti mengartikan sesuatu yang kuyakin sama seperti apa yang kupikirkan. Aku bisa mendengar gemuruh di dada kirinya. Mungkin ia juga mendengar gemuruh di dada kiriku. 

Masih dengan gerakan perlahan, ia pun menghampiri bibirku.

Ia melumatnya. 

Dan tanganku tak bisa berdiam saja. 

Sudah dari lama, aku ingin meniti tubuhnya dengan jari jemariku. Maka tanpa banyak kata, kudaratkan sentuhan-sentuhan lembut di balik bajunya, meraba punggung hingga pinggul, tersasar sesekali mengelus pipinya; menambah lekat kecup kami yang hangat. 

Kemudian ia membalas sentuhan itu dengan gerakan yang sama. Aku merasa ia mencari-cari sesuatu di tubuhku, tapi tak pernah berhasil menemukannya. Aku mulai percaya bahwa ia hanya berkeliling dengan sengaja. Merasai kulitku yang dingin dengan jari jemarinya yang hangat. Sesekali sentuhan itu berhenti di pinggangku cukup lama, ketika sepasang bibir kami bertambah mesra. 

"Jangan di sini." bisikku kemudian. Menyadarkan napasnya yang semakin tak teratur.

Ia menatapku, seakan bertanya, "Kenapa?"

Suaraku kembali lirih,

"Kau temanku, dan ini hanyalah mimpi belaka."