Monday, November 28, 2016

Wörter

Kata-kata bisa saja suatu hari menjadi senjata. Aku, yang tak bisa berhenti mencintai kata-kata, seringkali rela dilubangi dadanya dengan susunan huruf yang menyakitkan. Kata-kata orang lain terkadang begitu kucintai ketika keindahannya membutakan perasaan, tetapi tak jarang orang lain yang mengetahui betapa aku mencintai kata-kata, justru menggunakannya sebagai senjata paling hebat untuk membunuhku berkali-kali. 

Tetapi aku tentu tak lantas mati. Darah yang mengalir dan membakar di dalam perasaanku seperti tak pernah habis ketika kata-kata kubaca begitu tajamnya. Aku rela jika harus berulang kali sekarat karena kata-kata, karena aku percaya kata-katalah yang mengajarkanku cara berbahagia. Dan dari kebahagiaan, aku bisa mengenal rasa sakit. 

Namun, bisakah kau mengajarkanku cara mengabaikan kesedihan? Aku betul rela disakiti dengan kata-kata, tetapi aku tak bisa menghindari kesedihan yang menyelimuti tubuhku setelah membacanya. Bagiku, tidak ada musim yang lebih dingin dari kesedihan, dan aku tak mampu berlama-lama menggigil bersedih, menjatuhkan air mata yang perih. Aku betul rela hatiku sakit, tetapi aku tidak ingin lama-lama sesenggukan menangis tanpa sepasang telinga pun yang mendengar. Tahukah kau?Betapa kesedihan dan kesepian itu berteman akrab. Tetapi, sebelum menjauh dari kesepian itu sendiri, kuharap kau mampu membuat air mataku berhenti. Atau setidaknya, kenalkan aku dengan kemarau bagi gerimis panjang di sepasang mataku. Kutahu kau memilikinya, kutahu hangatnya selalu bernapas di antara jari-jemarimu. 

Jika saja tak kucintai kata-kata begini hebatnya, mungkin aku tak perlu menangis ketika mencintaimu.

Thursday, November 17, 2016

November.

Malam ini saya merasakan betapa nyatanya disiksa kenangan. Kepala saya memutar ulang momen-momen indah yang saya lewatkan bersama keluarga saya di Indonesia. Lebih tepatnya, momen ketika saya berulang tahun. Di rumah saya di Indonesia, saya dan keluarga tidak pernah melewatkan perayaan ulang tahun tepat pada pukul duabelas malam. Ketika ada salah satu dari kami yang berulang tahum, anggota keluarga yang lain akan menyiapkan kue tart dengan lilin menyala di atas meja makan beberapa saat sebelum jam menunjukkan pukul duabelas malam. Sedangkan yang berulang tahun akan berada di kamar pura-pura tidak tahu, sampai yang lainnya mengetuk pintu kamar tepat di detik pertama pergantian hari, dan yang berulang tahun tentu akan berpura-pura terkejut tetapi tidak berpura-pura bahagia. Sebab kebahagiaan mana lagi yang lebih nyata dari waktu yang kita habiskan bersama keluarga di hari istimewa?

Beberapa hari lagi saya berulang tahun, dan jujur, saya belum terbiasa dengan hari ulang tahun yang tanpa mereka. Saya seringkali disiksa harapan yang tak padam-padam. Saya masih berpikir bahwa tepat di jam duabelas malam ketika saya berulang tahun, akan ada suara ketukan di pintu kamar saya dari mereka. Sungguh saya rindu saat-saat seperti itu. Meski telah saya lalui beberapa November tanpa mereka, saya tetap saja belum terbiasa, dan masih menyimpan harapan meski saya tahu harapan itu tidak mungkin. Pada akhirnya, saya merasa bulan November menyiksa saya dengan harapan-harapannya. Andai saja saya bisa lebih dewasa lagi menghadapinya, tetapi sayang,  growing up isn't that easy. 

Tidak ada yang salah dari merindukan keluargamu sendiri bukan? 

Di kepala saya sekarang, saya sedang mengingat kehangatan yang saya dapatkan dari keluarga saya di hari ulang tahun saya empat tahun yang lalu, terakhir kali saya menghabiskan hari ulang tahun bersama mereka. Saya rindu sekali pelukan dan kecupan yang dibagi oleh orang tua saya, jabat tangan malu-malu adik saya, kasih sayang oma saya, dan seluruh hangat yang menjalar di rumah ketika itu. Ingin rasanya membawa kehangatan itu kembali ke tubuh saya sekarang, karena musim sungguh gigil, dan rindu saya semakin parah. Air mata saya basah di pipi dan hati ini ngilu sebab tak bisa membuat kepala berhenti mengingat. Saya rindu sekali dengan mereka. Rindu sekali. Jika saja kenangan tak begitu menyiksa, mungkin rindu tak perlu begitu sakitnya. Tetapi pada akhirnya, kerinduan ini hanya sanggup menggapai mereka dengan berdoa tanpa putus. Berharap semoga mereka selalu sehat-sehat dan berbahagia selalu. Amin..


Tuhan, 
sampaikan rinduku pada mereka.

Sunday, November 6, 2016

I hate you, but I blame November. 

Willst Du Mich Umarmen?

dadaku rasanya ingin membuncah. pelukanmu terbayang begitu lekat di tubuhku. aku merasa tidak lagi ada jarak yang memautkan kita jauh-jauh. membayangkanmu, aku merasa utuh. selengkung senyuman tak terasa telah menghangat di ujung-ujung bibirku. tahukah kau mengapa? sebab kuingat senyumanmu yang begitu indahnya. aku terpikat. jika saja aku terjerat, maka aku ingin selalu terikat. mencintaimu, aku ingin menjadi segala yang sungguh dekat.

aku membayangkan menjadi kasur tempat kau membaringkan lelah. aku ingin memelukmu sampai tak lagi ada resah yang singgah. bagilah semua letihmu di tubuhku yang rela. lengan-lenganku akan selalu ada untukmu ketika kau mau. jangan pernah ragu, sebab aku mencintaimu seperti itu. ketahuilah, tak ada yang lebih hangat bagiku selain menaruh rengkuhku lekat-lekat di seluruh tubuhmu.

rasanya tidak ingin meragu tentang waktu. aku berdoa, jika suatu hari kita berbagi sua, kuharap ketika itulah saat yang paling tepat untuk membahasakan kerinduan. penantian lama dan mimpi-mimpi yang fana, akan terwujud dalam sekejap di suatu waktu yang telah kau dan aku harapkan. percayakah kau akan takdir? sebelum pertemuan, perkenalan denganmu adalah takdir terindah yang pernah kualami. maka aku pun akan dengan senang hati menunggu sampai kita tiba di masa yang memberikan kesempatan bagi sebuah pertemuan. aku yakin tak akan lama, jika kita menunggu dengan tabah dan berdoa. 

maka kekasih,
jika aku tiba di saat senyumanmu begitu nyata kulihat, 
maukah kau menjadi pelukan yang selama ini kubayangkan?

Thursday, November 3, 2016

Schmerz.

Ia menutup pintu dan terduduk di hadapan daunnya. Gelap masuk pelan-pelan pada celah dada yang sedikit demi sedikit semakin nganga. Tangisnya pecah seakan tidak ada suara, melainkan kepedihan yang teriak tanpa aba-aba. Mulutnya terbuka dan menghisap udara seakan kata-kata ada untuk ditelan bulat-bulat, bukan diharapkan. Ia mengingat hal paling sakit di hidupnya, di kenyataan dan di dalam mimpinya. Semua bergantian menusuk, menghujam, merajam aliran darah pengharapannya. Tak ada apa-apa lagi yang bisa ia lakukan, selain, menyembuhkan dirinya sendiri dengan semakin tenggelam di gelap ruangan kosong tempat ia berada. Sebab di sana, kesendiriannya sempurna. Asa demi asa tumpah, dan tak seorangpun selain dirinya sendiri yang bisa merasakannya.

Dari semula, ia tahu segala sesuatu dapat berubah dengan setitik harapan. Tetapi rasanya tak pernah cukup tinggi dinding pertahanan ia bangun untuk mencegah masuk mimpi dan janji yang menapaskan asa-asa. Jika saja sebelumnya telah ia ketahui bahwa mereka datang hanya untuk pura-pura atau ingkar, mungkin ia tak perlu terduduk menangisi kekecewaannya di detik ini juga.

Semakin larut, hatinya semakin lantang berterima kasih kepada gelap di kamarnya yang tidak pernah berbohong. Menampung suara isak dan sesak ketika malam datang dan ia tak memiliki siapapun untuk berada, menepati harapannya. Tetapi perlahan, rasa takut menyelinap di antara gagap napasnya, mengutuki kemauannya kemarin petang untuk jatuh ke dalam telaga dan hilang. Namun masa lalu tidak pernah mampu ia hapus hanya dengan penyesalan, karena sesal telah mencintai dirinya di masa yang bahkan belum ia lampaui. Tak satu orangpun di dunia ini yang bisa mengingatkannya untuk berhati-hati, jika suatu hari jatuhnya akan begitu keras ia tangisi.


Di hadapan sebuah puisi yang tak tertulis di halaman ini, ia menampung kesakitannya.

Tuesday, November 1, 2016

Di Bawah Langit Sore

di manakah kekuatan ketika aku membutuhkannya? aku mencari di wajah-wajah orang asing, berjalan cepat, bersenggolan bahu, membawa pikiran masing-masing. aku melihat ke dalam mata mereka, berusaha menemukan apa saja yang bisa kujadikan alasan.
tetapi yang kudapat justru kecemasan mereka yang menular, menjangkit menambah panjang pencarianku. tidak ada yang peduli sama sekali, ketika di tengah ramai itu seseorang sedang menghilangkan dirinya sendiri dan lebur menjadi debu jalanan yang tidak dianggap. apalah arti satu, jika angka-angka lainnya berterbangan di kepala mereka.
kakiku melanjutkan perjalanan, sambil kulihat langit yang ditutupi daun-daun kuning dan dahan-dahan ramping. di sela-selanya, cahaya menyembul sedikit-sedikit, seperti berusaha mengatakan sesuatu.
sore semakin tinggi dan merias dirinya sebagai pengingat yang baik. menunjukkan betapa langit tidak pernah berbohong. ia memiliki empat wajah dan selalu kuhitung pergantiannya dengan hati-hati. aku tahu, ketika di atas kepalaku sore sedang cantik-cantiknya, berarti di sudut lain badan langit, malam sedang menjulang di tengah-tengah.
tak terasa telah kutahan basah di pelupuk pandanganku. sore mulai mendung. hatiku memanas. ujung jariku semakin dingin. kakiku berhenti melangkah. tanyaku tak lagi mencari, sebab jawaban ternyata lebih jauh dari yang kutelusuri, meski sangat dekat kuingat dalam tubuhku sendiri.
hatiku ngilu, langit turut membagi kelu. ibu, anakmu rindu.