Ia
menutup pintu dan terduduk di hadapan daunnya. Gelap masuk pelan-pelan pada
celah dada yang sedikit demi sedikit semakin nganga. Tangisnya pecah seakan
tidak ada suara, melainkan kepedihan yang teriak tanpa aba-aba. Mulutnya
terbuka dan menghisap udara seakan kata-kata ada untuk ditelan bulat-bulat,
bukan diharapkan. Ia mengingat hal paling sakit di hidupnya, di kenyataan dan
di dalam mimpinya. Semua bergantian menusuk, menghujam, merajam aliran darah
pengharapannya. Tak ada apa-apa lagi yang bisa ia lakukan, selain, menyembuhkan
dirinya sendiri dengan semakin tenggelam di gelap ruangan kosong tempat ia
berada. Sebab di sana, kesendiriannya sempurna. Asa demi asa tumpah, dan tak
seorangpun selain dirinya sendiri yang bisa merasakannya.
Dari
semula, ia tahu segala sesuatu dapat berubah dengan setitik harapan. Tetapi
rasanya tak pernah cukup tinggi dinding pertahanan ia bangun untuk mencegah
masuk mimpi dan janji yang menapaskan asa-asa. Jika saja sebelumnya telah ia
ketahui bahwa mereka datang hanya untuk pura-pura atau ingkar, mungkin ia tak
perlu terduduk menangisi kekecewaannya di detik ini juga.
Semakin
larut, hatinya semakin lantang berterima kasih kepada gelap di kamarnya yang
tidak pernah berbohong. Menampung suara isak dan sesak ketika malam datang dan
ia tak memiliki siapapun untuk berada, menepati harapannya. Tetapi perlahan,
rasa takut menyelinap di antara gagap napasnya, mengutuki kemauannya kemarin
petang untuk jatuh ke dalam telaga dan hilang. Namun masa lalu tidak pernah
mampu ia hapus hanya dengan penyesalan, karena sesal telah mencintai dirinya di
masa yang bahkan belum ia lampaui. Tak satu orangpun di dunia ini yang bisa
mengingatkannya untuk berhati-hati, jika suatu hari jatuhnya akan begitu keras
ia tangisi.
Di
hadapan sebuah puisi yang tak tertulis di halaman ini, ia menampung
kesakitannya.