Thursday, November 3, 2016

Schmerz.

Ia menutup pintu dan terduduk di hadapan daunnya. Gelap masuk pelan-pelan pada celah dada yang sedikit demi sedikit semakin nganga. Tangisnya pecah seakan tidak ada suara, melainkan kepedihan yang teriak tanpa aba-aba. Mulutnya terbuka dan menghisap udara seakan kata-kata ada untuk ditelan bulat-bulat, bukan diharapkan. Ia mengingat hal paling sakit di hidupnya, di kenyataan dan di dalam mimpinya. Semua bergantian menusuk, menghujam, merajam aliran darah pengharapannya. Tak ada apa-apa lagi yang bisa ia lakukan, selain, menyembuhkan dirinya sendiri dengan semakin tenggelam di gelap ruangan kosong tempat ia berada. Sebab di sana, kesendiriannya sempurna. Asa demi asa tumpah, dan tak seorangpun selain dirinya sendiri yang bisa merasakannya.

Dari semula, ia tahu segala sesuatu dapat berubah dengan setitik harapan. Tetapi rasanya tak pernah cukup tinggi dinding pertahanan ia bangun untuk mencegah masuk mimpi dan janji yang menapaskan asa-asa. Jika saja sebelumnya telah ia ketahui bahwa mereka datang hanya untuk pura-pura atau ingkar, mungkin ia tak perlu terduduk menangisi kekecewaannya di detik ini juga.

Semakin larut, hatinya semakin lantang berterima kasih kepada gelap di kamarnya yang tidak pernah berbohong. Menampung suara isak dan sesak ketika malam datang dan ia tak memiliki siapapun untuk berada, menepati harapannya. Tetapi perlahan, rasa takut menyelinap di antara gagap napasnya, mengutuki kemauannya kemarin petang untuk jatuh ke dalam telaga dan hilang. Namun masa lalu tidak pernah mampu ia hapus hanya dengan penyesalan, karena sesal telah mencintai dirinya di masa yang bahkan belum ia lampaui. Tak satu orangpun di dunia ini yang bisa mengingatkannya untuk berhati-hati, jika suatu hari jatuhnya akan begitu keras ia tangisi.


Di hadapan sebuah puisi yang tak tertulis di halaman ini, ia menampung kesakitannya.