Kata-kata bisa saja suatu hari menjadi senjata. Aku, yang tak bisa berhenti mencintai kata-kata, seringkali rela dilubangi dadanya dengan susunan huruf yang menyakitkan. Kata-kata orang lain terkadang begitu kucintai ketika keindahannya membutakan perasaan, tetapi tak jarang orang lain yang mengetahui betapa aku mencintai kata-kata, justru menggunakannya sebagai senjata paling hebat untuk membunuhku berkali-kali.
Tetapi aku tentu tak lantas mati. Darah yang mengalir dan membakar di dalam perasaanku seperti tak pernah habis ketika kata-kata kubaca begitu tajamnya. Aku rela jika harus berulang kali sekarat karena kata-kata, karena aku percaya kata-katalah yang mengajarkanku cara berbahagia. Dan dari kebahagiaan, aku bisa mengenal rasa sakit.
Namun, bisakah kau mengajarkanku cara mengabaikan kesedihan? Aku betul rela disakiti dengan kata-kata, tetapi aku tak bisa menghindari kesedihan yang menyelimuti tubuhku setelah membacanya. Bagiku, tidak ada musim yang lebih dingin dari kesedihan, dan aku tak mampu berlama-lama menggigil bersedih, menjatuhkan air mata yang perih. Aku betul rela hatiku sakit, tetapi aku tidak ingin lama-lama sesenggukan menangis tanpa sepasang telinga pun yang mendengar. Tahukah kau?Betapa kesedihan dan kesepian itu berteman akrab. Tetapi, sebelum menjauh dari kesepian itu sendiri, kuharap kau mampu membuat air mataku berhenti. Atau setidaknya, kenalkan aku dengan kemarau bagi gerimis panjang di sepasang mataku. Kutahu kau memilikinya, kutahu hangatnya selalu bernapas di antara jari-jemarimu.
Jika saja tak kucintai kata-kata begini hebatnya, mungkin aku tak perlu menangis ketika mencintaimu.