Thursday, April 12, 2018

Hujan di Punggungmu


Selalu ada kau di tengah-tengah hujan yang jatuh. Menjadi suhu dingin yang mengingatkanku pada hari ketika kau menyatakan segalanya. Ketika kau bilang bahwa ada perasaan yang tidak bisa berbohong di dalam dirimu, yang menginginkan aku begitu hebatnya.

Aku tidak percaya.

Tentu aku tidak percaya kata-katamu. Kau paling tahu, bagaimana aku sudah lelah dengan cinta, sebab aku bosan berkali-kali dikecewakannya.

“Tetapi aku tidak akan pernah mengecewakanmu.” katamu waktu itu ketika mendengar penolakanku.

Maaf. Aku tetap belum bisa percaya. Pun aku sudah terlalu nyaman menjadi temanmu. Tidakkah cukup kita menjadi teman baik saja? Lagipula, ke mana-mana kita selalu bersama.

“Kau harus mengerti betapa aku tidak ingin terikat.” aku menjawab sambil menatap matamu yang menyiratkan kesedihan. Hatiku sebetulnya tidak tega, tapi aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Lagipula, mengapa kau rumitkan kita dengan sesuatu yang egois?

Perdebatan pun terjadi di antara kita waktu itu, di beranda, disaksikan dua gelas teh hangat, dan hujan yang jatuh tepat sebelum matahari terbenam. Kau percaya tidak akan pernah menyakiti hatiku, sementara aku percaya bahwa semua laki-laki selalu mengatakan hal yang sama. Aku tidak ingin kehilanganmu, tentu saja. Tetapi aku merasa kita sudah cukup sebagai teman.

Kau tidak bisa menembus dinding yang kubangun. Aku menangkap sinar di matamu sudah perlahan menghilang. Ketika itu, kau pun pulang tanpa menunggu hujan berhenti. Meski rumahmu bersebelahan dengan rumahku, tentu aku khawatir melihat punggungmu yang waktu itu basah terkena hujan.

Aku sudah mematahkan hatimu.

Tetapi, mengapa justru aku yang berantakan?

Saturday, April 7, 2018

Siapa yang Berengsek?


Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana cara untuk melalui ini semua. Aku cape. Pacarku abusive banget. Kalau aku melakukan hal salah sedikit saja, aku digampar. Kalau aku tidak menuruti mau dia, aku dikatain monyet. Kadang-kadang anjing. Kadang-kadang babi. Apa saja bisa keluar dari mulutnya yang kayak kebun binatang itu. Aku benci sama dia. Tapi sialnya, aku butuh dia. Aku tidak bisa membayangkan hidupku harus bagaimana tanpa dia.

Kedua orang tuaku sudah tidak ada, dan sekarang aku tinggal di rumah tanteku. Dia orangnya galak dan selalu marah-marah setiap aku sedang di rumah. Apa saja bisa jadi alasannya untuk marah. Makanya, pacarku semacam pelarian dari kepusinganku berada di rumah itu. Kalau tidak ada dia, siapa yang menemani aku?

Teman-temanku sudah hilang semuanya. Tira (ini bukan nama aslinya), sahabat aku dari SMA yang aku kira baiknya seperti malaikat, tahunya di belakangku dia membicarakan hal-hal buruk tentangku. Dia bilang hidupku berantakan. Aku merokok, minum alkohol, dan ikut judi setiap main di rumah Ruben. Padahal, aku cuma main kartu waktu itu. Bukan judi. Aku tidak mengerti kenapa si Tira mulutnya bisa sesakit ini. Sejak saat itu, aku tidak mau lagi menghubungi Tira. Aku jadi tahu makna sesungguhnya kalimat “your best friend could be your worst enemy”.

Dan hal yang paling tidak bisa aku hadapi kali ini adalah: Ruben. Sialan orang itu. Berengsek. Bajingan. Bedebah. Aku benci setengah mati sama dia. Dia adalah ujung dari segala masalah di hidupku. Di perut aku sekarang ada janin orang gila itu. Hasil dari kecanduannya dengan alkohol, ketika sialnya waktu itu di rumah dia sedang sepi karena anak-anak yang lain sudah pulang duluan. Aku dan dia sama-sama mabuk dan tidak tahu lagi apa yang terjadi. Berengseknya lagi, si Ruben pura-pura tidak tahu setelah kukasih tahu ke dia kalau aku hamil. Dan sekarang dia sudah seminggu tidak bisa kuhubungi. Setiap aku ke rumahnya, pasti orang di rumahnya bilang kalau dia sedang pergi. Benar-benar berengsek.

Sekarang, harapan terakhirku adalah pacarku. Semoga saja dia mau bertanggungjawab kalau aku bilang ini anaknya.



_______

White Paper Flash Fiction writing project, day 2. "Berengsek"