Selalu ada kau di tengah-tengah hujan yang
jatuh. Menjadi suhu dingin yang mengingatkanku pada hari ketika kau menyatakan
segalanya. Ketika kau bilang bahwa ada perasaan yang tidak bisa berbohong di
dalam dirimu, yang menginginkan aku begitu hebatnya.
Aku tidak percaya.
Tentu aku tidak percaya kata-katamu. Kau
paling tahu, bagaimana aku sudah lelah dengan cinta, sebab aku bosan
berkali-kali dikecewakannya.
“Tetapi aku tidak akan pernah
mengecewakanmu.” katamu waktu itu ketika mendengar penolakanku.
Maaf. Aku tetap belum bisa percaya. Pun aku
sudah terlalu nyaman menjadi temanmu. Tidakkah cukup kita menjadi teman baik
saja? Lagipula, ke mana-mana kita selalu bersama.
“Kau harus mengerti betapa aku tidak ingin
terikat.” aku menjawab sambil menatap matamu yang menyiratkan kesedihan. Hatiku
sebetulnya tidak tega, tapi aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Lagipula,
mengapa kau rumitkan kita dengan sesuatu yang egois?
Perdebatan pun terjadi di antara kita waktu
itu, di beranda, disaksikan dua gelas teh hangat, dan hujan yang jatuh tepat
sebelum matahari terbenam. Kau percaya tidak akan pernah menyakiti hatiku,
sementara aku percaya bahwa semua laki-laki selalu mengatakan hal yang sama.
Aku tidak ingin kehilanganmu, tentu saja. Tetapi aku merasa kita sudah cukup
sebagai teman.
Kau tidak bisa menembus dinding yang
kubangun. Aku menangkap sinar di matamu sudah perlahan menghilang. Ketika itu,
kau pun pulang tanpa menunggu hujan berhenti. Meski rumahmu bersebelahan dengan
rumahku, tentu aku khawatir melihat punggungmu yang waktu itu basah terkena
hujan.
Aku sudah mematahkan hatimu.
Tetapi, mengapa justru aku yang berantakan?