Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana cara untuk melalui ini semua.
Aku cape. Pacarku abusive banget. Kalau aku melakukan hal salah sedikit saja,
aku digampar. Kalau aku tidak menuruti mau dia, aku dikatain monyet.
Kadang-kadang anjing. Kadang-kadang babi. Apa saja bisa keluar dari mulutnya
yang kayak kebun binatang itu. Aku benci sama dia. Tapi sialnya, aku butuh dia.
Aku tidak bisa membayangkan hidupku harus bagaimana tanpa dia.
Kedua orang tuaku sudah tidak ada, dan sekarang aku tinggal di
rumah tanteku. Dia orangnya galak dan selalu marah-marah setiap aku sedang di
rumah. Apa saja bisa jadi alasannya untuk marah. Makanya, pacarku semacam
pelarian dari kepusinganku berada di rumah itu. Kalau tidak ada dia, siapa yang
menemani aku?
Teman-temanku sudah hilang semuanya. Tira (ini bukan nama
aslinya), sahabat aku dari SMA yang aku kira baiknya seperti malaikat, tahunya
di belakangku dia membicarakan hal-hal buruk tentangku. Dia bilang hidupku
berantakan. Aku merokok, minum alkohol, dan ikut judi setiap main di rumah
Ruben. Padahal, aku cuma main kartu waktu itu. Bukan judi. Aku tidak mengerti
kenapa si Tira mulutnya bisa sesakit ini. Sejak saat itu, aku tidak mau lagi
menghubungi Tira. Aku jadi tahu makna sesungguhnya kalimat “your best friend
could be your worst enemy”.
Dan hal yang paling tidak bisa aku hadapi kali ini adalah: Ruben.
Sialan orang itu. Berengsek. Bajingan. Bedebah. Aku benci setengah mati sama
dia. Dia adalah ujung dari segala masalah di hidupku. Di perut aku sekarang ada
janin orang gila itu. Hasil dari kecanduannya dengan alkohol, ketika sialnya
waktu itu di rumah dia sedang sepi karena anak-anak yang lain sudah pulang
duluan. Aku dan dia sama-sama mabuk dan tidak tahu lagi apa yang terjadi.
Berengseknya lagi, si Ruben pura-pura tidak tahu setelah kukasih tahu ke dia
kalau aku hamil. Dan sekarang dia sudah seminggu tidak bisa kuhubungi. Setiap
aku ke rumahnya, pasti orang di rumahnya bilang kalau dia sedang pergi.
Benar-benar berengsek.
Sekarang, harapan terakhirku adalah pacarku. Semoga saja dia mau
bertanggungjawab kalau aku bilang ini anaknya.
_______
White Paper Flash Fiction writing project, day 2. "Berengsek"