Saturday, April 29, 2017

Mencari Hujan.

Aku ingin mengajakmu mencari hujan. Entah di mana. Mungkin akan kuajak kau menyusuri senja hingga ujungnya. Barangkali di sana ada langit berwarna merah yang membiru, lebam mendung terbias di wajahnya, dan gerimis jatuh seakan tidak akan berhenti. Tidak perlu kau atau aku tahu, laut seperti apa yang telah membuat langit menangis seperti itu. Hanya ingin kutunjukkan kepadamu, di ujung senja yang hujan itu, akan kusimpan air mataku yang selama ini menggenang tanpa seorang pun tahu.

Selalu ada luka yang tidak bisa bicara. Sekecil apa pun itu. Meski rasanya ingin teriak, menumpah marah, memaki diri yang pengecut. Tetap tidak bisa. Andai mampu kukatakan padamu sebagai tanda bahwa hanya kepadamu, aku ingin menunjukkan segala yang tak seorang pun tahu. Tetapi untuk tangis kali ini, aku hanya bisa meminta sepasang matamu untuk membaca; ikutlah denganku mencari hujan, agar kau kelak tahu di mana tempat air mata kumakamkan; agar kau menjadi yang pertama, yang menyaksikan senyumku kembali seperti semula. 

Temani aku. 

Friday, April 28, 2017

There I Say It

"Lu ada sesuatu ya sama Ditha? Eh, maksud gua Kinanti."

Deg.

Tidak perlu waktu yang lama bagi jariku untuk membeku di atas layar handphone. Kata-kata Fikri barusan jauh lebih dingin dari suhu langit hari ini. 

"Em, engga kok. Kenapa lu nanya gitu?" jawabku secepat mungkin, takut membuat Fikri semakin curiga.

"Heran aja, soalnya lu senyum-senyum sendiri gitu." 

"Apa hubungannya dengan Kinanti?" kuharap kata-kataku ini berhasil menyembunyikan apa pun yang hampir terbaca oleh Fikri.

"Itu pesan singkat dari Ditha kan?" tanya Fikri lagi. 

Jujur saja aku berharap Fikri tidak menebaknya dengan benar. Aku kebingungan harus menjawab bagaimana. Aku takut sekali jika Fikri mengetahui perasaanku yang sebenarnya kepada Kinanti, dan hal itu justru membuat persahabatan kami rusak. Kalau boleh kuakui, kehilangan seorang teman hanya karena masalah cinta adalah hal yang mengundang penyesalan di kemudian hari. Dan kesimpulannya, aku memutuskan untuk sedikit berbohong.

"Iya, dari dia. Tapi gue senyum-senyum sendiri bukan karena dia!" aku berusaha agar terdengar seperti sedang bergurau. 

Kulihat wajah Fikri masih menyimpan rasa penasaran. "Ini lho, tempo hari dia gue pinjamkan uang di Toko Asia. Dan barusan dia kasih tau gue kalau dia sudah transfer uang itu ke Konto gue. Ya, gue senang lah."

"Hahaha.. Karena dapat duit?" tawa Fikri kemudian

"Iya. Hahaha.."


Aku lega.



***


Aku tersenyum menatap langit beserta jalan raya yang berwarna putih di luar jendela S-bahn. Cuaca dan suasana Berlin hari ini tiba-tiba membuatku mengingat kejadian ketika aku harus berbohong kepada sahabatku sendiri demi menutupi perasaanku. Lucu rasanya. Kini aku merasa malu kepada diriku sendiri lantaran pernah berbuat seperti itu. Bibirku tak bisa berhenti tersenyum. Kurasa, orang-orang di sekitarku pun sudah mulai heran mengapa aku senyum-senyum sendiri. 

Tak lama kemudian, aku sampai di tempat tujuan. Sebuah pintu berwarna cokelat muda telah terpampang di hadapanku. Aku menggunakan waktu lima detik untuk mengatur napas sebelum akhirnya kupencet bel yang menempel di sisi kiri pintu tersebut.

Kring.. Kring..

"Hey, Chan! Akhirnya sampai juga! Silakan masuk.." sambut orang yang membukakanku pintu dari dalam.

"Assalamualaikum. Maaf ya telat." aku melangkah masuk dan mengagumi ruangan di dalamnya yang rapi dan bersih. 

Tidak jauh dari pintu masuk, aku sudah bisa melihat dua sofa yang tidak terlalu besar membentuk huruf L dengan sebuah televisi di hadapannya. Sang pemilik rumah mempersilakan aku duduk.

"Sudah lama rasanya gue gak lihat Rahma.. Rindu." ucapku sambil mengambil posisi untuk duduk.

"Iya.. ngerti deh gue, lu emang yang paling dekat sama dia. Dia masih di kamar, sebentar lagi juga keluar. Eh, lu mau minum apa?"

"Apa aja deh.. Danke loh.."

"Gue ada teh Sariwangi nih dari Indo. Mau?"

"Wah! Boleh banget! Danke."

Kemudian ia berlalu ke dapur di belakang sofa tempatku duduk. Sisi lain selain pintu masuk tadi. Dengan begitu, kami masih bisa mengobrol sambil menunggu seseorang yang ingin kutemui keluar dari kamarnya. 

Tapi aku tak perlu lama menunggu, sebab akhirnya malaikat kecil itu keluar dari kamarnya. Ia sempurna di lengan ibunya.

"Assalamualaikum Mas Chandra.." 

"Waalaikumsalam, Kinanti.." 

"Dengar-dengar, sudah rindu ya dengan Rahma.. Hehehe." ujar Kinanti sambil lalu memberi Rahma ke dalam pelukanku.

"Iya tuh! Dia memang paling rajin setiap Wochenende ke rumah kita cuma buat Rahma, kan?" Sahutan dari dapur pun terdengar.

"Ah, kayak gak tau gue aja, Fik! Gue paling senang dengan anak kecil. Apalagi anaknya sahabat gue sendiri!" kataku sambil menimang-nimang bayi berumur delapan bulan itu di dalam lenganku. 


Rahma namanya. Bayi cantik yang sedang berada di dalam lenganku sekarang adalah anak pertama dari Fikri dan Kinanti. Hasil dari pernikahan mereka yang sudah berusia hampir tiga tahun. Aku sangat menyayangi Rahma, seolah-olah Rahma adalah anakku sendiri. Nama Rahma pun aku yang memberikannya, malam itu ketika Fikri menanyakan kepadaku harus memberi nama apa ke anak perempuannya yang baru lahir. Aku kemudian mengusulkan nama almarhumah adikku. Terlepas dari Ibunya yang membuatku teringat kepada dik Rahma, aku pun juga menyukai nama Rahma. Seperti sudah melekat di dalam hidupku. Semantara Fikri dan Kinanti pun menyetujui nama itu. 


***


"Gue mau melamar Ditha, Chan." kata Fikri suatu sore kala kami sedang makan siang bersama.

"Was?! Baru tahun lalu lu mencurigai gue ada apa-apa sama Kinanti, dan sekarang lu mau melamar dia?"

"Iya. Yah, gue pikir, buat apalagi ditunda. Gue gak mau ajak dia pacaran, Chan. Lebih baik langsung menikah."

Aku terdiam sejenak. Memang hubungan kami semua sekarang baik-baik saja. Aku berhasil meredam perasaanku kepada Kinanti agar aku tidak perlu banyak berharap kepadanya dan membiarkan Fikri saja yang terang-terangan menyukai Kinanti. Sebab pada suatu hari, aku lebih memilih untuk menyukainya dalam diam. Tetapi, mendengar pernyataan sahabatku barusan berhasil membuatku berpikir jauh. Tidak seperti aku yang pecundang dan tak pernah mengakui perasaanku kepada Kinanti, sahabatku ini justru ingin mengambil langkah tegas dengan melamar perempuan itu. 

"Fik.." ucapku pelan.

"Hm?" 

"Ada yang perlu gue bicarakan sejujur-jujurnya ke lo. Dan gua rasa gak ada saat yang lebih tepat dari detik ini, melihat keberanian lo menyatakan keinginan lo untuk melamar seorang perempuan."

"Maksud lo?"

"Iya, pokoknya ada yang mau gue bilang.." 

"Ya, bilang aja." 

"Sebetulnya selama ini gue juga suka sama Kinanti."



There I say it. 


---------------------------------------------


*
Konto: rekening
Danke: terima kasih
Wochenende: akhir pekan
Was: apa


#Menalifiksi adalah sebuah antologi cerita pendek karya anggota Forum Lingkar Pena Jerman. Ini adalah cerita kedua atau yang kami sebut simpul kedua.
#Menalifiksi FLP Jerman simpul kedua
  1. Kehilangan– Dida Hayaza
  2. Seseorang – Dieni Rachmawati
  3. Gadis Toko Asia–  Achmad Lutfi
  4. Chandra, Kinanti – Tyas Mekar Sari
  5. Prasangka– Nirmanita Kartikarini
  6. Anindhita?– Syarifah Faradiba
  7. Kinanti yang Tertukar – Syifa Maisani Lestari
  8. Nomor Telepon – Nadya Zafira Prahardita
  9. There I Say It - Ivana