Aku ingin mengajakmu mencari hujan. Entah di mana. Mungkin akan kuajak kau menyusuri senja hingga ujungnya. Barangkali di sana ada langit berwarna merah yang membiru, lebam mendung terbias di wajahnya, dan gerimis jatuh seakan tidak akan berhenti. Tidak perlu kau atau aku tahu, laut seperti apa yang telah membuat langit menangis seperti itu. Hanya ingin kutunjukkan kepadamu, di ujung senja yang hujan itu, akan kusimpan air mataku yang selama ini menggenang tanpa seorang pun tahu.
Selalu ada luka yang tidak bisa bicara. Sekecil apa pun itu. Meski rasanya ingin teriak, menumpah marah, memaki diri yang pengecut. Tetap tidak bisa. Andai mampu kukatakan padamu sebagai tanda bahwa hanya kepadamu, aku ingin menunjukkan segala yang tak seorang pun tahu. Tetapi untuk tangis kali ini, aku hanya bisa meminta sepasang matamu untuk membaca; ikutlah denganku mencari hujan, agar kau kelak tahu di mana tempat air mata kumakamkan; agar kau menjadi yang pertama, yang menyaksikan senyumku kembali seperti semula.
Temani aku.