Tuesday, July 31, 2018

it's no longer for you

Lihatlah sosok itu, sekarang ia tertawa. Setelah kausakiti hatinya sedemikian rupa, akhirnya kini ia berhasil melengkungkan senja di bibirnya--senja yang kusuka. Kau tentu tahu pesona yang ada di dalam senyumnya itu. Dulu kau pernah mencintainya. Dulu kau pernah menjadi alasannya tersenyum. Tapi lihatlah dia kini, oh, seperti tidak pernah patah hati sebelumnya. Seperti tidak pernah kautinggalkan dengan jutaan harapan yang kaubuang begitu saja seakan tak ada harganya; seakan penantian dan rasa cintanya itu sesuatu yang bisa kaupermainkan ketika kau tak membutuhkan. 

Masihkah kau sesekali mengingat bagaimana wajahnya ketika ia berbahagia? Ingatlah lagi sekarang. Resapi keindahan yang terpancar dari kebahagiaannya waktu itu. Kebahagiaan ketika kalian saling mencintai; ketika ia berpikir kau akan menjadi satu-satunya di dalam hidupnya. Ingatlah lagi wajah itu, yang tersenyum seteduh langit sehabis hujan; setenang angin di tengah lautan; semanis gula-gula di pasar malam. Senyum yang pernah membuat hatimu terkesima. Dulu, kau pun pernah begitu senang sebab menjadi alasannya tersenyum riang. 

Kira-kira, begitulah sekarang ia terlihat. Namun satu yang berbeda; kini senyumnya jauh lebih mempesona. Dan keindahan yang terbias di wajahnya itu, memiliki sepasang mata yang tidak lagi melihatmu, selain sebagai masa lalu yang menyakitkan. Masa lalu yang ia sebut sebagai penyesalan terbesarnya. Kini kau bukan lagi alasannya tersenyum dan tertawa. Sebab setelah sekian lama berupaya, akhirnya ia pun mampu berdiri dengan kuat di atas kakinya sendiri--di atas hatinya sendiri.

Ia melepasmu.
Ia tersenyum.

Senyum yang bukan untukmu.

Sunday, July 29, 2018

Tuhan,

Tuhan, untuk kali ini saya ingin melupakan seseorang. Pikiran tentangnya begitu menyiksa. Datang tak pergi-pergi dan mengganggu semua hal yang seharusnya lebih penting kupikirkan. Tuhan, tolong hapuskan rasa ini jika memang ini adalah rindu. Saya tidak mau rindu yang berat seperti ini. Saya sudah cukup dengan perasaan yang tak teraih, saya sudah sadar kalau ini hanya akan sia-sia. Dan itulah mengapa ini terasa lebih berat dari seharusnya.

Saya masih ingat perasaan bertahun lalu yang diciptakan begitu serupa seperti perasaanku hari ini, oleh seseorang yang hanya memberi kata-kata manis tanpa berniat menjadikannya nyata. Saya sudah lelah menghadapi harapan seperti itu. Tidak bisakah saya lebih jera dengan sesuatu yang berujung ketidakpastian?

Membayangkan jika suatu hari saya harus kembali terpuruk karena menaruh harapan lebih kepada semesta, membuat takutku gemetar. Sungguh. Seperti trauma yang tidak ingin kuulangi sekali lagi. Seperti cerita yang kutahu ujungnya hanya penuh dengan tangisan dan penyesalan. Seperti hal-hal yang detik ini juga tak mau saya rasakan, atau saya pikirkan. Tuhan, lihat tanganku sekarang, mereka gemetar menulis ini. Saya takut.

Kalau ini adalah rindu, tolong hapuskan. Kalau ini hanya rasa penasaran, tolong hilangkan. Sungguh Kaulah yang paling tahu pernah seberapa sulit kuhadapi perasaan seperti ini. Saya bisa terluka dan menjadi setengah gila karena dijatuhkan oleh harapan. Bukan karena saya menaruh banyak harapan kepadanya, melainkan saya menaruh banyak harapan kepadaMu, Tuhan. Harapan yang kulantangkan perihal jarak dan pertemuan. Sama seperti dulu, sama seperti bertahun yang lalu. Ketika bahkan tak ada satu kata pun yang sanggup menyelamatkan.

Kini saya sudah enggan untuk mengangkat tangan dan berdoa kepadaMu untuk menyebut nama seseorang. Saya enggan untuk berharap atas cinta yang bisa membuatku bahagia. Bahkan saya enggan jatuh cinta, Tuhan. Cinta itu menyakitkan dan menyingkirkan semua yang lebih penting darinya. Mungkin ini karena saya tidak tahu cara mencintai yang benar. Mungkin ini karena saya pernah disakiti sedemikian hebatnya hingga rasa takutku melambung lebih-lebih dari mereka yang bisa menikmati cinta serta kebahagiaannya.

Tuhan, bagiku cinta itu menakutkan.
Bila Kau ingin memberikanku perasaan cinta,
tolong, buatlah cinta itu jatuh pada seseorang yang pasti-pasti saja.

Untuk saat ini, saya cuma ingin berhenti memikirkan siapa pun.
Kecuali diriMu.

Lebam Rindu




















Saya tahu, rasanya rindu ini tidak pantas.
Tidak untukku, tidak pula untukmu.

Tetapi sore tadi senja seperti tak lepas
melekat berwarna ungu
dengan semburat jingga
di awan yang mengantara.

Perihal langit, di hadapannya,
saya tak ingin berbasa-basi.
Saya hanya mengingatmu.
Tapi sudahlah, kau tak perlu tahu.

Sebentar lagi ingin kulepas hatiku
dan menaruhnya di luar jendela
biar malam ini ia menggigil saja.
Beku, tambah sakit, dan menjadi debu.

Hari ini senja sangat indah di kotaku.
Tetapi ia payah.

Membuat saya sadar betul
kalau kita bukan siapa-siapa.

Tuesday, July 24, 2018

Ganjil

Rasanya makin hari makin aneh. Makin janggal sedihnya. Barangkali saya bisa gila? Baru beberapa jam yang lalu saya tertawa, kencang sekali. Sangat lucu teman saya bercanda. Saya terbahak tanpa aba-aba, tapi, tiba-tiba pula saya berhenti. Hati ini mendadak nyeri. 

Mengapa saya tertawa selantang itu atas sesuatu yang sebetulnya ketika saya pikirkan ulang, sama sekali tidak lucu? Apa yang hendak saya sembunyikan? Di detik itu saya bertanya-tanya pada diri sendiri, ada apa? Apa sedihnya sudah terlalu parah sehingga tawa merasa tidak pantas terpajang di bibir? Mengapa bahagia dan duka setipis itu bedanya?

Katanya, orang yang tertawa paling kecang itu biasanya yang menyimpan luka paling dalam. Apa iya? Apa saya masih tidak bisa sembuh dari luka itu? (Oh, tentu, untuk apa saya bertanya. Jawabannya tidak mungkin.)

Sekarang saya betul-betul bingung harus menangis dan tertawa bersama siapa. Semuanya terasa lebih sunyi dari sepi itu sendiri. Ketika saya menangis, tidak ada yang betul-betul mendengar untuk menenangkan. Ketika saya tertawa, tidak ada pula yang menyadarkan betapa saya seharusnya berbahagia. Semua ekspresi itu biasa saja. Datang dan pergi dari hati saya tanpa sesuatu istimewa; Saya juga mulai bosan memaknai hati dan perasaan saya sendiri.


Rasanya ingin pergi ke pinggir laut sekarang juga. Menapak di pasir putih yang nyaman, di hadapan matahari yang sengatnya tidak menyakitkan, dan deru angin itu berembus membawa segala kepahitan. Saya cuma ingin berteriak lantang; izinkan saya merasa tenang!