Lihatlah sosok itu, sekarang ia tertawa. Setelah kausakiti hatinya sedemikian rupa, akhirnya kini ia berhasil melengkungkan senja di bibirnya--senja yang kusuka. Kau tentu tahu pesona yang ada di dalam senyumnya itu. Dulu kau pernah mencintainya. Dulu kau pernah menjadi alasannya tersenyum. Tapi lihatlah dia kini, oh, seperti tidak pernah patah hati sebelumnya. Seperti tidak pernah kautinggalkan dengan jutaan harapan yang kaubuang begitu saja seakan tak ada harganya; seakan penantian dan rasa cintanya itu sesuatu yang bisa kaupermainkan ketika kau tak membutuhkan.
Masihkah kau sesekali mengingat bagaimana wajahnya ketika ia berbahagia? Ingatlah lagi sekarang. Resapi keindahan yang terpancar dari kebahagiaannya waktu itu. Kebahagiaan ketika kalian saling mencintai; ketika ia berpikir kau akan menjadi satu-satunya di dalam hidupnya. Ingatlah lagi wajah itu, yang tersenyum seteduh langit sehabis hujan; setenang angin di tengah lautan; semanis gula-gula di pasar malam. Senyum yang pernah membuat hatimu terkesima. Dulu, kau pun pernah begitu senang sebab menjadi alasannya tersenyum riang.
Kira-kira, begitulah sekarang ia terlihat. Namun satu yang berbeda; kini senyumnya jauh lebih mempesona. Dan keindahan yang terbias di wajahnya itu, memiliki sepasang mata yang tidak lagi melihatmu, selain sebagai masa lalu yang menyakitkan. Masa lalu yang ia sebut sebagai penyesalan terbesarnya. Kini kau bukan lagi alasannya tersenyum dan tertawa. Sebab setelah sekian lama berupaya, akhirnya ia pun mampu berdiri dengan kuat di atas kakinya sendiri--di atas hatinya sendiri.
Ia melepasmu.
Ia tersenyum.
Senyum yang bukan untukmu.
