Assalamualaikum,
Dear Kamu,
Saya kangen sekali sama kamu. To the point saja ya, saya ingin kembali lagi melewati waktu denganmu. Saya rasa 6 tahun hidup bersamamu, itu tidak cukup. Dan 10 tahun sudah kita tidak bersama. Padahal saya tidak mengharapakannya.
Ya, siapa yang nyana kalau Tuhan berkehendak lain. Mungkin rencana Tuhan masih dalam proses, dan sekarang masih dalam tahapnya. Mungkin rencana-Nya itu sangat indah, hanya kita saja yang tidak tau. Iya bukan?
Ah.. Tetap saja saya kangen kamu. Saya kan' ingin setiap pagi melihatmu, mengecup pipimu, atau memelukmu di malam hari sebelum saya menutup hari saya dengan mimpi indah (mungkin saja tentangmu). Saya juga ingin bisa melihatmu kapanpun saya mau. Saya kan' ingin kita seperti dulu. Saya ingin duduk di pangkuanmu lagi.
Jujur akan satu hal, saya iri. (Padahal rasa iri hati di benci Tuhan.. Astaghfirullah..). Tapi bagaimana? Saya iri sama mereka.
Bertahun-tahun saya iri sama mereka. Mereka mudah sekali bertemu 'kamu'-nya mereka. Lalu berdiri bersisian menuju satu tujuan. Seperti mengantar sekolah, pulang ke satu rumah, atau.... Hal-hal yang tidak kita lakukan bersama selama bertahun-tahun ini, tapi mereka melakukannya dengan mudah. Saya iri pada itu. Maaf, kalau perasaan iri saya ini salah. Dan ya, memang salah. Seharusnya saya mensyukuri apa yang Tuhan rencanakan. Walau saya belum tahu apa rencana-Nya itu. Seharusnya saya mensyukuri nikmatnya yang Ia berikan. Walau itu tanpamu.
Tapi, ada sisi yang menyenangkan dari rencana Tuhan.. Saya akhirnya bertemu lagi dengan kamu. Setelah 7 tahun berpisah, mungkin. Kala itu, saya merasa asing melihatmu. Sumpah. Saya seperti menemui seseorang yang adalah bagian paling penting dari hidup saya, namun saya malah tidak mengenalinya. Saya merasa asing. Sungguh. Saya tidak tahu harus bagaimana saat itu. Saya merasa Tuhan baru saja mendengar doa saya pada saat itu, bagaimana tidak? 4 hari sebelum kontak pertama kita setelah 7 tahun tidak berkomunikasi dalam bentuk apapun, saya berdoa... Sangat memohon pada-Nya. Saya bilang, saya rindu kamu. Saya ingin sekali bertemu. Walau hanya beberapa menit. Tidak apa. Asal saya bertemu kamu.. Subhanallah, 4 hari setelah saya berdoa seperti itu, saya menemuimu (atau kamu yang menemui saya?).. Tuhan Maha Mendengar ya? Dan tahukah kamu? Saya masih ingat, apa yang saya tulis untuk Tuhan..
"20 Maret 2008, Aku sangat menyayanginya. Tapi kenapa waktu begitu cepat? Padahal tidak ada apapun antara kita. Tapi kenapa kita tidak bisa kembali? Dan mengapa aku harus sendiri? Dan yang lain tidak tau bahwa aku sangat merindukannya. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin melihat senyumnya yang tulus untukku. Yang sepertinya bahagia melihatku. Bahkan, aku tidak punya fotonya.. Tuhan, pertemukan aku dengannya. Aku terlalu mencintainya." Itu yang saya tulis di sebuah buku.. Lalu masih ada tulisan lainnya...
"24 Maret 2008, ya Allah ya Tuhanku, terimakasih Engkau telah mendengar doaku. Dan mengabulkannya secepat ini. Engkau telah pertemukanku dengan dia, dia yang amat aku rindukan ya Allah.. Aku ingin sekali bertemu melihat wajahnya bukan hanya sekedar sms. Ya Allah, aku hari ini sangat bahagia. Aku tak dapat membendung airmata aku ini, karena aku terlalu bahagia. Ya Allah ya Tuhanku.. Terimakasih Engkau telah mendengar doa-doaku..".
Lihat? Tanggalnya? Itu buktinya bahwa Tuhan tidak meninggalkan kita begitu saja. Itu buktinya bahwa Tuhan sudah menyediakan jalan lain untuk kita. Itu buktinya bahwa Tuhan mendengar doa kita. Itu buktinya bahwa Tuhan mengetahui betapa hebatnya saya mencintaimu. Itu bukti cinta saya yang Tuhan dengar...
Sekarang, hampir 3 tahun setelah pertemuan kita yang tidak di duga itu. Saya dan kamu, tetap tidak tinggal dalam dinding yang sama. Tapi keadaan sekarang membaik. Saya dan kamu sering menghabiskan waktu walau hanya untuk beberapa jam saja. Dan, setiap pertemuan itu, saya selalu yakin dan percaya.. Di situ Tuhan menyayangi kita lebih dari yang kita kira. Ternyata Tuhan memiliki rencana-Nya sendiri, walau banyak waktu yang harus kita lewati untuk mengetahui rencana-Nya.
Saya juga yakin sekarang, bahwa Tuhan mendengar saya kalau saya rindu kamu. Saya rindu kita. Saya rindu yang dulu. Saya kangen.... Kangen sama barisan kita yang seperti dulu, dimana saya menunggumu pulang, lalu memelukmu ketika kamu datang, lalu kamu cium saya dan adik saya. Wah.. Betapa romantisnya kita yang dulu ya? Hehe..
Dari sini saya bisa tahu, Kita telah dapat banyak cobaan dari Dia. Sekaligus mendapat banyak tugas, Dia menugaskan kita untuk pantang menyerah dalam berdoa dan bersabar. Saya tahu, semua ini kuncinya cuma kepercayaan kepada Tuhan. Saya yakin, bahwa Tuhan memiliki jalan-Nya sendiri, untuk kita, untuk yang terbaik bagi kita.
Saya yakin, kamu rindu saya juga.
Saya yakin, kamu mencintai saya, seperti saya mencintaimu.
Dan saya sangat yakin, Tuhan mendengar saya.
Saya kangen kita.
Wassalamualaikum..
Teruntuk Kamu, Bapakku.
Dari anak pertama mu, Ivanasha.