Sunday, December 25, 2016

Pagi dan Kopi

Andai pagi adalah ibu, mungkin setiap hari aku dimarahi. Terlalu dini, atau terlalu larut aku bertemu ibu, aku selalu kena marah. Bukan maksudku melupakan cara rebah, memejamkan mata, dan bermimpi—padahal aku paling senang bermimpi. Tetapi melarikan diri dari pikiran-pikiran panjang tidak pernah mudah. Mungkin jika terlalu lelah, aku menyerah. Tetapi lagi-lagi kubuat ibu marah. 

Jika segelas kopi adalah ayah, jangan tanya, mungkin ia tak akan rela kukecup saat kumulai hari dengan sepasang mata letih. Kurasa, aku memang belum cukup tua untuk meminum kopi, seperti kata ayah dulu saat aku masih kecil. Tetapi ini usia, milik waktu, dan tak pernah bisa kutakar lajunya. Lalu siapakah yang bisa mengembalikan semangatku jika bukan ayah? Aku ingin selalu menjadi anak kecil agar tak butuh minuman kafein dan tetap dipangku ayah sebelum berangkat sekolah. Aku bahkan masih ingat betapa ringan langkahku menuntut ilmu, setelah kucium tangan ayahku. Semangat macam itu yang kini paling aku rindu. 

Tetapi entah, apalah arti andai-andai. Tetap tak kutemukan mereka di pagi dan di segelas kopi. Tanganku mulai dingin karena musim, dan gelas yang kupegang tak hangat lagi. Atau tak pernah cukup hangat bagiku. Aku sungguh tidak tahu.

Apa kabar ayah dan ibu? 

Monday, December 12, 2016

Lagu-Lagu Sedih Lang Leav

terjemahan bebas puisi Lang Leav
_____

Dulu kala ada seorang anak laki-laki yang tidak bisa berbicara tetapi ia memiliki sebuah kotak musik yang menyimpan setiap lagu seluruh dunia. Suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis yang tidak pernah mendengar satu pun nada seumur hidup dan lalu ia memainkan untuk gadis itu lagu kesukaannya. Ia menyaksikan wajah gadis itu berseri dengan rasa penasaran ketika musik memenuhi langit dan puisi lirik-lirik menggugah si gadis dengan sesuatu yang tak pernah gadis itu rasakan sebelumnya. 

Ia akan memainkan lagu-lagunya untuk si gadis hari demi hari dan gadis itu akan duduk dengan tenang di sebelahnya--seperti tidak pernah peduli jika ia hanya bisa berbicara dengan gadis itu melalui lagu-lagu saja. Si gadis mencintai semua yang dimainkannya, tetapi dari semua--gadis itu paling mencintai lagu-lagu sedih. Lalu ia mulai memainkan lagu-lagu sedih lagi dan lagi hingga akhirnya, lagu-lagu sedih adalah segala yang gadis itu dengar. 

Suatu hari, ia menyadari sudah lama sejak senyum terakhir gadis itu. Ketika ia menanyakan gadis itu alasannya, si gadis menggenggam tangannya dan mencium kedua tangan itu hangat. Gadis itu berterima kasih kepadanya atas hadiah musik dan puisi tetapi lebih dari semua itu-- atas kesedihan yang ditunjukkan kepada gadis itu sebab si gadis tidak pernah mengetahui hal-hal seperti itu sebelum mengenalnya.  Tetapi inilah saatnya bagi gadis itu untuk pergi jauh-- mencari seseorang yang mampu menunjukkan kebahagiaan. 

....................................................... 

Ingatkah kau pada lagu yang diputar di malam kita bertemu?
Tidak, tetapi aku mengingat setiap lagu yang kudengar sejak kau pergi.


(terjemahan salah satu puisi dari buku Love & Misadventure karya Lang Leav yang berjudul asli Sad Song ini merupakan upaya pertama saya belajar menerjemahkan puisi berbahasa asing. semoga berkenan.)

Monday, November 28, 2016

Wörter

Kata-kata bisa saja suatu hari menjadi senjata. Aku, yang tak bisa berhenti mencintai kata-kata, seringkali rela dilubangi dadanya dengan susunan huruf yang menyakitkan. Kata-kata orang lain terkadang begitu kucintai ketika keindahannya membutakan perasaan, tetapi tak jarang orang lain yang mengetahui betapa aku mencintai kata-kata, justru menggunakannya sebagai senjata paling hebat untuk membunuhku berkali-kali. 

Tetapi aku tentu tak lantas mati. Darah yang mengalir dan membakar di dalam perasaanku seperti tak pernah habis ketika kata-kata kubaca begitu tajamnya. Aku rela jika harus berulang kali sekarat karena kata-kata, karena aku percaya kata-katalah yang mengajarkanku cara berbahagia. Dan dari kebahagiaan, aku bisa mengenal rasa sakit. 

Namun, bisakah kau mengajarkanku cara mengabaikan kesedihan? Aku betul rela disakiti dengan kata-kata, tetapi aku tak bisa menghindari kesedihan yang menyelimuti tubuhku setelah membacanya. Bagiku, tidak ada musim yang lebih dingin dari kesedihan, dan aku tak mampu berlama-lama menggigil bersedih, menjatuhkan air mata yang perih. Aku betul rela hatiku sakit, tetapi aku tidak ingin lama-lama sesenggukan menangis tanpa sepasang telinga pun yang mendengar. Tahukah kau?Betapa kesedihan dan kesepian itu berteman akrab. Tetapi, sebelum menjauh dari kesepian itu sendiri, kuharap kau mampu membuat air mataku berhenti. Atau setidaknya, kenalkan aku dengan kemarau bagi gerimis panjang di sepasang mataku. Kutahu kau memilikinya, kutahu hangatnya selalu bernapas di antara jari-jemarimu. 

Jika saja tak kucintai kata-kata begini hebatnya, mungkin aku tak perlu menangis ketika mencintaimu.

Thursday, November 17, 2016

November.

Malam ini saya merasakan betapa nyatanya disiksa kenangan. Kepala saya memutar ulang momen-momen indah yang saya lewatkan bersama keluarga saya di Indonesia. Lebih tepatnya, momen ketika saya berulang tahun. Di rumah saya di Indonesia, saya dan keluarga tidak pernah melewatkan perayaan ulang tahun tepat pada pukul duabelas malam. Ketika ada salah satu dari kami yang berulang tahum, anggota keluarga yang lain akan menyiapkan kue tart dengan lilin menyala di atas meja makan beberapa saat sebelum jam menunjukkan pukul duabelas malam. Sedangkan yang berulang tahun akan berada di kamar pura-pura tidak tahu, sampai yang lainnya mengetuk pintu kamar tepat di detik pertama pergantian hari, dan yang berulang tahun tentu akan berpura-pura terkejut tetapi tidak berpura-pura bahagia. Sebab kebahagiaan mana lagi yang lebih nyata dari waktu yang kita habiskan bersama keluarga di hari istimewa?

Beberapa hari lagi saya berulang tahun, dan jujur, saya belum terbiasa dengan hari ulang tahun yang tanpa mereka. Saya seringkali disiksa harapan yang tak padam-padam. Saya masih berpikir bahwa tepat di jam duabelas malam ketika saya berulang tahun, akan ada suara ketukan di pintu kamar saya dari mereka. Sungguh saya rindu saat-saat seperti itu. Meski telah saya lalui beberapa November tanpa mereka, saya tetap saja belum terbiasa, dan masih menyimpan harapan meski saya tahu harapan itu tidak mungkin. Pada akhirnya, saya merasa bulan November menyiksa saya dengan harapan-harapannya. Andai saja saya bisa lebih dewasa lagi menghadapinya, tetapi sayang,  growing up isn't that easy. 

Tidak ada yang salah dari merindukan keluargamu sendiri bukan? 

Di kepala saya sekarang, saya sedang mengingat kehangatan yang saya dapatkan dari keluarga saya di hari ulang tahun saya empat tahun yang lalu, terakhir kali saya menghabiskan hari ulang tahun bersama mereka. Saya rindu sekali pelukan dan kecupan yang dibagi oleh orang tua saya, jabat tangan malu-malu adik saya, kasih sayang oma saya, dan seluruh hangat yang menjalar di rumah ketika itu. Ingin rasanya membawa kehangatan itu kembali ke tubuh saya sekarang, karena musim sungguh gigil, dan rindu saya semakin parah. Air mata saya basah di pipi dan hati ini ngilu sebab tak bisa membuat kepala berhenti mengingat. Saya rindu sekali dengan mereka. Rindu sekali. Jika saja kenangan tak begitu menyiksa, mungkin rindu tak perlu begitu sakitnya. Tetapi pada akhirnya, kerinduan ini hanya sanggup menggapai mereka dengan berdoa tanpa putus. Berharap semoga mereka selalu sehat-sehat dan berbahagia selalu. Amin..


Tuhan, 
sampaikan rinduku pada mereka.

Sunday, November 6, 2016

I hate you, but I blame November. 

Willst Du Mich Umarmen?

dadaku rasanya ingin membuncah. pelukanmu terbayang begitu lekat di tubuhku. aku merasa tidak lagi ada jarak yang memautkan kita jauh-jauh. membayangkanmu, aku merasa utuh. selengkung senyuman tak terasa telah menghangat di ujung-ujung bibirku. tahukah kau mengapa? sebab kuingat senyumanmu yang begitu indahnya. aku terpikat. jika saja aku terjerat, maka aku ingin selalu terikat. mencintaimu, aku ingin menjadi segala yang sungguh dekat.

aku membayangkan menjadi kasur tempat kau membaringkan lelah. aku ingin memelukmu sampai tak lagi ada resah yang singgah. bagilah semua letihmu di tubuhku yang rela. lengan-lenganku akan selalu ada untukmu ketika kau mau. jangan pernah ragu, sebab aku mencintaimu seperti itu. ketahuilah, tak ada yang lebih hangat bagiku selain menaruh rengkuhku lekat-lekat di seluruh tubuhmu.

rasanya tidak ingin meragu tentang waktu. aku berdoa, jika suatu hari kita berbagi sua, kuharap ketika itulah saat yang paling tepat untuk membahasakan kerinduan. penantian lama dan mimpi-mimpi yang fana, akan terwujud dalam sekejap di suatu waktu yang telah kau dan aku harapkan. percayakah kau akan takdir? sebelum pertemuan, perkenalan denganmu adalah takdir terindah yang pernah kualami. maka aku pun akan dengan senang hati menunggu sampai kita tiba di masa yang memberikan kesempatan bagi sebuah pertemuan. aku yakin tak akan lama, jika kita menunggu dengan tabah dan berdoa. 

maka kekasih,
jika aku tiba di saat senyumanmu begitu nyata kulihat, 
maukah kau menjadi pelukan yang selama ini kubayangkan?

Thursday, November 3, 2016

Schmerz.

Ia menutup pintu dan terduduk di hadapan daunnya. Gelap masuk pelan-pelan pada celah dada yang sedikit demi sedikit semakin nganga. Tangisnya pecah seakan tidak ada suara, melainkan kepedihan yang teriak tanpa aba-aba. Mulutnya terbuka dan menghisap udara seakan kata-kata ada untuk ditelan bulat-bulat, bukan diharapkan. Ia mengingat hal paling sakit di hidupnya, di kenyataan dan di dalam mimpinya. Semua bergantian menusuk, menghujam, merajam aliran darah pengharapannya. Tak ada apa-apa lagi yang bisa ia lakukan, selain, menyembuhkan dirinya sendiri dengan semakin tenggelam di gelap ruangan kosong tempat ia berada. Sebab di sana, kesendiriannya sempurna. Asa demi asa tumpah, dan tak seorangpun selain dirinya sendiri yang bisa merasakannya.

Dari semula, ia tahu segala sesuatu dapat berubah dengan setitik harapan. Tetapi rasanya tak pernah cukup tinggi dinding pertahanan ia bangun untuk mencegah masuk mimpi dan janji yang menapaskan asa-asa. Jika saja sebelumnya telah ia ketahui bahwa mereka datang hanya untuk pura-pura atau ingkar, mungkin ia tak perlu terduduk menangisi kekecewaannya di detik ini juga.

Semakin larut, hatinya semakin lantang berterima kasih kepada gelap di kamarnya yang tidak pernah berbohong. Menampung suara isak dan sesak ketika malam datang dan ia tak memiliki siapapun untuk berada, menepati harapannya. Tetapi perlahan, rasa takut menyelinap di antara gagap napasnya, mengutuki kemauannya kemarin petang untuk jatuh ke dalam telaga dan hilang. Namun masa lalu tidak pernah mampu ia hapus hanya dengan penyesalan, karena sesal telah mencintai dirinya di masa yang bahkan belum ia lampaui. Tak satu orangpun di dunia ini yang bisa mengingatkannya untuk berhati-hati, jika suatu hari jatuhnya akan begitu keras ia tangisi.


Di hadapan sebuah puisi yang tak tertulis di halaman ini, ia menampung kesakitannya.

Tuesday, November 1, 2016

Di Bawah Langit Sore

di manakah kekuatan ketika aku membutuhkannya? aku mencari di wajah-wajah orang asing, berjalan cepat, bersenggolan bahu, membawa pikiran masing-masing. aku melihat ke dalam mata mereka, berusaha menemukan apa saja yang bisa kujadikan alasan.
tetapi yang kudapat justru kecemasan mereka yang menular, menjangkit menambah panjang pencarianku. tidak ada yang peduli sama sekali, ketika di tengah ramai itu seseorang sedang menghilangkan dirinya sendiri dan lebur menjadi debu jalanan yang tidak dianggap. apalah arti satu, jika angka-angka lainnya berterbangan di kepala mereka.
kakiku melanjutkan perjalanan, sambil kulihat langit yang ditutupi daun-daun kuning dan dahan-dahan ramping. di sela-selanya, cahaya menyembul sedikit-sedikit, seperti berusaha mengatakan sesuatu.
sore semakin tinggi dan merias dirinya sebagai pengingat yang baik. menunjukkan betapa langit tidak pernah berbohong. ia memiliki empat wajah dan selalu kuhitung pergantiannya dengan hati-hati. aku tahu, ketika di atas kepalaku sore sedang cantik-cantiknya, berarti di sudut lain badan langit, malam sedang menjulang di tengah-tengah.
tak terasa telah kutahan basah di pelupuk pandanganku. sore mulai mendung. hatiku memanas. ujung jariku semakin dingin. kakiku berhenti melangkah. tanyaku tak lagi mencari, sebab jawaban ternyata lebih jauh dari yang kutelusuri, meski sangat dekat kuingat dalam tubuhku sendiri.
hatiku ngilu, langit turut membagi kelu. ibu, anakmu rindu.

Monday, October 31, 2016

Pelukanmu, Rumah.

Terkadang, ingin rasanya mengetuk pintu rumah dan menyerah. Berkali-kali saya merasa lemah, ingin sekali berpasrah. Di rumah itu, setidaknya ada pelukan ibu tempat saya bisa menangis keras dan merasa terbebas. Atau mungkin dengan memakan masakan oma, saya akan merasa semua baik-baik saja. Ingin pun rasanya mengadu kepada bapak, betapa hidup ini keras, dan saya merasa sangat kecil menghadapi masalah-masalah. 

Saya selalu bermimpi menjadi manusia yang pada akhirnya kuat menghadapi apa yang diberikan hidup. Tantangan dan permasalahan ingin sekali saya jadikan sahabat baik demi kehidupan yang layak. Tetapi, ternyata tidak semudah itu. Entah kenapa, jauh dari rumah, membuat saya semakin hari semakin lemah menghadapi masalah. Saya seperti bukan diri saya yang dulu, yang begitu semangat menghadapi masalah, karena saya merasa permasalahan akan membuat saya semakin dewasa. Entah.. Kenapa berat sekali rasanya semakin hari. Kenapa berat sekali menjadi orang dewasa. 

Pagi ini saya merindukan rumah lebih dari biasanya. Mungkin pula perkara bulan November yang sebentar lagi datang, saya menjadi semakin lemah. Saya selalu begitu. Di setiap bulan November, saya akan merindukan rumah dengan terlalu. Di bulan kelahiran saya ini, saya sesungguhnya selalu berharap untuk menghabiskannya dengan keluarga saja. Dengan mereka, yang memeluk dan mencium saya sepenuh sayang sebab umur saya bertambah tua. Tidak apa 'kan kalau saya ingin setidaknya satu kali dalam setahun memanjakan diri dalam kasih sayang mereka? Saya sungguh rindu.. Dan permasalahan hidup yang datang di hari-hari menjelang bulan November, rasanya tak bisa saya hadapi begitu mudahnya, sebab saya lemah dan rindu rumah. Saya akui itu. Saya semakin lemah. Mungkin juga saya bukan dewasa yang baik. 

Meski sesungguhnya saya sangat sadar kalau semua ini adalah hidup saya sendiri, dan harus saya sendiri yang melaluinya. Bukan mereka. Saya seharusnya bisa lebih dewasa menghadapi ini, tetapi sungguh, saya rasanya ingin pulang ke pelukan ibu. Masih ada anak kecil di dalam diri saya yang membutuhkan bahu ibu untuk merengek dan menangis. 

Ma, dewasa ini, hidup membuat saya menyadari banyak hal. Salah satunya adalah orang-orang yang sesungguhnya tidak betul-betul peduli terhadap saya. Saya tahu, saya harus bisa sendiri. Tetapi saya sungguh rindu kasih sayangmu yang begitu peduli dengan tulusnya. Saya rindu dipeluk olehmu dan dikuatkan. Hidup tidak akan mudah, katamu pada waktu itu, dan entah mengapa saya dulu begitu percaya diri menghadapinya, tetapi sekarang kenapa saya begitu lemah, Ma? Apakah jauh darimu membuat semuanya berbeda? Ma, masih ada kanak-kanak dalam diri saya yang sungguh ingin dimanjakan olehmu ketika saya menghadapi masalah. Sungguh masih ada, Ma.. Meski saya tidak pernah benar-benar menyatakan kepadamu, tetapi sungguh masih ada, Ma.. Saya selama ini hanya pura-pura tangguh di depanmu, meski dalam hati saya, saya tahu saya kian tak mampu. Ma, saya selalu butuh doamu. Karena dengan doa, kau bisa menyentuhku begitu hebatnya. Saya rindu denganmu, Ma. Saya rindu rumah. Saya rindu semuanya.. 

Wednesday, October 26, 2016

Dear Oma,

Oma apa kabarnya? Semoga kabar Oma baik-baik aja yaa.. Nasha selalu mendoakan Oma agar selalu sehat dan selalu bahagia. Gapapa deh kalau bahagianya Oma itu jalan-jalan setiap hari sama tema-teman Oma, asal Oma sehat terus. Nasha ga mau Oma sakit yaa. Dan, kalau Oma sakit jangan disembunyiin dari Nasha ya.. Meski Nasha jauh, Nasha juga selalu ingin tahu kabar Oma. Nasha sedih kalau Nasha tahu Oma sakit setelah Nasha tanya ke Defika. Iya, Defika itu memang teman Nasha paling baik. Dia selalu kabarin Nasha tentang keluarga di indonesia ketika kalian ga kabarin apa-apa ke Nasha. Yaaa, Defika itu semacam mata-mata ya. Nasha beruntung sekali punya teman seperti Defika. Oma juga kan? Buktinya Oma sering minta tolong Defika untuk memesankan belanja online. Tapi, jangan sering-sering bikin Nasha tahu semuanya dari Defika ya Oma.. Nasha juga mau dikabarin langsung sama kalian. Sama Oma sendiri kalau memang Oma sedang tidak fit.
Di detik Nasha menulis surat ini, kabar Nasha sedang sedikit tidak baik, Oma. Nasha meriang dan kepala Nasha sakit banget. Tapi gapapa, Nasha masih muda kok hehehe, sakit seperti ini bisa berlalu begitu saja kalau Nasha tepat waktu makan dan cukup istirahat. Tenang aja ya Oma..
Tapi, Nasha kangen deh sama Oma. Kalau Nasha lagi sakit seperti ini, Nasha ingat sewaktu Nasha di Indonesia, sewaktu kita tinggal serumah. Oma itu jarang di rumah, karena suka main sama teman-temannya di luar; entah arisan atau tamasya ke luar kota atau bahkan berhari-hari ke luar negeri. Tetapi kalau Nasha sakit, Oma ga pergi ke mana-mana. Oma memang ga pernah terang-terangan bilang kalau Oma ga pergi karena cucunya sakit, tapi Nasha tahu, Oma ga berpergian setiap Nasha sakit karena Oma khawatir. Karena, setiap Nasha di indonesia sakit, Oma adalah orang yang paling peduli. Setiap setengah jam sekali Oma akan masuk ke kamar Nasha menanyakan Nasha bagaimana keadaannya, mau makan apa, atau mengajak ke dokter belaka. Sementara mama dan adam tidak pernah sepeduli itu. Oma lah yang paling peduli. dan Nasha benar-benar merasakannya. Kalau Nasha sakit, Oma sendiri yang akan masak di dapur menu makanan sesuai permintaan Nasha.
Nasha ingat betul waktu itu, suatu kali Nasha sakit, wajah Oma khawatir. Bahkan hari itu juga Oma tidak jadi pergi ke luar. Padahal sebelumnya Oma sudah wanti- wanti pak supir untuk bersiap-siap karena Oma hendak ke luar. Nasha ingat, muka Oma sedih lihat Nasha lemas di atas tempat tidur. Tangan Oma tidak berhenti mengukur suhu tubuh Nasha yang tinggi setiap sepuluh menit sekali. kali itu Nasha tidak bisa bicara banyak karena Nasha lemas, tetapi sungguh, Nasha sedih sekali lihat wajah Oma sesedih itu. Di situ Nasha sadar kalau Oma sayang banget sama Nasha. Walau Oma suka marah-marah, tapi ketika Nasha sakit, Oma menunjukkan rasa sayang Oma tanpa jeda. Nasha merasakannya, Oma. Nasha merasakannya..
Dan sekarang Nasha jauh dari Oma ketika Nasha sakit. Ingin sekali rasanya Nasha chat Oma dan mengeluh kalau Nasha sakit, Nasha ingin mendapatkan perhatian Oma yang biasanya. Nasha kangen perhatian Oma, dan Nasha kangen masakan Oma ketika Nasha sakit. Tapi Oma... Nasha ga berani chat Oma tiba-tiba lalu buat Oma khawatir. Nasha ga mau Oma kepikiran sama Nasha yang jauh ini. Nasha yakin sebentar lagi juga Nasha sembuh kok.. Hanya saja, Nasha kangen sama Oma. Mungkin beberapa hari lagi, Nasha akan chat Oma dan mengadu kalau kemarin Nasha sempat sakit. Tapi di hari itu Oma tidak perlu lagi khawatir karena Nasha sudah sembuh.
Tapi Oma, sekarang Nasha lagi sakit, dan sesungguhnya yang paling Nasha butuhkan sekarang adalah punggung tangan Oma yang mengukur suhu tubuh Nasha. Badan Nasha panas, Oma, tapi kalau Oma rasakan pakai punggung tangan Oma, Nasha yakin Nasha bisa cepat sembuh..
Nasha menulis ini sambil membayangkan ada di dekat Oma. Nasha menulis ini semua untuk menenangkan hati Nasha.. Oma ga perlu tau sebenarnya.. Oma hanya perlu ada di dekat Nasha.. Karena cuma itu yang Nasha butuhkan sekarang.. Nasha butuh kasih sayang Oma..
Nasha kangen sama Oma..

Oma sehat-sehat ya di sana..

Nasha sayang sama Oma..
Sayang banget.

Monday, October 24, 2016

Dialog Hujan

bicara rindu.. bicara haru.. luangkan ruang imajimu..

Ketika mendengarkan sebuah lagu, aku bisa melihatmu menjadi begitu puitis di bayanganku. Entah mengapa. Aku seperti membayangkan alunannya begitu pas jika kita nikmati di antara hujan dengan sepasang gelas kopi. Di saat seperti itu, aku ingin berbagi diam denganmu. Bunyi hujan yang jatuh di luar jendela akan membahasakan rindu di dada kita sebaik-baiknya. Mungkin sesekali aku akan mengajakmu bicara sampai aku kehabisan napas, kemudian kembali diam untuk menyesap kopi dan memandang hujan. Sesekali juga, aku akan melihatmu diam- diam. Bagiku, diam di keadaan seperti itu adalah diam yang paling romantis. Kita tidak benar-benar berhenti bersuara, kita hanya membiarkan hujan berbicara mewakili hati kita yang tidak cukup membahasakan rindu hanya dengan “aku merindukanmu.”.

bernyanyi merdu.. bernyanyi sendu.. bebaskan birunya hatimu..

Rasanya aku tidak ingin hujan cepat berhenti. Aku ingin berlama-lama menikmati hujan dan damai itu bersamamu. Bahkan jika kopiku sudah setengah gelas, aku akan menyesapnya sedikit-sedikit agar tidak cepat habis dan masih punya alasan untuk duduk di depanmu dan menikmati suara gerimis, atau suara degup dada kita masing-masing.

tanpa kata.. tanpa nada.. rintik hujan pun menafsirkan kedamaian..

Kau tahu, aku paling bisa menjadi diriku sendiri ketika dihadapkan dengan kopi dan seorang lawan bicara. Karena itu, rasanya aku ingin sekali mengajakmu mengopi berdua—dan lebih baik lagi ketika hujan. Aku ingin membagimu hal-hal tentangku. Dengan atau tanpa diam, aku ingin kau tahu sebanyak-banyaknya tentang diriku. Jika pada akhirnya setelah kau mengetahuiku seluruhnya, kau lebih memilih untuk menjadikanku teman, semoga kita bisa terus menjadi teman baik yang berbagi segalanya; puisi, kata, atau mungkin juga cinta. Atau jika kau tiba-tiba jatuh cinta setelah mengetahuinya, semoga kau sudah tahu dari lama kalau aku mencintaimu juga. Semoga kita menjadi cinta yang dengan kesederhanaannya mampu menjadi sempurna. Dan semoga setelah itu, kau mencium bibirku.

hanya rasa.. hanya prasangka.. yang terdengar di dalam dialog hujan..

Jadi, maukah kau suatu hari berbagi hujan dan kopi bersamaku? 

Wednesday, October 19, 2016

Lampu

Setiap malam sebelum memejamkan mata, aku memikirkanmu. Aku menggambar matamu di balik mataku. Kemudian lampu tidurku yang menyala bersaksi, kerinduan ini seperti tanpa tujuan selain mencarimu dalam ingatan. Kau yang baik, kau yang ada, kau yang bersuara, kau yang penuh pesona, maha kurindui. Aku pun ingin menjadi seseorang yang kauulang sebelum kau memejamkan mata pada malam hari. Aku ingin lampu di kamarmu menyaksikan aku yang lirih di bisikanmu seperti sudut cahaya di kamar tidurku yang selalu luruh melihatku memuisikan matamu.

Tanpa jeda satu malam, kau merekah di mimpi-mimpiku. Kau sosok yang sangat lekat meski tak pernah dekat. Senyumanmu sudah menyeluruh setiap aku terbangun di pagi hari. Dan hanya dengan itu, aku merasa semua baik-baik saja. Aku mengusap dadaku perlahan, seperti sedang merawat namamu seorang. Sungguh hanya dengan mencintaimu, aku merasa semua baik-baik saja. Aku telah pula menanam tubuhmu dalam setiap tidurku. Aku mencintaimu seperti itu. Aku mencintaimu dengan kepalaku sebab mencintaimu aku menemukan kebahagiaan yang masuk akal. Aku mencintaimu. Tahukah kau? Aku mencintaimu. Aku mencintaimu.

Lampuku menyala redup.

Tak ingin bertanya apa-apa.

Tak ingin meminta apa-apa. 

Wednesday, October 12, 2016

Membayangkan Ibukota dan Kau


Aku sedang membayangkan diriku di tengah-tengah kota yang kurindukan. Debu jalanan, suara mesin motor, udara panas, teriakan para penjaja minuman segar; telur puyuh; nangka; tahu kuning; dan rokok, kuingat begitu jelas di kulitku. Umpatan- umpatan di balik kemudi lain juga bisa kudengar dari telingaku telanjang. Aku merasakannya. Macet. Ya, macet yang menyebalkan. Terlebih dengan suasana ramai sesak dan tatapan-tatapan di luar kaca jendela. Rasa penasaran tatapan itu akan lebih terasa dalam memandang ketika melihat di balik jendela mobil adalah seorang perempuan yang mengemudi. Perempuan yang membakar sebatang rokok mentholnya, lalu membuka sedikit kaca jendelanya. Sedikit saja agar pandangan heran di luar tidak masuk ke dalam tanpa diundang. Dan aku bertanya-tanya, apakah masih hal yang tidak biasa bagi perempuan di kota ini untuk menikmati dirinya dengan sebatang rokok di tangan? Kemudian aku mengembuskan asap rokokku.

Aku sedang membayangkan diriku menikmati macet itu dengan lagu Sal Priadi - Sjiva . Mataku menunggu lampu rem mobil di hadapanku untuk berhenti menyala dan segera jalan. Aku menghisap rokokku lagi dan lagi sambil memikirkanmu. Jika saja di kursi penumpang kau sedang duduk, apakah yang akan kau bicarakan kepadaku di tengah macetnya kota ini?

Aku lalu membayangkan kita berbicara banyak hal dan sebagian besar kau yang mendengarkanku bercerita segalah hal tentang diriku. Sebab aku senang sekali menceritakan diriku sendiri. Mungkin aku akan menceritakanmu tentang ekskul teaterku dulu di SMA, tentang alasanku menyukai drama korea, tentang cita-citaku yang berubah-ubah sejak aku kecil, tentang makanan atau minuman kesukaanku, tentang warna kesukaanku, tentang pengalaman-pengalaman lucu dan menyedihkanku di Jerman, tentang aku dan ibuku yang memiliki hobi yang sama, tentang ayahku yang cuek tapi romantis parah, tentang omaku yang masih suka keluar malam untuk karaokean dengan teman-temannya, tentang adikku yang pikirannya tidak pernah tentang studinya melainkan hanya mobilnya, atau tentang kebiasaanku dan adikku yang suka keluar tengah malam demi membeli dua porsi martabak. Tentang apapun. Aku akan menceritakanmu semuanya selama menunggu lampu merah menjadi hijau.

Lalu kubayangkan setelah lampu hijau menyelamatkan kita dari kemacetan, aku mematikan rokokku dan menancap gas setelah kau menutup bibirku yang bercerita dengan kecupan yang lembut dan basah. Kecupan yang tidak peduli jika ada yang melihatnya di luar jendela. Kubayangkan, waktu berhenti sebelum mobil melaju.

Aku pulang.
. 

Saturday, October 1, 2016

Tantangan Bercerita yang Menjadi Nostalgia

Beberapa hari yang lalu, seorang temanku yang baik hatinya tiba-tiba mengirimkanku email berjudul "Tantangan Bercerita". Di dalam email tersebut ia menantangku menuliskan tentang tiga benda yang ingin aku lupakan atau ingin kuingat lebih dalam. Ia juga memintaku untuk melampirkan foto di dalam tulisan. Di email itu ia pun melampirkan tulisannya tentang tiga benda yang ingin ia lupakan tetapi tidak ingin ia lepaskan. 

Aku menerima tantangannya.
Dan tanpa sadar aku menulis sambil mengenang dalam-dalam. 


Bantal boneka



Bulan Februari tahun 2013, satu hari sebelum tanggal aku berangkat ke Jerman untuk kuliah, seseorang yang pernah jadi pacarku ketika aku SMA kelas satu mengajakku bertemu. Sebenarnya itu bukan hal yang biasa. Kami sudah jarang sekali bertemu, setelah aku memutuskan hubungan kami yang cuma sebulan usianya dulu. Aku heran tetapi mengiyakan ajakannya bertemu. Bagiku dia orangnya sok misterius. Nyebelin, tapi bikin penasaran juga. Sifatnya yang sok misterius itu juga terasa ketika dia memintaku datang tepat jam 9 pagi di depan Warung Pasta di Margonda Depok.
Beberapa menit sebelum jam 9 pagi aku sudah sampai di depan Warpas—sebutan gaul restoran itu. Kemudian dari arah entah, tiba-tiba dia masuk begitu saja ke dalam mobilku. Aku memang sengaja tidak mengunci pintunya agar nanti gampang baginya untuk masuk. Dan ya, betul saja.
Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah ejekan “ih, ngapain deh lo pake eyeliner segala? itu apa itu lipstik??” Sebel. Hari itu aku memang sedikit berdandan. Sedikit. Asli, sedikit sekali. Tetapi lalu aku tidak memedulikannya. Aku kemudian bertanya kepadanya akan ke mana kita hari ini. Lalu dia jawab,
“Hari ini pokoknya kita harus ke tiga tempat. Pertama ke deket 103, trus ke rumah temen gue sebentar deket situ juga, sama terakhir ke Margo.”
103 itu nama SMP kita, Margo adalah Mall di jalan raya margonda Depok, sementara ke tempat temannya itu yang aku tidak tahu lagi kenapa. Hari ini bukankah dia janjinya kami jalan berdua?
Aku tentu menanyakannya kenapa. Dia bilang udah, jalan aja! Trus aku galakin dia dengan bilang gak jelas lu! tapi lalu sambil menancap gas.
Aku mengantarkannya ke sebuah toko yang masih tutup di dekat sekolah kami dulu. Lalu dia memintaku menunggu sebentar dan lalu dia keluar sambil membawa tas ranselnya. Dia berjalan mengarah ke belakang toko yang tutup itu. Waktu itu, hati aku sudah kesal bukan main dan rasanya ingin saja membatalkan rencana denganna hari ini. Tapi ternyata aku justru menemukanku menunggunya yang 10 menit kemudian kembali masuk ke dalam mobilku. Lalu kami melanjutkan perjalanan.
Aku memarkir mobilku di dekat sebuah gang di daerah Depok dekat kampus Gundar. Kemudian dia kembali memintaku menunggu. Lagi-lagi dia keluar untuk beberapa menit, lalu kembali duduk manis di sampingku.
Aku sudah malas bertanya.
            Sesampainya di Margo, kami jalan-jalan sesuai kemauanku. Aku mengajaknya menonton film dan makan. Sementara dia hanya meminta satu hal: foto-box bersama. Sebenarnya aku tahu dia bukan tipe cowok yang narsis. Tapi ya sudah, pikirku, mungkin dia butuh kenang-kenangan tentangku ketika aku di Jerman nanti. Geer sih!
            Hari sudah malam dan waktunya aku pulang. Sebelum aku pulang ke rumahku sendiri, aku mengantarkannya kembali ke depan Warpas. Sepanjang perjalanan waktu itu, hujan deras jatuh dan lampu-lampu pinggir jalan terlihat lebih romantis. Kulihat dia yang duduk di kursi penumpang sedang tertidur. Aku ingat tadi pagi dia bilang kalau dia belum tidur sama sekali dari kemarin. Maka sesampainya aku di depan Warpas, aku memarkir mobil dan menunggunya terbangun. Aku tidak mau membangunkannya. Waktu itu aku rela dicari-cari mamaku karena pulang malam, demi tidak membangunkannya. Kemudian pelan-pelan aku menikmati hujan di luar jendela.
            Dia kemudian terbangun setelah 20 menit tertidur. Dia terbangun kaget dan bertanya kenapa aku tidak membangunkannya. Lalu aku cuma tersenyum saja.
            Hujan deras sudah berubah menjadi gerimis kecil. Dia mengambil tas ranselnya dari kursi belakang, lalu  membuka isi di dalamnya. Dari dalam ranselnya, dia memberiku bantal boneka ini. Boneka Doraemon. Aku suka Doraemon, dan dia juga suka Doraemon. Selain itu dia memberiku penjepit foto, bunga mawar dari kain, pajangan keramik, dan sebuah amplop kecil berwarna hijau. Lalu kurang lebih dia menjelaskan seperti ini:
           “Di tempat yang pertama itu, gue udah janji untuk ngambil boneka, sama keramik ini pagi-pagi. Nah, terus di tempat temen gue, mawarnya ketinggalan abis semalem gue main di sana. Lalu yang di Margo itu ya gue pengen ngajak lu foto, biar bisa lu pajang di penjepit foto ini. Dan amplop itu, lu baca aja kalo udah di rumah. Ohya, ini sengaja mawarnya dari kain biar ga layu soalnya.”
Aku menatapnya penuh perasaan. Air mataku jatuh begitu saja. Aku terharu. Benar-benar terharu. Aku sangat tahu dia. Dia bukan tipe cowok romantis yang menunjukkan kasih sayangnya ke pasangan. Dia bukan tipe cowok peduli. Dia orang yang bahkan anti mengucapkan kalimat sayang. Baginya, rasa sayang cukup dinyatakan sekali, tidak berkali-kali.  Aku tahu dia melebihi siapapun! Tetapi kali itu, dia seperti orang yang berbeda. Seharian kami jalan tadi, dia bahkan masih orang yang jutek seperti biasanya. Tetapi ketika dia memberikanku barang-barang ini, dia tidak bisa berhenti tersenyum. Dia ramah. Dan itu hal yang langka.
Aku berterima kasih padanya sambil masih bercucuran air mata. Kemudian dia keluar dari mobilku setelah mendaratkan kecup di pipiku.
Sesampainya di rumah, aku membaca isi dari amplop hijau yang dia berikan. Di dalamnya ada tulisan tangan dia yang menuliskan:

“Dear Ivanasha, someday I want you to talk with this doll. Someday, I want you to smell this flower, and someday I want you to keep this ceramic. Until ‘one day’ I want to exchange all these with two rings to tie yourself.”

Boom.
Aku lemas bacanya.



Buku Puisi




Aku sejujurnya tidak suka dengan tulisan-tulisanku di buku ini. Bagiku, tulisanku di sini jelek. Aku bahkan seperti tidak ingin mengaku kalau buku itu ditulis olehku. Kasihan si Ikmal, puisi bagusnya harus satu buku dengan puisi jelekku.
Tetapi ini buku pertamaku. Aku tetap bersyukur karena setidaknya namaku tertera di sebuah buku. Dan itu membuatku bahagia :D


Buku Cinta



Buku ini kudapatkan dari seseorang. Dia yang memberiku buku ini adalah dia yang kalau kata awkarin “patah hati terbaikku”. Aku waktu itu masih berusia 19 tahun dan dia 24 tahun. Kami berkenalan di sebuah website. Dia orang Makassar yang tinggal di Jogja. Dia bekerja sebagai desainer grafis di sebuah penerbitan dan juga desainer grafis untuk salah satu klub sepak bola Inggris. Kuakui pekerjan yang dia miliki keren. Karena dia salah satu anak Indonesia yang karyanya diakui sampai di Eropa.
Singkat cerita, setelah berkenalan, kami sering video call di Skype. Tidak berapa lama setelah mengenal, dia menyatakan perasaannya kepadaku. Dia bilang dia sangat menyukaiku; aku cantik, aku pintar, aku beda dari yang lainnya, dan hah! kata-kata manis lainnya.
Aku tidak memberikan jawaban dari pernyataannya yang tidak bertanya. Aku hanya membalas dengan ucapan terima kasih. Karena waktu itu aku lagi di masa-masanya malas dengan cowok, apalagi cinta! hahaha. Gaya.
Lalu hari demi hari berganti dan Skype dengannya setiap malam seperti menjadi rutinitas. Di hari ulang tahunku, dia tidak tidur sampai jam 6 pagi demi menunggu jam 12 malam di langitku. Lewat Skype, dia memberiku kue bergambar Doraemon dengan lilin-lilinnya yang menyala. Dia dan teman-teman di kosnya menyanyikanku lagu selamat ulang tahun di depan kamera. Lalu mereka meniup lilin bersamaan aku yang pura-pura meniup lilin dari jauh. Kue kemudian mereka potong, lalu dia menanyakan kepadaku akan diberi ke siapa potongan kue pertama. Aku tentu memberikan kepadanya.
Sejak apa yang dia lakukan di hari ulang tahun itu, aku baper. Meski aneh karena kita belum pernah bertemu, aku membuka hatiku pelan-pelan untuknya. Aku bilang kepadanya kalau kita tidak akan jadian sampai hari kita bertemu. Kemudian dia menyetujuinya.
Tiga bulan berlalu sampai akhirnya aku berlibur ke Indonesia. Dan itu merupakan sebuah kesempatan besar untuk bertemu dengannya. Terkasih bukan kekasih yang belum pernah kutemui ataupun kusentuh. 
Tanggal 3 Januari 2014 dia berangkat dari Jogja dengan tiket yang dia beli satu hari sebelum hari keberangkatan. Dia membeli tiket pesawat paling pagi. Lalu kita berjanji untuk bertemu di sebuah mall dekat rumahku jam 10 pagi.
Jujur, kali itu adalah pertemuan yang benar-benar berharga bagiku.

Dan keesokan harinya akhirnya kami resmi berpacaran.
            Selama dia di Jakarta, aku mengajaknya jalan-jalan keliling Jakarta. Kami juga sempat menonton bioskop. Waktu itu film yang kami tonton adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Aku sangat senang ketika dia menirukan dialog Zainuddin dengan logat Makassarnya.
            Setelah pertemuan kami di Indonesia, kami menjalani hubungan jarak jauh yang waktu itu sepenuh rela kujalani. Dia lelaki penuh kata-kata manis yang membuatku tanpa sadar terlena. Aku sangat mencintainya. Dia banyak memberiku janji, dan tidak kusadari aku waktu itu hanyalah orang bodoh yang mau menelan janji-janji manisnya.
Dia memberiku buku Aforisma Cinta ini sebelum kami berpisah di pertemuan terakhir di Indonesia. Katanya aku harus membacanya. Sampul buku ini adalah desainnya. Dan di dalam buku ini terjabar makna-makna dari hal-hal yang berhubungan dengan cinta.

Kami hanya berpacaran dua bulan. Dia memutuskanku lewat Path message tiba-tiba ketika aku sedang berada di kelas. Pada saat itu juga aku langsung izin ke toilet dan menangis tersedu-sedu di sana. Dia memang sudah jarang mengabariku. Setelah setidaknya sebulan pacaran, dia berubah. Kami hanya bertukar chat kira-kira setiap dua minggu sekali. Aku tidak pernah mengeluh. Aku tahu dia sibuk dengan pekerjaannya. Aku benar-benar dengan tulus memakluminya. Karena aku waktu itu sangat mencintainya, dan aku percaya kepadanya.
Tetapi ternyata kami tiba di hari itu. Hari ketika ia memutuskan hubungan kami. Alasannya adalah karena dia dapat pekerjaan yang akan membuatnya sangat sibuk dan akan pula jarang mengabariku. Aku bilang tidak apa-apa. Berbulan-bulan tanpa kabar pun akan aku tunggu, asal ia memang akan kembali. Tetapi dia tidak mau. Alasannya tidak tega.
Sesampainya di rumah, kami bertemu lewat Skype. Aku menangis, dia juga meneteskan air mata. Tetapi akhirnya kami sampai di kesimpulan untuk mengakhiri hubungan itu. Di akhir Skype, dia mengatakan dia mencintaiku. Tetapi kutahu dia sedang melupakan semua janji-janjinya.
Setelah putus darinya, aku merasakan patah hati yang paling sakit yang pernah aku rasakan. Tidak apa dibilang berlebihan. Aku tidak peduli. Karena memang pada saat itu hatiku sakit sejadi-jadinya. Mungkin karena selama itu aku termakan janjinya dan segala omongan manisnya. Aku kecewa. Dan kekecewaanku pada saat itu membuatku rajin menulis puisi. Puisi-puisi itu kemudian masuk di dalam buku puisiku.
Itulah mengapa kusebut ia patah hati terbaik. Karenanya, aku jadi produktif!

Ya, dan karena buku ini menurutku bagus sekali isinya, aku tidak membuangnya. Lagipula, aku tidak pernah tega menelantarkan buku di tempat sampah. Biarlah kisah kami saja yang berserak di tempat sampah, tapi buku ini, jangan.

--