Wednesday, October 19, 2016

Lampu

Setiap malam sebelum memejamkan mata, aku memikirkanmu. Aku menggambar matamu di balik mataku. Kemudian lampu tidurku yang menyala bersaksi, kerinduan ini seperti tanpa tujuan selain mencarimu dalam ingatan. Kau yang baik, kau yang ada, kau yang bersuara, kau yang penuh pesona, maha kurindui. Aku pun ingin menjadi seseorang yang kauulang sebelum kau memejamkan mata pada malam hari. Aku ingin lampu di kamarmu menyaksikan aku yang lirih di bisikanmu seperti sudut cahaya di kamar tidurku yang selalu luruh melihatku memuisikan matamu.

Tanpa jeda satu malam, kau merekah di mimpi-mimpiku. Kau sosok yang sangat lekat meski tak pernah dekat. Senyumanmu sudah menyeluruh setiap aku terbangun di pagi hari. Dan hanya dengan itu, aku merasa semua baik-baik saja. Aku mengusap dadaku perlahan, seperti sedang merawat namamu seorang. Sungguh hanya dengan mencintaimu, aku merasa semua baik-baik saja. Aku telah pula menanam tubuhmu dalam setiap tidurku. Aku mencintaimu seperti itu. Aku mencintaimu dengan kepalaku sebab mencintaimu aku menemukan kebahagiaan yang masuk akal. Aku mencintaimu. Tahukah kau? Aku mencintaimu. Aku mencintaimu.

Lampuku menyala redup.

Tak ingin bertanya apa-apa.

Tak ingin meminta apa-apa.