Monday, October 31, 2016

Pelukanmu, Rumah.

Terkadang, ingin rasanya mengetuk pintu rumah dan menyerah. Berkali-kali saya merasa lemah, ingin sekali berpasrah. Di rumah itu, setidaknya ada pelukan ibu tempat saya bisa menangis keras dan merasa terbebas. Atau mungkin dengan memakan masakan oma, saya akan merasa semua baik-baik saja. Ingin pun rasanya mengadu kepada bapak, betapa hidup ini keras, dan saya merasa sangat kecil menghadapi masalah-masalah. 

Saya selalu bermimpi menjadi manusia yang pada akhirnya kuat menghadapi apa yang diberikan hidup. Tantangan dan permasalahan ingin sekali saya jadikan sahabat baik demi kehidupan yang layak. Tetapi, ternyata tidak semudah itu. Entah kenapa, jauh dari rumah, membuat saya semakin hari semakin lemah menghadapi masalah. Saya seperti bukan diri saya yang dulu, yang begitu semangat menghadapi masalah, karena saya merasa permasalahan akan membuat saya semakin dewasa. Entah.. Kenapa berat sekali rasanya semakin hari. Kenapa berat sekali menjadi orang dewasa. 

Pagi ini saya merindukan rumah lebih dari biasanya. Mungkin pula perkara bulan November yang sebentar lagi datang, saya menjadi semakin lemah. Saya selalu begitu. Di setiap bulan November, saya akan merindukan rumah dengan terlalu. Di bulan kelahiran saya ini, saya sesungguhnya selalu berharap untuk menghabiskannya dengan keluarga saja. Dengan mereka, yang memeluk dan mencium saya sepenuh sayang sebab umur saya bertambah tua. Tidak apa 'kan kalau saya ingin setidaknya satu kali dalam setahun memanjakan diri dalam kasih sayang mereka? Saya sungguh rindu.. Dan permasalahan hidup yang datang di hari-hari menjelang bulan November, rasanya tak bisa saya hadapi begitu mudahnya, sebab saya lemah dan rindu rumah. Saya akui itu. Saya semakin lemah. Mungkin juga saya bukan dewasa yang baik. 

Meski sesungguhnya saya sangat sadar kalau semua ini adalah hidup saya sendiri, dan harus saya sendiri yang melaluinya. Bukan mereka. Saya seharusnya bisa lebih dewasa menghadapi ini, tetapi sungguh, saya rasanya ingin pulang ke pelukan ibu. Masih ada anak kecil di dalam diri saya yang membutuhkan bahu ibu untuk merengek dan menangis. 

Ma, dewasa ini, hidup membuat saya menyadari banyak hal. Salah satunya adalah orang-orang yang sesungguhnya tidak betul-betul peduli terhadap saya. Saya tahu, saya harus bisa sendiri. Tetapi saya sungguh rindu kasih sayangmu yang begitu peduli dengan tulusnya. Saya rindu dipeluk olehmu dan dikuatkan. Hidup tidak akan mudah, katamu pada waktu itu, dan entah mengapa saya dulu begitu percaya diri menghadapinya, tetapi sekarang kenapa saya begitu lemah, Ma? Apakah jauh darimu membuat semuanya berbeda? Ma, masih ada kanak-kanak dalam diri saya yang sungguh ingin dimanjakan olehmu ketika saya menghadapi masalah. Sungguh masih ada, Ma.. Meski saya tidak pernah benar-benar menyatakan kepadamu, tetapi sungguh masih ada, Ma.. Saya selama ini hanya pura-pura tangguh di depanmu, meski dalam hati saya, saya tahu saya kian tak mampu. Ma, saya selalu butuh doamu. Karena dengan doa, kau bisa menyentuhku begitu hebatnya. Saya rindu denganmu, Ma. Saya rindu rumah. Saya rindu semuanya..