Wednesday, October 12, 2016

Membayangkan Ibukota dan Kau


Aku sedang membayangkan diriku di tengah-tengah kota yang kurindukan. Debu jalanan, suara mesin motor, udara panas, teriakan para penjaja minuman segar; telur puyuh; nangka; tahu kuning; dan rokok, kuingat begitu jelas di kulitku. Umpatan- umpatan di balik kemudi lain juga bisa kudengar dari telingaku telanjang. Aku merasakannya. Macet. Ya, macet yang menyebalkan. Terlebih dengan suasana ramai sesak dan tatapan-tatapan di luar kaca jendela. Rasa penasaran tatapan itu akan lebih terasa dalam memandang ketika melihat di balik jendela mobil adalah seorang perempuan yang mengemudi. Perempuan yang membakar sebatang rokok mentholnya, lalu membuka sedikit kaca jendelanya. Sedikit saja agar pandangan heran di luar tidak masuk ke dalam tanpa diundang. Dan aku bertanya-tanya, apakah masih hal yang tidak biasa bagi perempuan di kota ini untuk menikmati dirinya dengan sebatang rokok di tangan? Kemudian aku mengembuskan asap rokokku.

Aku sedang membayangkan diriku menikmati macet itu dengan lagu Sal Priadi - Sjiva . Mataku menunggu lampu rem mobil di hadapanku untuk berhenti menyala dan segera jalan. Aku menghisap rokokku lagi dan lagi sambil memikirkanmu. Jika saja di kursi penumpang kau sedang duduk, apakah yang akan kau bicarakan kepadaku di tengah macetnya kota ini?

Aku lalu membayangkan kita berbicara banyak hal dan sebagian besar kau yang mendengarkanku bercerita segalah hal tentang diriku. Sebab aku senang sekali menceritakan diriku sendiri. Mungkin aku akan menceritakanmu tentang ekskul teaterku dulu di SMA, tentang alasanku menyukai drama korea, tentang cita-citaku yang berubah-ubah sejak aku kecil, tentang makanan atau minuman kesukaanku, tentang warna kesukaanku, tentang pengalaman-pengalaman lucu dan menyedihkanku di Jerman, tentang aku dan ibuku yang memiliki hobi yang sama, tentang ayahku yang cuek tapi romantis parah, tentang omaku yang masih suka keluar malam untuk karaokean dengan teman-temannya, tentang adikku yang pikirannya tidak pernah tentang studinya melainkan hanya mobilnya, atau tentang kebiasaanku dan adikku yang suka keluar tengah malam demi membeli dua porsi martabak. Tentang apapun. Aku akan menceritakanmu semuanya selama menunggu lampu merah menjadi hijau.

Lalu kubayangkan setelah lampu hijau menyelamatkan kita dari kemacetan, aku mematikan rokokku dan menancap gas setelah kau menutup bibirku yang bercerita dengan kecupan yang lembut dan basah. Kecupan yang tidak peduli jika ada yang melihatnya di luar jendela. Kubayangkan, waktu berhenti sebelum mobil melaju.

Aku pulang.
.