Aku sedang membayangkan diriku di tengah-tengah kota yang kurindukan. Debu
jalanan, suara mesin motor, udara panas, teriakan para penjaja minuman segar; telur
puyuh; nangka; tahu kuning; dan rokok, kuingat begitu jelas di kulitku. Umpatan-
umpatan di balik kemudi lain juga bisa kudengar dari telingaku telanjang. Aku
merasakannya. Macet. Ya, macet yang menyebalkan. Terlebih dengan suasana ramai
sesak dan tatapan-tatapan di luar kaca jendela. Rasa penasaran tatapan itu akan lebih
terasa dalam memandang ketika melihat di balik jendela mobil adalah seorang
perempuan yang mengemudi. Perempuan yang membakar sebatang rokok
mentholnya, lalu membuka sedikit kaca jendelanya. Sedikit saja agar pandangan
heran di luar tidak masuk ke dalam tanpa diundang. Dan aku bertanya-tanya, apakah
masih hal yang tidak biasa bagi perempuan di kota ini untuk menikmati dirinya
dengan sebatang rokok di tangan? Kemudian aku mengembuskan asap rokokku.
Aku sedang membayangkan diriku menikmati macet itu dengan lagu Sal Priadi - Sjiva . Mataku menunggu lampu rem mobil di hadapanku untuk
berhenti menyala dan segera jalan. Aku menghisap rokokku lagi dan lagi sambil
memikirkanmu. Jika saja di kursi penumpang kau sedang duduk, apakah yang akan
kau bicarakan kepadaku di tengah macetnya kota ini?
Aku lalu membayangkan kita berbicara banyak hal dan sebagian besar kau yang
mendengarkanku bercerita segalah hal tentang diriku. Sebab aku senang sekali
menceritakan diriku sendiri. Mungkin aku akan menceritakanmu tentang ekskul
teaterku dulu di SMA, tentang alasanku menyukai drama korea, tentang cita-citaku
yang berubah-ubah sejak aku kecil, tentang makanan atau minuman kesukaanku,
tentang warna kesukaanku, tentang pengalaman-pengalaman lucu dan
menyedihkanku di Jerman, tentang aku dan ibuku yang memiliki hobi yang sama,
tentang ayahku yang cuek tapi romantis parah, tentang omaku yang masih suka keluar
malam untuk karaokean dengan teman-temannya, tentang adikku yang pikirannya
tidak pernah tentang studinya melainkan hanya mobilnya, atau tentang kebiasaanku
dan adikku yang suka keluar tengah malam demi membeli dua porsi martabak.
Tentang apapun. Aku akan menceritakanmu semuanya selama menunggu lampu
merah menjadi hijau.
Lalu kubayangkan setelah lampu hijau menyelamatkan kita dari kemacetan, aku
mematikan rokokku dan menancap gas setelah kau menutup bibirku yang bercerita
dengan kecupan yang lembut dan basah. Kecupan yang tidak peduli jika ada yang
melihatnya di luar jendela. Kubayangkan, waktu berhenti sebelum mobil melaju.
Aku pulang.
.