Monday, October 24, 2016

Dialog Hujan

bicara rindu.. bicara haru.. luangkan ruang imajimu..

Ketika mendengarkan sebuah lagu, aku bisa melihatmu menjadi begitu puitis di bayanganku. Entah mengapa. Aku seperti membayangkan alunannya begitu pas jika kita nikmati di antara hujan dengan sepasang gelas kopi. Di saat seperti itu, aku ingin berbagi diam denganmu. Bunyi hujan yang jatuh di luar jendela akan membahasakan rindu di dada kita sebaik-baiknya. Mungkin sesekali aku akan mengajakmu bicara sampai aku kehabisan napas, kemudian kembali diam untuk menyesap kopi dan memandang hujan. Sesekali juga, aku akan melihatmu diam- diam. Bagiku, diam di keadaan seperti itu adalah diam yang paling romantis. Kita tidak benar-benar berhenti bersuara, kita hanya membiarkan hujan berbicara mewakili hati kita yang tidak cukup membahasakan rindu hanya dengan “aku merindukanmu.”.

bernyanyi merdu.. bernyanyi sendu.. bebaskan birunya hatimu..

Rasanya aku tidak ingin hujan cepat berhenti. Aku ingin berlama-lama menikmati hujan dan damai itu bersamamu. Bahkan jika kopiku sudah setengah gelas, aku akan menyesapnya sedikit-sedikit agar tidak cepat habis dan masih punya alasan untuk duduk di depanmu dan menikmati suara gerimis, atau suara degup dada kita masing-masing.

tanpa kata.. tanpa nada.. rintik hujan pun menafsirkan kedamaian..

Kau tahu, aku paling bisa menjadi diriku sendiri ketika dihadapkan dengan kopi dan seorang lawan bicara. Karena itu, rasanya aku ingin sekali mengajakmu mengopi berdua—dan lebih baik lagi ketika hujan. Aku ingin membagimu hal-hal tentangku. Dengan atau tanpa diam, aku ingin kau tahu sebanyak-banyaknya tentang diriku. Jika pada akhirnya setelah kau mengetahuiku seluruhnya, kau lebih memilih untuk menjadikanku teman, semoga kita bisa terus menjadi teman baik yang berbagi segalanya; puisi, kata, atau mungkin juga cinta. Atau jika kau tiba-tiba jatuh cinta setelah mengetahuinya, semoga kau sudah tahu dari lama kalau aku mencintaimu juga. Semoga kita menjadi cinta yang dengan kesederhanaannya mampu menjadi sempurna. Dan semoga setelah itu, kau mencium bibirku.

hanya rasa.. hanya prasangka.. yang terdengar di dalam dialog hujan..

Jadi, maukah kau suatu hari berbagi hujan dan kopi bersamaku?