Saturday, October 1, 2016

Tantangan Bercerita yang Menjadi Nostalgia

Beberapa hari yang lalu, seorang temanku yang baik hatinya tiba-tiba mengirimkanku email berjudul "Tantangan Bercerita". Di dalam email tersebut ia menantangku menuliskan tentang tiga benda yang ingin aku lupakan atau ingin kuingat lebih dalam. Ia juga memintaku untuk melampirkan foto di dalam tulisan. Di email itu ia pun melampirkan tulisannya tentang tiga benda yang ingin ia lupakan tetapi tidak ingin ia lepaskan. 

Aku menerima tantangannya.
Dan tanpa sadar aku menulis sambil mengenang dalam-dalam. 


Bantal boneka



Bulan Februari tahun 2013, satu hari sebelum tanggal aku berangkat ke Jerman untuk kuliah, seseorang yang pernah jadi pacarku ketika aku SMA kelas satu mengajakku bertemu. Sebenarnya itu bukan hal yang biasa. Kami sudah jarang sekali bertemu, setelah aku memutuskan hubungan kami yang cuma sebulan usianya dulu. Aku heran tetapi mengiyakan ajakannya bertemu. Bagiku dia orangnya sok misterius. Nyebelin, tapi bikin penasaran juga. Sifatnya yang sok misterius itu juga terasa ketika dia memintaku datang tepat jam 9 pagi di depan Warung Pasta di Margonda Depok.
Beberapa menit sebelum jam 9 pagi aku sudah sampai di depan Warpas—sebutan gaul restoran itu. Kemudian dari arah entah, tiba-tiba dia masuk begitu saja ke dalam mobilku. Aku memang sengaja tidak mengunci pintunya agar nanti gampang baginya untuk masuk. Dan ya, betul saja.
Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah ejekan “ih, ngapain deh lo pake eyeliner segala? itu apa itu lipstik??” Sebel. Hari itu aku memang sedikit berdandan. Sedikit. Asli, sedikit sekali. Tetapi lalu aku tidak memedulikannya. Aku kemudian bertanya kepadanya akan ke mana kita hari ini. Lalu dia jawab,
“Hari ini pokoknya kita harus ke tiga tempat. Pertama ke deket 103, trus ke rumah temen gue sebentar deket situ juga, sama terakhir ke Margo.”
103 itu nama SMP kita, Margo adalah Mall di jalan raya margonda Depok, sementara ke tempat temannya itu yang aku tidak tahu lagi kenapa. Hari ini bukankah dia janjinya kami jalan berdua?
Aku tentu menanyakannya kenapa. Dia bilang udah, jalan aja! Trus aku galakin dia dengan bilang gak jelas lu! tapi lalu sambil menancap gas.
Aku mengantarkannya ke sebuah toko yang masih tutup di dekat sekolah kami dulu. Lalu dia memintaku menunggu sebentar dan lalu dia keluar sambil membawa tas ranselnya. Dia berjalan mengarah ke belakang toko yang tutup itu. Waktu itu, hati aku sudah kesal bukan main dan rasanya ingin saja membatalkan rencana denganna hari ini. Tapi ternyata aku justru menemukanku menunggunya yang 10 menit kemudian kembali masuk ke dalam mobilku. Lalu kami melanjutkan perjalanan.
Aku memarkir mobilku di dekat sebuah gang di daerah Depok dekat kampus Gundar. Kemudian dia kembali memintaku menunggu. Lagi-lagi dia keluar untuk beberapa menit, lalu kembali duduk manis di sampingku.
Aku sudah malas bertanya.
            Sesampainya di Margo, kami jalan-jalan sesuai kemauanku. Aku mengajaknya menonton film dan makan. Sementara dia hanya meminta satu hal: foto-box bersama. Sebenarnya aku tahu dia bukan tipe cowok yang narsis. Tapi ya sudah, pikirku, mungkin dia butuh kenang-kenangan tentangku ketika aku di Jerman nanti. Geer sih!
            Hari sudah malam dan waktunya aku pulang. Sebelum aku pulang ke rumahku sendiri, aku mengantarkannya kembali ke depan Warpas. Sepanjang perjalanan waktu itu, hujan deras jatuh dan lampu-lampu pinggir jalan terlihat lebih romantis. Kulihat dia yang duduk di kursi penumpang sedang tertidur. Aku ingat tadi pagi dia bilang kalau dia belum tidur sama sekali dari kemarin. Maka sesampainya aku di depan Warpas, aku memarkir mobil dan menunggunya terbangun. Aku tidak mau membangunkannya. Waktu itu aku rela dicari-cari mamaku karena pulang malam, demi tidak membangunkannya. Kemudian pelan-pelan aku menikmati hujan di luar jendela.
            Dia kemudian terbangun setelah 20 menit tertidur. Dia terbangun kaget dan bertanya kenapa aku tidak membangunkannya. Lalu aku cuma tersenyum saja.
            Hujan deras sudah berubah menjadi gerimis kecil. Dia mengambil tas ranselnya dari kursi belakang, lalu  membuka isi di dalamnya. Dari dalam ranselnya, dia memberiku bantal boneka ini. Boneka Doraemon. Aku suka Doraemon, dan dia juga suka Doraemon. Selain itu dia memberiku penjepit foto, bunga mawar dari kain, pajangan keramik, dan sebuah amplop kecil berwarna hijau. Lalu kurang lebih dia menjelaskan seperti ini:
           “Di tempat yang pertama itu, gue udah janji untuk ngambil boneka, sama keramik ini pagi-pagi. Nah, terus di tempat temen gue, mawarnya ketinggalan abis semalem gue main di sana. Lalu yang di Margo itu ya gue pengen ngajak lu foto, biar bisa lu pajang di penjepit foto ini. Dan amplop itu, lu baca aja kalo udah di rumah. Ohya, ini sengaja mawarnya dari kain biar ga layu soalnya.”
Aku menatapnya penuh perasaan. Air mataku jatuh begitu saja. Aku terharu. Benar-benar terharu. Aku sangat tahu dia. Dia bukan tipe cowok romantis yang menunjukkan kasih sayangnya ke pasangan. Dia bukan tipe cowok peduli. Dia orang yang bahkan anti mengucapkan kalimat sayang. Baginya, rasa sayang cukup dinyatakan sekali, tidak berkali-kali.  Aku tahu dia melebihi siapapun! Tetapi kali itu, dia seperti orang yang berbeda. Seharian kami jalan tadi, dia bahkan masih orang yang jutek seperti biasanya. Tetapi ketika dia memberikanku barang-barang ini, dia tidak bisa berhenti tersenyum. Dia ramah. Dan itu hal yang langka.
Aku berterima kasih padanya sambil masih bercucuran air mata. Kemudian dia keluar dari mobilku setelah mendaratkan kecup di pipiku.
Sesampainya di rumah, aku membaca isi dari amplop hijau yang dia berikan. Di dalamnya ada tulisan tangan dia yang menuliskan:

“Dear Ivanasha, someday I want you to talk with this doll. Someday, I want you to smell this flower, and someday I want you to keep this ceramic. Until ‘one day’ I want to exchange all these with two rings to tie yourself.”

Boom.
Aku lemas bacanya.



Buku Puisi




Aku sejujurnya tidak suka dengan tulisan-tulisanku di buku ini. Bagiku, tulisanku di sini jelek. Aku bahkan seperti tidak ingin mengaku kalau buku itu ditulis olehku. Kasihan si Ikmal, puisi bagusnya harus satu buku dengan puisi jelekku.
Tetapi ini buku pertamaku. Aku tetap bersyukur karena setidaknya namaku tertera di sebuah buku. Dan itu membuatku bahagia :D


Buku Cinta



Buku ini kudapatkan dari seseorang. Dia yang memberiku buku ini adalah dia yang kalau kata awkarin “patah hati terbaikku”. Aku waktu itu masih berusia 19 tahun dan dia 24 tahun. Kami berkenalan di sebuah website. Dia orang Makassar yang tinggal di Jogja. Dia bekerja sebagai desainer grafis di sebuah penerbitan dan juga desainer grafis untuk salah satu klub sepak bola Inggris. Kuakui pekerjan yang dia miliki keren. Karena dia salah satu anak Indonesia yang karyanya diakui sampai di Eropa.
Singkat cerita, setelah berkenalan, kami sering video call di Skype. Tidak berapa lama setelah mengenal, dia menyatakan perasaannya kepadaku. Dia bilang dia sangat menyukaiku; aku cantik, aku pintar, aku beda dari yang lainnya, dan hah! kata-kata manis lainnya.
Aku tidak memberikan jawaban dari pernyataannya yang tidak bertanya. Aku hanya membalas dengan ucapan terima kasih. Karena waktu itu aku lagi di masa-masanya malas dengan cowok, apalagi cinta! hahaha. Gaya.
Lalu hari demi hari berganti dan Skype dengannya setiap malam seperti menjadi rutinitas. Di hari ulang tahunku, dia tidak tidur sampai jam 6 pagi demi menunggu jam 12 malam di langitku. Lewat Skype, dia memberiku kue bergambar Doraemon dengan lilin-lilinnya yang menyala. Dia dan teman-teman di kosnya menyanyikanku lagu selamat ulang tahun di depan kamera. Lalu mereka meniup lilin bersamaan aku yang pura-pura meniup lilin dari jauh. Kue kemudian mereka potong, lalu dia menanyakan kepadaku akan diberi ke siapa potongan kue pertama. Aku tentu memberikan kepadanya.
Sejak apa yang dia lakukan di hari ulang tahun itu, aku baper. Meski aneh karena kita belum pernah bertemu, aku membuka hatiku pelan-pelan untuknya. Aku bilang kepadanya kalau kita tidak akan jadian sampai hari kita bertemu. Kemudian dia menyetujuinya.
Tiga bulan berlalu sampai akhirnya aku berlibur ke Indonesia. Dan itu merupakan sebuah kesempatan besar untuk bertemu dengannya. Terkasih bukan kekasih yang belum pernah kutemui ataupun kusentuh. 
Tanggal 3 Januari 2014 dia berangkat dari Jogja dengan tiket yang dia beli satu hari sebelum hari keberangkatan. Dia membeli tiket pesawat paling pagi. Lalu kita berjanji untuk bertemu di sebuah mall dekat rumahku jam 10 pagi.
Jujur, kali itu adalah pertemuan yang benar-benar berharga bagiku.

Dan keesokan harinya akhirnya kami resmi berpacaran.
            Selama dia di Jakarta, aku mengajaknya jalan-jalan keliling Jakarta. Kami juga sempat menonton bioskop. Waktu itu film yang kami tonton adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Aku sangat senang ketika dia menirukan dialog Zainuddin dengan logat Makassarnya.
            Setelah pertemuan kami di Indonesia, kami menjalani hubungan jarak jauh yang waktu itu sepenuh rela kujalani. Dia lelaki penuh kata-kata manis yang membuatku tanpa sadar terlena. Aku sangat mencintainya. Dia banyak memberiku janji, dan tidak kusadari aku waktu itu hanyalah orang bodoh yang mau menelan janji-janji manisnya.
Dia memberiku buku Aforisma Cinta ini sebelum kami berpisah di pertemuan terakhir di Indonesia. Katanya aku harus membacanya. Sampul buku ini adalah desainnya. Dan di dalam buku ini terjabar makna-makna dari hal-hal yang berhubungan dengan cinta.

Kami hanya berpacaran dua bulan. Dia memutuskanku lewat Path message tiba-tiba ketika aku sedang berada di kelas. Pada saat itu juga aku langsung izin ke toilet dan menangis tersedu-sedu di sana. Dia memang sudah jarang mengabariku. Setelah setidaknya sebulan pacaran, dia berubah. Kami hanya bertukar chat kira-kira setiap dua minggu sekali. Aku tidak pernah mengeluh. Aku tahu dia sibuk dengan pekerjaannya. Aku benar-benar dengan tulus memakluminya. Karena aku waktu itu sangat mencintainya, dan aku percaya kepadanya.
Tetapi ternyata kami tiba di hari itu. Hari ketika ia memutuskan hubungan kami. Alasannya adalah karena dia dapat pekerjaan yang akan membuatnya sangat sibuk dan akan pula jarang mengabariku. Aku bilang tidak apa-apa. Berbulan-bulan tanpa kabar pun akan aku tunggu, asal ia memang akan kembali. Tetapi dia tidak mau. Alasannya tidak tega.
Sesampainya di rumah, kami bertemu lewat Skype. Aku menangis, dia juga meneteskan air mata. Tetapi akhirnya kami sampai di kesimpulan untuk mengakhiri hubungan itu. Di akhir Skype, dia mengatakan dia mencintaiku. Tetapi kutahu dia sedang melupakan semua janji-janjinya.
Setelah putus darinya, aku merasakan patah hati yang paling sakit yang pernah aku rasakan. Tidak apa dibilang berlebihan. Aku tidak peduli. Karena memang pada saat itu hatiku sakit sejadi-jadinya. Mungkin karena selama itu aku termakan janjinya dan segala omongan manisnya. Aku kecewa. Dan kekecewaanku pada saat itu membuatku rajin menulis puisi. Puisi-puisi itu kemudian masuk di dalam buku puisiku.
Itulah mengapa kusebut ia patah hati terbaik. Karenanya, aku jadi produktif!

Ya, dan karena buku ini menurutku bagus sekali isinya, aku tidak membuangnya. Lagipula, aku tidak pernah tega menelantarkan buku di tempat sampah. Biarlah kisah kami saja yang berserak di tempat sampah, tapi buku ini, jangan.

--