4:45 am
Waktu sudah bergerak semakin pagi dan aku belum tidur juga. Tiba-tiba saja datang keinginan untuk membuka laptop dan menulis sesuatu. Tetapi, setelah membuka laptop, aku malah tertarik untuk melihat-lihat data word yang tersimpan di laptopku. Belum lama aku mengganti laptop lamaku. Tidak banyak data yang kupindahkan ke laptop baru. Tujuannya agar memori di laptop lama biar tersimpan saja di dalam flashdisk dan laptop baruku tak perlu terlalu banyak data yang memberatkan. Ya, sebab menanggung kenangan terkadang memang memberatkan. Ea.
Sebenarnya, aku pesimis kalau akan kutemukan tulisan-tulisan lama di dalam laptopku ini. Tapi tak kusangka kutemukan juga sebuah tulisan yang membuatku mengingat ketika aku jatuh cinta di masa sekolah. Tulisan itu ialah sebuah file word dengan judul berbahasa Jerman "Der Mann ist Daga" yang artinya: lelaki itu adalah Daga. Jujur, sebelum aku membuka dan mulai membaca, aku benar-benar lupa apa isi dari file tersebut. Aku sempat menebak kalau itu adalah curhatanku tentang Daga (yang aku ingat bahwa Daga adalah nama samaran dari seseorang yang dulu ketika di bangku SMA kukagumi diam-diam). Biasalah, pada masanya aku pernah merasakan labilnya jatuh cinta, selabil-labilnya tingkat labilnya Aw*****. Maksudku, kegalauan seperti perempuan berambut pirang yang kemudian sempat heboh sejagad Indonesia itu nyata. Meski aku tidak pernah mempublikasikannya di Youtube sih...
Tapi ternyata aku salah. Ternyata di dalam file itu kutuliskan sebuah cerita. Cerita tentang perasaanku dulu ke Daga. Well, memang 11-12 sih dengan yang disebut curhat. Tapi.. Aku ingin membela. Ini bukan curhatan. Aku tahu, karena aku yang menulisnya. Tulisan ini dulu kutulis dengan tujuan untuk mengabadikan pandanganku tentang Daga dan lika-liku perasaan yang aku rasakan karenanya (meski kini kukatakan itu einfach kelabilan yang menjangkitku). Hahaha.. pardon.
Aku merasa sangat senang ketika membaca tulisan itu. Sesekali aku tertawa seperti sedang menertawakan diriku sendiri yang dulu. Bodoh sungguh bodoh. Mencintai anak kelas sebelah begitu lugunya, sehingga bahkan pernah menangis ketika yang kucintai dipatahkan hatinya oleh perempuan lain. Hahahaha!
Tetapi lalu kurasakan hangat di dalam perasaanku. Aku seperti membaca diriku yang belum mengetahui cinta sedalam sekarang. Belum pernah dipatahkan hatinya begitu sakit, seperti yang sudah kualami, jauh setelah kutuliskan cerita tentang Daga. Dan patah hati itu bukan patah hati yang Daga perbuat. *Mendadak melankolis*
Sudah, kulampirkan saja ceritanya di sini. Silakan membacanya.
Tulisan penuh kejujuran yang kutulis 5 tahun yang lalu. Ketika cinta sedang lugu-lugunya mengajariku patah hati.
(P.s: Cerita ini tidak selesai, maklumilah. Dari dulu aku memang seseorang yang sulit sekali menyelesaikan cerita yang kutulis.)
***
Der
Mann ist Daga.
Gue
jatuh cinta sama seorang yang gue beri nama samaran Daga. Udah sekitar 10 bulan
ini gue merhatiin dia. Dan sebutlah ini sebagai cerita cinta sebelah tangan
anak SMA, haha! Judul yang kacangan banget ya? Tapi gue rasa apa yang gue rasain
ini bukan sekedar perasaan kacangan anak SMA yang pantas di tertawakan. Tapi
boleh deh lo ngetawain gue, karena sudah mencintai orang yang bahkan gak pernah
melihat gue disini yang punya perasaan lebih ke dia.
This is it, I’m gonna tell you my secret
love, start with the very start.
Daga itu salah satu anak kelas
IPA di sekolah gue. Gue gak tau awalnya gimana gue bisa suka sama dia. Awalnya
sih gue cuma merhatiin dia dari jauh, lalu lama kelamaan merhatiin kok gue
malah bener bener merhatiin dia lebih dalam. Dan sadarlah gue kalo gue mulai
tertarik sama dia di bulan Februari 2011. Di situ gue mulai cerita cerita
tentang Daga ke temen sekelas gue, Al. Gue cerita ke Al kalo gue mulai
merhatiin seorang anak IPA bernama Daga. Si Al awalnya sempet kaget. Ya, karena
memang gak ada relasi apa apa sebelumnya antara gue dan Daga. Bahkan saling
mengenal aja engga. Gue bener bener suka dia dari nol. Ngeliatin dari jauh
setiap dia lewat di lorong sekolah. Lalu tiba tiba tertarik begitu saja tanpa
alasan. Mendengar cerita abstrak gue, Al tidak banyak menanggapi. Dan gue juga
merasa mungkin itu cuma sekedar mengagumi dari jauh. Gue pun tidak menganggap
perasaan itu serius.
Setelah
dari Februari gue memperhatikan dia. Maka di bulan Juni lah gue mengenal dia.
Awalnya gue iseng greet dia di BBM karena dia pasang PM BBM “greet”. Perbincangan
kecil terjadi. Kita membahas tentang kegiatan selama liburan kenaikan kelas. Di
situ gue merasa sangat, sangat, sangat nyaman. Ternyata dia anaknya ramah,
baik, easy going, dan memikat (atau memang
dari awal gue sudah terpikat dengan dia jauh sebelum gue mengenal dia?). Di
situ gue menjadi semakin menyukai sosok Daga. Jadilah setelah malam itu gue
jadi sering greet dia, ya iseng sih cari temen juga buat ngobrol. Tapi ada niat
kecil untuk ngedeketin dia, dan satu hal baru yang gue sadari... dia perhatian.
Oke, mungkin dia memang tipe cowo yang perhatian ke teman cewe nya. Tapi bagi
gue, itu nilai plus nya dia di mata gue. Hari semakin hari berlalu, gue
bener-bener semakin menyukai dia. Sampai akhirnya di bulan Juli gue berani
mengatakan perasaan ini bukan hanya sekedar suka lagi. Ya, gue sayang dia.
Di
bulan Juli, gue sudah menginjak kelas 12, dan temen sebangku gue adalah El yang
akhirnya menjadi tempat sandaran keluh kesah gue terhadap perasaan gue ke Daga,
berhubung gue udah gak sekelas lagi sama Al. Setiap pagi gue cerita ke El kalau
Daga begitu gue kagumi. Setiap Daga lewat kelas gue, gue tarik lengan El, lalu
berbisik ke dia beberapa kalimat yang gak bosen gue ulang “El! Tuh dia lewat!
Ah.. keren!”. Bisikan seperti itu selalu gue ulang setiap Daga lewat kelas gue.
El menanggapi dengan sekedar senyum atau tawa. Ya, gue merasa sedang jatuh
cinta, dan gue menikmatinya.
Bisa
di bilang gue dan Daga memang dekat. Kita jadi sering curhat di BBM. Beberapa
basa-basi pun terbahas juga di BBM. Sesuatu yang mungkin gak penting bagi dia, tapi
memiliki makna yang penting bagi gue. BBM yang sebenarnya biasa-biasa saja
itulah yang sering juga gue bahas ke El. Karena dengan hanya BBM-an sama dia
aja udah bisa bikin gue seharian senyum-senyum gak jelas. Ibarat “lagi ngapain
lo?” nya dia itu bisa bikin gue kesenengan seharian.
Gue selalu bercerita ke El,
bagaimana bentuk perasaan gue ke Daga. Gue sangat menyukai Daga pada saat itu.
kalimat kalimat penuh pujian untuk dia selalu gue katakan kepada El, dan
untungnya El setia mendengar gue, si remaja yang jatuh cinta diam-diam. Something like “yaampun El!! Kenapa ya
dia baik banget! Keren banget!”. Biasalah, kicauan aneh seorang pemuja.
Sampai akhirnya, di bulan
Agustus gue berkenalan dengan adik kelas gue, cowok. Sebut saja namanya Rafi.
Gue kenalan dengan Rafi dari BBM. Singkat cerita, di bulan Agustus gue memiliki
perasaan lain ke Rafi. Orang yang baru gue kenal beberapa minggu, dan respon Rafi
baik, setidaknya jauh lebih jelas dari respon Daga ke gue.
Di situlah gue mulai banyak
berfikir dan banyak cerita ke El. Gue bingung harus mengikuti kata hati gue
yang mana. Di satu sisi, gue juga mulai menyukai Rafi. Di sisi lain, gue
bener-bener jatuh cinta sama Daga, yang pada saat itu, bisa dibilang, tidak
memperlihatkan kalau dia memiliki perasaan yang sama. Di situ El memberi gue
nasihat, gue harus memilih yang mana yang baik dan yang mau gue jalanin. Gue
berusaha sebisa mungkin untuk gak tergoda dengan perasaan sesaat terhadap Rafi.
Gue berusaha mencari-cari tanda dari Daga yang siapa tau dia juga punya
perasaan yang sama seperti perasaan gue. Ya! Ternyata gue salah. Sepertinya
usaha seperti itu hanya menghasilkan nihil.
Waktu itu 10 Agustus 2011, di
twitter Daga, ia banyak menuliskan hal-hal yang menjurus kegalauan. Gue jujur
gak tau siapa yang sedang ia galaukan. Yang jelas itu bukan gue. Ada satu tweet Daga yang bener-bener bikin gue
pesimis total untuk bertahan mengharapkan hubungan yang lebih ke dia. Tweet itu berisikan tentang arti dari
menunggu. Dari tweet itu terlihat
seperti Daga sedang menunggu seseorang yang tidak sadar kalo sedang ia tunggu.
Yak. Disitu gue hopeless. Mungkin memang selama ini dia
cuma baik dan perhatian ke gue gak lebih dari sekedar teman. Malamnya, gue
curhat ke El, kalau gue akan move on
dari Daga dan mencoba menjalani hubungan dengan Rafi.
Di
bulan ke-dua gue menjalani hubungan dengan Rafi, tiba-tiba gue dapet kabar
kalau Daga jadian dengan adik kelas juga. Namanya Serla.
Jujur saja. Mendapat kabar itu,
hati gue sakit. Entah mengapa. Padahal di situ keadaannya gue sedang berpacaran
dengan Rafi. Tapi hati gue sakit. Sakit. Banget. Gue sempet nangis. Apa yang
gue tangisin? Yang gue tangisin adalah betapa beruntungnya Serla. Dia gak perlu
beberapa bulan menatapi Daga dari jauh untuk memiliki hatinya. Dia gak perlu
berusaha keras untuk menyentuh hati Daga. Ya, seperti yang telah gue lakukan.
Tapi gue berusaha menyikapi
berita itu dengan positif. Keadaannya di situ gue sedang berpacaran dengan
Rafi, tidak seharusnya memikirkan pihak lain. Apalagi orang yang pernah gue
gebet. Pada saat itu gue mengambil sikap, bahwa gue bahagia akan kebahagiaan
Daga. Tidak sulit bagi diri gue untuk membuat mindset kalau selama dia bahagia, gue juga bahagia. Karena nyatanya
gue memang senang melihat dia tersenyum, walau
itu bukan karena gue. Walau senyum itu untuk dia.
Singkat cerita, gue tetap dekat
dengan Daga dalam konteks teman. Kita sering saling curhat tentang pacar kita.
Ngobrol bareng sama El dan Teo di kantin, dan having fun together lah. Sampai akhirnya di bulan ke empat gue berpacaran dengan Rafi,
gue sadar kalau gue semakin tidak bisa melupakan Daga. Namun gue juga sadar,
gue terlalu terlambat untuk menyesali apa yang telah terjadi.
Gue berusaha bahagia karena
Daga sudah bahagia juga dengan Serla. Melihat mereka bermesraan di twitter
membuat gue bahagia sekaligus merasa sangat sedih. Gue tau, kesedihan gue itu
sebenarnya merupakan bentuk kecemburuan gue yang gak pernah gue akui. Akhirnya,
gue merasa gue gak bisa terus berlarut dalam dua hati seperti ini. Gue
memutuskan hubungan gue dengan Rafi dengan satu alasan. Tanpa orang lain
ketahui, bahwa gue memang mencari-cari alasan untuk menyudahi hubungan itu. Like what Kahlil Gibran said “ketika
cinta hilang, ia mencari-cari alasan”. Gue merasa tidak bebas mencintai Daga
apabila gue masih berpacaran dengan Rafi. Ternyata, gue tidak pernah berhenti mengagumi
sosok Daga. Ya, gue kembali mencintai Daga.
Putus dari Rafi, gue sama
sekali tidak menangis. Tapi sempat beberapa kali Daga memergoki gue sedang
menangis sendirian di mobil gue. Dia kira itu gue sedang menangisi keputusan
gue tentang Rafi. Padahal, yang sedang gue tangisi adalah dia. Gue sedih,
karena gue gak pernah bisa menjadi cukup baik untuk menyentuh hati dia. Gue
menyesal karena gue kurang berusaha. Karena ternyata perasaan gue ini bukan
perasaan cemen yang sesaat. Karena ternyata perasaan gue ke dia jauh lebih kuat
daripada waktu yang gue gunakan untuk move
on dari dia. Tapi lalu apalagi yang bisa gue lakukan? Toh, keadaannya
sekarang begitu rumit. Perasaan gue ini ya hanya gue sendiri yang menikmati.
Sementara Daga sendiri? Dia lagi masa-masa bahagianya sama Serla. Ini semua
juga kesalahan bodoh gue, berhenti mengejar cinta yang pada awalnya begitu gue
jaga, untuk seorang adik kelas yang tidak lebih baik dari sosok Daga sendiri.
Oke, harusnya gue tidak membandingkan mereka. Hanya saja gue merasa, selama gue
berpacaran dengan Rafi, gue tidak pernah berhenti memikirkan Daga. Gue tetap
curhat tentang Daga ke El. Itulah yang membuat gue berfikiran kalau Rafi
sendiri pun selama jadi pacar gue tidak mampu membuat gue berhenti memikirkan
Daga.
Sah menyandang status single dengan keadaan masih tidak bisa
berhenti mencintai Daga, gue pun memutuskan untuk menjadi teman Daga. Gue
berusaha untuk selalu bisa berada di sisi Daga, mendengar keluh kesah dia
tentang hubungannya dengan Serla. Berada di dekat dia dan mendengar
cerita-ceritanya adalah hal menyenangkan! Menjadi temannya sambil mengaguminya
dari dalam hati. Berharap yang membuat dia tersenyum itu bukan Serla, melainkan
gue. Tapi harapan, ya hanya harapan. Nyatanya, gue tidak menginginkan lebih
dari ini. Menjadi seorang teman baginya merupakan hal yang membahagiakan, tidak
lebih.
Hingga suatu hari Daga
bertanya, siapa orang yang sedang gue kagumi. Gue tidak berani menjawab bohong,
dan gue terlalu susah untuk menghindar dari pertanyaannya. Apa gue harus
menjawab langsung kalau yang gue kagumi ialah diri dia sendiri? Atau gue harus
menghindar? Tapi, menghindar dari pertanyaannya ternyata memancing dia untuk
semakin ingin tau. Bolak-balik Daga menanyakannya. Gue gak bisa bohong. Gue
jawab pertanyaan bodohnya itu lewat SMS. Gue jawab, orang yang gue suka selama
ini adalah dia. Gue sempat takut kalau sikapnya akan berubah ke gue. Ternyata
tidak. Sepulang sekolah di hari setelah SMS pengakuan itu, dia menghampiri gue,
mengangkat tangannya meminta high five
ke gue, lalu gue sambut tos nya itu. kemudian dengan senyum sederhana yang
selalu gue cintai, dia berkata “thanks
ya udah jujur...”.
Dan disitulah gue benar-benar
menjalani posisi baru. Menjadi teman yang selalu mendengar curhatan dia. Dengan
keadaan dia mengetahui perasaan gue. Sempat tidak mudah bagi gue membiasakan
diri atas pengetahuannya itu. Gue canggung dan banyak salah tingkah. Untungnya,
dia mengerti dan mengambil sikap. Dia benar-benar membuat gue merasa kalau gue
temannya, teman curhatnya, dan tidak akan merubah semua itu karena perasaan
gue. Gue merasa kembali nyaman.
Tetap, dia tidak mengetahui
bahwa dalam hati gue, gue masih mengagumi dia begitu dalam. Semakin dalam
setiap harinya. All I can do is only
watching his happiness from the distance. Ketika ia sedang ada masalah
dengan Serla, dia boleh datang ke gue. Bercerita dan berkeluh kesah. Gue tau,
keberadaaan gue terlihat sangat remeh. Dengan posisi dia mengetahui perasaan
gue, namun gue masih menjadi teman curhatnya yang notabene membahas tentang
pacarnya. Kurang sabar apa kan gue? Gue sabar kok. Like what i told you before, gue tidak mengharapkan lebih dari ini.
Suatu hari, Daga mengalami
kecelakaan, persis beberapa hari sebelum minggu ujian tiba. Disitu gue panik!
Tangan kanannya cedera. Gue bener-bener gatau harus ngapain selain memberinya
perhatian lebih, as friend tentunya.
Malam setelah satu hari kecelakaan itu berlalu, gue SMS dia. SMS sederhana
sih.. mengingatkannya agar tidak lupa meminum obat dan banyak istirahat. Lalu,
yang buat gue kaget adalah balasan SMS nya. Di SMS itu dia bilang yang intinya
terimakasih, dan juga mengatakan kalau gue lebih perhatian dari ceweknya
sendiri. Gue gak nyangka! Gak mungkin SMS sederhana gue itu bisa dibilang lebih
perhatian dari perhatian ceweknya. Apakah?
Sejak hari itu Daga jadi
semakin sering curhat ke gue. Dari ceritanya gue tau, kalau akhir-akhir ini si
Serla berubah. Daga tidak memperjelas rinci nya, dia bilang, dia hanya
merasakannya. Posisi gue hanya sebagai teman yang mendengarkan dan menyabarkan.
Walaupun di dalam hati kadang gue sesali.. Andai saja Daga itu pacar gue. Gue
pasti akan berusaha untuk menjadi baik dan bersikap dewasa. Gue pasti akan
lebih menghargainya dibanding Serla yang seperti ceritanya, berubah dan cuek.
Serla.. betapa lo tidak menyadari kalau ada yang berusaha keras untuk mendapati
hati Daga.
Mari kembali gue singkat cerita
ini. Persis di hari perayaan dua bulan Daga dan Serla jadian, mereka putus.
Putus di bulan Desember. Daga was totally
fucked up. Honestly, gue bener-bener ikutan sedih banget pas tau kabar itu.
gue sedih liat Daga sedih. Bahkan gue menangis. Gue nangis kejer. Gue gak bisa
liat orang yang gue sayang itu sedih sampe sesedih itu. Call me so over act, but it's so true. Sepertinya, di hari itu juga
lah gue menyadari kalau gue memang sudah jatuh terlalu dalam dari perasaan gue sendiri.