Showing posts with label #30HariMenulisSuratCinta. Show all posts
Showing posts with label #30HariMenulisSuratCinta. Show all posts

Saturday, February 13, 2016

Cantik.

Malam tadi sepertinya sunyi sedang memeluk erat masing-masing bibir kita. Tidak ada satu pun suara kecuali denting gitar yang kaupetik satu satu senarnya; menambah suasana semakin melankolis. Di balik punggungmu, tak kau ketahui ada air mata yang jatuh dalam diam. Air mata cemburu yang kau bilang tak kau mengerti alasannya.

Aku pun entah. Mengapa begitu takut kumiliki cinta ini kepadamu, Kekasih.. Kutahu betapa cantiknya perempuan-perempuan yang pernah menjadi kisahmu. Sementara apalah aku. Hanya perempuan yang tak lebih dari pemilik kata-kata. 

Dan kau menjawabku dengan diam yang lama, ketika kukatakan betapa bodohnya kau memilih perempuan yang jelek sepertiku.

Menambah deras air mata penyesalanku, pikiran ini bermain sebebasnya. Aku sadar, begitu salahnya kurendahkan diriku di dalam diriku sendiri. Begitu salahnya aku mengumpat tubuh tempatku bernapas lebih dari duapuluh tahun. 

Tetapi tidak bisa kuhindari perasaan takutku akan kehilanganmu; sangat besar, hingga tanpa sadar aku telah dibutakan oleh perasaanku sendiri. Sangat buta. Bahkan tidak bisa kuangkat rasa percaya di dalam batinku sendiri. 

Sejujurnya, aku juga sangat sangat sangat takut kehilanganmu karena tingkahku yang seperti ini. Tetapi maaf, Sayang... Aku pun juga sedang bersusah payah untuk berhenti merendahkan diriku sendiri sebab melihat betapa cantiknya mereka, masa lalumu. 

"Logikanya, kalau mantan-mantanku cantik, mantan gebetanku cantik, terus kenapa sekarang aku sama kamu? Ya nggak mungkin karena kamu lebih jelek. Pasti karena kamu lebih cantik lah!" 

Itulah yang kemudian kau katakan untuk memecah keheningan.

Dan kurasakan hatiku menghangat...

Kulihat punggungmu diam saja ketika aku tersenyum di antara tangisan. Kemudian kau melanjutkan memetik gitar sementara aku bersyukur berulang kali. Betapa.bodoh kuragukan diriku sendiri di hadapan orang yang mencintaiku apa adanya. Betapa bodoh kutangisi diri ini yang kukira tidak cukup baik bagimu, sementara kau mengangkatku dengan tulusnya cintamu.

Betapa bodoh aku..
Tidak menyadari besarnya perasaanmu untukku..

"Aku Merindukannya.."

Kepadamu, Langit..

Jika bisa kutumpahkan senja pada kata-kataku, mungkin keberanianku akan bertambah dan mampu menyatakan segalanya di hadapanmu, sejujur-jurjunya. Tentang sekian perasaan tak terhitung yang berdiam di sesak hatiku; betapa kucintai kamu.

Hari ini, aku merindukan matamu melebihi seharusnya. Betapa ingin rasanya kunikmati sepasang teduh di jauh tatapanmu, hanya untukku sendiri. Jika saja akulah seseorang yang kauberi hatimu, mungkin akan dengan lantang kuakui rindu ini, Langit..

Meski masih tidak kuketahui kepada siapa hatimu bermuara, tetap kujaga perasaanku ini untukmu saja. Hingga entah kapan, aku yang tidak tahu kata menyerah, akan terus menatap hatimu yang sedang berdansa memuja hati yang lain. Sebab entah kapan pula, harus kuutarakan kata-kata yang mengendap tinggi di ujung ketakutanku.

Kutulis surat singkat ini sesaat setelah kamu mengatakan kepadaku
"aku merindukannya.." 

Senja.

Tuesday, February 9, 2016

Aku Sayang Kamu

Kepada Langit,
terkasih yang bukan kekasih..

Ingin kuutarakan rasanya, air mataku yang semalaman menetes dan deras kepadamu. Kerinduan yang hampir kehilangan nyawanya, dada penuh cinta yang berdebar sesak memanggil namamu, dan segala perasaan yang tidak pernah kamu ketahui, mengisi penuh seluruh tubuhku. Betapa sulitnya, aku menahan hati yang sebelah ini; hati yang tak mungkin menggapaimu.. Sementara tak kuketahui bagaimana caranya sembuh dan baik-baik saja.

Ingin kuutarakan betapa sering kepalaku memutar semua tentangmu; tentang seribu tentang yang tidak pernah bernapas di dalam pelukanku. Betapa ingin kugambar sepasang lenganku, memeluk tubuhmu mesra, membagi kehangatan yang paling nyata. Atas nama cinta, berulang kali aku mendoakan kebahagiaanmu; dengan atau tanpaku. Kuserahkan segala andai kepada Ia yang memilikimu. Sebab aku hanya bisa pasrah, ketika tidak ingin menyerah.

Tetapi kata-kata dan rasa inginku hanya akan mati di mulutku sendiri. Entah sebagai doa atau pernyataan-pernyataan yang tidak pernah kamu dengar. Segala perasaan yang sekian lama kumiliki untukmu, adalah segala perasaan yang dengan rela bersembunyi dan menua dalam kesendiriannya. Sebab bagiku, kehilanganmu adalah harga yang tidak pernah ingin kubayar, atau kuyakini diriku akan mati seribu sesal. 

Kamu yang baik, kamu yang kucintai,
jika saja kata-kata bisa menyelamatkan suaraku di hadapanmu,
akan kukatakan sejumlah yang tak terhitung,
betapa aku menyayangimu.

Senja. 

Monday, February 8, 2016

Ternyata Langit Memiliki Cinta

Kepadamu, Langit,
yang ternyata memiliki cinta..

Kutulis surat ini setelah mengantarkanmu ke stasiun bis. Kamu kembali ke kotamu setelah meninggalkan seribu pertanyaan yang tidak—ingin—kuketahui jawabannya. Sambil masih menatap bismu yang belum berangkat, aku memutuskan untuk menuliskanmu surat ini. Surat ke sembilan yang menampung perasaanku kepadamu, Langit. 

Pagi tadi, empat jam sebelum jam keberangkatan bismu, kamu mengajakku berjalan di taman dekat rumahku. Katamu, kamu ingin melanjutkan keluh kesahmu yang kemarin; tentang betapa bingungnya kamu menyukai seseorang itu. Seseorang dan perasaanmu yang sebenarnya lebih baik tidak kuketahui. Tetapi apa boleh buat, kurasa aku memang harus lebih sadar lagi, bahwa statusku hanyalah "teman" bagimu, dan pendengar keluh kesah perasaan cintamu itu. (Maaf, kalau surat ini mulai terbaca seperti aku sedang marah-marah; atau mungkin memang marah.) 

"Tidak kulihat ada yang menarik darinya, selain perasaanku yang tiba-tiba hangat setiap kali aku membayangkannya.." ucapmu sambil berjalan di sampingku.
"Setelah bertahun-tahun aku mengenalmu, baru kali ini, Langit.." kataku dengan suara pelan
"Ya, aku tahu, aku pun heran.. Tetapi, Senja, kalau kamu pernah jatuh cinta, pasti kamu tahu rasa hangat di dada ini kan?" kamu menepuk pelan dadamu. Aku hanya mengangguk lalu tersenyum. Kamu hanya tidak tahu, perasaan cinta yang hangat itu telah tumbuh di dadaku bertahun-tahun lamanya, dan kepadamulah, seseorang di depanku, kutujukan perasaan itu. Kamu hanya tidak tahu.. 
"Siapa dia?" sedetik setelah aku mengucapkan kalimat pertanyaan itu, aku menyesal. Aku tidak benar-benar ingin tahu. Aku tidak ingin tahu. 
Tetapi untungnya kamu tidak langsung menjawab, memberikanku sedikit waktu untuk bersiap-siap mendengar nama siapapun dia. Kamu tiba-tiba menghentikan langkah, mengalihkan matamu ke sepasang mataku.
"Aku belum bisa bilang ke kamu." katamu singkat. 

Dadaku berdebar sedikit lebih cepat sepanjang sisa perjalanan kita di taman itu. Aku tidak berani bertanya lebih jauh, dan kamu tidak lagi mengatakan apa-apa. Aku punya perasaan bahwa alasanmu tidak memberitahukan namanya kepadaku, ialah mungkin karena aku mengenalnya. Mungkin dia teman tugas satu kelompokmu, atau salah satu perempuan teman mainmu, atau mungkin juga salah satu temanku yang kamu kenal. Mungkin kamu tidak memberitahu kepadaku sebab tidak ingin aku mencampuri urusan kalian. 

Ah! 
Entahlah, Langit..
Kamu berhasil membuat pikiranku lari ke mana-mana.

Hingga bismu tidak bisa kulihat lagi, aku masih memasang seulas senyum palsu. Hatiku perih, entah kenapa. Tetapi akhirnya kuketahui satu hal tentangmu, Langit.

Bahwa ternyata, kamu memiliki perasaan yang kurasakan. 
Meski kepada entah siapa.

Senja.

Sunday, February 7, 2016

Pengakuan Langit

Kepadamu, Langit.

"Kita teman kan?" katamu tadi siang ketika kita kembali bertemu. Pertanyaan yang membuatku kaget sepersekian detik dan sekaligus miris setelahnya. "Tentu saja kita teman. Memang apalagi? Majikan dan peliharaan?? hahaha..." jawabku santai dan sedikit bercanda. Aku berharap bisa menutupi kepedihanku sedikit. 

Tapi kamu tidak berkata apa-apa lagi. Kamu diam sambil menatap ke luar jalanan depan teras rumahku. Matamu seperti sedang tidak melihat ke arah yang kamu pandang, kurasa kepalamu juga sedang berpikir entah ke mana. Aku tidak berani menebaknya. Jujur saja, pertanyaanmu tadi membuatku takut. Takut kalau pikiranmu berhubungan dengan pertemanan kita, yang mungkin ingin kamu akhiri; meski entah apa alasan untuk mengakhiri pertemanan. Aku hanya begitu takut kehilanganmu.

Matamu kemudian berganti arah memandang sepasang mataku yang daritadi menunggu. "Aku mau cerita ke kamu. Hanya aku bingung dari mana harus memulainya." katamu sambil menatap serius ke arahku. Aku pun cuma bisa menghela napas hingga kemudian kamu melanjutkan "Aku rasa aku menyukai seseorang..." 

Deg!

Tidak sampai sedetik setelah kamu mengucapkan itu, rasanya napasku sudah mau habis. Tiba-tiba aku sesak dan dadaku nyeri sekali, debarnya seperti berhenti sesaat. 

Hal yang paling kutakutkan terjadi. Bertahun-tahun pertemanan ini, aku tidak pernah mendapatkan satupun pernyataan dari mulutmu mengenai seseorang yang kamu sukai. Semua perempuan yang datang dan pergi di hidupmu hanyalah tentang mereka dengan perasaannya yang tidak pernah kamu balas. Aku diam beberapa saat, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Kamu, orang yang bertahun-tahun kucintai diam-diam, kini menyukai seseorang lain. Dan bukan aku. Ya, setidaknya aku tahu itu tidak mungkin aku...

"Kenapa kamu diam saja??" tanyamu tiba-tiba mengagetkan aku
"Eh.." aku sedikit kaget dibuatmu "Aku hanya bingung harus jawab gimana, ini pertama kalinya kamu mengaku padaku kamu menyukai seseorang." lanjutku datar, mencoba untuk tidak terlihat sedang nyeri hatinya. 
"Ya kan?? Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa menyukainya.." ucapmu sama bingung denganku. Lalu tak lama kemudian kamu memutuskan untuk beranjak dari rumahku dan mengatakan kalau besok kamu akan pulang ke kotamu. Kamu memintaku untuk menemuimu dulu besok pagi, berjanji akan menceritakan tentang orang yang kamu sukai itu. Padahal sesungguhnya, aku tidak ingin melanjutkan topik itu lagi, dan aku berharap kamu tetap melanjutkan kebingunganmu saja, sementara aku akan dengan baik-baik bersembunyi sambil merawat hatiku yang—entahlah—semakin patah ini.

Surat hari ini kusudahi sampai di sini saja, Langit. Betapa tidak menyenangkannya menuliskanmu surat yang berisi kekecewaan. Pun aku tidak ingin menambah panjang surat ini dengan patah hatiku yang sedang menjadi. Aku hanya bisa berdoa, supaya besok patahku akan kembali sembuh.

Dan aku berharap kamu tidak melanjutkan ceritamu itu...

Senja.

akhirnya tulisan ini kupublish juga!

untuk seseorang di balik salah satu akun twitter tenar itu:

aku lupa bagaimana kita pernah saling mengerti. membagi hati seakan kita berada di ruang degup yang sama, seakan tak satu sekatpun ada. aku lupa bagimana rasanya berbagi segala denganmu, membicarakan hal-hal dari yang sangat tak penting hingga hal-hal yang membuatku menangis sepanjang hari, sementara kau mendengarkannya begitu sabar.

tak jarang kau mengajariku caranya menghadapi kehidupan agar tidak terus-menerus dibuat menangis olehnya. kau mengajariku untuk berani sendirian, dan kembali kepadamu ketika aku tak menemukan jalan. kau berjanji untuk berada di sana, menantiku mengadu setiap duka dan luka. kau juga mengajariku untuk melangkah ke depan begitu berani, jangan peduli tentang hal yang hanya akan menghalangi. bukankah kau begitu baik hati, mengajarkanku banyak hal, sementara pekerjaanku hanya merengek lemah di depanmu.

kau paling tahu, apapun kelemahanku. kau tahu tentang betapa sakit aku menghadapi kehidupanku sendiri, keluargaku sendiri, kesepianku sendiri, dan bahkan menghadapi diriku sendiri. kau sangat tahu itu. seakan aku telanjang di depanmu, tak satupun berhasil lolos darimu. semua yang ada padaku, kau ketahui begitu sempurna. hal-hal yang tak kepada siapapun aku bagi, kau mendengarnya, kau memahaminya, bahkan jauh sebelum kita saling bertemu. bukankah seharusnya aku beruntung bisa mengenalimu? 

maka semenjak kita tak lagi seperti itu, aku harus merawat lukaku sendirian. tidak ada lagi kamu yang mendengar atau mengetahui tangisanku setiap malam. tidak ada lagi kamu yang menemani kesepianku yang begitu jahat. tidak ada lagi kamu yang mengajariku untuk lebih tabah lagi, lebih sabar lagi, lebih kuat lagi. tidak ada lagi kamu yang mengajariku untuk dewasa dan berhenti berpikiran seperti anak kecil. tidak ada lagi kamu yang memujiku, membuatku percaya diri dengan apa adanya aku. tidak ada lagi kamu yang menanyakan apa aku baik-baik saja, atau aku sedang membutuhkan seseorang untuk mendengar keluh kesahku.

kini semua harus kuhadapi sendirian. dan aku kembali menangis sendiri lagi. tidak ada kamu..
tidak ada kamu..


130315 

Saturday, February 6, 2016

Pertemuan Panjang yang Singkat

Kepadamu, Langit..
yang sedang berada di sebelahku.

Kutulis surat ini dengan keberanian yang sedang menumpuk. Aku merasa sedikit takut; kamu akan bertanya apa yang sedang kulakukan dengan telepon genggamku. Ya... menulis surat kepadamu, yang mana aku tidak ingin kamu mengetahuinya..

Dengan sepasang gelas Coffee Latte di hadapan, kita sudah menghabiskan hampir tiga jam di kafe ini. Kafe khas italia yang sudah sering kita kunjungi setiap kali kamu berkunjung ke kotaku. Kota yang terpisah empat jam perjalanan bis dari kotamu. 

Kamu membicarakan banyak hal kepadaku, seperti sudah lama menumpuk sekian cerita untuk kamu katakan kepadaku.

Kamu bercerita tentang tugas kampusmu yang menumpuk. Salah satu tugasnya mengharuskanmu berkelompok dengan orang Jerman yang menyebalkan. Kamu mulai menggerutu setiap kali menyebut nama temanmu yang menyebalkan itu. Sementara aku, diam-diam terpesona dengan muka kesalmu.. 
Kamu juga menceritakan tentang betapa kamu mulai rindu dengan bundamu di tanah air. Kamu ingin sekali liburan ke tanah air dan menghabiskan waktu dengan bundamu. Ya, untuk perihal itu, aku sangat mengerti. Karena aku juga merindukan ibuku.. 

Dan banyak hal lain kamu bicarakan, ketika aku dengan senang hati mendengar semua ceritamu. Kemudian tanpa kita sadari, langit sudah abu-abu dan kita harus pulang. Kamu berjanji mengantarku pulang, membuat hatiku tiba-tiba meloncat bahagia. Tidak bisa kugambarkan betapa senang dan lengkapnya hari ini, berdua bersamamu; temanku yang baik..

Kamu memanggil pelayan untuk membayar kopi kita. Dan aku, bersembunyi dalam surat ini, ingin menyatakan perasaanku sekali lagi;

Aku mencintaimu, Langit..

Senja.

Friday, February 5, 2016

Akhirnya!

Kepadamu, Langit, 
yang tiba-tiba mengetuk pintu rumahku....

Akhirnya! 
Akhirnya kamu menepati janjimu; mengunjungiku. Dan tanpa memberitahuku lebih dulu, kamu membuat kejutan dengan tiba-tiba mengetuk pintu rumahku. 

Senyummu masih sama. Manisnya masih membuat jantungku berdebar lebih cepat. Caramu berbicara juga masih diam-diam mencuri nafasku. Aku jatuh cinta padamu, Langit, setiap detik mata kita berjumpa.. Aku tidak bisa menghalangi perasaan yang semakin membesar ini. 

Surat ini kutulis setelah kita mengobrol panjang di ruang tamuku dan akhirnya kamu pulang ke rumah temanmu, untuk menginap di sana. Besok lagi, kamu berjanji untuk mengajakku bermalam minggu di kedai kopi. Ah, entah mengapa kamu menyebutnya "malam mingguan" padahal kita hanya teman... Aku tahu, mungkin bagimu itu hanya candaan biasa. Tetapi bagiku itu adalah sebuah pengharapan, untukku bisa menghabiskan waktu yang mengesankan berdua bersamamu.

Aku bahagia, Langit.. Sangat bahagia sampai rasanya jantung ini ingin loncat keluar dari ruangnya. Kamu telah mencuri hatiku sejadi-jadinya, Langit..

Lagi-lagi, kamu membuatku tidak sabar akan esok hari.

Senja.

Thursday, February 4, 2016

Begitu Sakit Aku Merindukanmu, Langit..

Kepadamu, Langit, 
yang tanpa sadar sering menyiksaku dengan rindu.

Malam ini pikiranku lebih kacau dari biasanya. Aku sangat merindukanmu, Langit. Parahnya, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan mengucapkan rindunya saja aku tidak bisa. Meski dengan alibi rindu sebagai teman, aku tetap tidak berani mengucapkannya kepadamu. Apalagi rindu yang seperti ini; rindu dari perasaan cinta yang tidak pernah kau ketahui adanya.

Rasanya aku hampir bosan menahan perasaan ini, Langit. Terkadang aku membayangkan ada sebentuk keberanian yang tiba-tiba muncul dan membawaku menyatakan semuanya di hadapanmu. Aku ingin lega dan jujur. Tetapi ternyata lebih sering kutemukan perasaan takut. Takut jika kelegaanku menyatakan perasaan hanya akan berujung kehilanganmu.

Aku tidak pernah mau kehilanganmu, Langit.
Meski sebagai seorang teman.

Hari ini, kita tidak bicara banyak. Aku tahu kamu sedang sibuk dengan duniamu dan tidak mungkin sempat memikirkan aku yang bukan siapa-siapa. Tetapi tanpa kamu tahu, Langit, sebagian waktuku hari ini kuhabiskan untuk memikirkanmu. Karena aku merindukanmu dan aku tidak sabar hari Jumat tiba. Kamu berjanji ingin mampir ke kotaku 'kan? Semoga kamu tidak melupakan janjimu, Langit.. 

Karena mungkin aku tidak bisa tahan lebih lama lagi merindukanmu..

Kerinduan ini menyiksa.
Bahkan surat ini kutulis dengan air mata yang hampir menetes.
Ya.. Aku memang cengeng..

Dan lebih parahnya aku tidak tahu harus lari ke mana, ketika kerinduan begitu sakit kutanggung. Jika saja bisa kupinjam lenganmu untuk memelukku, agar semua rindu menjadi sembuh.

Tetapi sayang sekali, menggenggam tanganmu saja aku tidak bisa.

Senja.

Wednesday, February 3, 2016

Dengan Sangat

Kepadamu, Langit,
terkasih yang bukan kekasih.

Lagi apa kamu, Langit?
Hari ini kamu dan aku tidak saling menyapa. Tumben juga, kamu tidak memintaku menemanimu bermain Dota. Tetapi aku juga tidak berani memintamu meneleponku, meski sesungguhnya aku sangat rindu. Well, aku juga hari ini belum sempat menyapamu dan memberikan pertanyaan pertanyaan remeh seperti biasanya lewat chat LINE. Pertama karena aku seharian ini belajar dan tidak sempat melihat telepon genggam dan kedua aku lebih sering merasa tidak enak untuk menyapamu duluan. Kamu pun hari ini belum mengabariku apa-apa..

Ah.. 
Sepertinya aku mulai bermimpi. Sebenarnya untuk apa pula aku berharap dicari olehmu? Bukankah kita bukan apa-apa melainkan hanya teman? (hatiku sedikit meringis setiap kali kutulis kata "teman" di dalam surat ini). Entah kenapa, Langit, setiap aku menulis satu kata di dalam surat yang kutujukan kepadamu, aku merasa semakin tenggelam dalam perasaan mencintaimu. Hatiku selalu bertambah besar kepadamu, Langit. Tetapi tetap tidak kamu sadari—atau sebenarnya aku yang sungguh pengecut dan berharap kamu tidak mengetahui perasaanku. 

Aku akui bahwa aku begitu bodoh dalam cinta, Langit. Mungkin karena kamu cinta pertamaku. Ya.. Jangan kaget ya Langit! Sebenarnya, semua cerita tentang orang orang yang kusukai selama kita kenal itu adalah bohong. Semua itu cerita buatanku, Langit, demi menutupi perasaanku kepadamu. 

Tentang Tuan D? itu karangan pertamaku setelah membaca sebuah novel remaja. Apa yang 4 tahun lalu kuceritakan padamu itu sebenarnya hanyalah tokoh di dalam novel. Tuan D tidak pernah ada. Aku berbohong.

Tentang Tuan R? lagi-lagi itu karanganku, Langit.Tepat 2 tahun yang lalu kubuat sosok Tuan R dan menceritakannya kepadamu seakan-akan aku sedang jatuh cinta pada salah satu teman kampusku. Padahal, Tuan R itu hanyalah murni khayalanku. Tidak pernah ada Tuan R, dan tidak pernah ada pula yang mengantarku pulang ke rumah dari kampus. Tidak pernah ada. Aku berbohong. 

Maafkan aku, Langit. Begitulah kebodohanku dalam mencintaimu. Seringkali aku merasa terjebak suasana dan begitu takut kamu menyadari bahwa aku menyukaimu; mencintaimu. Maka tanpa sadar selalu kubuat cerita cerita palsu demi menutupi yang sebenarnya. Sejujurnya aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus bersikap di hadapanmu, Langit.

Kamu cinta pertamaku...

Kuharap kamu mau memaafkanku, Langit. Meski sebenarnya surat ini tidak benar-benar sampai kepadamu, dan tidak pula kamu ketahui tentang kebohonganku itu. Tetapi, aku berani bersumpah, Langit, bahwa tidak ada yang pernah menyentuh perasaanku selain dirimu. Semua yang kulakukan semata-mata untuk menjagamu tetap berada di dekatku. Aku tahu aku egois, tetapi inilah aku, Langit. Apa adanya dan sangat bodoh.

Kuharap bisa kukatakan semuanya kepadamu, Langit.
Bahwa aku, mencintaimu dengan sangat..


Senja.

Tuesday, February 2, 2016

Begini Saja Cukup.

Kepadamu, Langit,
(yang sedang meneleponku selama hampir enam jam..)

Dari jam 7 malam sampai sekarang sudah hampir jam 1 pagi, kita masih tersambung di telepon. Kamu yang sedang bermain Dota dan aku yang sudah sempat tertidur selama dua jam, makan, dan nonton dua seri dari film Sherlock.

Aku tahu, tidak banyak yang kita bicarakan di telepon. Lebih sering kudengar kamu memaki lawanmu di Dota, mengeluh sebab kalah, atau terkadang berteriak senang karena akhirnya menang. Entah sudah berapa ronde kamu bermain Dota itu, dan aku masih setia menemanimu, meski tidak banyak yang kita bicarakan. 

Entah mengapa, sudah hampir setahun ini kamu rajin sekali main Dota, dan rajin pula memintaku menemani melalu telepon. Padahal, kita tidak berbicara banyak hal. 
Menurutku ini menyenangkan. Jujur saja. Walau kamu tidak jelas seperti itu, hahaha! 

Tetapi aku tahu kalau kamu tidak tahu; di setiap diamku yang terhubung ke telepon genggammu, aku mengucapkan perasaanku. Dengan berbisik dalam hati, kuakui betapa aku mencintaimu, betapa ingin kupeluk dirimu yang menahun kucintai, betapa ingin kurasakan nafasmu berhembus di dalam sebuah ciuman.. Dan betapa ingin kuketahui rasanya dicintai olehmu. Sekali lagi, hal-hal ini hanya dalam diam berani kuakui.

Dan Langit,
Aku tidak sabar menemuimu. Minggu ini kamu berjanji akan mengunjungi kotaku dan mengajakku minum kopi di Kafe tempat favorit kita. Aku ingin berbagi waktu denganmu dan sepasang Latte yang biasa kita pesan. Aku sungguh tidak sabar, Langit! 

Ketahuilah, Langit, pertemanan ini sangat kusyukuri. Meski kamu bukan kekasihku seperti yang selalu kuharapkan kepada Tuhan, kamu tetap mampu memberiku perasaan bahagia—juga cinta yang setiap hari tumbuh di dalam dadaku. 

Sudah, Langit. Surat hari ini kututup setelah kudengar kamu di seberang telepon mengatakan "Aku sudah selesai main nih! Mau masak mie sekarang. Temenin ya."

Tentu saja, akan kutemani kamu selama apapun yang kamu mau.
Sebab menemanimu, ialah kecukupan yang kusyukuri dalam hubungan ini.

Senja. 

Monday, February 1, 2016

Aku Ingin Tidur

Kepadamu, Langit.
Tempat terakhir singgahnya hatiku.

Setelah menulis surat pertama untukmu, aku tidak bisa tidur. Aku merasa seperti sehabis menuliskan surat yang kemudian kamu baca. Padahal, surat kemarin masih dengan rapi di atas meja tulisku. Surat yang kulipat dengan baik, dan akan dengan baik pula kusimpan. Kamu tidak akan membacanya; surat kemarin, surat hari ini, dan surat surat selanjutnya. Sebab surat surat cinta ini memang tidak pernah ditujukan untuk matamu. 

Aku tidak bisa tidur. Dadaku berdebar terlalu cepat. Napasku masih berat. Aku seperti habis menyatakan perasaanku secara langsung di hadapanmu, Langit.
Apa ini normal?
Apakah perasaanku mulai melebih-lebihkan segalanya tentangmu?

Langit,
Semoga kamu sudi menjadi nama yang kutulisi dalam surat cinta ini. Kusadari betapa lancangnya aku menyebut namamu berulang kali, dengan perasaan sayang yang meluap-luap, sementara tak pernah kamu ketahui kata-kata di dalam surat ini.

Maafkan aku.

Aku hanya tidak memiliki keberanian seperti perempuan-perempuan lain yang sudah mengakui perasaannya di hadapanmu. Aku hanya tidak ingin berakhir dengan penolakanmu, kemudian kita tidak menjadi teman sedekat biasanya. Sejujurnya, aku takut itu terjadi. 

Kamu sudah bagian dari perjalananku, Langit.
Jika kelak masih tidak bisa pula aku memilikimu dalam sepasang lenganku, setidaknya aku masih bisa memilikimu dalam setiap doa dan amin antara aku dan Tuhan..

Kali ini, biarkan aku tidur, Langit.
Agar bisa kuimpikan dirimu membalas perasaanku.

Senja. 

Sunday, January 31, 2016

Kepada Langit.

Surat ini kutulis bersama hatiku 
yang dalam diam 
mencintaimu.

Kepadamu, Langit,
yang tidak pernah mengetahui perasaanku, kutuliskan surat ini. Dan entah mengapa, aku hanya ingin menulisnya untuk mengungkapkan segala perasaan yang sudah terlalu besar untukmu. Aku ingin merasa sedikit lega, meski kutahu surat ini hanya akan berakhir di sudut lemariku saja. 
Ya, mana mungkin aku yang 8 tahun sebagai pengecut; mencintaimu dalam diam, tiba-tiba datang dan memberimu pernyataan cinta melalui surat? Hah! Tidak mungkin! 
Malah kalau benar itu terjadi, kupastikan aku sudah lebih dulu pingsan sebelum sampai menyerahkan surat ini padamu! 

Begini, Langit..
Atas beberapa tahun pertemanan kita, aku bersyukur.. Sebab masih bisa kujaga perasaanku ini, tak tersentuh orang lain, dan kusisakan hanya untuk dirimu saja. 
Aku menyukai senyumanmu. Senyum manis di antara pipimu yang chubby. Aku juga menyukai rambut ikalmu yang panjang, matamu yang tajam, dan bagiku tidak ada yang kurang dari penampilanmu. Terbukti dari sekian banyak perempuan yang sudah menyatakan cinta padamu, tapi entah mengapa tetap tak ada yang kaujadikan kekasihmu. Sampai hari ini, aku masih heran dengan kamu.. Sebab semakin lama kamu tidak memiliki kekasih, diam-diam, semakin sering pula aku berdoa untuk kesempatanku yang mungkin diaminkan Tuhan. 

Terlepas dari penampilanmu yang menarik, aku sangat menyukai sikapmu, Langit.. Sikap yang begitu hangat, dan tak pernah kutemukan orang lain yang sehangat dirimu. Kuingat katamu, kamu lahir di Senin siang. Mungkin, siang hari kala itu menitipkan semburat cahayanya, sampai kamu menjadi orang sehangat sekarang. Dengan budi baik dan semangat menolong pula.

Aku ingat, pagi itu ketika kita masih di bangku SMA, ban motorku bocor di dekat gang sekolah. Dengan baik hati, kamu yang kebetulan melewati aku, berhenti dan membantuku membawa motor ke bengkel terdekat. Mungkin kamu tidak menyadarinya, tapi sesederhana itulah, cintaku tumbuh dan terus bertambah sejak saat itu untukmu. 

Langit,
aku harap kamu tetap berada di dekatku, meski sebagai teman terbaikku. Tidak apa, Langit. Aku tidak akan pernah berani meminta apa-apa darimu, kecuali menjadi teman di dekatku. 

Kututup surat pertamaku ini untukmu, Langit,
dengan perasaan yang kacau,
jantung yang berdetak begitu kencang,
dan napas yang sungguh berat.

Sebab aku mencintaimu,
dan ini surat pertama pernyataanku! 

Senja.

Saturday, January 31, 2015

Pagi, Lenganmu, dan Kopi.

Selamat pagi, Ai!

Pagi yang tanpa tidur, lengan-lengan bertautan, dan sepasang gelas kopi menemani kau dan aku kali ini. Aku sengaja memilih kopiku tanpa gula, sedang kau memasukkan dua sendok teh gula di dalam kopimu, yang kemudian kugombali kau dengan: "banyak sekali gulamu, kau kan sudah manis.." Dan kemudian kau membalasnya dengan tertawa. Tawa yang jauh lebih manis dari gula di dalam toples itu. Ah, aku sangat suka tawamu. Aku selalu suka!

Tahukah kau, pagi yang tanpa tidur ini terasa jauh lebih berharga dari pagi-pagi yang beristirahat. Kenapa? Sebab dapat begitu lama aku menikmati sepasang matamu yang melihatku, dan begitu hangat aku terjebak di dalamnya. Teruslah begitu, aku tidak keberatan berlama-lama di lautan matamu. Meski aku tidak tahu bagaimana cara berenang dan selamat dari kedalamannya. 

Hatiku, Ai,
Bawalah di dalam sepasang lenganmu, sebab tubuhku sempurna ketika kaurengkuh, dan bahagiaku luar biasa ketika kausentuh. Beradalah dalam hidupku selama-lama usiamu, rawatlah kerinduan meski lengan kita berpautan. Sebab dengan begitu, kita dapat menyempurnakan cinta yang seharusnya.

Percayakah, Ai?
Pagi ini aku jatuh teramat dalam di dalam tubuhmu.
Dan kau melekat begitu dekat di tinggi doa-doaku.

Cintailah kita, sebagaimana aku pagi ini mendoakannya. 

Amin.. 

Friday, January 30, 2015

Dalam Perjalanan Menemuimu

Lieber Ai,

Di awal surat ini, aku mendoakan agar kabarmu baik-baik saja, dan senyumanmu tetap tenang melekat di bibirmu. Teruslah tersenyum, sebab aku menyukainya; aku menyukai kebahagiaanmu. 

Kau tahu, pagi ini aku bangun dengan berdebar. Jantungku rasanya seperti berlari kencang, dan aku tidak dapat menghindarinya. Semalam, aku tidur dengan masih memikirkanmu. Hingga akhirnya kau singgah di dalam mimpiku. Dan di dalam mimpiku itu, kita tidak bicara banyak. Aku hanya mengingat kita saling tersenyum setelah kau membaca suratku. Entahlah, mungkin mimpi itu adalah pertanda bahwa hari ini aku harus menulis surat pertama untukmu. 

Dan ya, aku bangun tidur dengan keadaan berdebar, sebab aku tahu bahwa hari ini kita akan bertemu. Sore nanti. Aku tidak sabar. Sungguh aku tidak sabar. Rasanya senyumanmu semalam di dalam mimpiku telah begitu dekat untuk benar-benar kulihat. Dan lucunya, pagi ini aku sudah membayangkan sepasang hangat lenganmu di balik selimutku. Haha, mungkin aku setidak sabar itu, ya.. 

Dalam perjalanan menemuimu, aku sudah bisa menebak, aku akan memikirkanmu lebih dalam dari biasanya. Dan tak lupa menjatuh cintaimu lebih jauh dari biasanya. Aku tak sabar menagih pelukan yang kau janjikan. Ah, aku tak sabar untuk sampai kepadamu, Ai! 

Dengan surat ini, kuharap kita akan memiliki waktu-waktu berharga untuk dihabiskan kelak. Dan semoga, besok dan seterusnya aku bisa terus menuliskan tentangmu dengan cerita lebih banyak tentang kita. 

Surat ini kutulis pagi-pagi ketika aku tengah dalam perjalanan menemuimu.
Dan,
Aku sedang merindukanmu.

Sampai ketemu nanti sore, Ai!


Thursday, February 20, 2014

Dian

kepadamu,
segala cinta berlabuh
rumah bagi segala rindu
yang terselip tanpa keluh

bagiku,
kau lebih dari sekedar cinta
dan lebih dari mimpi belaka
kau ialah kehidupan yang sempurna
yang kucintai sepenuh raga

dian,
tak terhitung puisi menulis namamu
melukiskan cinta penuh gembira
menerjemahkan rindu yang tak kau tahu
mengagumimu melebihi gila

begitulah aku,
mencintaimu

hingga tak perlu lagi
kau jelajahi isi hati
untuk mengutuk keraguan yang tak perlu
melukai rindumu yang sempat terlalu

bagiku,
kau rumah setiap suka
kau tempatku bersembunyi dari duka

bagiku,
kau melebihi sempurna


IAP