Saturday, February 6, 2016

Pertemuan Panjang yang Singkat

Kepadamu, Langit..
yang sedang berada di sebelahku.

Kutulis surat ini dengan keberanian yang sedang menumpuk. Aku merasa sedikit takut; kamu akan bertanya apa yang sedang kulakukan dengan telepon genggamku. Ya... menulis surat kepadamu, yang mana aku tidak ingin kamu mengetahuinya..

Dengan sepasang gelas Coffee Latte di hadapan, kita sudah menghabiskan hampir tiga jam di kafe ini. Kafe khas italia yang sudah sering kita kunjungi setiap kali kamu berkunjung ke kotaku. Kota yang terpisah empat jam perjalanan bis dari kotamu. 

Kamu membicarakan banyak hal kepadaku, seperti sudah lama menumpuk sekian cerita untuk kamu katakan kepadaku.

Kamu bercerita tentang tugas kampusmu yang menumpuk. Salah satu tugasnya mengharuskanmu berkelompok dengan orang Jerman yang menyebalkan. Kamu mulai menggerutu setiap kali menyebut nama temanmu yang menyebalkan itu. Sementara aku, diam-diam terpesona dengan muka kesalmu.. 
Kamu juga menceritakan tentang betapa kamu mulai rindu dengan bundamu di tanah air. Kamu ingin sekali liburan ke tanah air dan menghabiskan waktu dengan bundamu. Ya, untuk perihal itu, aku sangat mengerti. Karena aku juga merindukan ibuku.. 

Dan banyak hal lain kamu bicarakan, ketika aku dengan senang hati mendengar semua ceritamu. Kemudian tanpa kita sadari, langit sudah abu-abu dan kita harus pulang. Kamu berjanji mengantarku pulang, membuat hatiku tiba-tiba meloncat bahagia. Tidak bisa kugambarkan betapa senang dan lengkapnya hari ini, berdua bersamamu; temanku yang baik..

Kamu memanggil pelayan untuk membayar kopi kita. Dan aku, bersembunyi dalam surat ini, ingin menyatakan perasaanku sekali lagi;

Aku mencintaimu, Langit..

Senja.