Sunday, February 7, 2016

Pengakuan Langit

Kepadamu, Langit.

"Kita teman kan?" katamu tadi siang ketika kita kembali bertemu. Pertanyaan yang membuatku kaget sepersekian detik dan sekaligus miris setelahnya. "Tentu saja kita teman. Memang apalagi? Majikan dan peliharaan?? hahaha..." jawabku santai dan sedikit bercanda. Aku berharap bisa menutupi kepedihanku sedikit. 

Tapi kamu tidak berkata apa-apa lagi. Kamu diam sambil menatap ke luar jalanan depan teras rumahku. Matamu seperti sedang tidak melihat ke arah yang kamu pandang, kurasa kepalamu juga sedang berpikir entah ke mana. Aku tidak berani menebaknya. Jujur saja, pertanyaanmu tadi membuatku takut. Takut kalau pikiranmu berhubungan dengan pertemanan kita, yang mungkin ingin kamu akhiri; meski entah apa alasan untuk mengakhiri pertemanan. Aku hanya begitu takut kehilanganmu.

Matamu kemudian berganti arah memandang sepasang mataku yang daritadi menunggu. "Aku mau cerita ke kamu. Hanya aku bingung dari mana harus memulainya." katamu sambil menatap serius ke arahku. Aku pun cuma bisa menghela napas hingga kemudian kamu melanjutkan "Aku rasa aku menyukai seseorang..." 

Deg!

Tidak sampai sedetik setelah kamu mengucapkan itu, rasanya napasku sudah mau habis. Tiba-tiba aku sesak dan dadaku nyeri sekali, debarnya seperti berhenti sesaat. 

Hal yang paling kutakutkan terjadi. Bertahun-tahun pertemanan ini, aku tidak pernah mendapatkan satupun pernyataan dari mulutmu mengenai seseorang yang kamu sukai. Semua perempuan yang datang dan pergi di hidupmu hanyalah tentang mereka dengan perasaannya yang tidak pernah kamu balas. Aku diam beberapa saat, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Kamu, orang yang bertahun-tahun kucintai diam-diam, kini menyukai seseorang lain. Dan bukan aku. Ya, setidaknya aku tahu itu tidak mungkin aku...

"Kenapa kamu diam saja??" tanyamu tiba-tiba mengagetkan aku
"Eh.." aku sedikit kaget dibuatmu "Aku hanya bingung harus jawab gimana, ini pertama kalinya kamu mengaku padaku kamu menyukai seseorang." lanjutku datar, mencoba untuk tidak terlihat sedang nyeri hatinya. 
"Ya kan?? Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa menyukainya.." ucapmu sama bingung denganku. Lalu tak lama kemudian kamu memutuskan untuk beranjak dari rumahku dan mengatakan kalau besok kamu akan pulang ke kotamu. Kamu memintaku untuk menemuimu dulu besok pagi, berjanji akan menceritakan tentang orang yang kamu sukai itu. Padahal sesungguhnya, aku tidak ingin melanjutkan topik itu lagi, dan aku berharap kamu tetap melanjutkan kebingunganmu saja, sementara aku akan dengan baik-baik bersembunyi sambil merawat hatiku yang—entahlah—semakin patah ini.

Surat hari ini kusudahi sampai di sini saja, Langit. Betapa tidak menyenangkannya menuliskanmu surat yang berisi kekecewaan. Pun aku tidak ingin menambah panjang surat ini dengan patah hatiku yang sedang menjadi. Aku hanya bisa berdoa, supaya besok patahku akan kembali sembuh.

Dan aku berharap kamu tidak melanjutkan ceritamu itu...

Senja.