Kepadamu, Langit.
Tempat terakhir singgahnya hatiku.
Setelah menulis surat pertama untukmu, aku tidak bisa tidur. Aku merasa seperti sehabis menuliskan surat yang kemudian kamu baca. Padahal, surat kemarin masih dengan rapi di atas meja tulisku. Surat yang kulipat dengan baik, dan akan dengan baik pula kusimpan. Kamu tidak akan membacanya; surat kemarin, surat hari ini, dan surat surat selanjutnya. Sebab surat surat cinta ini memang tidak pernah ditujukan untuk matamu.
Aku tidak bisa tidur. Dadaku berdebar terlalu cepat. Napasku masih berat. Aku seperti habis menyatakan perasaanku secara langsung di hadapanmu, Langit.
Apa ini normal?
Apakah perasaanku mulai melebih-lebihkan segalanya tentangmu?
Langit,
Semoga kamu sudi menjadi nama yang kutulisi dalam surat cinta ini. Kusadari betapa lancangnya aku menyebut namamu berulang kali, dengan perasaan sayang yang meluap-luap, sementara tak pernah kamu ketahui kata-kata di dalam surat ini.
Maafkan aku.
Aku hanya tidak memiliki keberanian seperti perempuan-perempuan lain yang sudah mengakui perasaannya di hadapanmu. Aku hanya tidak ingin berakhir dengan penolakanmu, kemudian kita tidak menjadi teman sedekat biasanya. Sejujurnya, aku takut itu terjadi.
Kamu sudah bagian dari perjalananku, Langit.
Jika kelak masih tidak bisa pula aku memilikimu dalam sepasang lenganku, setidaknya aku masih bisa memilikimu dalam setiap doa dan amin antara aku dan Tuhan..
Kali ini, biarkan aku tidur, Langit.
Agar bisa kuimpikan dirimu membalas perasaanku.
Senja.