Thursday, February 4, 2016

Begitu Sakit Aku Merindukanmu, Langit..

Kepadamu, Langit, 
yang tanpa sadar sering menyiksaku dengan rindu.

Malam ini pikiranku lebih kacau dari biasanya. Aku sangat merindukanmu, Langit. Parahnya, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan mengucapkan rindunya saja aku tidak bisa. Meski dengan alibi rindu sebagai teman, aku tetap tidak berani mengucapkannya kepadamu. Apalagi rindu yang seperti ini; rindu dari perasaan cinta yang tidak pernah kau ketahui adanya.

Rasanya aku hampir bosan menahan perasaan ini, Langit. Terkadang aku membayangkan ada sebentuk keberanian yang tiba-tiba muncul dan membawaku menyatakan semuanya di hadapanmu. Aku ingin lega dan jujur. Tetapi ternyata lebih sering kutemukan perasaan takut. Takut jika kelegaanku menyatakan perasaan hanya akan berujung kehilanganmu.

Aku tidak pernah mau kehilanganmu, Langit.
Meski sebagai seorang teman.

Hari ini, kita tidak bicara banyak. Aku tahu kamu sedang sibuk dengan duniamu dan tidak mungkin sempat memikirkan aku yang bukan siapa-siapa. Tetapi tanpa kamu tahu, Langit, sebagian waktuku hari ini kuhabiskan untuk memikirkanmu. Karena aku merindukanmu dan aku tidak sabar hari Jumat tiba. Kamu berjanji ingin mampir ke kotaku 'kan? Semoga kamu tidak melupakan janjimu, Langit.. 

Karena mungkin aku tidak bisa tahan lebih lama lagi merindukanmu..

Kerinduan ini menyiksa.
Bahkan surat ini kutulis dengan air mata yang hampir menetes.
Ya.. Aku memang cengeng..

Dan lebih parahnya aku tidak tahu harus lari ke mana, ketika kerinduan begitu sakit kutanggung. Jika saja bisa kupinjam lenganmu untuk memelukku, agar semua rindu menjadi sembuh.

Tetapi sayang sekali, menggenggam tanganmu saja aku tidak bisa.

Senja.