Monday, February 8, 2016

Ternyata Langit Memiliki Cinta

Kepadamu, Langit,
yang ternyata memiliki cinta..

Kutulis surat ini setelah mengantarkanmu ke stasiun bis. Kamu kembali ke kotamu setelah meninggalkan seribu pertanyaan yang tidak—ingin—kuketahui jawabannya. Sambil masih menatap bismu yang belum berangkat, aku memutuskan untuk menuliskanmu surat ini. Surat ke sembilan yang menampung perasaanku kepadamu, Langit. 

Pagi tadi, empat jam sebelum jam keberangkatan bismu, kamu mengajakku berjalan di taman dekat rumahku. Katamu, kamu ingin melanjutkan keluh kesahmu yang kemarin; tentang betapa bingungnya kamu menyukai seseorang itu. Seseorang dan perasaanmu yang sebenarnya lebih baik tidak kuketahui. Tetapi apa boleh buat, kurasa aku memang harus lebih sadar lagi, bahwa statusku hanyalah "teman" bagimu, dan pendengar keluh kesah perasaan cintamu itu. (Maaf, kalau surat ini mulai terbaca seperti aku sedang marah-marah; atau mungkin memang marah.) 

"Tidak kulihat ada yang menarik darinya, selain perasaanku yang tiba-tiba hangat setiap kali aku membayangkannya.." ucapmu sambil berjalan di sampingku.
"Setelah bertahun-tahun aku mengenalmu, baru kali ini, Langit.." kataku dengan suara pelan
"Ya, aku tahu, aku pun heran.. Tetapi, Senja, kalau kamu pernah jatuh cinta, pasti kamu tahu rasa hangat di dada ini kan?" kamu menepuk pelan dadamu. Aku hanya mengangguk lalu tersenyum. Kamu hanya tidak tahu, perasaan cinta yang hangat itu telah tumbuh di dadaku bertahun-tahun lamanya, dan kepadamulah, seseorang di depanku, kutujukan perasaan itu. Kamu hanya tidak tahu.. 
"Siapa dia?" sedetik setelah aku mengucapkan kalimat pertanyaan itu, aku menyesal. Aku tidak benar-benar ingin tahu. Aku tidak ingin tahu. 
Tetapi untungnya kamu tidak langsung menjawab, memberikanku sedikit waktu untuk bersiap-siap mendengar nama siapapun dia. Kamu tiba-tiba menghentikan langkah, mengalihkan matamu ke sepasang mataku.
"Aku belum bisa bilang ke kamu." katamu singkat. 

Dadaku berdebar sedikit lebih cepat sepanjang sisa perjalanan kita di taman itu. Aku tidak berani bertanya lebih jauh, dan kamu tidak lagi mengatakan apa-apa. Aku punya perasaan bahwa alasanmu tidak memberitahukan namanya kepadaku, ialah mungkin karena aku mengenalnya. Mungkin dia teman tugas satu kelompokmu, atau salah satu perempuan teman mainmu, atau mungkin juga salah satu temanku yang kamu kenal. Mungkin kamu tidak memberitahu kepadaku sebab tidak ingin aku mencampuri urusan kalian. 

Ah! 
Entahlah, Langit..
Kamu berhasil membuat pikiranku lari ke mana-mana.

Hingga bismu tidak bisa kulihat lagi, aku masih memasang seulas senyum palsu. Hatiku perih, entah kenapa. Tetapi akhirnya kuketahui satu hal tentangmu, Langit.

Bahwa ternyata, kamu memiliki perasaan yang kurasakan. 
Meski kepada entah siapa.

Senja.