Hari
ini kita tidak banyak berkomunikasi(h). Saya yang sedang dalam perjalanan ke
luar kota, tidak memiliki koneksi internet yang tersambung di telepon
genggam. Padahal, kalau saja kita tidak terpisah sejauh ini, cukup dengan pulsa
saja saya bisa menghubungimu. Tidak perlu paket. Tidak perlu internet. Tidak
perlu basa-basi mencari Wifi ke sana ke mari untuk berhasil menghubungimu. Oh,
ternyata rindu bisa begini rumitnya karena jarak.
Kali
ini saya merasa, saya hanya butuh memutar waktu untuk segera sampai di masa
depan. Setidaknya, sampai di saat ketika saya berhasil menemuimu dan tidak
perlu lagi membuka-tutup telepon genggam untuk mengecek notifikasi, atau
mencari-cari Wifi di setiap tempat yang saya kunjungi. Saya hanya butuh kau
betul-betul dekat dan ada secara nyata di samping saya. Biar saya bisa segera
merawat rindu dengan menggenggam tanganmu, dan menyatakan seluruh yang ada di
dalam perasaan saya dengan mengatakannya langsung kepadamu—bukan mengetiknya
dengan jari-jemari lalu menekan tombol send.
Berjauh-jauhan
seperti ini, dan dipisahkan oleh kesibukan masing-masing, membuat saya dan
rindu seringnya bertengkar di dalam hati saya sendiri. Kami mengutuk jarak dan
waktu yang selalu saja tidak ada di pihak kami. Kadang ingin kubilang pada
rindu, agar bersabarlah sedikit lagi; semua seharusnya sedang terlaksanakan
sesuai porsi. Saya butuh rindu untuk lebih sabar dari hari ini, dan terus
bersabar hingga hari seterusnya. Ya, hingga hari kita bisa bertemu dan menikmati
masa depan tanpa harus berjauhan. Tapi rindu seperti anak kecil manja yang
merengek memanggil-manggilmu. Sering. Sering sekali seperti itu. Kepala dan
hati saya berdebat dan teramat sulit menemukan jalan tengahnya.
Di satu
sisi, rindu ingin sekali selalu berbicara denganmu. Tapi di sisi lain, sisi
yang dihidangkan oleh jarak dan jam kesibukan yang berbeda, kepala berusaha
mengambil kesimpulan dengan cara paling dewasa. Rindu tidak boleh selalu
seperti itu. Saya tidak boleh terus memaksakan, mengikuti mau rindu, lantas
merengek menagih hal-hal yang tidak bisa dipaksakan. Seperti, perhatianmu yang juga
sering terbagi dengan duniamu sendiri. Sebab saya pun tahu, dan saya berpikir, kini
saya berada di tempatmu—saya juga sedang harus melakukan hal lain; hal lebih
nyata dan lebih penting. Dan saya tahu, pembagian waktu itu adalah wajar.
Setiap manusia pasti memiliki hal yang harus dilakukannya demi menjalani hidup
yang seimbang. Namun rindu, duh, seringnya
datang di waktu yang salah. Saya paham; tidak bisa selalu seperti itu. Kita
tidak bisa selalu memanjakan rindu dan melupakan hal-hal lebih penting lainnya
di dunia nyata.
Percayalah,
koneksi dari internet itu fana, yang abadi dan nyata harusnya cuma koneksi hati
kita.
Jadi,
kali ini saya sedang berupaya untuk menjadi lebih kuat lagi. Bukan bermaksud
menjadi dingin, atau bagaimana. Yang jelas, ternyata saya juga memiliki kesibukan
sendiri. Dan sayangnya, rindu masih perlu koneksi internet yang selalu
tersambung. Saya tidak ingin manja dan memaksakan keduanya harus saling mengisi
dengan sempurna. Tentu tidak bisa. Saya harus meredakan rindu ini, sedikit
saja.
Kalau
tidak, bisa gila saya dibuatnya.