Thursday, October 25, 2018

Koneksi Rindu

Hari ini kita tidak banyak berkomunikasi(h). Saya yang sedang dalam perjalanan ke luar kota, tidak memiliki koneksi internet yang tersambung di telepon genggam. Padahal, kalau saja kita tidak terpisah sejauh ini, cukup dengan pulsa saja saya bisa menghubungimu. Tidak perlu paket. Tidak perlu internet. Tidak perlu basa-basi mencari Wifi ke sana ke mari untuk berhasil menghubungimu. Oh, ternyata rindu bisa begini rumitnya karena jarak.

Kali ini saya merasa, saya hanya butuh memutar waktu untuk segera sampai di masa depan. Setidaknya, sampai di saat ketika saya berhasil menemuimu dan tidak perlu lagi membuka-tutup telepon genggam untuk mengecek notifikasi, atau mencari-cari Wifi di setiap tempat yang saya kunjungi. Saya hanya butuh kau betul-betul dekat dan ada secara nyata di samping saya. Biar saya bisa segera merawat rindu dengan menggenggam tanganmu, dan menyatakan seluruh yang ada di dalam perasaan saya dengan mengatakannya langsung kepadamu—bukan mengetiknya dengan jari-jemari lalu menekan tombol send. 

Berjauh-jauhan seperti ini, dan dipisahkan oleh kesibukan masing-masing, membuat saya dan rindu seringnya bertengkar di dalam hati saya sendiri. Kami mengutuk jarak dan waktu yang selalu saja tidak ada di pihak kami. Kadang ingin kubilang pada rindu, agar bersabarlah sedikit lagi; semua seharusnya sedang terlaksanakan sesuai porsi. Saya butuh rindu untuk lebih sabar dari hari ini, dan terus bersabar hingga hari seterusnya. Ya, hingga hari kita bisa bertemu dan menikmati masa depan tanpa harus berjauhan. Tapi rindu seperti anak kecil manja yang merengek memanggil-manggilmu. Sering. Sering sekali seperti itu. Kepala dan hati saya berdebat dan teramat sulit menemukan jalan tengahnya.

Di satu sisi, rindu ingin sekali selalu berbicara denganmu. Tapi di sisi lain, sisi yang dihidangkan oleh jarak dan jam kesibukan yang berbeda, kepala berusaha mengambil kesimpulan dengan cara paling dewasa. Rindu tidak boleh selalu seperti itu. Saya tidak boleh terus memaksakan, mengikuti mau rindu, lantas merengek menagih hal-hal yang tidak bisa dipaksakan. Seperti, perhatianmu yang juga sering terbagi dengan duniamu sendiri. Sebab saya pun tahu, dan saya berpikir, kini saya berada di tempatmu—saya juga sedang harus melakukan hal lain; hal lebih nyata dan lebih penting. Dan saya tahu, pembagian waktu itu adalah wajar. Setiap manusia pasti memiliki hal yang harus dilakukannya demi menjalani hidup yang seimbang. Namun rindu, duh, seringnya datang di waktu yang salah. Saya paham; tidak bisa selalu seperti itu. Kita tidak bisa selalu memanjakan rindu dan melupakan hal-hal lebih penting lainnya di dunia nyata.

Percayalah, koneksi dari internet itu fana, yang abadi dan nyata harusnya cuma koneksi hati kita.

Jadi, kali ini saya sedang berupaya untuk menjadi lebih kuat lagi. Bukan bermaksud menjadi dingin, atau bagaimana. Yang jelas, ternyata saya juga memiliki kesibukan sendiri. Dan sayangnya, rindu masih perlu koneksi internet yang selalu tersambung. Saya tidak ingin manja dan memaksakan keduanya harus saling mengisi dengan sempurna. Tentu tidak bisa. Saya harus meredakan rindu ini, sedikit saja.


Kalau tidak, bisa gila saya dibuatnya.

Friday, October 19, 2018

Eifersucht

Kenapa perasaan cemburu itu harus ada? Rasanya memberatkan dan melelahkan saja. Padahal, saya selalu berusaha menempatkan diri saya di kelompok orang-orang yang tidak mudah cemburu. Tapi ternyata saya salah; mungkin itu hanya akal-akalan kepala saya saja untuk membohongi hati kalau sebetulnya perasaan saya lemah, gampang curiga, dan apa-apa berprasangka. Parahnya, saya selalu menilai tanpa sempat bertanya kebenarannya. Tidak tahulah, mengapa, barangkali itu salah satu sifat buruk yang saya sangkal berulang kali.

Setiap kali saya cemburu, dada saya sesak, napas saya memburu, dan semua reaksi tubuh itu datang tiba-tiba bersamaan dengan rasa panas di ulu hati saya. Cemburu seperti peluru yang berdesing tepat di palung jantung saya. Melemahkan segala saraf dan membutakan pikiran saya. Napas saja susah, apalagi berpikir jernih.

Saya ini, paling tidak bisa melihat orang yang saya cintai 'menatap' orang lain. Seberlebihan itu rasa cemburu saya. Barangkali juga karena saya merasa selalu takut kehilangan ketika telah betul-betul memakai perasaan. Saya takut patah hati, sebagaimana saya takut untuk jatuh hati. Karena semua perasaan bahagia juga sewaktu-waktu harus dibayar oleh luka. Menyatukan dua hati dari sepasang yang berbeda bukan perkara mudah. Jatuh hati itu pasti akan patah hati. Tidak mungkin tidak. 

Bagaimanapun bentuk dan alasannya, pasti akan terjadi. Kenapa? Karena setiap jatuh itu tidak mungkin tidak berharap. Setidaknya pasti ada setitik harapan entah apa pun harapan itu. Dan ketika harapan itu tidak berjalan sesuai perkiraan—sebab sesungguhnya dunia memang tidak selalu bekerja sesuai kemauanku—saya harus bisa mengatasi sedikit atau banyak perih yang disebabkan oleh harapan gagal itu. Saya terus mengingat: harapan itu bisa teramat menyakitkan.

Dan seperti itulah rasa cemburu bagi saya dimulai. Saya jatuh hati, lantas memiliki harapan. Namun harapan itu seringnya menjadi senjata bagi keegoisan saya sendiri. Saya tahu, di dalam cinta, sebaiknya yang kita jaga adalah rasa percaya; bukan curiga. Tapi sungguh, untuk rasa cemburu, saya tidak menyimpan curiga. Hanya meragu. 

Saya terlalu rapat menjaga hati saya sehingga setiap titik kekecewaan selalu saja saya lebih-lebihkan. Saya cemburu, kemudian saya meragu apakah dia betul-betul mencintaiku. (Jangan marah, saya tahu ini salah. Saya tahu ini bodoh.) Tapi jujur saja, begitu yang langsung saya pikirkan. Begitu kurang lebih hal yang membuat pikiran saya membuta dan napas saya memburu. Ngilu rasanya bila saya harus mencintai orang yang salah. Saya hanya tidak ingin jatuh lebih dalam lagi, jika jatuh yang segini saja sudah membuat saya menunda napas. Perih rasanya. Dan parahnya, itu susah sekali dicegah. 

Terlebih mengenai masa lalu, bagaimana pun bentuk hubungannya, selalu saja membuat saya menduga banyak hal. Dulu, mungkin mereka pernah saling menaruh mata; tapi takdir berkata berbeda. Saya takut perasaan itu kembali tumbuh karena, mungkin, saya tidak bisa menghapus siapa-siapa dari hatinya. 

Ah, persetanlah.

Saya tersiksa pikiran saya sendiri.

Tapi sebetulnya, hanya ini yang daritadi berputar hebat di dalam kepala: 



"Kenapa kaubuat aku merasa cemburu? Karena, awalnya aku kira, hal seperti ini tidak akan terjadi. Awalnya aku kira, aku bisa percaya.. Tapi, kenapa rasa cemburu ini bisa ada?"

Wednesday, October 10, 2018

Mumbling

betapa saya ingin menyelamatkanmu
dari luka yang tidak seharusnya.
luka masa lalu; luka-luka yang
mereka tinggalkan tidak pada tempatnya.
kala kau bersedih dan mengutuk dunia,
berlindung pada naung puisi
mencela setiap indah yang dulu
pernah ada, yang kini adalah kenangan,
kisah yang dengan sepenuh upaya
kauperjuangkan tanpa mengeluh
tak peduli telah seberapa jauh mereka
mengabaikanmu ketika kau tengah merakit
cinta, doa, usaha, waktu, rindu; segalanya
kausebut-sebut dan kaupegang di dalam
hati namun ternyata hanya dirimulah
yang paling berkorban dari semuanya.
perasaanmu dikacaukan tanpa
pertanggungjawaban dari mereka yang
telah mengacaukan. kerjamu menahan sakit
dan mengutuk langit sebab mereka
telah menjadi alasanmu mengakhiri
sebuah perasaan yang sempat kauagungkan.
tapi sungguh, ketahuilah, di balik seluruh yang telah
terlewatkan itu, suatu hari kau akan menemukanku
di kejauhan sebagai harapan yang kembali
meniupkan napas di resah asmaramu,
dan sebagai awan yang tidak akan menghilang 
barang sedetik pun ketika angin tengah menerjang.

Tuesday, October 9, 2018

Midnight Thoughts

Jatuh cinta dengan dalam sudah lama menjadi hal yang tidak ingin saya lakukan.

Memikirkanmu tidak boleh terlalu jauh. Rindu sangat menyiksa.

Sampai kapan kau akan mencintaiku?

Saya takut suatu pagi kau terbangun dan kehilangan cinta itu.

Kau berhenti menunggu. Kau menyesal mencintaiku. Segalanya terlihat sia-sia. Kau menyadarinya tiba-tiba.

Tapi saya masih mencintaimu.

Saat itu saya tahu saya sudah jatuh cinta dengan dalam.

Jatuh cinta di kedalaman itu menakutkan. 

Tapi saya selalu berdoa untuk kita. Saya sebut namamu di hadapanNya. Semata agar tak ada satu manusia pun yang mampu menghalangi kita di bawah restuNya. 

Semesta memberkati. Selalu ada jalan untuk saling memiliki.

Tapi siapa saya? Seperti apa saya? Apa sudah cukup untuk membersamaimu? Bagaimana jika..

Bagaimana jika.. 


Kau tiba-tiba berhenti mencintai?