Showing posts with label #NovemberDiary. Show all posts
Showing posts with label #NovemberDiary. Show all posts

Friday, November 15, 2019

Mangga

Sewaktu saya merantau, rasanya kata "Mangga" asing sekali di telinga. Tidak ada harapan banyak untuk bisa makan buah-buah enak—seperti buah Mangga—setiap harinya.  Paling-paling, hanya ada Pisang atau Anggur. Masih nikmat, tentu. Tapi lama-lama bosan juga. Paling rindu memang sama buah Mangga dan Pepaya. Buah yang bagi saya paling enak di jagad raya ini ~

Namun asyiknya, di rumah ini, Mangga sudah seperti makanan pokok. Kata "Mangga" pun hampir setiap hari saya dengar. Paling banyak diucapkan oleh Ibu saya;


"Nak, kupasin Mangga dong.." kata Mama biasanya dari celah kecil pintu kamar yang terbuka.

"Jangan lupa nanti pulang bawa Mangga ya.." kata Mama ke teman-teman saya ketika mereka main ke rumah.

"Mau Mangga?" kata Mama memberi kode ke saya untuk mengupaskannya buah Mangga—bukan benar-benar menawarkan. Hahaha. 


Di halaman belakang rumah pun ada pohon Mangga. Dan sudah lebih dari dua minggu ini buah Mangga berlimpah ruah di dapur; hasil panen yang belum habis-habis meski sudah dibagikan ke sana-sini.

Itulah kenapa buah Mangga sekarang seperti makanan pokok di rumah ini. Terlepas dari si Oma yang memang setiap hari belanja buah, hasil panen dari pohon di halaman belakang pun terus bertambah.

Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban,
betul-betul inilah yang namanya nikmat. Alhamdulillah.


Senang sekali rasanya berada di rumah :D 

Thursday, November 14, 2019

Lagu Sal

Lagi-lagi, di lagu yang sama aku kembali. Demi merayakan gelap dan sunyi semesra mungkin, kujatuhkan diri ke dalam basah lirik pilu. Tentang pengkhianatan, tepuk tangan riuh, dan perpisahan yang tak pernah diinginkan oleh siapa pun. 

Aku ingin jadi jantungmu dan berhenti semauku; 

Lantun nada itu menggerus hatiku yang tak terurus. Seperti doa, kuaminkan setiap katanya dengan serius. Tak ada yang tahu nama siapa yang tengah kubayangkan, tapi langit tersenyum menawan. Karena ia tahu, sebanyak gemintang yang memeluknya, ia maha tahu. 

Karena di malam-malam seperti malam ini, ia menyaksikan jari-jemariku memerah bisa melalui kata-kata. Kesakitan yang menyiksa, kekalutan sisa-sisa asa, dan buih ribuan doa yang terjawab dengan kesia-siaan belaka, seluruhnya kuperah menjadi paragraf demi paragraf yang bahkan tak pernah meminta untuk menjadi lahan duka.

Aku ingin jadi jantungmu dan berhenti semauku;

Kekecewaan tak pernah menjadi harapan. Air mata dan igau luka bukanlah keinginan. Manusia mana pun tak mungkin rela membiarkan cintanya berdarah, dipaksa menyerah karena kenyataan yang selalu tak berarah. Takdir bagai menyepah, apa-apa yang pernah terasa megah. Ketika perasaan itu menjulang dari hati ke mata, hanya untuk menjadi hujan yang enggan diramal oleh akhir tahun sekalipun. 

Ini bukan sekadar kesedihan seseorang yang berlari dari dirinya sendiri. Tapi ini adalah kepahitan, dari setiap peluang kebahagiaan yang mati di tengah-tengah jalan. 

Wednesday, November 13, 2019

Tempat Istirahat


Kekasih, rumah seperti apa yang kauinginkan di masa depan? 

Ingin kusiapkan musim paling hangat di dekap lengan-lenganku, ketika hujan akhir tahun membasah di beranda kita. Di dalam pelukan, kau boleh tertidur nyaman dan menjadikan setiap mimpi-mimpiku sebagai mimpi-mimpimu pula. Sambil kuajak kau mewujudkan kita di masa seindah itu, agar tak perlu lagi ada rindu yang membiru. 

Ketika kau pulang kerja, membuka pintu adalah tugas tangan kirimu, sementara tangan lainnya akan menyambut tubuhku yang sekejap lekat merayakan hadirmu. Dengan kecupan-kecupan di luar akal, aku ingin menghapus seluruh letihmu sampai kau habis tersengal. Akan kita mulai makan malam dengan sajian yang terhidang dalam kasih dan sayang.

Sebelum pergi tidur, ingin kuceritakan padamu tentang rumah yang terbangun dari mimpi-mimpi panjang. Berdiri kokoh sebagai wujud harapan paling indah, dengan buah-buah ranum di halaman, dan buah-buah hati yang tanggalnya kita rencanakan.

Di dalam rumah itu, tidak akan ada kata-kata yang kurang dari cinta. Segalanya hangat, erat, tepat, bahkan ketika angin bertiup hebat. Tak ada pula perpisahan. Sebab hal-hal yang akan mengisi dalamnya hanyalah pertemuan dan akhir penantian.

Kubayangkan kau tertawa kecil dan berkata,

"Tapi kau seperti liburan. Segala yang menyenangkan di tengah-tengah kepenatan."

Aku tersenyum. Menatapmu lekat,

"Begitulah seharusnya kita, Kekasih. 
Cinta yang menjadikan tempat tinggal, sebagai liburan tanpa tanggal."

Monday, November 11, 2019

Lebih Indah

Menuai kemanisan yang berasal dari sentuhanmu, buatku melupakan malam yang berganti dengan perlahan. Ingatan serupa bintang telah lahir di sela-sela pikiran. Bercahaya seolah tak ada hal lain yang lebih terang dan menawan. Sesuatu telah jatuh cinta di dalamku, meski ingin kusanggah bila itu masih bukan diriku. Lantas, siapakah?

Apa yang telah kausentuh hanya bagian kecil dari apa yang sanggup kuberikan di suatu hari. Pertanyaanku, seberapa besar dariku yang ingin kaumiliki? 

Jika kesementaraan memuaskanmu, aku bisa menciptakan hal-hal fana dari kecupan-kecupan kata. Meski di sana, tak akan kautemukan arti sesungguhnya. Namun, bila kau sanggup sedikit bersabar dan menunggu, akan kujatuhkan seluruh yang ada padaku ke dalam dirimu tanpa sekalipun kuperhitungkan kecepatannya. 

Hari ini, esok, atau lusa, kurasa waktu selalu sama saja. Tidak bisa diterka entah seberapa hebat kita berdoa. Aku tak berani menikmati seluruh yang ada di kepala, bila belum sama sekali hatiku angkat bicara. Dan jika kunyatakan segalanya hari ini, sungguh, yang kaudengar hanya ketakutanku belaka. Sementara aku sudah sangat lelah berkali-kali terluka, pun enggan untuk membuat hati lain berduka. 

Segalanya memang tidak bisa ditebak mentah-mentah, apalagi ketika semesta menciptakan ilusi yang amat menggugah. Jangan lengah. Sungguh, aku yakin suatu hari kita bisa lebih indah. 



Sunday, November 10, 2019

Kumpulan Pikiran

Tidak ada yang spesial hari ini.

Maaf kemarin saya lupa menulis November Diary.

Di dalam pikiran saya sekarang sedang ada seseorang.

Kemarin kami menghabiskan waktu bersama.

Di perjalanan, sambil dia menyetir, tangan kirinya memegang tangan saya.

Kami juga sempat berbagi pelukan.

Duh, pelukannya nyaman sekali.

Malamnya, hati saya kacau.

Tidak bisa berhenti memikirkannya.

Saya kebingungan sendiri..

Saya belum tahu bagaimana perasaan saya ke dia.

Antara ingin bersamanya, tapi takut juga menjatuhkan hati.

Semua terlalu cepat.

Tapi kami terlalu dekat.

Duh, pelukannya nyaman sekali.

Lagi-lagi saya tidak bisa berhenti memikirkan itu.

Perjalanan hati sungguh tidak bisa ditebak.

Kemarin tersakiti, tahu-tahu hari ini berusaha dicuri.

Sekarang saya ingin menikmati saja.

Apa-apa yang ditawarkan semesta.

Entah itu kebahagiaan, atau setitik harapan.

Saya tidak berani menebak.

Yang jelas, ia telah menempati sebagian besar pikiran saya.

Friday, November 8, 2019

Ein Gedicht der Vergangeheit

menakar perjalanan kembali
dengan detak-detak hampir mati
mengulur sisa sesuatu yang pedih
tak sanggup kembali berbenih

ada kepuasan yang tersenyum
manis seperti buah-buah ranum
menatap perjalan telah jauh
dan hati hampir kembali utuh

adakah kebahagiaan itu
telah pantas menangis haru?
atas apa-apa yang terlewat
kini tak lagi menyiksa hebat

apa telah pantas bernapas lega?
apa telah bebas terlepas lara?

jarum waktu melaju tanpa tunggu
dan kutertawai masa lalu itu
Tuhan, hebatnya aku bersyukur
kala cintaMu tak pantas kuukur

Thursday, November 7, 2019

Kebahagiaan dari Bapak

Saya punya kebiasaan memandang ke luar jendela saat sedang berada di kendaraan. Kebiasaan ini saya lakukan entah sejak kapan, dan saya pun tidak pernah sadar melakukannya. Sampai suatu ketika Bapak yang menyadarkannya ke saya, "Kamu dari kecil setiap di mobil pasti ngeliatnya ke luar jendela. Memang kebiasaanmu dari dulu. Hehehe." katanya sambil terkekeh dari kursi pengemudi.

Sampai sekarang, setiap saya melihat ke luar jendela saat di perjalanan, saya selalu teringat kembali momen bersama Bapak itu. Manis rasanya, mengetahui beliau begitu memerhatikan kebiasaan kecil saya. Suatu kebiasaan yang ternyata sudah saya lakukan sejak kecil—kata Bapak. 

Pernah juga, suatu hari saya jalan-jalan sama Bapak di mall. Waktu itu saya berusia 16 tahun. Ketika saatnya salat magrib, kami pun melaksanakan salat di musala yang ada di mall itu. Seselesainya, saya keluar musala dan melihat Bapak yang sudah selesai salat duluan, sedang menimang sebuah boneka Teddy Bear besar. Ia berada tidak jauh dari pintu keluar musala. Saya melihat wajahnya dihiasi senyum yang lebar, sambil menatap boneka yang ada di pelukannya. Lalu saya pun menghampirinya. 

"Kamu suka sama boneka Teddy Bear, kan?" kata Bapak sambil memindahkan boneka itu dari pelukannya ke pelukan saya, "Waktu kecil kamu suka sekali dengan boneka." lanjutnya sambil tersenyum hangat.

"Waaah.. Terima kasih, Pak. Nasha suka banget!" jawabku sumringah. 

Padahal, yang Bapak tidak tahu, saya sudah tidak suka bermain dengan boneka sejak usia saya terbilang remaja. Pada masa itu, saya lagi suka-sukanya mendengarkan musik metal. Dan bagi saya, bermain boneka sungguh tidak cocok dengan selera musik saya waktu itu. Hahaha. 

Tapi, karena saya melihat senyuman Bapak kala menimang boneka Teddy Bear itu, dan karena ingatan Bapak tentang saya kala saya masih kecil, saya pun dengan senang hati menerima boneka yang telah dibelikannya. Bahkan boneka itu menjadi boneka kesayangan saya yang pada akhirnya mendengarkan curhatan-curhatan saya di malam hari. Lagi-lagi, saya merasa Bapak sangat memerhatikan apa-apa yang menjadi kegemaran saya ketika saya kecil. 

Saya bersyukur sekali. Momen-momen terbaik dengan Bapak masih saya ingat begitu hangat di dalam kepala. Perhatian Bapak yang suka tiba-tiba mengejutkan saya, selalu menjadi kenangan terbaik yang sampai sekarang saya ingat kala saya merindukannya. Bapak pernah mencintai saya begitu hebatnya di masa ia masih ada di dunia. Cintanya kepada saya ialah bentuk terbaik cinta seorang lelaki yang pernah saya rasakan.

Bapak itu sangat romantis—tidak hanya kepada saya, tapi juga kepada Ibu saya. Bapak begitu paham kalau saya menyukai kejutan. Beberapa kali di masa kami bersama, Bapak memberikan saya hadiah-hadiah istimewa. Hal-hal yang tak pernah saya minta, seringkali ia berikan semata karena ia pikir itu akan membuat saya bahagia. 

Pak, yang tidak Bapak tahu adalah, Nasha selama ini berbahagia bukan hanya karena apa yang Bapak berikan.. Namun karena Nasha merasa dicintai begitu hebatnya oleh Bapak, sampai Bapak terus mengingat-ingat hal yang Nasha sukai, dan Bapak bahagia ketika Nasha menerima apa yang Bapak berikan. Dan satu lagi, Pak, hal terbaik yang pernah Bapak berikan ke Nasha adalah kebahagiaan dan ketulusan Bapak ketika Bapak mengupayakan kebahagiaan Nasha. Bahagiamu itu bahagianya Nasha juga, Pak..  

Terima kasih atas waktu terbaiknya di masa singkat kebersamaan kita. Nasha harap, Bapak sedang berbahagia di sana. Ditemani malaikat-malaikat baik hati yang begitu memahami kebaikan hati Bapak selama Bapak di dunia. 

Berbahagialah selalu, Pak. Nasha akan selalu mengingat senyuman-senyuman Bapak sebagai penghangat hati Nasha ketika dilanda rindu yang hebat.


Karena bagi Nasha, senyuman Bapak adalah anugerah terbaik yang pernah terjadi di dalam hidup Nasha :)

Wednesday, November 6, 2019

Untukmu yang Dipatahkan Hatinya

tak ada yang perlu menangis kala kepergian adalah jawaban untuk hati yang butuh diselamatkan. kau tak perlu berlama-lama menjebak diri dalam patah hatimu sendiri, bila bertahan masih sama saja dengan menyayatkan luka di palung perasaan. bila ruang-ruang hati itu masih butuh berkasihsayang, maka bercerminlah dan nyatakan segalanya untuk sebuah senyuman di sana. 

kau harus mencintai dirimu melebihi siapa pun. jangan pernah kaurobek dadamu dan kauserahkan seluruh degup yang ada di sana untuk seseorang yang bahkan tak pernah berpura-pura memahami debarnya. sedikit pun aku tak rela melihatmu menangis terluka. sedikit pun aku tak sanggup mendengar pengaduan demi pengaduan terlahir dari bibirmu yang bergetar. kesedihan telah menjadi racun. aku tak paham bagaimana harus meyakinkanmu untuk berhenti meneguknya. 

sungguh kau pantas berbahagia. sama seperti manusia-manusia lainnya yang telah dan sedang berbahagia, kau pun harus berada di puncak yang sama. melebur diri bersama riuh angin yang selalu kaurindukan—kedamaian dalam mencintai dan dicintai, suatu hari menyambutmu dengan lengan-lengan yang terbuka. 

jika saja kau percaya.

jika saja kau terus berdoa.

Monday, November 4, 2019

Vierte

Aku tidak tahu hari ini akan menulis apa. Aku bahkan tidak tahu hari ini aku sedang memikirkan apa, merasakan apa, memaknai apa. Kurasa, selalu ada hari yang berlalu tanpa menyisakan apa-apa di dalam diri. Tidak ada bekas, tidak ada ampas. Usia terlewati begitu saja tanpa ada kenangan yang berarti.

Tapi, aku tidak mau berhenti bersyukur atas hari-hari seperti hari ini. 


Atas napas, dalam nyawa yang belum terlepas.

Sunday, November 3, 2019

"Sudah di rumah?"

"Takkan pernah kulupa
Kala hujan menderu asa kita"

Lagu L.Y.O.N terputar di toko buku tempatku berada. Aku terpaku sebentar untuk menikmati lirik-lirik lagu berjudul Ego itu menari di kepalaku. Di luar sedang hujan. Dan aku sedang meneduh sebentar sebelum memesan GrabCar untuk pulang. Pas saja rasanya, mendengar lagu itu sembari melihat hujan dari jendela besar di sudut toko buku.

Hari ini hangat. Beberapa menit yang lalu aku menuntaskan pertemuan dengan seseorang yang kukenal sejak dulu. Delapan tahun berlalu sejak terakhir kali kami bertemu, dan kukira, tidak ada banyak hal yang berubah. Pembicaraan yang tertukar masih menemukan kenyamanannya, meski dalam sewindu ini kami tidak banyak berkomunikasi. Lebih tepatnya, belum menemukan alasan untuk saling berkomunikasi.

Tapi hari ini? Kurasa masih belum ada alasan yang jelas mengapa kami bertemu dan menyambung kembali komunikasi yang sempat terputus di tahun-tahun lalu. Aku yang kemarin secara impulsif mengajaknya bertemu bahkan masih tidak tahu alasan pasti mengapa aku berani melakukan hal yang tidak kurencanakan sebelumnya. Namun semesta mendukung, ajakan itu diterima dengan baik olehnya. Dan.. barangkali itu mengapa kali ini aku merasa hangat, meski langit sedang dingin-dinginnya. 

Beberapa hal baik mungkin tidak perlu alasan untuk terjadi.
Terkadang, jika sudah terjadi, ya, terjadilah. Begitu, bukan?

Setelah hari ini, aku ingin menemukan alasan untuk pertemuan-pertemuan selanjutnya. Barangkali, bila harus merasakan rindu, maka biarlah itu yang memenuhi hatiku. Ia orang yang menyenangkan, dan berkali aku tidak bisa menyembunyikan senyumku. Aku ingin sekali lagi, atau berkali lagi, menjemput senyum itu. Senyuman yang tiba-tiba ia lukis di bibirku. (Hai, Semesta, bolehkah?)

Setelah aku sampai di rumah, aku teringat oleh kata-kata terakhirnya tadi sebelum kami pisah; nanti kabarin lagi ya.. Namun, ketika aku membuka kunci telepon genggamku, kulihat ada pesan baru masuk lebih dulu darinya; "Sudah di rumah?"

Tuhan, semenyenangkan inikah dipedulikan? 

Saturday, November 2, 2019

Tutup

Memaknai lembayung langit itu tak semudah menutup jendela, mengunci pintu, melupakan diri di dalam balutan selimut hangat, ketika cuaca pun sedang tidak cukup baik untuk ditebak. Sempat kudengar pagar di luar menutup dirinya dan memberiku kesempatan untuk menikmati sunyi ini tanpa sesiapa berpura-pura ada.

Aku tidak peduli lagi akan bagaimana warna langit esok hari. Perlahan kubenci apa yang ada di luar sana, karena pengharapanku mulai tak memudar juga. Setelah lelah membuka lengan untuk menyambut kedatangan; tak satu pun kudapat selain kekosongan, aku memutuskan bahwa sebaik-baiknya kesendirian ialah ketika aku memeluk diri sendiri. 

-

jendela mulai bosan melihat pintu
terbuka tanpa ada yang bertamu.
beranda menitip kunci,
jagalah baik-baik setelah ini.
pagar menutup lagi.
ia merawat sepi.

tak butuh sesiapa untuk ramai.
masih akan ada hujan November
dengan rintiknya tersuguh
menyeka halaman-halaman jauh.

bolehlah, hari ini, seterusnya,
kami berbahagia tanpa siapa-siapa.
hanya perlu sunyi dan semesta
--saja.
  
                  selamat tinggal.

Friday, November 1, 2019

November, November..

Halo, November!

Saya memulai bulan ini dengan menantang diri sendiri untuk menulis setiap hari selama bulan November dan mengisi blog yang tahun ini sepi postingan. Dengan harapan, saya bisa lebih banyak menulis dan menulis di sisa akhir tahun ini. 

Tapi, sayang sekali, lagi-lagi saya bingung mau menulis apa. Ini saja tulisan tidak terencana. Di detik ini, saya sudah beberapa kali menghapus paragraf-paragraf yang sempat tertuliskan. Entahlah, seringnya saya begitu. Apalagi ketika tidak tahu apa yang akan dituliskan.

Duh, untuk menyatakan sesuatu saja saya bingung.
Bingung apa yang ingin disampaikan.

Baiklah, daripada saya bingungnya kepanjangan, lebih baik saya coba menulis puisi saja. Hitung-hitung demi menyambut bulan kesayangan dengan cara saya sendiri.. 



November, November,

pada hujanmu aku melaju
di tengah samar-sama kaca
kutemukan hatiku masih sama
berisikan satu nama

apa kau bisa membaca siapa?
sepulangnya tubuh di rumah
masih saja kupikirkan dirinya
apa kau bisa tahu mengapa?

sayang sekali hujanmu telah berhenti
ketika sempurna air mata sembunyi
pada jalan lengang tak lagi berani
kutebah sepi dengan bernyanyi

November, November,

ajari aku sekali saja berbahagia
tanpa harus tersiksa mencintainya