Lagi-lagi, di lagu yang sama aku kembali. Demi merayakan gelap dan sunyi semesra mungkin, kujatuhkan diri ke dalam basah lirik pilu. Tentang pengkhianatan, tepuk tangan riuh, dan perpisahan yang tak pernah diinginkan oleh siapa pun.
Aku ingin jadi jantungmu dan berhenti semauku;
Lantun nada itu menggerus hatiku yang tak terurus. Seperti doa, kuaminkan setiap katanya dengan serius. Tak ada yang tahu nama siapa yang tengah kubayangkan, tapi langit tersenyum menawan. Karena ia tahu, sebanyak gemintang yang memeluknya, ia maha tahu.
Karena di malam-malam seperti malam ini, ia menyaksikan jari-jemariku memerah bisa melalui kata-kata. Kesakitan yang menyiksa, kekalutan sisa-sisa asa, dan buih ribuan doa yang terjawab dengan kesia-siaan belaka, seluruhnya kuperah menjadi paragraf demi paragraf yang bahkan tak pernah meminta untuk menjadi lahan duka.
Aku ingin jadi jantungmu dan berhenti semauku;
Kekecewaan tak pernah menjadi harapan. Air mata dan igau luka bukanlah keinginan. Manusia mana pun tak mungkin rela membiarkan cintanya berdarah, dipaksa menyerah karena kenyataan yang selalu tak berarah. Takdir bagai menyepah, apa-apa yang pernah terasa megah. Ketika perasaan itu menjulang dari hati ke mata, hanya untuk menjadi hujan yang enggan diramal oleh akhir tahun sekalipun.
Ini bukan sekadar kesedihan seseorang yang berlari dari dirinya sendiri. Tapi ini adalah kepahitan, dari setiap peluang kebahagiaan yang mati di tengah-tengah jalan.