Sewaktu saya merantau, rasanya kata "Mangga" asing sekali di telinga. Tidak ada harapan banyak untuk bisa makan buah-buah enak—seperti buah Mangga—setiap harinya. Paling-paling, hanya ada Pisang atau Anggur. Masih nikmat, tentu. Tapi lama-lama bosan juga. Paling rindu memang sama buah Mangga dan Pepaya. Buah yang bagi saya paling enak di jagad raya ini ~
Namun asyiknya, di rumah ini, Mangga sudah seperti makanan pokok. Kata "Mangga" pun hampir setiap hari saya dengar. Paling banyak diucapkan oleh Ibu saya;
"Nak, kupasin Mangga dong.." kata Mama biasanya dari celah kecil pintu kamar yang terbuka.
"Jangan lupa nanti pulang bawa Mangga ya.." kata Mama ke teman-teman saya ketika mereka main ke rumah.
"Mau Mangga?" kata Mama memberi kode ke saya untuk mengupaskannya buah Mangga—bukan benar-benar menawarkan. Hahaha.
Di halaman belakang rumah pun ada pohon Mangga. Dan sudah lebih dari dua minggu ini buah Mangga berlimpah ruah di dapur; hasil panen yang belum habis-habis meski sudah dibagikan ke sana-sini.
Itulah kenapa buah Mangga sekarang seperti makanan pokok di rumah ini. Terlepas dari si Oma yang memang setiap hari belanja buah, hasil panen dari pohon di halaman belakang pun terus bertambah.
Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban,
betul-betul inilah yang namanya nikmat. Alhamdulillah.
Senang sekali rasanya berada di rumah :D