Friday, November 8, 2019

Ein Gedicht der Vergangeheit

menakar perjalanan kembali
dengan detak-detak hampir mati
mengulur sisa sesuatu yang pedih
tak sanggup kembali berbenih

ada kepuasan yang tersenyum
manis seperti buah-buah ranum
menatap perjalan telah jauh
dan hati hampir kembali utuh

adakah kebahagiaan itu
telah pantas menangis haru?
atas apa-apa yang terlewat
kini tak lagi menyiksa hebat

apa telah pantas bernapas lega?
apa telah bebas terlepas lara?

jarum waktu melaju tanpa tunggu
dan kutertawai masa lalu itu
Tuhan, hebatnya aku bersyukur
kala cintaMu tak pantas kuukur