Rabu kemarin, kebetulan kuliah saya sedang kosong sebab dosen yang absen, maka saya dan teman sekamar saya memutuskan untuk menikmati sore dengan berpergian ke sebuah kota yang tidak jauh dari kota tempat kami tinggal. Dalam bahasa Jerman, kota itu bernama Köln. Sementara dalam bahasa Inggris, nama kota itu menjadi Cologne. Awalnya saya merasa aneh sebab baru pertama kali ini saya mengetahui ada kota di Jerman yang namanya berubah di dalam bahasa lain. Sebab kota lainnya yang sejauh ini saya ketahui, tidak memiliki nama lain dalam bahasa Inggris. Seperti contoh, kota Berlin yang tetap Berlin, atau Leipzig yang tetap pula Leipzig.
Perjalanan dari Düsseldorf (kota tempat saya tinggal) ke Köln memakan waktu sekitar 30 menit dengan kereta. Kebetulan saya dan teman saya adalah mahasiswi dari universitas yang berada dalam area NRW (Nordrhein-Westfalen), maka kami memiliki tiket semester yang bisa bebas digunakan untuk transportasi di seluruh kota dalam area NRW dengan gratis. Tiket semester ini bagi saya sangat menguntungkan! Karena kalau tanpa tiket semester yang saya dapatkan dari universitas saya, pasti saya akan bolak-balik bayar biaya tiket kereta dengan harga 11-15€ untuk sekali jalan. Menyenangkan bukan, kuliah di Jerman? hehehehe..
Sesampainya di Köln, tepat di depan pintu keluar stasiun kereta, saya melihat bangunan besar dan sangat tinggi bergaya eropa. Setelah saya tanyakan ke teman saya, ternyata itu adalah bangunan Katedral Katolik Roma. Setelah sedikit mencari tahu di Wikipedia, ternyata gereja itu adalah salah satu Germany's most visited landmark. Tidak heran sih, soalnya bangunan itu benar-benar indah, megah, dan menarik mata. Saya seperti merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama ketika melihat bangunan itu. Saya tidak bisa melepaskan pandangan saya dari Katedral yang menjulang begitu tinggi di atas kepala saya. Indah sekali!
Seperti inilah kira-kira rupa Katedral itu dalam jepretan kamera iPhone 5. Sedih sekali saya bukan fotografer yang baik. Tapi setidaknya saya berdoa untuk menjadi pengingat yang baik.
Saya tidak lama bejalan-jalan di Köln. Sepanjang sore saya habiskan bersama teman saya dengan melihat-lihat toko baju, tas, dan buku. Ya, namanya juga perempuan... Tidak akan jauh dari godaan cuci mata. Setelah itu, sempat pula kami duduk santai di samping sungai Rhein. Sambil duduk, saya dan teman saya berbincang perihal kuliah yang semakin hari semakin terasa kulinya. Haha..
Cukup melelahkan bagi saya setelah berjalan sepanjang sore. Kala itu waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan matahari baru saja terbenam. Maklum, di bulan April ini waktu di Jerman sudah memasuki waktu musim panas. Waktu ketika matahari akan lebih cepat terbit dan lebih lama tenggelam dibanding waktu terbit dan tenggelamnya matahari di Indonesia. (Percayalah, bahwa sesungguhnya puasa di waktu musim panas adalah cobaan yang sungguh berat, kawan.) :'>
Di kereta perjalanan pulang, saya dan teman saya tidak lagi banyak bicara seperti awal kami berangkat dan masih punya semangat. Tenaga kami sama-sama sudah terkuras setelah berjalan-jalan di Köln. Maka saya memutuskan untuk hanyut di dalam halaman-halaman buku Murakami yang berjudul "Gefährliche Geliebte". Buku ini ialah terjemahan bahasa Jerman dari karya Murakami yang berjudul "South of the Border, West of the Sun". Kata-kata Murakami berhasil menghipnotis saya cukup lama sampai akhirnya teman saya mencolek lengan saya.
"liat deh, itu mas-mas lagi diajakin ngobrol sama nenek-nenek. kasian amat nenek-neneknya cerewet." ucapnya sambil menyuruh saya melihat ke arah jam satu.
"iya daritadi gue juga heran, betah aja diajakin ngobrol ya." jawab saya santai. Kemudian kembali membaca Murakami.
Memang benar, ada seorang perempuan tua yang duduk berhadapan dengan seorang pria muda. Perempuan dengan rambut lurus dan panjang itu memiliki wajah pucat dan kantung mata yang terlihat cekung. Tubuh kurusnya mengenakan jaket berwarna hitam dan di sampingnya terdapat tas ransel hitam miliknya. Sepanjang perjalanan kereta, perempuan tua itu tidak berhenti mengajak berbicara pria yang duduk di hadapannya. Perempuan tua itu berbicara tanpa jeda, seperti tidak ada titik dan koma, dengan suara yang cukup kencang pula. Tak heran beberapa orang di sekitarnya sempat melirik ke arah perempuan itu. Termasuk saya dan teman saya. Sejujurnya saya merasa terganggu karena ia berbicara cukup kencang. Karena orang Jerman biasanya tidak berisik ketika sedang dalam kereta.
"hahaha.. kasian muka mas-masnya kayak malas dengerin nenek-nenek itu." kata teman saya tiba-tiba sambil tertawa.
Kemudian saya ikut tertawa.
Setelah beberapa saat saya kembali larut di dunia yang Murakami ciptakan di dalam bukunya, teman saya kembali mencolek saya. Saya yakin, ini colekan yang ingin kembali mengajak saya bicara perihal perempuan tua yang berisik itu. Saya pun menengok ke arah teman saya.
"apa?"
"kasihan deh nenek itu cerita tentang anaknya." jawab teman saya dengan nada pelan yang terdengar seperti sedang mengasihani.
"iya tadi gue denger sih dia bicarain anaknya yang umur 28 tahun, kan?"
"gue nggak denger yang itu. gue nggak tau tepatnya umur anaknya berapa, yang jelas anaknya pernah ngatain dia miskin."
"hah? miskin??" saya sedikit kaget dan mulai menanggapinya serius.
"iya, jadi katanya anaknya pernah minta beliin pizza lalu dia bilang nggak punya duit. terus anaknya bilang: dasar miskin."
Saya tercengang. Diam. Tidak tahu lagi harus menanggapi apa.
"dan nenek itu ngumpulin botol untuk cari uang.." lanjut teman saya
Mengumpulkan botol di sini memang bisa menghasilkan uang dengan menukarkan botol bekas ke supermarket terdekat. Biasanya satu botol kosong berharga 0,25€. Bayangkan, untuk setidaknya makan satu kali satu hari saja butuh 3€. Itu seharga Döner yang paling murah, atau roti dengan ham dan keju. Perempuan itu perlu mengumpulkan 12 botol untuk bisa satu kali makan. Satu kali. Sementara mendapatkan 12 botol kosong bukanlah perihal mudah. Tidak sedikit orang yang membuang botolnya sesudah mereka menghabiskan minumnya. Sebab mereka juga mengumpulkan botol itu di rumah untuk kelak suatu hari ditukar kembali menjadi uang.
Saya jadi tidak bisa konsentrasi dengan buku saya lagi. Saya banyak berpikir tentang perempuan tua itu. Beberapa kali saya mencuri pandang ke arahnya, kemudian sempat mendapati perempuan itu tengah membuka tas ransel hitamnya. Di dalam ransel itu, telah ada beberapa botol kosong bekas. Saya membayangkan, betapa sedih pasti dikatakan miskin oleh anaknya sendiri, sementara ia perlu mengumpulkan botol untuk mencari uang. Dan entah kenapa perempuan itu tidak mengambil jatah uang negara yang biasa diberikan kepada orang-orang Jerman yang tidak memiliki rumah dan atau pekerjaan. Tapi sejauh yang saya tahu, terkadang ada pula orang-orang Jerman yang tidak mau menerima uang jaminan negara itu sebab masih merasa mampu mencari uang dengan caranya sendiri. Mungkin, perempuan itu salah satunya. Tetapi entahlah... Saya pun hanya asal menyimpulkan saja. Konklusi saya ini murni hanya dugaan yang tak mempengaruhi jalan hidupnya pula.
Kemudian saya sampai di kota saya.
Saya turun dari kereta, setelah sebelumnya melewati perempuan itu dan memberikan seulas senyum kepadanya.
Saya jadi menyesal telah mengiranya perempuan cerewet dan berisik. Saya tidak tahu apa-apa tentang hidupnya. Saya tidak ada hak pula menduga-duga. Sebab setiap manusia punya masalahnya masing-masing. Bukan begitu?
Setelah perjalanan hari itu, saya merasa seperti telah mendapat pelajaran berharga.
Saya perlu lebih banyak lagi bersyukur.
