kali ini, kangenku begitu nyata bernapas dalam rongga-rongga jantungku. entah nyawa mana yang kupakai untuk mencintaimu, sehingga bisa begitu sakit aku memikirkan dan merindukanmu. mungkin, aku memakai seluruh sisa nyawaku kepadamu, maka aku selemah ini. aku tidak tahu, aku tidak mau. tapi aku tidak bisa menghindar. kepadamu, perasaanku begitu semangat berdebar. dan, seharusnya kau tahu, mencintaimu akan lebih mudah jika kau tidak terlalu membuatku rindu. sayang sekali, segala hal yang ada padamu membuatku selalu ingin bertemu. hingga satu-satunya obat yang kutenggak hanyalah ingatan-ingatan yang kuulang sendiri dalam pikiranku. aku menjejalkan segala hal tentangmu sejauh-jauh yang mampu aku ingat, demi meredamkan rinduku yang setengah gila ini. andai saja dengan seperti itu aku berhasil mengurangi rasa sakitku. sayang, kerinduan tidak pernah semudah itu. dan, obat satu-satunya hanyalah pelukan hangat sepasang lenganmu.
maka dalam ketiadaanmu, aku menghitung waktu. lajunya seringkali terasa begitu lambat, sementara ketika kau ada, waktu berlari terlalu kencang. ini semua membuat aku tidak pernah bisa memahami gunanya jarum jam yang ada di jam tanganku. ia bergerak selalu sama, tapi ketika kau tiada, ia seperti bergerak tanpa semangat. mungkinkah kau itu keajaiban yang mempengaruhi waktu? ataukah cinta kepadamu ini yang pelan-pelan membuatku gila...
kekasih,
seringkali ketiadaanmu membuat hujan enggan jatuh
dan jarum jam bergerak tak utuh.
sementara aku
rindu yang kerap menunggu
tanpa berniat sedikitpun mengeluh.
hanya saja,
kerinduan tak pernah semudah menunggu hujan
atau mengatur ulang jarum jam.