Wednesday, November 29, 2017

The Sims Freeplay

Di kota kecil dalam aplikasi
aku bekerja delapan jam sebagai polisi.
Tak cukup tidur, hanya butuh duapuluh detik ngopi,
lima detik mandi, delapan belas detik buka kulkas,
baru berangkat mengisi pundi.

Sepulang bekerja aku duduk melamun
Menunggu perintah, menatap langit dengan gundah.
Kantung pipisku ini mau pecah
Aku gelisah!
Tapi si empu belum memberi arah.

Di luar rumah—
rumah yang sudah terbangun mewah;
Aku dan kawan telah inspired,
menanam bawang demi hidup yang tenang.
Biar rumah ada kolam renang.
Sekali-kali, mencari senang hasil berjuang.

Simoleons kian berkurang, tak apa.
Ada dua puluh dua sims dewasa
di level tiga puluh tiga
yang sudah mapan bekerja.

Seniman, polisi, sutradara,
politikus, guru dan lainnya
punya upah tak seberapa;
tak lebih dari seribu tujuh ratus simoleon saja.
Tapi dengan tujuh jam bertani,
kami dapat tambahan lagi.

Sesungguhnya kutahu hidup adalah permainan
dengan waktu, dengan tenaga, dan banyaknya usaha
untuk maju, membangun. dan memperkaya.
Tapi di hidupku ini, jika si empu belum memberi petunjuk,
maka dunia hanyalah langit tak berufuk.

Saturday, November 4, 2017

Saturday Us.

Ruang ini bising
sunyi pecah menjadi suara suara
yang berteriak dalam kepala
barangkali tentangmu
aku tak pernah tahu
tapi satu yang paling kuyakini
adalah hati
yang mencintaimu tanpa tetapi

Namun setiap hari kaukatakan cinta
serupa kecup pipi atau ciuman
atau sehangat rentang pelukan
aku tak lantas memercayaimu

Sebab akan ada hari
ketika air mata jatuh lagi
basah dan membanjir sampai mimpi
karena ketakutanku menggigil
menyaksikan bentuk sejatinya sepi

Cinta yang hidup di dada kita
yang entah bernapas dari mana
sebab kata-kata selalu kausembunyikan
di balik lidahmu
menyulut abu kepercayaanku
merebut udara dari jantungku
membakar setiap sisa rindu
habis...
habis..
habis.
tanpa kau tahu sakitku.

Kekasih,
di ruang ini kau dan aku berada
memeluk setiap riuh irama 
janji dan rencana yang tak pernah ada,
Tetapi kau seharusnya tahu
sungguh, seharusnya kau tahu


Aku tak pernah bisa tanpamu.

Friday, October 13, 2017

A Friend

Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang yang tingkat keromantisannya mirip seperti novel yang pernah kamu baca? Seseorang yang membuat kamu berpikir kalau dia itu too good to be true and too dreamy to be real. Atau sederhananya, seseorang yang seringkali membuatmu bahagia dengan hal-hal yang tidak kamu duga. 

Saya pernah.

So let me tell you a little about him. 

Dia adalah seorang teman yang selalu ada. Repeat, selalu ada. Setiap kali saya sedang butuh teman cerita, dialah satu-satunya yang selalu cepat membalas pesan singkat saya atau mengangkat dering telepon tengah malam yang saya layangkan ke telepon genggamnya. Dia se-selaluada itu. Sampai seringkali saya merasa, apakah saya sudah menjadi teman bagi dia yang juga selalu ada untuknya? Tetapi jika ditelaah ulang, tidak seperti saya, dia bukan tipikal orang yang berbagi banyak cerita. Meski seringkali ketika kami berkomunikasi, dia juga terpancing untuk menceritakan beberapa hal dan menyebabkan saya tercengang; are you this guy i knew? Beberapa hal tentangnya yang dia buka di hadapan saya, membuat saya kaget sekaligus senang karena akhirnya saya mengenal dia selangkah lebih dekat setiap kali kami berbicara. Sebab banyak hal tentangnya yang tidak pernah bisa ditebak sebelumnya.

Dan sedikit demi sedikit saya mulai ketergantungan dengannya. Dia seperti obat di setiap saya sakit. Dia seperti selimut di malam yang bagi saya dingin. Dia ada dan selalu ada di setiap saya butuh teman bicara. Dan dia tidak pernah meminta apa-apa sebagai balasan dari segala kebaikan yang dia lakukan untuk saya. Entah barangkali dia memang baik atau terlalu tulus, tidak ada bedanya. (Ohya, dia jomlo. Saya harap jika dia punya seorang kekasih, semoga kekasih itu adalah perempuan yang bisa memperlakukannya dengan baik.) 

Dua minggu yang lalu saya kehilangan seorang Ayah dari dunia ini. Tidak perlu jauh saya jelaskan bagaimana perasaan saya waktu itu. Seorang anak di perantauan yang bahkan tak bisa mengikuti penguburan Ayahnya. Sedih, hancur, dan tidak bisa berbuat apa-apa. Teman-teman saya yang terbaik pun turut berduka dan berusaha menghibur saya dengan kata-kata mereka. Begitu pula dia. Setelah mengucapkan belasungkawanya dan saya balas dengan "terima kasih..", esoknya dia lanjutkan dengan mengirimkan saya video berisi kucingnya yang sedang bermain, and i must admit, kucingnya cute banget!! Di saat itu, ketika saya menonton video kirimannya, saya tersenyum. Sekian detik langka di dalam saat-saat berduka yang terjadi karena hal sederhana. Sebetulnya saya sendiri tidak tahu kenapa ia mengirimkan video itu. Apakah memang niat menghibur saya, atau simply salah kirim. Hahaha. Tapi saya pun di detik itu sadar akan suatu hal: saya punya teman yang datang menghibur saya ketika saya sedang bersedih. Dan salah satunya adalah dia yang menyadarkan saya tentang hal itu. Dia yang bilang "Kalau lu mau cerita, lu bisa cerita ke gue, Sha." lalu mengirimkan video kucing. 

Pernah pula di suatu malam ketika pikiran saya sudah terlalu kalut dan hati terlalu sempit untuk menanggung segala masalah yang dihidangkan oleh hidup, saya menghubungi beberapa teman dekat saya untuk saya ajak berbagi. Sayangnya pada hari itu hampir semua yang saya hubungi sedang sibuk. Saya pun semakin kalut. Rasanya seperti dihajar bertubi oleh pikiran sendiri. Saya ingin menangis, tapi terlalu sepi untuk menangis sendiri. Saya pun akhirnya nekat menghubungi dia malam itu. Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam, tetapi dia cepat sekali membalas pesan saya. Dia tidak sibuk, katanya waktu itu. Kemudian saya langsung meneleponnya dan menanyakan dia sedang apa. Awalnya saya hanya berniat basa-basi, tapi kemudian tangis saya pecah begitu saja tanpa saya sadari. Dia lalu bertanya "Lu nangis, Sha? Kenapa? Ada apa? Sini cerita.." lalu tumpahlah segala beban hati saya berupa tangisan. Barangkali ada 15 menit sendiri saya menangis terisak tanpa bercerita apa pun. Dia di ujung telepon hanya diam dan menjawab "Iya.. Cerita aja sini ke gue.." ketika saya bilang "Gue cuma butuh teman cerita.." dengan suara yang sudah tidak jelas lagi karena tangis saya semakin deras. Hingga akhirnya air mata saya telah reda, saya pun menceritakan semua masalah saya ke dia. Sederhana sekali kebahagiaan malam itu; tangis saya tumpah hingga lega, beban hati semakin ringan seiring saya bercerita, dan dia yang dengan setia dan saksama mendengarkan semuanya. Di akhir telepon, saya berterimakasih kepadanya, "This is all I need. This simple thing to be heard. Makasih ya sudah ada ketika yang lain nggak ada." Lalu dia menjawab dengan santai "Tenang aja, ada gue.." 

Ya, dia memang selalu ada. 

Tingkat kebaikannya sebagai teman sudah saya nilai sebagai hal paling romantis yang pernah seorang kawan lakukan untuk saya. Meski tidak ada cerita-cerita "cinta" di antara kami, saya akan tetap menilainya begitu. Karenanya, saya tidak pernah merasa sendiri. Dia adalah orang yang berhasil membuat saya percaya bahwa seorang teman adalah harta. Sesuatu berharga yang harus saya jaga dengan baik. Sebab jika saya membayangkan bila suatu hari saya harus kehilangan seorang teman seperti dia, saya rasa saya tidak akan sanggup menjalani hidup sendirian. Sepi dan merasa tidak ada siapa-siapa. 

Terima kasih, Tuhan,
atas kehadirannya untukku

sebagai teman :)

Thursday, August 17, 2017

Di Perjalanan Pulang

Malam ini jalanan Bremerhaven sepi dan udaranya dingin. Aku cuma pakai sweater tipis. Di tengah-tengah dingin begini, yang paling aku ingat itu kamu. Setiap satu langkah aku jalan, aku bayangin kamu juga sedang jalan di sebelahku. Aku pikir aku ga bakal ingat kamu banyak-banyak hari ini. Nyatanya, dari tadi siang aku keluar rumah, sampai tengah malam ini aku baru pulang sendirian jalan ke rumah, aku ga bisa berhenti mikirin kamu. 

Hhh..

Aku lihat lampu jalan, yang aku ingat kamu. Aku lihat Wohnung tetangga, yang aku ingat kamu. Aku tuh jadi bayangin apa yang kira-kira akan kita obrolin kalau kita jalan kaki berdua ke arah rumah untuk pulang.

Hm.. Gimana ya..

Sebetulnya aku ga ingin kangen sama kamu, tapi kok seharian ini, semua, segala sesuatunya mengingatkan aku sama kamu. Aku ga bisa mencegah itu.

Ohya, malam ini langit juga udah ga ada bintangnya lagi. Atau sebetulnya ada, tapi aku ga bisa lihat. Karena aku pikir, apa gunanya melihat keindahan bintang kalau aku ga bisa ceritain keindahan itu secara langsung ke kamu. Kamu ingat kan, biasanya aku suruh kamu mendongakkan kepala ke langit supaya kamu bisa lihat bintang-bintang itu. Ingat kan?

Aku kangen sama kamu.

(Haha. Lucu ya, aku bisa kangen kayak gini ke kamu. Padahal aku lagi kesel banget sama kamu.) 

Hm, sekarang aku harus menyalakan lampu Wohnung sendiri. Aku ingat biasanya kamu yang pencet tombol lampunya. Dan kalau naik tangga, kamu pasti naik duluan ke atas. Ninggalin aku, mentang-mentang aku ga bisa naik tangga dengan cepat. Kamu ga mau tungguin aku..

Tuhh.. kan.. Aku mikirin kamu lagi...


Aku kangen sama kamu. 


Wednesday, August 16, 2017

Bukan Puisi

Apakah tujuanmu mendoakan orang lain
jika dirimu sendiri butuh seucap amin
dari bibir-bibir asing yang kauharapkan
peduli sebagai sesama manusia

Entah sudah seperti apa kau patah
rusak dan terkoyak-koyak
terbenam di tengah laut
dan kau tak tahu kapan surut

Meski kian asin matamu memerih;
memerah dan meremah
Dan pengakuan adalah dosa
neraka dalam prosa

Kau kubur hatimu lebih dalam dari tanah agar bumi membakarmu kembali menjadi asal muasal napas sebelum kau merasakan segalanya; air susu ibu, bubur buah, nasi hambar, lauk-pauk hijau;oranye;kuning;ungu;merah, 

Kau tak tahu lagi apa yang kautulis
sementara doa dan dosamu terus bertambah-tambah.

Sunday, August 6, 2017

Seven Ways

1. Never step back once you liked.
2. Show me what love is.
3. Write me.
4. Read me.
5. Listen to me.
6. Always there.
7. Be you.

Friday, August 4, 2017

Heimweh

Banyak rasanya yang saya rindukan saat ini. Saya rindu rumah, saya rindu ibu dan ayah, saya rindu teman-teman di Indonesia, saya rindu malam puisi, saya rindu gebetan-gebetan di Korea, saya rindu adik saya yang menyebalkan, saya rindu pulang.

Ah, pada akhirnya yang paling saya rindukan saat ini memang rumah. Kangen rasanya bisa lihat muka Mama setiap hari, bisa sarapan nasi dan lauk yang sudah dimasakin, bisa berantem sama Adam kalau rebutan mobil, bisa nonton tayangan televisi yang berbahasa Indonesia, dan lain-lain.. dan lain-lain.. Hal-hal yang tidak bisa saya temukan di sini. Di kota yang ribuan mil jauhnya dari kerinduan itu.

Saya hanyalah anak rantau yang merindu rumah. Yang menulis tulisan ini sambil mendengarkan lagu Marantau yang dicover orang yang tidak saya kenal di Soundcloud. Yang menulis tulisan ini sambil memikirkan nasi uduk karena di sini masih pagi hari dan saya lapar sekali....

#7HariMenulis hari ketiga, semoga kita semua baik-baik saja.

Selamat merindu!

Marantau - Ades Sadewo

Lagu pertama berhasil menjadi judul hari ini, meski sebetulnya saya belum pernah mendengarkan lagu ini versi aslinya. Lagu ini saya dengarkan dari suara seorang teman saya yang sungguh merdu. suaranya melantun dengan seindah-indahnya di telinga saya, ketika dia menyanyikan lagu ini. Meski lagu ini dalam bahasa Padang yang tidak saya mengerti. Sampai detik ini, saya tidak bisa melupakan kekaguman saya mendengar lagu ini ketika dinyanyikan oleh teman saya itu. Sesuatu yang tak bisa dijelaskan di sini.

Pilihanku  - Maliq

Sewaktu saya kelas 2 SMA, kebanyakan teman sepermainan saya adalah laki-laki. Jadi, adalah hal yang biasa jika saya duduk sebangku dengan cowok. Dia adalah teman saya, sama seperti teman cowok saya lainnya. Kami sering duduk satu bangku jika teman sebangku saya yang biasanya sedang ingin duduk dengan yang lain. (No hard feelings kayak misal lagi musuhan gitu ya lol). Lalu tanpa semesta beritahu lebih lanjut lagi, saya dan dia (si cowo ini) akhirnya yalumayanlebihdekatdariyanglain gitu ya, blabla saya singkat saja sampai diii... Tiba-tiba sewaktu kelas sedang tidak ada gurunya, anak-anak cowok yang lagi kumpul di belakang kelas hura-hura, berjalan mendekat menuju sudut lain belakang kelas which was tempat duduk saya dan dia. Ada tiga orang di antara mereka yang memainkan gitar, dan sisanya bernyanyi-nyanyi. Saya tidak begitu memperhatikan lagu apa yang sebelumnya mereka nyanyikan, yang jelas, tiba-tiba mereka menyanyikan lagu Pilihanku. Mereka bernyanyi bersama-sama sambil melihat saya dan dia. Kemudian, saya yang otaknya suka lama nyambungnya, baru sadar sesuatu ketika dia yang duduk di sebelah saya menatap saya dengan tatapan berarti sambil senyum-senyum sendiri. Dia memegang tangan saya sambil ikut menyanyikan lagu Pilihanku-nya Maliq yang diiringi gitar oleh anak-anak cowo yang tanpa saya sadari sudah berdiri rapi di belakang dia. Saya sungguh malu dan menoleh ke arah dinding berkali-kali. Saya tertawa-tawa ketika saya sadar saya sedang ditembak! 

Pengalaman menarik yha sebagai anak SMA? Haha!

Nightmare - Avenged Sevenfold

Lagu ini suka sekali dulu saya dengarkan setiap hari. Lagu yang mengobati patah hati saya ketika gagal nonton konser Avenged Sevenfold di Ancol beberapa tahun lalu. Jadi ceritanya begini, dulu ketika saya beserta om dan saudara saya yang ingin menonton konser itu sudah sampai di Ancol, di depan pintu masuk konser, tiba-tiba kami mendengar di tkp perihal isu A7x tidak jadi tampil. Orang-orang belum diberi masuk oleh panitia konser entah kenapa. Padahal, konser harusnya sudah dimulai pada pukul 5. Tapi hingga pukul 5 lebih, kami semua belum masuk juga ke arena konser. Masih tertahan di pintu masuknya. Hingga.... Hal yang menyakitkan itu terjadi..... Panitia mengumumkan kalau konser dibatalkan dan memberitahu cara refund tiket yang sudah kami miliki. SEDIH KAN? Saya sih sedih waktu itu, Sedih banget sampai tidak tahu harus bicara apalagi. Sepanjang jalan pulang saya hanya diam di mobil. Om saya berusaha menghibur tapi tidak berhasil. Dan, sesampainya di rumah, saya masuk ke kamar dan mengunci pintu. Saya menangis keras sambil menatap tiket konser di tangan. 

The Second You Sleep - Saybia

Saya suka sekali lagu ini. Dulu saya suka menyanyikan lagu ini bersama-sama dengan adik saya yang umurnya cuma beda satu tahun dengan saya. Dia laki-laki dan sudah berjenggot. Kalau menyanyikan lagu ini, mukanya berubah jadi seperti anak kecil. Dia tidak bisa nyanyi, tapi maksa. Jadinya mukanya menggelikan. Haha!

The Good Good - Snoop Dogg

Pacar saya dulu nembak saya setelah dia memutar lagu ini as the backsound. Semacam sengaja gitu. 

Mencintaimu Cause I Need You - Fase

Kamu harus dengar lagu ini! Kalau saya sih, baper bukan main dengar lagu ini. Liriknya suka menyentuh hati saya dengan cara yang tidak bisa saya jelaskan. Rasa ini tak mampu kutepis, kata lagu itu. Kalimat sederhana yang menceritakan segalanya. Dulu, saya menerima sebuah surat cinta pendek dengan pesan singkat sebelum surat itu kubuka: "Jika kau hendak membaca surat ini, tolong bacalah sambil mendengarkan lagu 'Fase - Mencintaimu Because I Need You' ost film Cindolo Na Tape." dan kalimat terakhir di dalam surat cintanya adalah: Ingin rasanya kukatakan, "Aku mencintaimu," Tapi bukankah cinta membahagiakan? 

Mungkin karena itu saya baper sama lagu ini. 

Goodbye - Air Supply

Ini lagu kesukaan Mama saya. Dulu waktu SMP, tiba-tiba dia curhat sama saya kalau dia dari lama suka sama lagu-lagunya Air Supply, dan lagu yang paling dia sukai adalah yang judulnya Goodbye. Sehabis Mama bilang begitu, saya langsung cari tahu lagu Goodbye itu seperti apa. Setelah ketemu, saya dengarkan dan dengarka lagi. Awalnya saya bingung kenapa Mama suka lagu itu. Lagunya terdengar lawas dan tidak masuk sama telinga saya yang waktu SMP sukanya dengar lagu RAN. Tapi, lagu Goodbye itu tetap saya dengarkan karena saya ingin menyukai lagu yang Mama saya sukai. Tidak perlu waktu lama, saya sudah tanpa sadar tidak bisa berhenti mendengarkan lagu itu. Saya jadi suka sekali dengan lagu Goodbye. Hingga saat ini, setiap saya mendengar lagu Goodbye, saya selalu ingat kalau lagu itu lagu kesukaan Mama. 

Wednesday, August 2, 2017

Was Macht Man Glücklich?

Jadi, di hari pertama #7harimenulis ini saya harus menulis tentang 7 hal yang membuat saya bahagia. Ya, baiklah. Saya coba ingat-ingat dulu apa 7 hal yang membuat saya bahagia.

1. Sholat. 
Soalnya sholat bikin sejuk, bikin hati tenang, bikin pikiran-pikiran berat jadi jauh, bikin merasa dekat dengan Tuhan, bikin merasa dekat dengan kamu. Yea, namanya juga abis doa minta jodoh.

2. Twitter!
Waaaah! Gak bisa dipungikiri lagi kalau Twitter suka buat saya ketawa sendiri. Gila sih tidak, cuma linimasa saja yang suka menggila. Coba saja Twitter bisa lebih sering melucu dan bercanda bareng instead of nyinyir atau ngajak berantem akun lain. Spread the leg love, guys. Not hate. Dan karena di Twitter juga saya punya banyak teman yang suka puisi kayak saya. Biasanya kalau saya lagi bosan, saya lompat-lompat di akun Twitter orang buat mencari puisi yang tepat untuk menghibur hati. Yeu~ Sesungguhnya tanpa kamu sadari, saya ini suka merhatiin twit kamu loh. Kamuuu.. Iya, kamuu. 

3. Pacar deh.
Kenapa pakai 'deh'? Karena sama dia juga biasanya banyak ribut dan adu mulut. Kalau adu mulutnya sih kadang enak kadang engga ya, ehm, kalau enak ya basah kalau tidak enak ya berantem. Tapi di balik semua kerusuhan emosi yang saya lalui sama pacar, dia selalu bisa membuat saya bertanya-tanya: why am I so happy in your arms?

4. Puisi Mama.
Jadi biasanya saya dan Mama suka membicarakan perihal puisi. Mama seringkali memberi saya masukan untuk puisi yang habis saya tulis. Menyenangkan. Soalnya saya merasa sangat beruntung punya seorang ibu yang juga menyukai puisi. Biarlah dunia ini sepi dari orang-orang yang ingin memahami puisi, asal ada Mama saya yang selalu kasih saya masukan untuk apa yang saya tulis. Tapi tahukah kamu apa yang paling membahagiakan dari sekadar masukan? Adalah puisinya! Yep, suatu waktu saya dapat chat dari Mama yang berisi: "Ini mama punya puisi buat nasha..". Dan dari situlah kebahagiaanku meluap-luap.

5. CHICKEN NUGGETS OMG I CANT SAY NO MORE BCZ NUGGETS IZ LYFE.

6. Masak di dapur.
Karena saya pecinta nuggets yang suka masak, maka bisa dibilang kalau saat-saat masak di dapur itu bikin saya senang. Misal ketika saya memotong bawang, pasti pikiran saya jadi teralihkan dan hanya terfokus ke bawang. This would sound weird, tapi, proses memasak itu indah banget. Entah kenapa. Barangkali, kutemukan rasa sayang di balik bawang. lol. Kadangkala ketika saya banyak pikiran, pasti saya akan memasak sesuatu yang membutuhkan proses lama atau resep yang cukup rumit. Seperti contoh: donat kentang—one of my favorite right now. Bikin donat kentang itu membutuhkan proses yang lumayan memakan waktu. Merebus kentang, menghangatkan susu, mengaktifkan ragi, sampai proses menuggu adonan mengembang yang memakan waktu lebih dari 1 jam. Tapi, itu semua justru saya lakukan dengan senang hati. Karena apa? Karena selama proses itu yang saya pikirkan adalah: semoga enak, biar teman-teman pada suka. 

7. Apa ya?
Bagi kalian yang sudah menulis di hari pertama #7harimenulis ini, pasti beberapa dari kalian menemukan kesulitan dalam menulis di nomor paling terakhir inii. Nomor tujuh. Sebab jujur saja sekarang saya begitu. Bingung dan tidak tahu harus menaruh apa di nomor tujuh. Mungkin sesuatu yang membuat saya bahagia di nomor tujuh ini adalah hujan, kopi, biru, senja, laut, langit, gunung, atau bukit. Saya sungguh tidak tahu. Harusnya, di nomor 7 ini saya bisa menulis setiap detail kebahagiaan yang pernah saya rasakan. Bahagia ketika jalan-jalan sama teman, bahagia ketika perasaan dibalas oleh gebetan, bahagia ketika memeluk orang tua saya, bahagia ketika mencium pipi pacar, bahagia ketika episode terbaru Rick&Morty keluar, bahagia ketika penulis kesayangan saya menerbitkan buku baru, bahagia ketika difollowback akun yang saya kagumi, bahagia ketika tulisan ini dibaca kamu, bahagia ketika tulisan ini kamu share ke orang lain semata-mata karena ingin membahagiakan saya, bahagia karena #7harimenulis banyak yang ikut, bahagia karena...

hah! 


Alhamdulillah. 
Ternyata stok bahagiaku banyak.

Monday, July 10, 2017

apapun yang di dalam lenganmu

Ada bunyi hujan yang tak kaupahami basahnya. Jatuh perlahan di depan sepatumu, di ujung payungmu, dan di kaca kendaraanmu. Langit yang lembab tidak mengingatkanmu apa-apa tentang siapa-siapa, sebab barangkali namaku saja jarang sekali kau ingat. Cerita-cerita yang hancur dan hilang di antara waktu, telah membatu di ujung-ujung kukumu. Jika suatu hari kau lupa memotong kuku, kau akan mengeluh tak henti-henti tetapi tak mengerti mengapa tak kaupotong begitu dini. 

Sementara aku tidak bisa datang begitu saja dan mengajarkanmu tentang hujan--atau tentang kita yang kehilangan. Aku bukan siapa-siapa dan tidak pernah menjadi siapa-siapa. Harapanku telah lama patah di dada kiri, jauh sebelum kau memberiku kesempatan mendengar "aku mencintaimu" dari sepasang bibirmu yang tak pernah kukecup. Aku hanyalah asap dingin dari gelas kopi yang tidak diminum sampai habis. Tidak pernah berhasil membuatmu cukup mencintaiku, adalah alasan mengapa aku tidak berani mengatakan "aku mencintaimu juga".

Aku melihat gerimis itu semakin deras. Basahnya menetes sampai kerah bajuku. Pipi-pipiku lembab menanggung mendung yang tak habis-habis. Aku tidak tahu lagi, setelah ini, apakah akan ada hati yang jatuh lebih baik; yang tidak berharap terlalu banyak, namun bisa saling menyentuh. Mungkin suatu hari akan ada pelukan yang bisa terbalaskan, tanpa memikirkan sedalam apa sebuah pisau mampu menusuk punggungmu. Cinta bukan lagi pertaruhan hati dan waktu. Cinta adalah apa pun yang di dalam lenganmu.


Wednesday, June 14, 2017

Tulisan Ini Untukmu

aku ingin jujur kepadamu, melalui tulisan ini yang kuyakin tak akan pernah kaubaca.

aku selalu menanti saat di mana kita dapat berbagi di hadapan sepasang gelas kopi, atau jeruk hangat tanpa gula. terserah apa pun minumannya, aku hanya ingin segera mengisi celah di antara kita yang nganga. akan kuceritakan kepadamu tentang patah hati terdalam yang kualami.

kau tahu, hadiah terbaik bagiku adalah cerita tentang luka. mengapa? karena itu berarti kau memercayai lawan bicaramu. kau bagi sesuatu yang tak semua bisa tahu.

sambil berharap, kau tidak akan melakukan hal yang sama kepadaku; kau tidak akan melukai perasaanku sedalam itu. karena aku percaya. kau selalu tahu bahwa perasaanku sesederhana itu. kau hanya tak perlu mengkhianatiku, maka akan kubagi seluruh yang kupunya. bahkan setiap napas yang berjiwa. 

di masa ketika kita berbagi luka, aku berharap itulah masa ketika tugas kita satu-satunya adalah mengusahakan kebahagiaan.

dan aku berharap kau tentu bersedia membagiku kisah-kisah yang selama ini tak kutahu. barangkali, tentang kepada siapa hatimu pernah tertambat begitu dalam hingga ingin menghapusku sama sekali. aku yakin pernah ada seseorang yang mencuri hatimu separah itu.

tapi tak apa, toh pada akhirnya aku tahu kita tidak akan ke mana. sudah lama kita merangkai mimpi; dari kata seumur jagung, hingga puisi sedalam palung. aku yakin perasaan yang pernah menggoyahkan hatimu hanyalah ujian bagi mimpi kita untuk belajar lebih dewasa lagi.

kau tidak usah tanya mengapa aku bisa begitu yakin, bahkan sebelum mimpi kita terwujud. aku tahu kau paling tahu jawabannya. seperti yang pernah kaukatakan: "jawablah sesuka hatimu, karena hatimu adalah jawaban yang aku suka."

maka kuharap di kejauhan sana, kau selalu mengaminkan segala yang kita percaya. Tuhan, dan cerita-cerita yang kita harapkan dalam restunya. karena tanpa kau betul-betul ketahui, aku pun selalu menyelipkan namamu di doaku yang panjang.

mungkin bukan saat ini, belum.
tapi sungguh aku percaya kita akan tiba di sebaik-baiknya masa. 

aku menunggu. 

Friday, June 9, 2017

Love Heals While Hatred Grows

Jangan hentikan saya bila saya sedang berusaha menyakiti diri sendiri.
Barangkali itu cara saya mencintai. 

Saya terlalu lemah dan tidak ma(mp)u merasakan sakit dari orang lain.
Biar sakit bermula dari diri saya sendiri saja.
Bukankah saya yang lebih berhak?

Jika seseorang menyakiti perasaan saya, saya ingin sekali
sakit lebih dalam lagi dengan sakit yang saya buat sendiri.
Bukan orang lain. Mereka tak pantas untuk perasaan saya. 

Jadi biarkan saya menutupi kesakitan-kesakitan itu dengan sakit
yang lebih lagi. Setidaknya sakit itu bukan dari orang lain.
Melainkan dari diri sendiri.

Anggaplah saya sedang memukuli diri sendiri,
jangan dihentikan. Kau tidak berhak.

Kau sama sekali tidak berhak. 

Jika saya harus mencintai diri saya sendiri,
berarti saya juga bisa membenci diri saya sendiri.

Sebab kadang begitulah perasaan;
kau salah menaruh percaya, dan membenci dirimu sendiri. 

Saturday, April 29, 2017

Mencari Hujan.

Aku ingin mengajakmu mencari hujan. Entah di mana. Mungkin akan kuajak kau menyusuri senja hingga ujungnya. Barangkali di sana ada langit berwarna merah yang membiru, lebam mendung terbias di wajahnya, dan gerimis jatuh seakan tidak akan berhenti. Tidak perlu kau atau aku tahu, laut seperti apa yang telah membuat langit menangis seperti itu. Hanya ingin kutunjukkan kepadamu, di ujung senja yang hujan itu, akan kusimpan air mataku yang selama ini menggenang tanpa seorang pun tahu.

Selalu ada luka yang tidak bisa bicara. Sekecil apa pun itu. Meski rasanya ingin teriak, menumpah marah, memaki diri yang pengecut. Tetap tidak bisa. Andai mampu kukatakan padamu sebagai tanda bahwa hanya kepadamu, aku ingin menunjukkan segala yang tak seorang pun tahu. Tetapi untuk tangis kali ini, aku hanya bisa meminta sepasang matamu untuk membaca; ikutlah denganku mencari hujan, agar kau kelak tahu di mana tempat air mata kumakamkan; agar kau menjadi yang pertama, yang menyaksikan senyumku kembali seperti semula. 

Temani aku. 

Friday, April 28, 2017

There I Say It

"Lu ada sesuatu ya sama Ditha? Eh, maksud gua Kinanti."

Deg.

Tidak perlu waktu yang lama bagi jariku untuk membeku di atas layar handphone. Kata-kata Fikri barusan jauh lebih dingin dari suhu langit hari ini. 

"Em, engga kok. Kenapa lu nanya gitu?" jawabku secepat mungkin, takut membuat Fikri semakin curiga.

"Heran aja, soalnya lu senyum-senyum sendiri gitu." 

"Apa hubungannya dengan Kinanti?" kuharap kata-kataku ini berhasil menyembunyikan apa pun yang hampir terbaca oleh Fikri.

"Itu pesan singkat dari Ditha kan?" tanya Fikri lagi. 

Jujur saja aku berharap Fikri tidak menebaknya dengan benar. Aku kebingungan harus menjawab bagaimana. Aku takut sekali jika Fikri mengetahui perasaanku yang sebenarnya kepada Kinanti, dan hal itu justru membuat persahabatan kami rusak. Kalau boleh kuakui, kehilangan seorang teman hanya karena masalah cinta adalah hal yang mengundang penyesalan di kemudian hari. Dan kesimpulannya, aku memutuskan untuk sedikit berbohong.

"Iya, dari dia. Tapi gue senyum-senyum sendiri bukan karena dia!" aku berusaha agar terdengar seperti sedang bergurau. 

Kulihat wajah Fikri masih menyimpan rasa penasaran. "Ini lho, tempo hari dia gue pinjamkan uang di Toko Asia. Dan barusan dia kasih tau gue kalau dia sudah transfer uang itu ke Konto gue. Ya, gue senang lah."

"Hahaha.. Karena dapat duit?" tawa Fikri kemudian

"Iya. Hahaha.."


Aku lega.



***


Aku tersenyum menatap langit beserta jalan raya yang berwarna putih di luar jendela S-bahn. Cuaca dan suasana Berlin hari ini tiba-tiba membuatku mengingat kejadian ketika aku harus berbohong kepada sahabatku sendiri demi menutupi perasaanku. Lucu rasanya. Kini aku merasa malu kepada diriku sendiri lantaran pernah berbuat seperti itu. Bibirku tak bisa berhenti tersenyum. Kurasa, orang-orang di sekitarku pun sudah mulai heran mengapa aku senyum-senyum sendiri. 

Tak lama kemudian, aku sampai di tempat tujuan. Sebuah pintu berwarna cokelat muda telah terpampang di hadapanku. Aku menggunakan waktu lima detik untuk mengatur napas sebelum akhirnya kupencet bel yang menempel di sisi kiri pintu tersebut.

Kring.. Kring..

"Hey, Chan! Akhirnya sampai juga! Silakan masuk.." sambut orang yang membukakanku pintu dari dalam.

"Assalamualaikum. Maaf ya telat." aku melangkah masuk dan mengagumi ruangan di dalamnya yang rapi dan bersih. 

Tidak jauh dari pintu masuk, aku sudah bisa melihat dua sofa yang tidak terlalu besar membentuk huruf L dengan sebuah televisi di hadapannya. Sang pemilik rumah mempersilakan aku duduk.

"Sudah lama rasanya gue gak lihat Rahma.. Rindu." ucapku sambil mengambil posisi untuk duduk.

"Iya.. ngerti deh gue, lu emang yang paling dekat sama dia. Dia masih di kamar, sebentar lagi juga keluar. Eh, lu mau minum apa?"

"Apa aja deh.. Danke loh.."

"Gue ada teh Sariwangi nih dari Indo. Mau?"

"Wah! Boleh banget! Danke."

Kemudian ia berlalu ke dapur di belakang sofa tempatku duduk. Sisi lain selain pintu masuk tadi. Dengan begitu, kami masih bisa mengobrol sambil menunggu seseorang yang ingin kutemui keluar dari kamarnya. 

Tapi aku tak perlu lama menunggu, sebab akhirnya malaikat kecil itu keluar dari kamarnya. Ia sempurna di lengan ibunya.

"Assalamualaikum Mas Chandra.." 

"Waalaikumsalam, Kinanti.." 

"Dengar-dengar, sudah rindu ya dengan Rahma.. Hehehe." ujar Kinanti sambil lalu memberi Rahma ke dalam pelukanku.

"Iya tuh! Dia memang paling rajin setiap Wochenende ke rumah kita cuma buat Rahma, kan?" Sahutan dari dapur pun terdengar.

"Ah, kayak gak tau gue aja, Fik! Gue paling senang dengan anak kecil. Apalagi anaknya sahabat gue sendiri!" kataku sambil menimang-nimang bayi berumur delapan bulan itu di dalam lenganku. 


Rahma namanya. Bayi cantik yang sedang berada di dalam lenganku sekarang adalah anak pertama dari Fikri dan Kinanti. Hasil dari pernikahan mereka yang sudah berusia hampir tiga tahun. Aku sangat menyayangi Rahma, seolah-olah Rahma adalah anakku sendiri. Nama Rahma pun aku yang memberikannya, malam itu ketika Fikri menanyakan kepadaku harus memberi nama apa ke anak perempuannya yang baru lahir. Aku kemudian mengusulkan nama almarhumah adikku. Terlepas dari Ibunya yang membuatku teringat kepada dik Rahma, aku pun juga menyukai nama Rahma. Seperti sudah melekat di dalam hidupku. Semantara Fikri dan Kinanti pun menyetujui nama itu. 


***


"Gue mau melamar Ditha, Chan." kata Fikri suatu sore kala kami sedang makan siang bersama.

"Was?! Baru tahun lalu lu mencurigai gue ada apa-apa sama Kinanti, dan sekarang lu mau melamar dia?"

"Iya. Yah, gue pikir, buat apalagi ditunda. Gue gak mau ajak dia pacaran, Chan. Lebih baik langsung menikah."

Aku terdiam sejenak. Memang hubungan kami semua sekarang baik-baik saja. Aku berhasil meredam perasaanku kepada Kinanti agar aku tidak perlu banyak berharap kepadanya dan membiarkan Fikri saja yang terang-terangan menyukai Kinanti. Sebab pada suatu hari, aku lebih memilih untuk menyukainya dalam diam. Tetapi, mendengar pernyataan sahabatku barusan berhasil membuatku berpikir jauh. Tidak seperti aku yang pecundang dan tak pernah mengakui perasaanku kepada Kinanti, sahabatku ini justru ingin mengambil langkah tegas dengan melamar perempuan itu. 

"Fik.." ucapku pelan.

"Hm?" 

"Ada yang perlu gue bicarakan sejujur-jujurnya ke lo. Dan gua rasa gak ada saat yang lebih tepat dari detik ini, melihat keberanian lo menyatakan keinginan lo untuk melamar seorang perempuan."

"Maksud lo?"

"Iya, pokoknya ada yang mau gue bilang.." 

"Ya, bilang aja." 

"Sebetulnya selama ini gue juga suka sama Kinanti."



There I say it. 


---------------------------------------------


*
Konto: rekening
Danke: terima kasih
Wochenende: akhir pekan
Was: apa


#Menalifiksi adalah sebuah antologi cerita pendek karya anggota Forum Lingkar Pena Jerman. Ini adalah cerita kedua atau yang kami sebut simpul kedua.
#Menalifiksi FLP Jerman simpul kedua
  1. Kehilangan– Dida Hayaza
  2. Seseorang – Dieni Rachmawati
  3. Gadis Toko Asia–  Achmad Lutfi
  4. Chandra, Kinanti – Tyas Mekar Sari
  5. Prasangka– Nirmanita Kartikarini
  6. Anindhita?– Syarifah Faradiba
  7. Kinanti yang Tertukar – Syifa Maisani Lestari
  8. Nomor Telepon – Nadya Zafira Prahardita
  9. There I Say It - Ivana








Thursday, March 30, 2017

Ohne Mond Tanze Ich Alleine

Bulan di atas kepala menyaksikanmu menari-nari di tengah taman. Maukah kau katakan kepadaku apa yang membuatmu senang? Kau tetap menari, sesekali melihatku sambil tersenyum. Aku hanya bisa membalas senyumanmu sambil berhati-hati mengawasi agar kau tidak tersandung. Jangan terjatuh, jangan terluka lututmu. Bersenanglah sebisanya, setelah itu kutunggu kau bercerita.

Kau tetap tertawa. Lengkung bibirmu tak pernah gagal mencuri napasku. Satu dua kali kau menggerak-gerakkan jari telunjukmu seakan memanggil aku untuk turut menari. Di bawah bulan, di tengah taman, dahan-dahan pohon terayun oleh angin mengikutimu. Aku ingin bertanya sekali lagi, tetapi kutahu tempatku. Jika tak ada yang ingin kau bagi, tak perlu aku memaksakan diri. Kau sedang bersenang-senang, biar aku menikmati wajahmu yang semakin terang, oleh bintang, oleh lampu, terbias oleh cahaya apapun di malam itu. 

"Aku jatuh cinta."

Singkatmu.

Herannya, aku sudah tahu. Hanya sejujurnya kuharap bukan itu. 

"Baguslah. Pasti kau bahagia." Tentu saja. 

Aku tersenyum. Senyum yang menyembunyikan kelu. Ada yang aneh, jujur saja, seperti ada suatu sudut yang terbakar di dalam hatiku. Apakah itu? Aku belum tahu. Yang kutahu hanya, jatuhmu bukan ke arahku. 

Kau masih menari. Tarianmu seperti memuji bulan. Kini langit tahu mengapa kau menari, dan langit semakin lumat mengiringi tanganmu yang merentang seakan-akan bersayap. Ditiupnya angin agar kau merasa terangkat lebih tinggi. Kau melangkah berputar-putar dengan gerak jemari menyapa pohon-pohon di antara bayang-bayang. Hari ini kau memesona, hari ini aku—masih—terpesona. Semesta mendukungmu, 

Semesta meninggalkanku.

Wednesday, March 15, 2017

Titik Balik Lagu Cinta

Sumpah!

Baru saja saya sadari betapa tega sebuah lagu dengan lirik yang optimis dan ceria, mampu membuat perih berserakan di rongga-rongga dada. Entah ada angin apa (mungkin angin kabar pernikahannya), saya memutar sebuah lagu yang menyimpan masa lalu yang sadis. Lagu ini dinyanyikan dengan merdu oleh Ten2Five dan berjudul Love Is You. Di dalam lagu itu, saya pernah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. 

Mungkin, lebaynya, jatuh cinta paling jauh selama hidup saya. Kenapa demikian? sebab dengannya, saya serahkan seluruh hati saya mentah-mentah. Saya perjuangkan apa pun, dan saya pasrahkan harapan-harapan saya di tangannya. Sementara ternyata, mencintai sekalah itu bukan berarti memenangkan cinta yang sesungguhnya. Pengharapan berbalik badan dan menjadi senjata yang ingin membunuh tuannya. Jika patah hati adalah luka, dikhianati harapan adalah perih yang abadi. 

Saya ingat beberapa tahun lalu, saat saya berangkat ke Studienkolleg, saya mendengarkan lagu ini sepanjang jalan. Saya tersenyum lalu menitikkan air mata. Betapa bahagia. Betapa perasaan saya diungkap oleh lirik-liriknya. Mengingat lagu ini diberikan oleh dirinya—dia yang kubilang jatuh cinta terjauhku. Pada saat itu, tidak ada lagi yang bisa saya syukuri selain berhasil mengenalnya di dalam hidup saya. Dicintai sehebat itu, siapa yang tak akan percaya? 

Kini lucunya, lagu itu sama sekali tidak terdengar membahagiakan. Lirik-lirik yang dialunkan mengingatkan saya pada perih yang masih sama. Tidak berubah, bahkan selalu basah. Sungguh bukan maksud belum melupakan, hanya saja begitulah luka pengharapan bekerja. Kata-kata yang dulu renjana, sekarang tak lain hanya janji yang terkoyak teringkari. Perasaan yang dulu kusalutkan, sekarang tak lain kenangan yang sepanjang waktu kusesalkan.

Maafkan saya, Ten2Five. Lagumu indah, tetapi lukaku menolak lupa.

Friday, March 10, 2017

Schreib Mir So Bald Wie Möglich


bisakah kau tuliskan aku sesuatu?

aku ingin larut dalam huruf-hurufmu, dipeluk kalimat-kalimat yang hangat. dan biarkan aku tenggelam tanpa kau selamatkan. karena aku akan jatuh sedalam yang tak ingin kukira, ditemani titik dan koma. kau tak perlu bersusah payah merangkai hal-hal yang indah. cukup perasaanmu saja yang ingin kubaca. maka tuliskanlah, apa yang tengah kau rasakan. jika itu rindu, katakanlah apa yang membuatmu mendamba. jika itu cinta, beritahu aku siapa yang membuat hatimu berdebar mesra. 

dengan membaca, aku ingin bertualang mengenalimu. tak apa jika tersesat. aku justru akan semakin jauh menyusurinya hingga barangkali mampu kutemukan degup jantungmu. kau boleh juga menulis tanpa menghitung jumlah kata. akan dengan rela aku menikmatinya sepanjang alinea-alinea. aku percaya kau memiliki bahasa yang mampu membuatku mengabaikan waktu. 

tetapi sebetulnya, maukah kau menuliskan aku? 

jika tidak mau pun tak mengapa. biarkan aku yang menulis untukmu. katakan saja apa yang ingin kaubaca dariku. barangkali puisi? aku punya lebih dari seribu kata untuk kau jelajahi, bahkan beberapa ratus di antaranya telah kau ketahui. tak akan bosan kutulis lebih banyak lagi. mungkin untuk menemanimu menyesap kopi, mendengarkan bunyi hujan yang jatuh di jalanan, menyambut redup senja di balik jendelamu, atau sekadar pengisi waktu luang. menjadi apa saja bagimu, kata-kata selalu berharap kaubaca hingga titik terakhir. 


bisakah kau tuliskan aku sesuatu?
sebelum kata-kata menjadi egois
dan menulismu tanpa koma
tanpa ingin berjeda

mungkin kau hanya perlu rindu
seperti yang hidup di dadaku
agar kau mengerti
sulitnya jatuh cinta seorang diri

hingga kata tak perlu lagi kaucari
sebab ia menghampirimu
bahkan ketika kau tak ingin
menyatakan perasaan itu

Thursday, March 9, 2017

Es Regnet Wieder

hujan basah malam ini menjatuhkan teduhnya di antara udara.
bising jalanan tidak lagi tersebar selain sayup-sayup lampu
berbicara antara aksara seperti tidak lagi perlu.
aku butuh suaramu untuk lebih lantang dari jatuhnya deru.

kau tahu, kita akan sama kuyup jika kau telaah dengan resah.
seseorang membahasakan rindu dari jauh, dari dalam puisi
dan kata-kata. seperti semakin lemah tidak butuh diucapkan
sebab yang paling ditunggu hanyalah sebuah ciuman.

mungkin di antara bait-bait terpisah, kau akan mengenal
sesosok perempuan dari masa lalumu tetapi dia bukan siapa-siapa
melainkan pemilik rindu paling kejam yang tak kau sadari 
bahkan namanya atau apa yang telah ia berusaha tuliskan.

sejak hari pertama bertemu, selepasnya gerimis mengecup badan kota
ketika lampu-lampu menguning meredup, kau memelukku 
untuk pertama kalinya. sejak saat itu kekasih telah tumbuh di palung
jantungku dan menulis puisi pertamanya sebelum kau mengajakku bicara.

maka jika aku telah menjadi hujan, kau akan tahu apa maksud
harapanku itu, sesuatu yang pernah kaudengar ketika aku berbicara
dengan salah seorang temanmu. menjadi hujan tak lain adalah upaya
menyentuhmu ketika kita seperti ini. ketika kita jauh dan merasa sepi. 

Wednesday, March 8, 2017

Abends Gedicht

sore datang sekali lagi
tanpa mengusirmu pergi
dari ingatan kerinduanku;
betapa pilu

sisa bahagia yang lampau
maha silau
dan mataku tertutup
seakan rindu akan meletup

debar ini membucah
seiring kau kian rekah
sebagai cinta 
atau perasaan lain yang fana

tetap saja aku harus melupa
tentangmu atau kita
dan cerita manis
dan kata puitis

sebab keakuanku paling tahu
kau bukan milikku; 
aku bukan milikmu


Tuesday, March 7, 2017

ich und Ich

Ivana:
puisi selalu ada dalam tubuhku. aku mulai lahir ketika membaca puisi yang ditulis ibuku. dan sejak saat itu, seluruh perasaan seperti rangkaian kata yang harus tuntas di atas kertas. aku menulis dan menulis. terlebih ketika bersedih, tak bisa kutahan kata-kata untuk tidak tumpah dari perasaanku. aku jarang sekali membalas sapa orang-orang, sebab aku tidak tahu cara berkomunikasi selain dengan puisi. tetapi di satu sisi, aku selalu bersyukur masih ada orang-orang yang mencintai kata-kataku; mencintai perasaan sedihku. aku selalu merasa dihargai oleh mata yang rela membaca apa yang kutulisi. meski sesungguhnya aku sadar, kata-kata dan puisi (atau apapun yang aku tulisi) tak pernah pantas dipamerkan. tetapi mungkin, jika orang lain membaca apa yang aku tulisi, maka orang itu akan membaca sebagian dari diriku. lalu aku akan merasa seperti sedang ditemani dan tak perlu lagi sendiri. karena sesungguhnya tidak banyak orang yang mengenaliku. aku pemalu dan jarang sekali berani mengenalkan diri. bahkan teman-teman di dekatku tidak banyak yang sadar oleh kehadiranku. tetapi aku tak lantas bersedih, sebab aku sudah membiasakan diri untuk bersembunyi. dan dengan menulis, aku bisa dibaca. 

Sha:
Nama panjang saya Ivanasha Adani Prasetianti. Saya lahir di Jakarta dan besar pula di sana. Kalau kamu tahu tentang saya lewat sosial media yang saya mainkan, berarti kamu belum mengenal saya. Melalu ini saya ingin sedikit (sekali) mengenalkan diri khususnya kepada kamu yang (terima kasih) mau mampir di tulisan ini. Saya ini orangnya suka bercanda, tapi melankolis dan puitis. Begitu sih kata teman-teman saya. Ya, mungkin saya betul melankolis, tapi saya menyerahkan urusan itu ke sisi lain di dalam diri saya. Selebihnya, saya lebih suka bercanda dan menutupi kesedihan. Saya tipikalnya akan tetap tesenyum meski sedang kecewa, semata-mata karena saya tidak suka suasana "menyedihkan". Saya suka bercanda. Saya ingin ketika saya sedang berbicara dengan orang lain, ada perasaan senang di dalam diri saya. Mungkin karena itulah saya menjadi orang yang senang tertawa. Meski pada nyatanya saya tak selalu berbahagia. 
Kamu bisa menyapa saya di sosial media yang saya punya. Saya senang diajak bicara, tetapi jangan modus, biar saya saja yang modus. Eh..? 
Saya ini masuk di kalangan orang-orang yang sehari-harinya berkomunikasi menggunakan lo-gue, meski saya sesungguhnya ingin sekali menggunakan bahasa yang lebih manis, tetapi yah, saya anak ibukota. Saya perokok dan suka minum kopi (tapi jangan tanya saya suka kopi apa, saya tak mengenal kopi, saya hanya menyukai kopi yang bersusu dan tanpa gula). Kapan-kapan kalau saya di Jakarta, kamu boleh mengajak saya minum kopi di kafe yang ada smoking area-nya.
Wah, sepertinya saya berbicara terlalu banyak...

Okay,

Jadi begini,
kamu mau kenal yang mana? 

Sunday, March 5, 2017

sedikit senja di dapurku


sore ini tak perlu teh hangat
tetapi segelas kopi
karena aku mengantuk
mengingatmu terlalu dini

aku membakar rokok
mengembus asapnya ke jendela
kulihat senja sedikit malu
dari bayang gedung-gedung

lepaslah penat hari ini
ingin berhenti merindukanmu
kusesap lagi hitam kopi
kutatap lagi senja itu

jingganya teduh
dan aku gagal lagi melupakanmu

—ivn.

Friday, March 3, 2017

Seperti Bulan Merindukan Langit

dan tahukah kau apa yang paling kurindukan?

jalan raya yang tak lagi bising, malam itu ketika kita melangkah melalui pohon-pohon yang melambai ke arahmu, ataukah ke arahku, tak sungguh kutahu, tetapi di sanalah kutemukan kita perlahan menghangat bahkan ketika angin berembus di balik rambut kita. seperti inikah akhir musim yang akan kulalui? sunyi tak lagi sedingin seharusnya.

terang bintang sayup-sayup terbias dari matamu, aku bahkan berdoa dalam hati semoga kau tak tersenyum, atau sekali lagi setelah matamu, aku akan jatuh cinta melebihi kemampuan rinduku. kau jangan dulu tersenyum, biar bahagia kita simpan sama rata di balik diam, biar sinar yang kulihat di tatapanmu menjadi bulan di malamku yang lain, biar tak perlu cinta ini berbicara terus terang.

tetapi ke sanalah rinduku paling liar berkendara, mengelilingi rekaman kita di bawah tarian daun-daun, mengulang lagi dan lagi teduh matamu, dan tak bisa berbohong. jika namamu memang harus ada di dalam hatiku, akan kusiapkan puisi sebagai tempat terbaik.