hujan basah malam ini menjatuhkan teduhnya di antara udara.
bising jalanan tidak lagi tersebar selain sayup-sayup lampu
berbicara antara aksara seperti tidak lagi perlu.
aku butuh suaramu untuk lebih lantang dari jatuhnya deru.
kau tahu, kita akan sama kuyup jika kau telaah dengan resah.
seseorang membahasakan rindu dari jauh, dari dalam puisi
dan kata-kata. seperti semakin lemah tidak butuh diucapkan
sebab yang paling ditunggu hanyalah sebuah ciuman.
mungkin di antara bait-bait terpisah, kau akan mengenal
sesosok perempuan dari masa lalumu tetapi dia bukan siapa-siapa
melainkan pemilik rindu paling kejam yang tak kau sadari
bahkan namanya atau apa yang telah ia berusaha tuliskan.
sejak hari pertama bertemu, selepasnya gerimis mengecup badan kota
ketika lampu-lampu menguning meredup, kau memelukku
untuk pertama kalinya. sejak saat itu kekasih telah tumbuh di palung
jantungku dan menulis puisi pertamanya sebelum kau mengajakku bicara.
maka jika aku telah menjadi hujan, kau akan tahu apa maksud
harapanku itu, sesuatu yang pernah kaudengar ketika aku berbicara
dengan salah seorang temanmu. menjadi hujan tak lain adalah upaya
menyentuhmu ketika kita seperti ini. ketika kita jauh dan merasa sepi.