Ivana:
puisi selalu ada dalam tubuhku. aku mulai lahir ketika membaca puisi yang ditulis ibuku. dan sejak saat itu, seluruh perasaan seperti rangkaian kata yang harus tuntas di atas kertas. aku menulis dan menulis. terlebih ketika bersedih, tak bisa kutahan kata-kata untuk tidak tumpah dari perasaanku. aku jarang sekali membalas sapa orang-orang, sebab aku tidak tahu cara berkomunikasi selain dengan puisi. tetapi di satu sisi, aku selalu bersyukur masih ada orang-orang yang mencintai kata-kataku; mencintai perasaan sedihku. aku selalu merasa dihargai oleh mata yang rela membaca apa yang kutulisi. meski sesungguhnya aku sadar, kata-kata dan puisi (atau apapun yang aku tulisi) tak pernah pantas dipamerkan. tetapi mungkin, jika orang lain membaca apa yang aku tulisi, maka orang itu akan membaca sebagian dari diriku. lalu aku akan merasa seperti sedang ditemani dan tak perlu lagi sendiri. karena sesungguhnya tidak banyak orang yang mengenaliku. aku pemalu dan jarang sekali berani mengenalkan diri. bahkan teman-teman di dekatku tidak banyak yang sadar oleh kehadiranku. tetapi aku tak lantas bersedih, sebab aku sudah membiasakan diri untuk bersembunyi. dan dengan menulis, aku bisa dibaca.
Sha:
Nama panjang saya Ivanasha Adani Prasetianti. Saya lahir di Jakarta dan besar pula di sana. Kalau kamu tahu tentang saya lewat sosial media yang saya mainkan, berarti kamu belum mengenal saya. Melalu ini saya ingin sedikit (sekali) mengenalkan diri khususnya kepada kamu yang (terima kasih) mau mampir di tulisan ini. Saya ini orangnya suka bercanda, tapi melankolis dan puitis. Begitu sih kata teman-teman saya. Ya, mungkin saya betul melankolis, tapi saya menyerahkan urusan itu ke sisi lain di dalam diri saya. Selebihnya, saya lebih suka bercanda dan menutupi kesedihan. Saya tipikalnya akan tetap tesenyum meski sedang kecewa, semata-mata karena saya tidak suka suasana "menyedihkan". Saya suka bercanda. Saya ingin ketika saya sedang berbicara dengan orang lain, ada perasaan senang di dalam diri saya. Mungkin karena itulah saya menjadi orang yang senang tertawa. Meski pada nyatanya saya tak selalu berbahagia.
Kamu bisa menyapa saya di sosial media yang saya punya. Saya senang diajak bicara, tetapi jangan modus, biar saya saja yang modus. Eh..?
Saya ini masuk di kalangan orang-orang yang sehari-harinya berkomunikasi menggunakan lo-gue, meski saya sesungguhnya ingin sekali menggunakan bahasa yang lebih manis, tetapi yah, saya anak ibukota. Saya perokok dan suka minum kopi (tapi jangan tanya saya suka kopi apa, saya tak mengenal kopi, saya hanya menyukai kopi yang bersusu dan tanpa gula). Kapan-kapan kalau saya di Jakarta, kamu boleh mengajak saya minum kopi di kafe yang ada smoking area-nya.
Wah, sepertinya saya berbicara terlalu banyak...
Okay,
Jadi begini,
kamu mau kenal yang mana?