Wednesday, March 15, 2017

Titik Balik Lagu Cinta

Sumpah!

Baru saja saya sadari betapa tega sebuah lagu dengan lirik yang optimis dan ceria, mampu membuat perih berserakan di rongga-rongga dada. Entah ada angin apa (mungkin angin kabar pernikahannya), saya memutar sebuah lagu yang menyimpan masa lalu yang sadis. Lagu ini dinyanyikan dengan merdu oleh Ten2Five dan berjudul Love Is You. Di dalam lagu itu, saya pernah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. 

Mungkin, lebaynya, jatuh cinta paling jauh selama hidup saya. Kenapa demikian? sebab dengannya, saya serahkan seluruh hati saya mentah-mentah. Saya perjuangkan apa pun, dan saya pasrahkan harapan-harapan saya di tangannya. Sementara ternyata, mencintai sekalah itu bukan berarti memenangkan cinta yang sesungguhnya. Pengharapan berbalik badan dan menjadi senjata yang ingin membunuh tuannya. Jika patah hati adalah luka, dikhianati harapan adalah perih yang abadi. 

Saya ingat beberapa tahun lalu, saat saya berangkat ke Studienkolleg, saya mendengarkan lagu ini sepanjang jalan. Saya tersenyum lalu menitikkan air mata. Betapa bahagia. Betapa perasaan saya diungkap oleh lirik-liriknya. Mengingat lagu ini diberikan oleh dirinya—dia yang kubilang jatuh cinta terjauhku. Pada saat itu, tidak ada lagi yang bisa saya syukuri selain berhasil mengenalnya di dalam hidup saya. Dicintai sehebat itu, siapa yang tak akan percaya? 

Kini lucunya, lagu itu sama sekali tidak terdengar membahagiakan. Lirik-lirik yang dialunkan mengingatkan saya pada perih yang masih sama. Tidak berubah, bahkan selalu basah. Sungguh bukan maksud belum melupakan, hanya saja begitulah luka pengharapan bekerja. Kata-kata yang dulu renjana, sekarang tak lain hanya janji yang terkoyak teringkari. Perasaan yang dulu kusalutkan, sekarang tak lain kenangan yang sepanjang waktu kusesalkan.

Maafkan saya, Ten2Five. Lagumu indah, tetapi lukaku menolak lupa.