Friday, December 27, 2013

Liebe Und Danke

"Aku sayang sama kamu Nat"
"Makasih ya udah sayang sama aku."

Dan kedua mata perempuan itu tidak bisa lagi berbohong. Air mata memaksa untuk turun membasahi pipinya yang tak mampu lagi tersenyum.
Mencintai lelaki di hadapannya bukan suatu pilihan. Ia juga tidak sengaja.
Karena sangat mengerti bahwa mencintai hati yang tak membalas mencintai hanya membawa luka dalam diri.

-

Itu cerita Anna, tokoh fiktif yang berada di film Refrain. Tentang hatinya yang hanya dibalas kalimat terima kasih.
Tentang cintanya yang tak sampai menyentuh hati sang lelaki.
Dan aku tau rasanya, aku mengenal lukanya. Meski itu hanya sekedar tokoh fiktif dengan cerita dan perasaan yang juga fiktif.
Tetapi jalan cerita cinta seperti itu hanyalah cermin dari kenyataan lalu lalang dalam hidup seorang manusia.
Dan aku tau rasanya, ketika mengatakan aku sayang kamu  yang hanya dibalas terima kasih.

Untuk apa menjawab "terima kasih" ketika seseorang menyayangimu? Menegaskan bahwa kau menerima cintanya dan tidak bisa membalasnya?

Untuk apa kata "terima kasih" dalam cinta? Ketika seseorang yang menyebutkan aku sayang kamu itu ikhlas menyayangimu. Dan sungguh, tidak perlu lagi kata "terima kasih" untuk perasaan setulus itu. Sebab "terima kasih" itu tidak terdengar sebaik yang kamu kira. Terima kasih itu egois. 

Kau menerima; belum tentu membalas.
Bukan maksud mengartikan cinta itu pamrih.
Tetapi cinta juga berhak untuk tidak disakiti. Dengan kalimat sesopan itu.

Salam hangat dari penonton,
Ivanasha.

Wednesday, December 25, 2013

Anruf

Di dalam mobil dengan kaca yang dihujani langit
Ia menatap kosong ke luar; ke arah jalan
Dalam benaknya berlari-larian pikiran tanpa arah
Mengundang satu dua memori yang telah lama berdiam di hari-hari sebelumnya

Ia mengingat sesuatu yang bahkan tidak bisa ia percayai
Tentang seorang pria yang berada di hidupnya
Yang ia cintai
Dan membalas mencintai

Sesederhana lamunan yang tidak pernah ia undang
Dalam perjalanan pulang ke rumahnya
Membuat sesimpul senyum menghiasi bibir 
Melahirkan debar hebat dalam dadanya 

Kemudian ia meraih telfon genggamnya
Mencari nama pria tersebut untuk kemudian ia hubungi

Tut.. Tut... Tut...


"Halo?"
Halo.
"Masnya? Aku kangen kamu."

Tuesday, December 24, 2013

Kind

Kaki anak kecil itu terpincang-pincang berlarian
Di kulitnya sudah menampak darah dari luka
Namun ia tetap pergi mengejar tiada
Entah kemana ujung larinya

Teman-teman lain memanggil nama anak kecil itu
Berusaha mengajaknya bermain di tempat lain
Kemudian anak kecil itu hanya menoleh sedikit, dan berkata

Aku mau kesana saja
Tapi kakimu sudah cedera
Tidak apa.
Apa kamu yakin?
Sangat yakin.



Monday, December 23, 2013

Bin Endlich Hier

Aku sudah di sini, sayang. Untuk sepintas waktu yang cukup bagi kita mengatur satu atau dua hari janji bertemu.

Akhirnya, dalam sedikit waktu yang kita miliki ini, kita berada di malam dan pagi yang sama. Sesederhana itu; bahagiaku.

Mencintaimu menjadi semakin terasa berbeda dari biasanya. Aku tidak bisa menahan diri yang kian hari semakin merindukanmu. Ingin sekali menemuimu, secepat mungkin. 

Dan tidak ada lagi pulau-pulau lain yang membatasi rindu berlebihan ini. Tetapi rindu justru lebih menyakitkan dari biasanya, sebab belum juga aku bisa memelukmu.

Maaf.
Ketidaksabaranku merindukanmu melebihi dari takaran seharusnya.

Maaf.
Jika aku mencintaimu melebihi wajar.


Let's meet.

Tuesday, December 17, 2013

Menjelma Menjadi Tiada

Ada mata dalam kata
Yang memperhatikan makna di setiap irama
Bagaimana ia berbicara
Atau menjawab tanya-tanya

Cinta bukan lagi alasan 
Dari rindu yang kian berperan
Dan bukan juga hiasan
Yang hidup dalam perasaan

Cinta itu ada
Meski tak pernah kau anggap nyata

Rindu itu juga ada
Meski tidak pantas kau percaya.


171213

Monday, December 16, 2013

Eifersüchtig

"Cemburu adalah peluru melesat memburu menembus hatimu. Curiga adalah senjata yang membunuh rasa mematikan kita." -AnjiDrive.

Cemburu. Apa itu cemburu? Yang aku paling tau darinya adalah perasaan yang tidak pernah hati terima keberadaannya. Manusia mana yang akan berlapang dada menerima cemburu meraja dalam hatinya? Perasaan itu biasa aku sebut sebagai yang membakar dan mengakar. Menyulut api paling panas yang tidak berwujud di depan mata, namun bisa aku kenali keberadaannya saat tiba-tiba hati ini terasa menyesak. Mengakar hingga kadang menjadi perasaan yang berbeda tipis dari alasannya; cinta; benci. 

Namun cemburu bukan berarti harus dikarenakan pihak ke-tiga dan bisa juga tidak mengakar di ujung kebencian. Aku mengenal perasaan cemburu lainnya, yang kerap aku rasakan dan bagiku, ini terlalu kekanakkan untuk aku utarakan. Tapi ya, aku cemburu. Dan aku manusia. Aku merasakannya tanpa aku mau; bahkan tanpa aku tau. Dan aku terlalu cerewet untuk berdiam tanpa menulis apa yang sudah beranak-pinak dalam dada. 

Aku cemburu karenamu. Aku cemburu terhadap segala apapun yang berada di dekatmu. Yang bisa melihatmu. Yang bisa merasakan sentuhanmu. Aku cemburu terhadap cangkir kopi pagi yang kau seruput. Aku cemburu terhadap layar laptop yang sangat sering kau lihat. Aku cemburu pada bantal yang biasa kau tiduri. Aku cemburu pada selimut yang biasa menghangatkanmu. Aku cemburu pada matahari di atas kepalamu, yang setia membuatmu berkeringat kepanasan. Aku cemburu kepada pintu yang selalu kau pegang sebelum kau melaluinya. Aku cemburu kepada piring makanmu. Aku cemburu kepada seluruh. Seluruh yang ada padamu, saat aku sedang tidak bersamamu.

Cemburuku posesif.  Aku tau itu. 
Tapi cemburuku beralasan. Dan bersediakah kau membaca alasanku juga? 

Aku cemburu, karena aku ingin berada di sampingmu. Aku ingin menjadi bibir yang kau kecup seperti kopi pagimu. Aku ingin kau lihat seperti kau melihat laptopmu di waktu kerjamu. Aku ingin suatu saat dapat tidur satu bantal dengan halal bersamamu. Aku ingin menghangatkanmu juga, menggantikan peran selimutmu. Aku ingin kau sentuh. Aku ingin menemani makanmu. Aku ingin dapat menikmati waktu bersama berdua; denganmu.

Cemburu kekanak-kanakkan ini yang aku sebut sebab akibat dari mencintai sosokmu. Sosok yang jauh dan belum bisa aku temui. Sosok yang membuatku tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana saat bertemu dengannya. Sosok asing yang paling aku kenal dalam diri. Sosok yang selalu aku nanti setiap malam, hanya untuk sekedar 'Selamat malam, Sayang.' yang mungkin akan ia sampaikan; meski tidak selalu ada. Sosok yang juga setiap pagi aku nanti, hanya untuk sekedar 'Selamat pagi, Sayang.' yang mungkin juga ia sampaikan setelah lupa menyampaikannya malam hari; meski kadang juga aku tak mendapatkan keduanya.

Aku cemburu, sebab tidak selalu aku bisa meminta waktumu. Bukan seluruh yang aku mau. Tapi sebelum dan sesudah tidur saja. Sehingga aku tau bagaimana kau menutup harimu, dan memulainya. Sehingga setiap malam aku tidak perlu kesusahan tidur; memikirkanmu. Aku tau perasaan ini tidak perlu. Tapi aku hanya menyampaikan apa yang hati selalu ingin sampaikan. 

Seperti ini aku mencintaimu, Sayang.
Seperti sedikit harapan untuk bisa mencintaimu sesisa umurmu.

Satu lagi,
Aku ingin berada di sela kepalamu. Menjadi yang mengganggumu seharian. Seperti keberadaanmu di kepalaku. 
:]

Ich Weiß Noch Nicht

Aku ingin berada di sana, di tempatmu berada, di sampingmu, bersisian
Dan akan aku tagih pelukan-pelukan yang kau janjikan
Kemudian sama-sama tenggelam dalam cerita yang bukan lagi sekedar bermimpi
Sentuhan yang selama ini saling kita idamkan

Aku ingin tetap membayangkanmu memelukku
Bukan sekarang, tak apa
Mungkin nanti, suatu hari
Di saat aku sudah berhadapan denganmu, dan siap kau rengkuh

Aku tidak pernah tau bahwa cinta bisa sebesar ini lahir dari dadaku
Belum pernah mengira bahwa mimpi bisa seliar ini
Berkelana hingga ke lain benua
Memeluk sosok yang belum pernah mata sapa

Beginilah; mencintaimu.

Saturday, December 14, 2013

Puisi Sebelum Kamu

Ketukan dalam hati menggema
Satu suara yang semakin terbaca
Keras-keras meski sedikit samar
Ialah nama dalam layar

Kian hari semakin sakit
Pedih pedih menghimpit
Sebab dada mememar
Anak dari rindu yang tampak tegar

Kita, bahkan belum tau
Bagaimana mata menjadi satu
Tetapi perpisahan sudah mengasap api
Serupa degup hati yang menagih lagi, dan lagi

Hati menegaskan maunya
Dia, dan peluknya
Namun juga amat tau suatu saat waktu menjawab
Pertemuan; juga adalah perpisahan
Dan akan kembali datang rindu yang biadab

Bisa apa aku, pemilik hati
Selain bahagia karena aku kau temui
Namun juga menangis sendiri
Setelah pertemuan, kau lepas lagi pelukku ini...

IAP.

Monday, December 9, 2013

Wer Ist Dia?

"Cinta itu indah, tapi ngejalaninnya ga semudah dan semulus cerita di dongeng. Gua gak perduli orang yang mandang sebelah mata hubungan gua sama dia. Gua gak takut sama orang-orang yang berusaha sekuat tenaga buat ngancurin dan misahin gua sama dia. Tapi yang gua takutin cuma satu. Yaitu saat gua ngebuka mata gua di pagi hari, dan gue tau kalo dia udah gak cinta lagi sama gue."
-Vino&Marsha-

It explains everything I think about our love, and what I'm afraid of. 

Gue jatuh cinta sama orang yang bahkan cuma ada di mimpi gue. Sama orang yang cuma bisa gue temuin di layar laptop gue. Sama orang yang kepisah jauhnya 14ribu kilometer dari tempat gue berada. Dia kayak gak real, sekaligus dia amat sangat real. Ga ngerti lagi gimana gue harus describe dia di hidup gue. 

Dia dateng tiba-tiba. Orang paling baru di hidup gue yang malah nunjukin gue perasaan cinta yang dalem banget sampe mentok ke hati gue. Dia sentuh itu. Dan dari dia gue belajar gimana caranya sabar. Dari dia gue ngalamin pengalaman cinta yang bener-bener baru. 

Dimana gue cuma bisa meluk cium dia dalem mimpi. Dimana orang sekitar gue ngatai-ngatain gue cuma karena gue jatuh cinta. Berhubung gue jatuh cinta sama orang yang gak ada di depan mata gue. They said, I should be more real than this. They said, he's just a stranger . They said, he's a skype boyfriend. Persetan. Fuck them. Gue tutup kuping gue rapet-rapet dari segala pernyataan yang nyakitin telinga gue itu. Tapi gak nyakitin hati gue. Jujur, karena dia yang bikin gue tenang. Dari dia gue bisa sabar. Dia janji mau buktiin ke mereka kalo kita berdua bisa more than this. Kalo kita berdua bisa real dan gak cuma skype relationship. 

Bukan pernyataan orang-orang yang bikin gue down. Justru apa yang ada dalam otak gue sendiri yang bikin gue down. Seperti kutipan di atas, dari film pre-wedding nya Vino G. Bastian dan Marsha Timothy, ada sebaris line yang bikin otak dan hati gue ga tenang. "Yang gua takutin cuma satu. Yaitu saat gue ngebuka mata gue di pagi hari, dan gue tau kalo dia udah gak cinta lagi sama gue"

Bukan gue takut sama diri gue sendiri yang akan nyerah. Justru gue takut kalo dia yang nyerah. Kalo suatu pagi dia berpikiran untuk gak lagi ngejalanin hubungan yang keliatan tidak real dan hanya ngebuang-buang waktu ini. Gue takut kalo dia suatu pagi sadar kalo gue gak pantes dia kejar. Kalo gue not that good untuk dia perjuangkan. Gue bener-bener takut. Dan pikiran kayak gitu yang suka bikin gue down. Karena gue sendiri gak merasa diri gue good enough for him. 

Gimana engga, gue ini jauh di sini dan dia di sana. Dan ada dunia dia yang gak gue pahamin. Banyak cewek yang mau sama dia! Siapa sih gue? Cuma stranger coy. Oh, this thoughts hurts me so bad. Karena gue udah mulai merasa sayang keterlaluan ke dia, gue jadi over thinking. 

Shit, I actually don't wanna grip the sand too tight. Gue gak mau menggenggam cinta yang gue punya terlalu erat. Gak mau menggenggam pasir terlalu erat karena ia akan lepas dari tangan gue. Dan sebenernya gue sadar banget ini cuma pikiran-pikiran aneh dan perasaan takut aja dari diri gue sendiri. I know I'm being childish right now. But I just don't wanna lose him. 

Sama dia gue ngerasa nemuin dunia baru yang bikin gue senyum-senyum sebelum tidur, dan setelah bangun tidur. Sama dia gue bisa jadi diri gue sendiri. Sama dia gue bisa tau gimana rasanya dicintai jauh dari benua lain. Sama dia gue ngerasa kalo LDR itu bisa gue jalanin. Sama dia gue bahagia. Dia yang gue butuhin buat hidup gue sekarang, dan nanti. Satu lagi hal asing yang gue rasain ketika gue jatuh cinta sama dia; Gue jadi bisa ngerencanain masa depan gue lebih terarah. Gue jadi tau tujuan gue kemana. Karena dia memperjelas visi yang gue punya. 

Dia, Dian. 

Thursday, December 5, 2013

Diese Beide Füßen Laufen Dorthin

Perlahan aku melangkah ke arah yang sebelumnya belum pernah ku baca dalam peta. Entah kemana kaki ini pergi. Aku hanya bisa menatap gerakan langkah kakiku sendiri, tanpa bertanya, atau meragukan inginnya. Bukan berarti aku berpasrah kepada jejak-jejak asing ini. Tetapi aku hanya berserah kepada waktu. Biar. Sampai semua terjawab oleh waktu, tidak akan ku hentikan langkah kaki ini yang mulai sedikit tergesa-gesa.

Kau, telah tanpa sadar menjadi satu-satunya yang kaki ini kejar. Persetan dengan beberapa ranting tajam yang sempat menyandung mereka. Membuatnya berdarah tak karuan. Toh, darah itu akan kering jika aku tetap berjalan. Lukanya bukan apa, melainkan hanya bukti bahwa rindu ada dalam perjalanan. 

Sebab kelak, aku ingin kaki ini sampai ke hadapanmu. Memberi tanda ke tubuhku untuk segera bergembira, memelukmu, menciummu, penuh cinta. Menggantungkan kedua tangan kepada lehermu. Meminta hangat tubuhmu yang sebelumnya hanya hidup dalam kepalaku. Dalam imajiku. Kelak aku ingin kaki ini menyadari bahwa perjalannya kemarin-kemarin adalah bukan percuma. Bahwa darah yang telah mereka derita hanyalah rindu yang sedikit menggoda.

Tapi, Kekasih. Rindu malah menjadi-jadi. Mengisak dalam mataku. Dan tidak pernah aku kira ia sebengis ini. Tidak bisa aku menahan keberadaannya yang ternyata kian melukai; bukan hanya kaki. Tetapi dada ini yang semakin menginginkanmu setiap aku sadar bahwa kau belum bisa aku raih; hampir setiap hari. Dan aku tidak benar-benar tau bagaimana bisa aku melanjutkan perjalanan, jika jejakmu di depan semakin tidak dapat aku lihat; memudar. Entah kau berada dimana,  entah ke arah mana kau berjalan. Aku pun tidak memiliki kekuatan untuk menyembuhkan diriku sendirian.

Bisakah kau memutar badan, menjemput aku dari kesendirian. 
Menemaniku melalui impian, melanjutkan perjalanan?

Sebab aku hanya ingin sepasang kaki ini, menemani sepasang kakimu, bersisian.



Sunday, December 1, 2013

Du Muss Schlafen, Schatz.

Kamu harus tidur.
 
Matamu, meski aku belum dan tidak bisa melihatnya secara langsung, sudah lelah. Tubuhmu bahkan sudah tak seharusnya memulai hari tanpa tidur. Tidur, sayang. Jika kau enggan tertidur sebab ada rindu yang belum selesai, selesaikanlah dalam lelapmu. Impikan rindu dalam wujud nyata di mimpimu. Bahasakan cinta sebebas yang kau mau, seliar yang sebelumnya telah kau pikirkan, dalam mimpimu. Biarkan cinta dalam dadamu mengistirahatkanmu dengan mimpi indah di tidurmu. Terjemahkan semua keluh kesahmu tentang rindu yang belum selesai itu dalam istirahatmu, Sayang. Hingga tak bersisa lagi perih di dada sebab harap bertemu mata. 

Impikan aku dalam istirahatmu. Cintai aku dalam wujud yang dapat kau sentuh dan kau peluk. Biarkan imajimu bermain dengan bebasnya dalam mimpi. Sambil tubuhmu menenangkan lelah yang telah merangkulmu seharian.. (dan aku tak bisa melihatmu kelelahan). Temui aku di tempat biasa. Di lorong mimpi yang selalu kita punya. Di fantasi masing-masing. Di langit kita masing-masing. Bawakan aku senyummu yang selalu menjadi bagian mimpiku. Temui aku, berikan aku senyummu. Tidur. Tidur sayang. Agar apa yang aku bicarakan bisa menjadi nyata dalam bunga tidurmu. Agar kita bisa berpelukan, bergandengan tangan, dan berciuman di lorong-lorong fantasi itu. Kenang aku sebagai bagian yang tak bisa pergi dari malammu.. 

Kamu harus tidur.

Matahari sudah naik di atas kepalamu. Bukankah harusnya sinar surya dapat menamparmu tersadar bahwa kau telah harus mengecup kasurmu? Tidakkah ia menyilaukan matamu yang letih itu? Ah, Sayang.. Tidurlah. Sebelum aku semakin mendamba mencium matamu itu. Mata yang butuh tidur itu. Kemudian mencium bibir itu juga. Bibir yang melahirkan terlalu banyak alasan untuk tidak tidur. Bibir yang mengucap terlalu banyak rindu untukku, membuatku tak bisa sedetikpun tak membalas rindu itu. 

Sudah hampir siang, Sayang. Kamu harus tidur. 
Sebelum matahariku mengucapkan pagi ke langitku. Sebelum langitmu terlanjut terlalu terang menyambut mimpimu. Kamu benar-benar butuh tidur. Dan jadikan tulisanku ini nyata. Nikmati mimpimu, istirahatkan tubuhmu, cintai aku lebih dari yang aku mau, dan temui aku di lorong itu.. Tempat kita bermain dengan imaji kita yang paling samar; Cinta.

Tuesday, November 26, 2013

Farbe

Ada spektrum warna aneh yang aku lihat dari kamu. Sesuatu asing mengelilingi kepalamu. Apakah itu? Selalu mengganggu mataku, membuat penasaran. Merah, bukan. Biru, bukan, Hijau, bukan. Warna lainnya pun bukan. Mungkin aku belum mengetahui nama dari warna tersebut. Mungkin juga tidak ada seseorang yang mengenal namanya. Tapi aku amat yakin itu salah satu dari warna yang ada. Di atas kepalamu, di air wajahmu. Di sekitarmu. Ada warna itu.. 

Ah, ternyata itu hanya warna dari mata seorang yang jatuh cinta. 

:]

Sunday, November 24, 2013

Verlangen

Kalau saja waktu tidak sejauh ini bedanya. Kalau saja tanah yang kita pijak tidak terasa sebegini bedanya. Kalau saja menemuimu semudah menunggu hari Sabtu dan Minggu. Kalau saja menghubungimu semudah meminta nomor hp-mu. Kalau saja aku bisa menyentuhmu.
Mungkin aku tidak akan semerindu ini...

Bagian paling menyesak dari mencintaimu adalah merindumu. Jika aku bisa menepikan sebentar saja perasaan rindu ini, maka aku tidak akan selalu mengeluh dalam tulisan-tulisanku. Maaf jika kamu bosan membacanya, maaf jika isinya tak mampu menyentuhmu saat tulisan ini berusaha memberitahumu semua tentang malam-malam yang aku habiskan merindumu. Maaf jika kata-kataku tak semanis yang kamu harapkan. Maaf jika rindu ini salah, jika rindu ini tidak tau diri. Maaf, aku merindu berlebihan.

Semalam sempat aku bermimpi, mempertanyakan diri kenapa tidak pulang saja akhir Minggu ini.. Sempat lupa bahwa keberadaanku tidak sedekat itu. Sempat terlalu terburu-buru berharap dapat menemuimu. Sempat terlalu bersemangat. Sebab menemuimu telah menjadi keinginan yang semakin menjadi-jadi setiap hari. Membayangkannya saja mulai tidak cukup. Sumpah, di pagi buta seperti ini yang paling pertama menari dalam pikiran hanyalah namamu, dan wujudmu yang berupa memori sederhana. Kesederhanaan yang bisa menuntunku gila. Senyummu, tawamu, caramu berbicara, caramu membayangkan sedang menatapku langsung, caramu menyatakan cinta, caramu menyatakan rindu, caramu memanggil namaku, tulisanmu, semua tentangmu yang bisa membuatku gila. Tergila-gila. Aku terlalu suka denganmu, dan apapun yang ada padamu..

Bagaimana rindu ini harus aku bahasakan, Sayang? Lama kelamaan wujudnya mulai menggores dada. Menyisakan luka. Terlalu merindumu membuatku tak sabar melawan waktu. Aku ingin bertemu. Aku ingin kamu.

Ya Tuhan, lagi-lagi aku memintaMu..
Aku amat tau, bukan dalam waktu dekat aku dapat menemuinya, tapi tolong.. Selama aku belum bisa menemuinya, jaga rindunya untukku juga. Sebagaimana aku selalu merindu dalam tidurnya. Sebagaimana aku menjaga rindu ini tetap terjaga memeluk tubuhnya dalam imajinasi. Sebagaimana aku merindunya tanpa henti...

Dengar aku, Tuhan.
Jaga rindunya seperti aku menjaga rinduku...

Friday, November 22, 2013

21 November

Hari bahagia itu telah usai, dan ternyata aku lalui dengan senyum. Jujur, karenamu. Kue super lucu dan lilin dengan angka sembilan belas itu mengawali tengah malam perpindahan hari. Subhanallah.. Satu-satunya hal yang paling aku nanti, ternyata Tuhan kirim melaluimu. Tangisan-tangisan yang hanya aku adukan kepadamu, telah kamu hapus dengan kejutan sederhana. Padahal kamu jauh, ribuan kilometer jauhnya. Tapi kamu yang melukis hari ini dengan penuh warna.. 

Kalau ada permintaan yang instant, yang bisa terkabul detik ini juga, aku hanya ingin kamu.. Aku ingin bertemu dengan kamu. Berterimakasih secara langsung, memeluk, dan menciummu sedikit. Karena kebahagian yang telah kamu kasih sangat menyentuh hati! Entah bagaimana harus aku ungkapkan, betapa hati ini sangat menginginkan sosokmu. Betapa hati ini tlah kamu buat jatuh cinta. Betapa hati ini amat sangat berterimakasih.. 

Juga kepada-Nya, aku ingin bersyukur, alhamdulillah.. telah Ia kirimkan satu jiwa yang mencintaiku dengan sempurna. Mengirimkan aku bahagia dari ujung benua sana. alhamdulillah ya Rabb.. 

Kalimat terima kasih yang berada dalam hatiku, sungguh telah lumpuh jika aku ungkapkan dengan kata.. Aku tak tau bagaimana harus menuliskannya. Tapi aku berharap, kamu mengerti maksud dari tulisan sederhana ini, dan aku berharap cinta yang aku miliki, sampai dan hidup dalam dadamu. Aku ingin kamu paham, how much I love you, how much I'm feeling so grateful to know you in my life. One day after I knew you, I said that you were no longer stranger. And indeed, aku tidak mengambil langkah yang salah untuk mengenalmu dan mencintaimu sedalam ini.

Aku mencintaimu, sebab Tuhan. 
Kamu adalah hadiah terindah dari-Nya di hari ini.
Dan insha Allah, di hari nanti..

:]

Wednesday, November 20, 2013

20 November

Aku di sini hanya duduk, melayangkan pikiran sempit ini ke ruangan-ruangan yang sempat setahun aku lupakan. Dari kepala, jatuh ke dada. Pikiran indah itu, harusnya kukenang dengan bahagia. Tetapi sekarang yang ada justru sakit yang menyesak. Aku biasa menghitung hari satu satu. Sedikit demi sedikit. Menghampiri hari yang biasanya aku nanti. Aku biasa menyiapkan diri untuk senang atau bahagia. Namun biasanya aku bisa sadar diri, aku masih di samping mereka.. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari itu. Akan sesedih apapun, aku tetap bersama mereka..

Namun kali ini, tahun ini, bulan ini, mendekati sang hari, aku berusaha untuk menyiapkan diri. Sesenang atau sesedih apapun nanti. Tetapi ternyata belum bisa. Atau bahkan tidak bisa sama sekali. Padahal aku tau aku tidak sendiri. Walaupun, mereka tidak di sini, harusnya aku bisa merasa bersyukur dengan sesiapapun yang sekarang sedang menemani. Tapi ya Allah, maaf aku belum bisa.. Dari beberapa hari sebelumnya aku telah berusaha, tapi belum bisa.. Aku juga ingin menyambut hari itu dengan senyum, bukan tangis. 

Aku cuma kangen sama mereka, boleh ya?


Antwort


Aku berusaha membantumu menafsirkan mimpi
Hingga tak lagi gelap yang menemani dudukmu sendiri
Menggapai terang untuk satu jawaban
Satu-satunya alasan sebuah kepastian

Apa arti dari beribu tanya yang kau haturkan
Tentang jarak atau masa yang berlainan
Merindu wujud untuk menjadi lebih dari nyata
Agar bisa menjadi bukti kekal sebuah cinta
Sungguh itu bukan hal yang utama, Sayang...
Sebab apalah mimpi sebelum cinta menyerang..

Asa-asa yang menggema dalam bunga tidur
Sesungguhnya kekal dalam jalur
Sebab sedikit kau genggam sang sinar
Abadilah dirimu dalam cinta yang berpendar

Bisikan-bisikan itu akan sampai; tentu.
Pada telinga mahligai waktu
Janjimu terpahat tajam dalam asa
Suatu penantian demi kekasih di abadinya suatu masa..

Ivanasha Adani Prasetianti

Tuesday, November 19, 2013

Di Tempat Lain

Mungkin tubuhku sedang tak berdiri sejajar
Tak meluruskan tegak berdirinya dengan garis dalam hadap
Hingga hampir jatuh tak kuat menopang gemetar
Sedikit demi sedikit tersesat dalam peluk gelap

Lama setelahnya benar-benar tak kuat lagi bernafas
Hingga kaki pun semakin melemah tak ada daya
Tak peduli lagi bagaimana sang paras
Mencerminkan kuatku yang tak lagi jaya

Aku begini, karena siapa?
Aku begini, karena apa?

Keheningan menjadi satu-satunya lawan bicara
Tak ada jawaban pun, biasa
Sudah tak mampu lagi aku mengolah kata
Selain terjatuh, terluka, menangis, berusaha mencinta

Semakin dalam diam angkat bicara
Berusaha mencari jawab dari tanya
Melihat ke dalam luka di dada
Apa sebabnya?

Aku begini, karena kamu.
Aku begini, karena rindu.

Setelahnya, aku tak ingat lagi apa-apa
Hilang ingatan mungkin salah satu jalan keluar
Dengan membalas senyum cinta tanpa air mata
Kemudian rindu hilang, berhenti menjalar

Sudah terlampau lama rindu bertahan menopang jiwa
Hingga ia tak ada lagi nyawa
Hingga bahkan tak mampu lagi menjadi alasan cinta
Rindu pun menyerah, pergi, mencari bahagia

Di tempat lain...

Ivanasha,18112013.

Monday, November 18, 2013

Akzeptieren.

Sungguh tidak akan aku janjikan kisah yang indah di antara kita berdua. Bukan kisah yang selalu bahagia yang ingin aku miliki berdua denganmu, sayang. Melainkan kisah yang apa adanya, yang memiliki senang dan sedih. Dalam senangnya kita bisa tertawa bersama sambil memeluk tubuh satu sama lain, berlindung dari dingin dunia. Dalam sedihnya, kita menangis bersama, atau memaki satu sama lain. Sebab apa sayang? Sebab kita bukanlah manusia sempurna.. Kita melakukan kesalahan yang sadar atau tanpa kita sadari. Dan akan kita hadapi itu, sayang. Dalam hubungan kita kelak, akan kita miliki kisah yang tanpa jeda. Dengan benar dan salah masing-masing diri kita, kita akan tetap menerima satu sama lain. Dalam kelebihan atau kekurangan yang sudah menahun kita miliki sejak kita terlahir..

Menerima keberadaan asing ke dalam hidup, bukan sesuatu yang mudah. Mencintai seseorang pun bukan hal yang aku sebut mudah. Menanggung konsekuensi dari arti berbagi. Berbagi hati, berbagi cerita, berbagi waktu, berbagi hidup. Dan semua itu aku ingin lakukan berdua bersama denganmu, sayang. Mempersilahkan kamu masuk ke dalam ruang hidupku yang sempit. Yang tak luput dari kekurangan, dan tak luput dari kesalahan. Aku masih manusia biasa yang tak sempurna. Begitupun dirimu, sayang. Sosok yang tadinya asing, ingin sekali aku terima masuk ke dalam hati ini. Ke dalam hati yang aku miliki seorang. Satu-satunya hati yang aku punya dalam dada, ku serahkan semua seutuhnya untukmu, kekasih. Dengan harapan aku dapat menikmati hidupku selanjutnya berpegangan tangan denganmu. Tersenyum dalam pelukanmu, dan menyusuri jalanan setapak berangkulan dengan tubuhmu. 

Semua mimpi yang sekarang aku miliki, menyebut namamu di dalamnya. Dengan nafas cinta yang kuhela setiap pagi, merindu keberadaanmu yang belum ada di sebelah jiwa. Menerimamu dalam wujud fana, sudah. Dengan membayangkan bagaimana kelak kita akan menjalani persamaan dan perbedaan dalam waktu kita berdua. Menelusuri kehidupan di bawah tangan Tuhan. Kau telah berhasil menjadi mimpi indah paling biadab yang menggores cinta. Kau telah menjadi bagian dari cinta yang aku simpan  dalam jelaga. Sosokmu kemudian sudah tak lagi asing dalam mata dan telinga ini. Tubuhmu telah sangat hidup dalam lenganku. Meski belum nyata rupanya.. Namun aku tau, cinta yang aku miliki untukmu, dan harapan yang aku jalin tentangmu, adalah benar. Dengan yakin dan amat yakin telah aku rajut sejuta kalimat doa untuk kita berdua..

Aku mencintaimu dengan menengadahkan tangan kepadaNya. 
Sehingga kita berdua bisa saling memiliki seutuhnya.
Saling mencintai dan menerima, tanpa tanda tanya.


Tuesday, November 12, 2013

Der Gründ Meiner Schreibe

Kau selalu bisa menjadi alasan untukku menulis sesuatu. Menulis hasrat yang tak pernah sempat kau baca, atau yang bahkan tak sampai kepada mata dan telinga milikmu. Seperti rindu yang hampir saja hilang dengan disaingi keberadaan waktu. Dengan terbiasa aku telah menyukaimu lebih dari seharusnya. Perasaan sukalah yang melahirkan rindu itu. Rindu-rindu yang tak sampai dan tak terbaca. Mereka lahir dari matamu, dari bibirmu, dan dari kalimatmu. Dari hal-hal tentangmu yang aku cintai. Mereka tak jera menghampiriku untuk meminta pergi. Untuk sampai ke hatimu. Untuk dapat kau ketahui, dan bukan hanya berdiam sebagai perasaan yang tak tersentuh lalu kemudian mati. Seringkali aku terbangkan mereka di malammu, saat kau tertidur. Berharap rindu-rindu itu tak akan tersesat di perjalanan jauh. Namun kemudian, setelah pagi datang, yang aku ketahui hanyalah bahwa rindu selalu mati di perjalanan. Sehingga yang kembali hanyalah satu atau dua bagian tubuhnya. Yang mengadu kepadaku; Perjalanan terlalu jauh, dan tak sanggup ditempuh. 

Bukan sekali dua kali pula keinginanku mati di perjalanan. Entah berupa bisikan rindu dari bibirku yang kemudian hanya menjadi abu. Ataupun cinta yang hanya bisa terbang tanpa arah, kembali, dan tak mau lagi berkelana selain di dalam hati sendiri. Hingga sempat bosan aku mengalami kekalahan. Namun tak ada lagi keinginan bagiku untuk mengeluh hanya karena mencintaimu. Aku memilih untuk mencintaimu; ketika sebenarnya aku bisa memilih untuk tidak. Aku bisa memilih untuk mengambil langkah lain, membunuh perasaan dan keinginan yang berlebihan. Tapi ini yang telah aku pilih, aku ingin mencintaimu dengan setulusnya. Dan tidak akan mengeluh.

Aku ingin terus bermimpi tentangmu. Aku akan menikmatinya.
Meski rindu tak pernah sanggup sampai ke telingamu. 
Namun akan terus aku coba; dan tidak akan bosan mencoba.
Aku rindu kamu.

Was Gut Ist, Ist Auch Was Schlecht Ist.

I don't wanna cry loving you

But what should I do? there is always a sad moment for me, when I think about you. I'm so curious. When will we be together, like, really together? When will you be here.. Questions like that bother me. Cause the way you made my heart beat too fast, hurts me. It hurts so bad, dear. Its like, Why am I loving you too hard? Why am I wanting you so much? Do you feel the same way like I did? Questions like this, again, bother me. 

But I want to believe on this. I want to wait. Because I know I'm in love. I want to keep waiting and believing, as long as you still show me your heart. As long as I still can touch you in my dream. Cause you are the sweetest dream I wait for in every night I had. I want to go with you, to wherever path we talked about. You are also the strongest hope I ever had, and the most colorful fantasy I ever imagined. But one thing, even though you're good thing for me, you're also bad. Because you make me insane. Sometimes I'm feeling so down, just by thinking that you're too far from me. And knowing that this distance is something we can't deny yet. We are way too far separated. You can say it's 17 hours flight. And it's undeniable. I'm crying on my silence, don't you hear that, dear?


Sunday, November 10, 2013

Angst.

Oh My God, I miss him so.

I think it kills me. For the first time I feel that a time difference is sucks. For the first time for sure. Since I lived in Germany, and experiencing a time difference with my homeland, which is long enough to make me suffer this longing so bad. I swear. I never thought about it this much before. I was like; Oh yaudah, I'll find the right time to contact them, or so. But this, I really can't wait! I want time goes faster till he wakes up. I don't wanna get sleepy, please. I want to talk with him more and more. Yes, I'm feeling like this because of him. Damn you, bloody boy. Why can't you stop running around on my mind? I can't even hold my finger to stop writing. I want to write 'I miss you' thousand times for you. Because all I can do is just write to you.. I can't say it. I'm too afraid. Too shy to say. And how could I express my heart to you, but write you a simple poem. Remember, right? Life is a poem. Did you know why I always post something on my Tumblr? Because it's for you to read what I can't say, Schatz..

Oh God, here I am again. Trying to pray to You. I like him. I like him a lot, God. After so many heartbreaks I got, I finally fell in love again. Please don't let me choose the wrong path. Or at least, keep his love for me God. The way You keep Your love for me. Let it be right. Let me like him. This far, I felt he's right. Let me be sure.. 
I'm afraid, God..

Friday, November 8, 2013

Wieder Lieben.

"Pagi itu kita bangun masih sebagai orang asing, tidak mengenal nama atau rupa. Saling menyapapun tidak. Kita tadinya hanyalah 2 jiwa dengan pagi di waktu yang berbeda.."

Di waktu yang tidak pernah sebelumnya aku duga, kamu datang melangkah dengan ringan. Mengetuk pintu hati yang tadinya tertutup rapat. Amat rapat. Sebab sempat tidak ada niat sama sekali bagiku untuk membuka celah pintu itu. Namun entah mengapa tergerak rasanya untuk membukakan pintuku yang kamu ketuk itu. Mungkin ketukanmu amat pelan, namun terdengar menggema hingga seluruh dinding ruangan di dalam pintu aku. Berisik. Menggoda.
Sedetik aku mengintip, membuka pintunya sedikit, melihat kamu. Tersenyum di depannya. Dan tanpa paragraf pembuka kamu mencuri hati ini. Dari celah yang hanya sedikit untuk mengintip, malah aku buka lebar agar kamu bisa masuk. Awalnya sempat melahirkan tanya; siapa dia. 

Siapapun dia, siapapun kamu, aku ingin mengenalnya. Sebab hati tak pernah bisa mengelabui diri sendiri. Aku merasa tercuri. Hanya dengan beberapa hari setelah kau ketuk perlahan hati ini.  Aku akan mengenalmu dengan baik, semoga aku tidak salah memilihmu untuk menjadi tamu  dalam ruang tamu di hatiku. Kemudian aku pun sadar, semakin lama aku mengenalmu, semakin habis saja aku. Aku tidak bisa lari lagi. Aku telah benar-benar jatuh hati. Keberadaanmu menyenangkan hati ini. Hati yang sempat tak peduli dengan sesiapapun yang berusaha memasukinya. Hati yang sempat menolak untuk bahagia. Tapi kamu.. Kamu benar-benar membawa hati ini terjun kembali ke perasaan melayang yang sudah lama tak pernah aku tulis di dalamnya. Perasaan bahagia. Perasaan jatuh cinta.. 

Oh ya Tuhan..
Aku justru berharap berlebihan. Aku pun bermimpi terlampau jauh. Aku juga merajut khayalan dengannya terlalu dalam. Aku ingin lebih.. Aku ingin bertemu dengan pemilik wajah itu. Aku ingin menikmati senyumnya hanya untukku. Aku ingin memeluknya, dan menciumnya sedikit saja... Aku ingin mengajaknya jalan bersamaku, menikmati udara musim dingin di langitku yang berbeda dengan langitnya. Aku ingin bangun di pagi yang sama dengannya.. Aku ingin tidur di malam yang sama pula dengan malamnya.. Aku ingin menjadi Selamat Pagi pada paginya, dan Selamat Malam pada malamnya. Aku ingin menggenggam tangannya, merangkulnya, menyentuhnya, mencintainya seutuhnya.. Aku ingin ia menjadi milikku; sekarang juga.

Ivanasha Adani Prasetianti


Thursday, October 17, 2013

Regen

mungkin langit kita telah berbeda, birunya tak lagi sama. apalagi hujan? basahnya tak bersamaan menyentuh wajah kita. aku pun tak tau bagaimana caramu menikmati hujan di situ. dengan secangkir kopi dan sebatang rokok mungkin, itu bayanganku. aku rindu melihatmu di bawah hujan, sebab itu kenangan terakhirku bersamamu. dalam matamu yang terpejam itu, di dalam ruang sempit, tidur sejenak, kala itu sedang hujan, dan aku di sampingmu. itulah potret terakhir yang aku kenang sampai saat ini. bisakah aku sekali lagi, atau mungkin berkali-kali, menikmati hujan yang lain bersamamu? dan melihatmu tertidur sebentar untuk menghilangkah letihmu seharian. dan saat kau membuka mata, ada aku di depanmu, dengan hujan yang belum selesai. seperti saat itu.

kemudian hujan itu berpindah ke dalam kelopak mataku, bersamaan dengan memori yang membaca kembali bagian-bagian bersamamu. kemudian hujan itu memandikan tubuhku, dengan deras rindu yang tak pernah sampai kepadamu. kemudian hujan tak mau lagi mendengar ceritaku di sini, sebab dinginnya tak mampu membuatku berhenti. kemudian hujan lari pergi dan tak mau kembali, lebih memilih memelukmu sendiri. dan hujan bahagia berada di dekatmu, menemanimu yang tak lagi bersamaku. hujan mengadu padamu, aku yang jauh di sini, belum bisa berhenti mencintaimu. hujan mengadu padamu bahwa aku terlalu menikmati basah dari kenangan masa lalu bersamamu. aku harap hujan tak membiarkanmu basah seperti aku yang terlanjur kuyup kedinginan karenanya. dan aku akan tetap mencintai hujan, sebab hujan adalah bagian dari kisah kita.

Ivanasha Adani Prasetianti


Thursday, October 3, 2013

Dumm.

Bodoh,
aku kekasihmu di sini bersedia mencintaimu sekarang dan di masa depan nanti..
aku kekasihmu di sini ialah yang mencintaimu sebagaimanapun kamu di masa lalu maupun di masa sekarang..
aku kekasihmu di sini yang tidak menciummu setiap hari, namun memimpikanmu sepanjang malam..
aku kekasihmu yang bersedia menjadi pelengkap hatimu..
aku kekasihmu..

seorang yang tanpa kamu sadari selalu mencintaimu sampai ujung hati
seorang yang tanpa kamu sadari berada di dalam rasa rindumu..

Bodoh,
malam itu kamu berkata untuk bersedia menunggu
sempat pula kamu berjanji untuk menjalin denganku seiring dengan berjalannya waktu
sempat pula kamu menyatakan perasaanmu yang sedalam-dalamnya,
aku tau, Bodoh, tidak semudah itu kamu mengucapkan hal seperti yang kamu ucapkan ke aku..

dan melalui tulisan sederhana ini, aku menjanjikanmu juga..
janji yang baru kali ini aku tulis seutuhnya
janji yang sebelumnya aku ucapkan, di depanmu yang pura-pura tak mendengar.

aku janji, Bodoh.
waktu terus berjalan, dunia akan terus berputar
namun aku, terus, dan akan selalu,
menerimamu.

mencintaimu, sebagaimanapun kamu..



Saturday, August 24, 2013

Unsere Liebe.

kita punya segala waktu dalam genggaman, dan semua telah kita lewati dengan penuh kesabaran. sebagaimana naik dan turun kehidupan, mengelabui perasaan. begitulah keadaan di antara kita berdua, begitulah perasaan yang terjadi di dalam hati kita berdua.. segala yang telah kita selami selama ini, selama tahun-tahun yang kita lalui dengan kalimat yang masih mangandung makna sayang.. di situlah dimana hati kita masih bergenggaman satu sama lain..
kita namai ini cinta.

namun mencintaimu itu tidak mudah. aku sendirian hanya mengenalmu sebelah wajah. kamu kadang tidak membiarkan aku mengenalmu lebih dalam lagi. saat kamu sudah menelanjangi kepribadianku. kamu mengenal aku sebagaimana aku yang selalu berlaku jujur apa adanya ke kamu.. sehingga aku merasa kadang cinta menahun yang kita punya seperti hanyalah sedetik angin lalu, seperti begitulah cinta berlalu. aku tau itu bukan berarti telah usai. hanya saja, mencintaimu benar-benar tidak mudah. dan aku sudah tau itu dari awal. dan aku terima untuk menjalani seperti itu. aku hanya ingin sekali kamu terima.. aku ingin sekali saja kamu sadar aku di sini bukan hanya untuk mencintaimu, melainkan aku juga ingin mengenal sebelah wajahmu lagi yang selama ini tidak pernah kamu buka di depanku.. yang selama ini sangat rapih kamu simpan.. yang menurutku sudah terlalu lama kamu rahasiakan..

nanti, ketika kita bertemu kembali. tolong.. kecup aku dengan seutuhnya wajahmu.. dengan jiwa kamu yang utuh, dan kepribadian kamu yang tidak mengada-ngada.. sebenarnya apa aku di matamu? jangan lihat aku dengan sebelah matamu.. jangan tutup matamu yang lain dari aku.. aku ingin mengenal matamu itu, aku ingin melihat matamu itu.. aku ingin menikmati wajahmu secara utuh, aku ingin mencintaimu dengan utuh.. aku ingin kamu sempurna utuh sebagaimana adanya diri kamu. jangan lagi kamu tutupi, jangan lagi kamu rahasiakan.. aku tau, bahkan tidak semua wanita bisa melihat wajahmu yang sebelah itu, seperti yang aku lihat. aku tau.. tapi aku juga ingin lebih. bukan maksud aku serakah, tapi apa salahnya? apa salahnya aku mengenal pribadi kamu yang selalu kamu sembunyikan itu.. apa salahnya aku mengenal rahasia yang tidak kamu bicarakan kepadaku? apa salahnya aku mengenal hitam dan putihmu...  tolong.. ketika kita bertemu lagi, kecup aku seutuhnya dengan cinta yang sempurna, dengan dirimu yang seluruh..

kamu tau, kan. apa yang telah kita punya adalah sepasang hati yang telah mencintai sejauh ini.. apa yang kita punya ialah waktu yang hanya terjadi di antara kita berdua.. apa yang kita punya ialah memori yang langka, yang tidak pernah kita pahat dengan orang lain selain kamu dan aku.. kamu tau itu, kan? dan aku harap, sebagaimana hati kita yang selalu berpelukan tanpa siapapun ketahui, kita masih bisa sampai seterusnya menjaga setia yang sempat orang lain ragukan.. setia yang sempat menjadi pertanyaan. aku harap, kita masih bisa saling berpelukan meski tubuh ini tidak saling bersentuhan.. meski mata kita tidak bisa saling bertatap. semoga cinta tetap selalu berteriak mesra di antara diam kita..

kenalkan aku dengan wajahmu yang lain, mungkin tidak sekarang, jika kamu belum siap. aku akan sabar menunggu.. dan ingat, bagaimanapun kamu, mungkin aku sudah pernah menebaknya, dan aku akan selalu terima itu. aku akan selalu mencintai dan menyayangi kamu melebihi sesiapapun yang mengaku mencintaimu melebih aku.

aku lah satu-satunya wanita yang mencintai kamu seutuhnya hati seorang wanita yang pernah Tuhan ciptakan..

Love,
IAP.

Saturday, August 10, 2013

Die Dunkelheit Der Liebe.

sebentar lagi rasanya menghampiri mati
perasaan remuk bertahta dalam hati
sesaat lagi hanya tinggal serpihan-serpihan sendiri
jantung, berdarah memerih...

mengagumimu membuat hati berhenti menafas
menikmati sesaknya dengan ikhlas
tersayat hingga menetes luka deras
dan aku kehilangan jejak dalam kelamnya suatu majas

sebentar lagi rasanya tersesat
kepada satu cahaya yang membutakan segala isyarat
kemudian aku hilang dalam pekat
aku terjebak di dalam senyummu yang terlampau memikat

mengenangmu ialah abu-abu
dimana aku tak tahu malu
memelukmu dalam bayang-bayang paling semu
itulah dirimu yang selalu berada dalam harapan-harapan biru

aku, pengagummu..
aku bersembunyi dalam biru
aku tersiksa oleh abu
kemudian aku mati dalam senyummu..

kamu...
fantasi terakhirku.


Ivanasha100813


I read it : https://soundcloud.com/ivanasha/die-dunkelheit-der-liebe-puisi

Tuesday, August 6, 2013

English Please.

"English please.."
     Aku cuma bisa bahasa inggris ke kamu bilang I love you, itu aja..
"I love you too"
     Aku tau
"Aku tarik lagi, biar kamu ga tau."
     Aku sayang kamu..
"Aku engga"
     Aku tau kamu bohong
"Aku jujur"
     Yaudah simple, aku salah menilai kamu berarti
"Aku jujur aku gamau bilang sayang ke kamu.. Udah ah, kayak anak muda aje mesra ngomong begini."


Happinness is this simple conversation.

Saturday, July 27, 2013

Kamu.

Salah satu pertanyaan terbesar dalam kehidupan saya adalah kenapa saya harus memandang kamu selalu benar? Tidak semuanya, dear, yang kamu katakan dan kamu lakukan adalah benar. Orang lain juga berhak menilai itu sebagai benar atau salah.

Apalagi saya,
Orang yang mungkin minor di dalam hidup kamu. Apa saya tidak berhak menyaring perlakuan kamu ke saya? Sehingga saya bisa memilah, perlakuan mana yang pantas dan tidak pantas saya dapatkan dari kamu.

Kamu mungkin suka membahas tentang peradilan, tapi kamu sendiri tidak pernah bisa adil terhadap saya.
Kamu bilang saya 'begini' bagi kamu, tapi kenapa yang kamu tunjukkan ke saya malah saya ini adalah 'tidak begini'.
Kamu tidak pernah mendengar suara saya.
Kamu selalu harus benar di antara perdebatan kita.
Kamu tidak pernah mencoba memahami saya, sebagaimana saya mencoba memahami kamu.
Kamu selalu menumpah marah ke saya, tapi marah saya tidak pernah kamu perhatikan.
Kamu egois.
Kamu kasar.
Tapi saya sayang kamu beserta keseluruhan yang ada pada kamu.

Tapi juga,
Apa pernah kamu perhatian sama saya?



Saturday, July 13, 2013

Eine Fremde Frau Hat Dies Geschrieben.

"I'm just a girl who gave up her heart, sitting here, taking it in. trying to stop the tears..."

was ist eigentlich Liebe? wenn ich mich etwas toll fühle? ist das?
ich kann nicht daran genau denken. ich bekomme immer darüber kein Antwort.
ich fühle mich jetzt, in einer Beziehung, nicht so glücklich.
weiß nicht warum.
ich wurde manchmal traurig, auch weiß ich nicht warum. darum; hat mein Herz gesagt.
ich versuche mich, klar zu sein. aber das geht nicht. 
ich frage mein selbst, sind diese, was ich gefühlt hab, recht?
manchmal vermiße ich, doch manchmal nicht. ich war böse, oder so.
es ist nicht ein schönes Gefühl, oder? verwirrt zu werden. 

ich bin nur eine Mädchen, die ihr Herz auf gibt, hier sitzt, das drin nimmt. versucht, diese Tränen zu beenden. 

entschuldigung, mein Deutsch ist nicht wie ein Profi.
ich lerne noch :)

Saturday, June 15, 2013

Isyarat

i write my longing on the fragile leaf
as its fragility binds hint
of the little meaning in the messages that I sent
then that leaf dried out
before it gets  to you...

then i took another path
i told the afternoon breeze about my longing
which is so light like my coward heart
but the wind flies to another aim,
different directions...

my intention dies again
till i no longer know where to step my feet
then,
night greets me..

under the stars we see the same sky
even though its darkness is different
but only to them I could cry my longing out loud
i miss, i miss,
i miss you...

suddenly my eyes are getting tired
and the stars remain silent while listening
i decide to sleep now,
may my words arrive tomorrow
from the stars towards your sunrise

and that night,
i was dreaming of you...





aku tuliskan rindu di atas daun rapuh
sebagaimana kerapuhannya membalut isyarat
sebesar setitik makna dari pesan yang ku kirim
dan daun itu kemudian mengering
sebelum sampai...

kemudian aku mengambil jalan lain
aku adukan rindu kepada angin sore
seringan hati yang tidak pernah berani
lalu angin itu berbelok
ke arah yang berbeda...

niatku kembali mati
hingga tak tau lagi harus kemana melangkah kaki
hingga lalu,
malam menyapaku...

di bawah bintang kita melihat langit yang sama
meski pekatnya berbeda
maka hanya padanya lah aku menangiskan rindu
aku rindu, aku rindu,
aku rindu kamu....

mataku seketika letih
bintang masih tetap diam menyimak
aku tidur dahulu,
mungkin rindu bisa sampai esok
dari bintang kepada mataharimu yang terbit

dan malam itu,
aku memimpikanmu...


Ivanasha Adani Prasetianti 14062013

Sunday, May 12, 2013

Membalas Resah Sang Payung Teduh


Aku ingin berjalan bersamamu
dalam hujan dan malam gelap
tapi aku tak bisa melihat matamu

Aku ingin berdua denganmu
di antara daun gugur
aku ingin berdua denganmu
tapi aku hanya melihat
keresahanmu

Aku menunggu dengan sabar
di atas sini melayang-layang
tergoyang angin menantikan
tubuh itu

Aku ingin berdua denganmu
di antara daun gugur
Aku ingin berdua denganmu
tapi aku hanya melihat 
keresahanmu

Payung Teduh - Resah




Aku pun juga ingin berdua denganmu
Di antara hujan selain pada malam
Hingga bisa kau lihat mataku 
Sebebas maumu

Aku pun juga ingin berdua denganmu
Di bawah pohon rindang dengan dedaunnya yang hijau
Aku pun ingin berdua denganmu
Tanpa menunjukkan resahku yang kau salah artikan

Aku pun tak sabar
Memeluk dirimu yang sedang melayang
Tergoyang angin menanti tubuh ini
Untuk kembali ke lenganmu

Aku pun  juga ingin berdua denganmu
Untuk membiarkanmu tahu
Bahwa tiada resah pada diriku
Untuk berdua denganmu

Ivanasha - Membalas Resah

Saturday, April 20, 2013

Berlin.

Selamat siang dari aku yang sedang memikirkanmu di bawah langit Berlin. Sudah beberapa hari lebih ini kamu menguasai tempat di ruang pikiranku. Bagaimana siangmu saat ini? apakah udara di atas kepalamu sedingin yang aku rasakan saat ini? Aku ingin tahu kabarmu..
Jujur, mungkin ini yang disebut rindu. Jujur, mungkin aku rindu kamu.

Siang ini sangat dingin. Dengan suhu yang tak sehangat pelukanmu.
Anginnya menusuk ke dalam kulitku. Tidak seperti jemarimu yang nyaman di antara lenganku, waktu itu.
Jemari pada tangan yang saat ini sedang aku butuhkan. Aku idamkan dengan keterlaluan.

Apa kamu masih ingat bagaimana saat itu debar jantungmu? Atau kamu bahkan tidak tahu ya..
Karena akulah yang saat itu mendengarnya dengan jelas. Ketika aku dekatkan telingaku ini kepada dadamu saat kita berpelukan.
deg.. deg.. deg..
Irama paling asing yang pernah aku rengkuh. Dan asal kamu tahu,
Mendengar detak jantungmu yang tidak karuan itu membuat jantungku juga tidak karuan.

Beginilah caraku merindukanmu, Schatz.
Ich vermisse dich sehr. Ich will, dass du mich jetzt verstehen können. 
Apa akan terjadi lagi pelukan itu di antara kita?

Sunday, January 6, 2013

Kurzes Gedicht.

Mungkin aku terlihat marah
Tapi bukan lantas aku jengah
Atau menyerah
Membiarkan semua lalu berubah

Tidak.