Saturday, April 20, 2013

Berlin.

Selamat siang dari aku yang sedang memikirkanmu di bawah langit Berlin. Sudah beberapa hari lebih ini kamu menguasai tempat di ruang pikiranku. Bagaimana siangmu saat ini? apakah udara di atas kepalamu sedingin yang aku rasakan saat ini? Aku ingin tahu kabarmu..
Jujur, mungkin ini yang disebut rindu. Jujur, mungkin aku rindu kamu.

Siang ini sangat dingin. Dengan suhu yang tak sehangat pelukanmu.
Anginnya menusuk ke dalam kulitku. Tidak seperti jemarimu yang nyaman di antara lenganku, waktu itu.
Jemari pada tangan yang saat ini sedang aku butuhkan. Aku idamkan dengan keterlaluan.

Apa kamu masih ingat bagaimana saat itu debar jantungmu? Atau kamu bahkan tidak tahu ya..
Karena akulah yang saat itu mendengarnya dengan jelas. Ketika aku dekatkan telingaku ini kepada dadamu saat kita berpelukan.
deg.. deg.. deg..
Irama paling asing yang pernah aku rengkuh. Dan asal kamu tahu,
Mendengar detak jantungmu yang tidak karuan itu membuat jantungku juga tidak karuan.

Beginilah caraku merindukanmu, Schatz.
Ich vermisse dich sehr. Ich will, dass du mich jetzt verstehen können. 
Apa akan terjadi lagi pelukan itu di antara kita?