mungkin langit kita telah berbeda, birunya tak lagi sama. apalagi hujan? basahnya tak bersamaan menyentuh wajah kita. aku pun tak tau bagaimana caramu menikmati hujan di situ. dengan secangkir kopi dan sebatang rokok mungkin, itu bayanganku. aku rindu melihatmu di bawah hujan, sebab itu kenangan terakhirku bersamamu. dalam matamu yang terpejam itu, di dalam ruang sempit, tidur sejenak, kala itu sedang hujan, dan aku di sampingmu. itulah potret terakhir yang aku kenang sampai saat ini. bisakah aku sekali lagi, atau mungkin berkali-kali, menikmati hujan yang lain bersamamu? dan melihatmu tertidur sebentar untuk menghilangkah letihmu seharian. dan saat kau membuka mata, ada aku di depanmu, dengan hujan yang belum selesai. seperti saat itu.
kemudian hujan itu berpindah ke dalam kelopak mataku, bersamaan dengan memori yang membaca kembali bagian-bagian bersamamu. kemudian hujan itu memandikan tubuhku, dengan deras rindu yang tak pernah sampai kepadamu. kemudian hujan tak mau lagi mendengar ceritaku di sini, sebab dinginnya tak mampu membuatku berhenti. kemudian hujan lari pergi dan tak mau kembali, lebih memilih memelukmu sendiri. dan hujan bahagia berada di dekatmu, menemanimu yang tak lagi bersamaku. hujan mengadu padamu, aku yang jauh di sini, belum bisa berhenti mencintaimu. hujan mengadu padamu bahwa aku terlalu menikmati basah dari kenangan masa lalu bersamamu. aku harap hujan tak membiarkanmu basah seperti aku yang terlanjur kuyup kedinginan karenanya. dan aku akan tetap mencintai hujan, sebab hujan adalah bagian dari kisah kita.
Ivanasha Adani Prasetianti