Thursday, December 5, 2013

Diese Beide Füßen Laufen Dorthin

Perlahan aku melangkah ke arah yang sebelumnya belum pernah ku baca dalam peta. Entah kemana kaki ini pergi. Aku hanya bisa menatap gerakan langkah kakiku sendiri, tanpa bertanya, atau meragukan inginnya. Bukan berarti aku berpasrah kepada jejak-jejak asing ini. Tetapi aku hanya berserah kepada waktu. Biar. Sampai semua terjawab oleh waktu, tidak akan ku hentikan langkah kaki ini yang mulai sedikit tergesa-gesa.

Kau, telah tanpa sadar menjadi satu-satunya yang kaki ini kejar. Persetan dengan beberapa ranting tajam yang sempat menyandung mereka. Membuatnya berdarah tak karuan. Toh, darah itu akan kering jika aku tetap berjalan. Lukanya bukan apa, melainkan hanya bukti bahwa rindu ada dalam perjalanan. 

Sebab kelak, aku ingin kaki ini sampai ke hadapanmu. Memberi tanda ke tubuhku untuk segera bergembira, memelukmu, menciummu, penuh cinta. Menggantungkan kedua tangan kepada lehermu. Meminta hangat tubuhmu yang sebelumnya hanya hidup dalam kepalaku. Dalam imajiku. Kelak aku ingin kaki ini menyadari bahwa perjalannya kemarin-kemarin adalah bukan percuma. Bahwa darah yang telah mereka derita hanyalah rindu yang sedikit menggoda.

Tapi, Kekasih. Rindu malah menjadi-jadi. Mengisak dalam mataku. Dan tidak pernah aku kira ia sebengis ini. Tidak bisa aku menahan keberadaannya yang ternyata kian melukai; bukan hanya kaki. Tetapi dada ini yang semakin menginginkanmu setiap aku sadar bahwa kau belum bisa aku raih; hampir setiap hari. Dan aku tidak benar-benar tau bagaimana bisa aku melanjutkan perjalanan, jika jejakmu di depan semakin tidak dapat aku lihat; memudar. Entah kau berada dimana,  entah ke arah mana kau berjalan. Aku pun tidak memiliki kekuatan untuk menyembuhkan diriku sendirian.

Bisakah kau memutar badan, menjemput aku dari kesendirian. 
Menemaniku melalui impian, melanjutkan perjalanan?

Sebab aku hanya ingin sepasang kaki ini, menemani sepasang kakimu, bersisian.