Satu suara yang semakin terbaca
Keras-keras meski sedikit samar
Ialah nama dalam layar
Kian hari semakin sakit
Pedih pedih menghimpit
Sebab dada mememar
Anak dari rindu yang tampak tegar
Kita, bahkan belum tau
Bagaimana mata menjadi satu
Tetapi perpisahan sudah mengasap api
Serupa degup hati yang menagih lagi, dan lagi
Hati menegaskan maunya
Dia, dan peluknya
Namun juga amat tau suatu saat waktu menjawab
Pertemuan; juga adalah perpisahan
Dan akan kembali datang rindu yang biadab
Bisa apa aku, pemilik hati
Selain bahagia karena aku kau temui
Namun juga menangis sendiri
Setelah pertemuan, kau lepas lagi pelukku ini...
IAP.