Friday, December 27, 2013

Liebe Und Danke

"Aku sayang sama kamu Nat"
"Makasih ya udah sayang sama aku."

Dan kedua mata perempuan itu tidak bisa lagi berbohong. Air mata memaksa untuk turun membasahi pipinya yang tak mampu lagi tersenyum.
Mencintai lelaki di hadapannya bukan suatu pilihan. Ia juga tidak sengaja.
Karena sangat mengerti bahwa mencintai hati yang tak membalas mencintai hanya membawa luka dalam diri.

-

Itu cerita Anna, tokoh fiktif yang berada di film Refrain. Tentang hatinya yang hanya dibalas kalimat terima kasih.
Tentang cintanya yang tak sampai menyentuh hati sang lelaki.
Dan aku tau rasanya, aku mengenal lukanya. Meski itu hanya sekedar tokoh fiktif dengan cerita dan perasaan yang juga fiktif.
Tetapi jalan cerita cinta seperti itu hanyalah cermin dari kenyataan lalu lalang dalam hidup seorang manusia.
Dan aku tau rasanya, ketika mengatakan aku sayang kamu  yang hanya dibalas terima kasih.

Untuk apa menjawab "terima kasih" ketika seseorang menyayangimu? Menegaskan bahwa kau menerima cintanya dan tidak bisa membalasnya?

Untuk apa kata "terima kasih" dalam cinta? Ketika seseorang yang menyebutkan aku sayang kamu itu ikhlas menyayangimu. Dan sungguh, tidak perlu lagi kata "terima kasih" untuk perasaan setulus itu. Sebab "terima kasih" itu tidak terdengar sebaik yang kamu kira. Terima kasih itu egois. 

Kau menerima; belum tentu membalas.
Bukan maksud mengartikan cinta itu pamrih.
Tetapi cinta juga berhak untuk tidak disakiti. Dengan kalimat sesopan itu.

Salam hangat dari penonton,
Ivanasha.