Monday, December 16, 2013

Eifersüchtig

"Cemburu adalah peluru melesat memburu menembus hatimu. Curiga adalah senjata yang membunuh rasa mematikan kita." -AnjiDrive.

Cemburu. Apa itu cemburu? Yang aku paling tau darinya adalah perasaan yang tidak pernah hati terima keberadaannya. Manusia mana yang akan berlapang dada menerima cemburu meraja dalam hatinya? Perasaan itu biasa aku sebut sebagai yang membakar dan mengakar. Menyulut api paling panas yang tidak berwujud di depan mata, namun bisa aku kenali keberadaannya saat tiba-tiba hati ini terasa menyesak. Mengakar hingga kadang menjadi perasaan yang berbeda tipis dari alasannya; cinta; benci. 

Namun cemburu bukan berarti harus dikarenakan pihak ke-tiga dan bisa juga tidak mengakar di ujung kebencian. Aku mengenal perasaan cemburu lainnya, yang kerap aku rasakan dan bagiku, ini terlalu kekanakkan untuk aku utarakan. Tapi ya, aku cemburu. Dan aku manusia. Aku merasakannya tanpa aku mau; bahkan tanpa aku tau. Dan aku terlalu cerewet untuk berdiam tanpa menulis apa yang sudah beranak-pinak dalam dada. 

Aku cemburu karenamu. Aku cemburu terhadap segala apapun yang berada di dekatmu. Yang bisa melihatmu. Yang bisa merasakan sentuhanmu. Aku cemburu terhadap cangkir kopi pagi yang kau seruput. Aku cemburu terhadap layar laptop yang sangat sering kau lihat. Aku cemburu pada bantal yang biasa kau tiduri. Aku cemburu pada selimut yang biasa menghangatkanmu. Aku cemburu pada matahari di atas kepalamu, yang setia membuatmu berkeringat kepanasan. Aku cemburu kepada pintu yang selalu kau pegang sebelum kau melaluinya. Aku cemburu kepada piring makanmu. Aku cemburu kepada seluruh. Seluruh yang ada padamu, saat aku sedang tidak bersamamu.

Cemburuku posesif.  Aku tau itu. 
Tapi cemburuku beralasan. Dan bersediakah kau membaca alasanku juga? 

Aku cemburu, karena aku ingin berada di sampingmu. Aku ingin menjadi bibir yang kau kecup seperti kopi pagimu. Aku ingin kau lihat seperti kau melihat laptopmu di waktu kerjamu. Aku ingin suatu saat dapat tidur satu bantal dengan halal bersamamu. Aku ingin menghangatkanmu juga, menggantikan peran selimutmu. Aku ingin kau sentuh. Aku ingin menemani makanmu. Aku ingin dapat menikmati waktu bersama berdua; denganmu.

Cemburu kekanak-kanakkan ini yang aku sebut sebab akibat dari mencintai sosokmu. Sosok yang jauh dan belum bisa aku temui. Sosok yang membuatku tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana saat bertemu dengannya. Sosok asing yang paling aku kenal dalam diri. Sosok yang selalu aku nanti setiap malam, hanya untuk sekedar 'Selamat malam, Sayang.' yang mungkin akan ia sampaikan; meski tidak selalu ada. Sosok yang juga setiap pagi aku nanti, hanya untuk sekedar 'Selamat pagi, Sayang.' yang mungkin juga ia sampaikan setelah lupa menyampaikannya malam hari; meski kadang juga aku tak mendapatkan keduanya.

Aku cemburu, sebab tidak selalu aku bisa meminta waktumu. Bukan seluruh yang aku mau. Tapi sebelum dan sesudah tidur saja. Sehingga aku tau bagaimana kau menutup harimu, dan memulainya. Sehingga setiap malam aku tidak perlu kesusahan tidur; memikirkanmu. Aku tau perasaan ini tidak perlu. Tapi aku hanya menyampaikan apa yang hati selalu ingin sampaikan. 

Seperti ini aku mencintaimu, Sayang.
Seperti sedikit harapan untuk bisa mencintaimu sesisa umurmu.

Satu lagi,
Aku ingin berada di sela kepalamu. Menjadi yang mengganggumu seharian. Seperti keberadaanmu di kepalaku. 
:]