Matamu, meski aku belum dan tidak bisa melihatnya secara langsung, sudah lelah. Tubuhmu bahkan sudah tak seharusnya memulai hari tanpa tidur. Tidur, sayang. Jika kau enggan tertidur sebab ada rindu yang belum selesai, selesaikanlah dalam lelapmu. Impikan rindu dalam wujud nyata di mimpimu. Bahasakan cinta sebebas yang kau mau, seliar yang sebelumnya telah kau pikirkan, dalam mimpimu. Biarkan cinta dalam dadamu mengistirahatkanmu dengan mimpi indah di tidurmu. Terjemahkan semua keluh kesahmu tentang rindu yang belum selesai itu dalam istirahatmu, Sayang. Hingga tak bersisa lagi perih di dada sebab harap bertemu mata.
Impikan aku dalam istirahatmu. Cintai aku dalam wujud yang dapat kau sentuh dan kau peluk. Biarkan imajimu bermain dengan bebasnya dalam mimpi. Sambil tubuhmu menenangkan lelah yang telah merangkulmu seharian.. (dan aku tak bisa melihatmu kelelahan). Temui aku di tempat biasa. Di lorong mimpi yang selalu kita punya. Di fantasi masing-masing. Di langit kita masing-masing. Bawakan aku senyummu yang selalu menjadi bagian mimpiku. Temui aku, berikan aku senyummu. Tidur. Tidur sayang. Agar apa yang aku bicarakan bisa menjadi nyata dalam bunga tidurmu. Agar kita bisa berpelukan, bergandengan tangan, dan berciuman di lorong-lorong fantasi itu. Kenang aku sebagai bagian yang tak bisa pergi dari malammu..
Kamu harus tidur.
Matahari sudah naik di atas kepalamu. Bukankah harusnya sinar surya dapat menamparmu tersadar bahwa kau telah harus mengecup kasurmu? Tidakkah ia menyilaukan matamu yang letih itu? Ah, Sayang.. Tidurlah. Sebelum aku semakin mendamba mencium matamu itu. Mata yang butuh tidur itu. Kemudian mencium bibir itu juga. Bibir yang melahirkan terlalu banyak alasan untuk tidak tidur. Bibir yang mengucap terlalu banyak rindu untukku, membuatku tak bisa sedetikpun tak membalas rindu itu.
Sudah hampir siang, Sayang. Kamu harus tidur.
Sebelum matahariku mengucapkan pagi ke langitku. Sebelum langitmu terlanjut terlalu terang menyambut mimpimu. Kamu benar-benar butuh tidur. Dan jadikan tulisanku ini nyata. Nikmati mimpimu, istirahatkan tubuhmu, cintai aku lebih dari yang aku mau, dan temui aku di lorong itu.. Tempat kita bermain dengan imaji kita yang paling samar; Cinta.