Ada bunyi hujan yang tak kaupahami basahnya. Jatuh perlahan di depan sepatumu, di ujung payungmu, dan di kaca kendaraanmu. Langit yang lembab tidak mengingatkanmu apa-apa tentang siapa-siapa, sebab barangkali namaku saja jarang sekali kau ingat. Cerita-cerita yang hancur dan hilang di antara waktu, telah membatu di ujung-ujung kukumu. Jika suatu hari kau lupa memotong kuku, kau akan mengeluh tak henti-henti tetapi tak mengerti mengapa tak kaupotong begitu dini.
Sementara aku tidak bisa datang begitu saja dan mengajarkanmu tentang hujan--atau tentang kita yang kehilangan. Aku bukan siapa-siapa dan tidak pernah menjadi siapa-siapa. Harapanku telah lama patah di dada kiri, jauh sebelum kau memberiku kesempatan mendengar "aku mencintaimu" dari sepasang bibirmu yang tak pernah kukecup. Aku hanyalah asap dingin dari gelas kopi yang tidak diminum sampai habis. Tidak pernah berhasil membuatmu cukup mencintaiku, adalah alasan mengapa aku tidak berani mengatakan "aku mencintaimu juga".
Aku melihat gerimis itu semakin deras. Basahnya menetes sampai kerah bajuku. Pipi-pipiku lembab menanggung mendung yang tak habis-habis. Aku tidak tahu lagi, setelah ini, apakah akan ada hati yang jatuh lebih baik; yang tidak berharap terlalu banyak, namun bisa saling menyentuh. Mungkin suatu hari akan ada pelukan yang bisa terbalaskan, tanpa memikirkan sedalam apa sebuah pisau mampu menusuk punggungmu. Cinta bukan lagi pertaruhan hati dan waktu. Cinta adalah apa pun yang di dalam lenganmu.