Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang yang tingkat keromantisannya mirip seperti novel yang pernah kamu baca? Seseorang yang membuat kamu berpikir kalau dia itu too good to be true and too dreamy to be real. Atau sederhananya, seseorang yang seringkali membuatmu bahagia dengan hal-hal yang tidak kamu duga.
Saya pernah.
So let me tell you a little about him.
Dia adalah seorang teman yang selalu ada. Repeat, selalu ada. Setiap kali saya sedang butuh teman cerita, dialah satu-satunya yang selalu cepat membalas pesan singkat saya atau mengangkat dering telepon tengah malam yang saya layangkan ke telepon genggamnya. Dia se-selaluada itu. Sampai seringkali saya merasa, apakah saya sudah menjadi teman bagi dia yang juga selalu ada untuknya? Tetapi jika ditelaah ulang, tidak seperti saya, dia bukan tipikal orang yang berbagi banyak cerita. Meski seringkali ketika kami berkomunikasi, dia juga terpancing untuk menceritakan beberapa hal dan menyebabkan saya tercengang; are you this guy i knew? Beberapa hal tentangnya yang dia buka di hadapan saya, membuat saya kaget sekaligus senang karena akhirnya saya mengenal dia selangkah lebih dekat setiap kali kami berbicara. Sebab banyak hal tentangnya yang tidak pernah bisa ditebak sebelumnya.
Dan sedikit demi sedikit saya mulai ketergantungan dengannya. Dia seperti obat di setiap saya sakit. Dia seperti selimut di malam yang bagi saya dingin. Dia ada dan selalu ada di setiap saya butuh teman bicara. Dan dia tidak pernah meminta apa-apa sebagai balasan dari segala kebaikan yang dia lakukan untuk saya. Entah barangkali dia memang baik atau terlalu tulus, tidak ada bedanya. (Ohya, dia jomlo. Saya harap jika dia punya seorang kekasih, semoga kekasih itu adalah perempuan yang bisa memperlakukannya dengan baik.)
Dua minggu yang lalu saya kehilangan seorang Ayah dari dunia ini. Tidak perlu jauh saya jelaskan bagaimana perasaan saya waktu itu. Seorang anak di perantauan yang bahkan tak bisa mengikuti penguburan Ayahnya. Sedih, hancur, dan tidak bisa berbuat apa-apa. Teman-teman saya yang terbaik pun turut berduka dan berusaha menghibur saya dengan kata-kata mereka. Begitu pula dia. Setelah mengucapkan belasungkawanya dan saya balas dengan "terima kasih..", esoknya dia lanjutkan dengan mengirimkan saya video berisi kucingnya yang sedang bermain, and i must admit, kucingnya cute banget!! Di saat itu, ketika saya menonton video kirimannya, saya tersenyum. Sekian detik langka di dalam saat-saat berduka yang terjadi karena hal sederhana. Sebetulnya saya sendiri tidak tahu kenapa ia mengirimkan video itu. Apakah memang niat menghibur saya, atau simply salah kirim. Hahaha. Tapi saya pun di detik itu sadar akan suatu hal: saya punya teman yang datang menghibur saya ketika saya sedang bersedih. Dan salah satunya adalah dia yang menyadarkan saya tentang hal itu. Dia yang bilang "Kalau lu mau cerita, lu bisa cerita ke gue, Sha." lalu mengirimkan video kucing.
Pernah pula di suatu malam ketika pikiran saya sudah terlalu kalut dan hati terlalu sempit untuk menanggung segala masalah yang dihidangkan oleh hidup, saya menghubungi beberapa teman dekat saya untuk saya ajak berbagi. Sayangnya pada hari itu hampir semua yang saya hubungi sedang sibuk. Saya pun semakin kalut. Rasanya seperti dihajar bertubi oleh pikiran sendiri. Saya ingin menangis, tapi terlalu sepi untuk menangis sendiri. Saya pun akhirnya nekat menghubungi dia malam itu. Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam, tetapi dia cepat sekali membalas pesan saya. Dia tidak sibuk, katanya waktu itu. Kemudian saya langsung meneleponnya dan menanyakan dia sedang apa. Awalnya saya hanya berniat basa-basi, tapi kemudian tangis saya pecah begitu saja tanpa saya sadari. Dia lalu bertanya "Lu nangis, Sha? Kenapa? Ada apa? Sini cerita.." lalu tumpahlah segala beban hati saya berupa tangisan. Barangkali ada 15 menit sendiri saya menangis terisak tanpa bercerita apa pun. Dia di ujung telepon hanya diam dan menjawab "Iya.. Cerita aja sini ke gue.." ketika saya bilang "Gue cuma butuh teman cerita.." dengan suara yang sudah tidak jelas lagi karena tangis saya semakin deras. Hingga akhirnya air mata saya telah reda, saya pun menceritakan semua masalah saya ke dia. Sederhana sekali kebahagiaan malam itu; tangis saya tumpah hingga lega, beban hati semakin ringan seiring saya bercerita, dan dia yang dengan setia dan saksama mendengarkan semuanya. Di akhir telepon, saya berterimakasih kepadanya, "This is all I need. This simple thing to be heard. Makasih ya sudah ada ketika yang lain nggak ada." Lalu dia menjawab dengan santai "Tenang aja, ada gue.."
Ya, dia memang selalu ada.
Tingkat kebaikannya sebagai teman sudah saya nilai sebagai hal paling romantis yang pernah seorang kawan lakukan untuk saya. Meski tidak ada cerita-cerita "cinta" di antara kami, saya akan tetap menilainya begitu. Karenanya, saya tidak pernah merasa sendiri. Dia adalah orang yang berhasil membuat saya percaya bahwa seorang teman adalah harta. Sesuatu berharga yang harus saya jaga dengan baik. Sebab jika saya membayangkan bila suatu hari saya harus kehilangan seorang teman seperti dia, saya rasa saya tidak akan sanggup menjalani hidup sendirian. Sepi dan merasa tidak ada siapa-siapa.
Terima kasih, Tuhan,
atas kehadirannya untukku
sebagai teman :)