Thursday, November 7, 2019

Kebahagiaan dari Bapak

Saya punya kebiasaan memandang ke luar jendela saat sedang berada di kendaraan. Kebiasaan ini saya lakukan entah sejak kapan, dan saya pun tidak pernah sadar melakukannya. Sampai suatu ketika Bapak yang menyadarkannya ke saya, "Kamu dari kecil setiap di mobil pasti ngeliatnya ke luar jendela. Memang kebiasaanmu dari dulu. Hehehe." katanya sambil terkekeh dari kursi pengemudi.

Sampai sekarang, setiap saya melihat ke luar jendela saat di perjalanan, saya selalu teringat kembali momen bersama Bapak itu. Manis rasanya, mengetahui beliau begitu memerhatikan kebiasaan kecil saya. Suatu kebiasaan yang ternyata sudah saya lakukan sejak kecil—kata Bapak. 

Pernah juga, suatu hari saya jalan-jalan sama Bapak di mall. Waktu itu saya berusia 16 tahun. Ketika saatnya salat magrib, kami pun melaksanakan salat di musala yang ada di mall itu. Seselesainya, saya keluar musala dan melihat Bapak yang sudah selesai salat duluan, sedang menimang sebuah boneka Teddy Bear besar. Ia berada tidak jauh dari pintu keluar musala. Saya melihat wajahnya dihiasi senyum yang lebar, sambil menatap boneka yang ada di pelukannya. Lalu saya pun menghampirinya. 

"Kamu suka sama boneka Teddy Bear, kan?" kata Bapak sambil memindahkan boneka itu dari pelukannya ke pelukan saya, "Waktu kecil kamu suka sekali dengan boneka." lanjutnya sambil tersenyum hangat.

"Waaah.. Terima kasih, Pak. Nasha suka banget!" jawabku sumringah. 

Padahal, yang Bapak tidak tahu, saya sudah tidak suka bermain dengan boneka sejak usia saya terbilang remaja. Pada masa itu, saya lagi suka-sukanya mendengarkan musik metal. Dan bagi saya, bermain boneka sungguh tidak cocok dengan selera musik saya waktu itu. Hahaha. 

Tapi, karena saya melihat senyuman Bapak kala menimang boneka Teddy Bear itu, dan karena ingatan Bapak tentang saya kala saya masih kecil, saya pun dengan senang hati menerima boneka yang telah dibelikannya. Bahkan boneka itu menjadi boneka kesayangan saya yang pada akhirnya mendengarkan curhatan-curhatan saya di malam hari. Lagi-lagi, saya merasa Bapak sangat memerhatikan apa-apa yang menjadi kegemaran saya ketika saya kecil. 

Saya bersyukur sekali. Momen-momen terbaik dengan Bapak masih saya ingat begitu hangat di dalam kepala. Perhatian Bapak yang suka tiba-tiba mengejutkan saya, selalu menjadi kenangan terbaik yang sampai sekarang saya ingat kala saya merindukannya. Bapak pernah mencintai saya begitu hebatnya di masa ia masih ada di dunia. Cintanya kepada saya ialah bentuk terbaik cinta seorang lelaki yang pernah saya rasakan.

Bapak itu sangat romantis—tidak hanya kepada saya, tapi juga kepada Ibu saya. Bapak begitu paham kalau saya menyukai kejutan. Beberapa kali di masa kami bersama, Bapak memberikan saya hadiah-hadiah istimewa. Hal-hal yang tak pernah saya minta, seringkali ia berikan semata karena ia pikir itu akan membuat saya bahagia. 

Pak, yang tidak Bapak tahu adalah, Nasha selama ini berbahagia bukan hanya karena apa yang Bapak berikan.. Namun karena Nasha merasa dicintai begitu hebatnya oleh Bapak, sampai Bapak terus mengingat-ingat hal yang Nasha sukai, dan Bapak bahagia ketika Nasha menerima apa yang Bapak berikan. Dan satu lagi, Pak, hal terbaik yang pernah Bapak berikan ke Nasha adalah kebahagiaan dan ketulusan Bapak ketika Bapak mengupayakan kebahagiaan Nasha. Bahagiamu itu bahagianya Nasha juga, Pak..  

Terima kasih atas waktu terbaiknya di masa singkat kebersamaan kita. Nasha harap, Bapak sedang berbahagia di sana. Ditemani malaikat-malaikat baik hati yang begitu memahami kebaikan hati Bapak selama Bapak di dunia. 

Berbahagialah selalu, Pak. Nasha akan selalu mengingat senyuman-senyuman Bapak sebagai penghangat hati Nasha ketika dilanda rindu yang hebat.


Karena bagi Nasha, senyuman Bapak adalah anugerah terbaik yang pernah terjadi di dalam hidup Nasha :)