Kepada Langit,
terkasih yang bukan kekasih..
Ingin kuutarakan rasanya, air mataku yang semalaman menetes dan deras kepadamu. Kerinduan yang hampir kehilangan nyawanya, dada penuh cinta yang berdebar sesak memanggil namamu, dan segala perasaan yang tidak pernah kamu ketahui, mengisi penuh seluruh tubuhku. Betapa sulitnya, aku menahan hati yang sebelah ini; hati yang tak mungkin menggapaimu.. Sementara tak kuketahui bagaimana caranya sembuh dan baik-baik saja.
Ingin kuutarakan betapa sering kepalaku memutar semua tentangmu; tentang seribu tentang yang tidak pernah bernapas di dalam pelukanku. Betapa ingin kugambar sepasang lenganku, memeluk tubuhmu mesra, membagi kehangatan yang paling nyata. Atas nama cinta, berulang kali aku mendoakan kebahagiaanmu; dengan atau tanpaku. Kuserahkan segala andai kepada Ia yang memilikimu. Sebab aku hanya bisa pasrah, ketika tidak ingin menyerah.
Tetapi kata-kata dan rasa inginku hanya akan mati di mulutku sendiri. Entah sebagai doa atau pernyataan-pernyataan yang tidak pernah kamu dengar. Segala perasaan yang sekian lama kumiliki untukmu, adalah segala perasaan yang dengan rela bersembunyi dan menua dalam kesendiriannya. Sebab bagiku, kehilanganmu adalah harga yang tidak pernah ingin kubayar, atau kuyakini diriku akan mati seribu sesal.
Kamu yang baik, kamu yang kucintai,
jika saja kata-kata bisa menyelamatkan suaraku di hadapanmu,
akan kukatakan sejumlah yang tak terhitung,
betapa aku menyayangimu.
Senja.